"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Takdir di Balik Debu Kairo
Skenario yang Tak Terduga
Matahari Kairo bangkit dengan malu,
Menyapa menara yang berdiri kaku.
Di antara baris doa dan kitab yang tebal,
Ada takdir yang turun tanpa perlu perihal.
Bukan hanya aku yang meniti rindu,
Mungkin Mas Azam pun punya rahasia yang mengadu.Satu tabrakan, satu tatapan yang tak sengaja,Menjadi awal dari cerita yang Allah jaga.
Cahaya matahari pagi menyiram jalanan berbatu di distrik Al-Azhar. Udara dingin musim dingin masih tersisa, menusuk hingga ke tulang, namun semangat Bungah tidak surut. Pagi ini, ia ada jadwal mengikuti halaqah spesial dari seorang Syeikh besar di Masjid Husain.
"Adek, agak cepat sedikit jalannya. Mas ada janji bertemu dosen pembimbing setelah mengantarmu," ujar Mas Azam sambil melirik jam tangannya.
Bungah yang sedang membetulkan letak tasnya yang penuh dengan kitab-kitab tebal hanya bisa mengangguk. "Sabar, Mas. Kitab-kitab ini berat, tidak seringan memikirkan masa depan," canda Bungah di balik cadarnya.
Mas Azam tertawa kecil. "Kamu ini, sudah mulai pintar membalas omongan Mas ya."
Mereka berdua berjalan cepat menyusuri trotoar yang mulai ramai oleh para pedagang dan mahasiswa dari berbagai negara. Mas Azam berjalan di sisi luar untuk melindungi adiknya dari kerumunan. Namun, saat mereka berbelok di sebuah tikungan sempit dekat pasar buku, perhatian Mas Azam teralihkan oleh ponselnya yang berdering.
Brak!
Tanpa sengaja, tubuh tinggi Mas Azam menabrak seseorang yang datang dari arah berlawanan. Tumpukan buku dan selebaran yang dibawa orang tersebut jatuh berserakan di aspal.
"Astagfirullah! Afwan, ya Ustadzah... (Maaf, ya Bu Guru...)," ucap Mas Azam panik. Ia segera berjongkok untuk membantu memunguti buku-buku yang berhamburan.
Bungah ikut berhenti dan tertegun. Di depan mereka, seorang gadis berdiri dengan wajah yang nampak terkejut. Gadis itu mengenakan gamis berwarna hijau zamrud yang sangat anggun dan jilbab lebar senada. Ia tidak memakai cadar seperti Bungah, sehingga wajahnya yang putih bersih dan memiliki sorot mata yang teduh terlihat dengan jelas. Ada gurat kecerdasan di dahinya, namun tetap terlihat rendah hati.
Gadis itu ikut berjongkok, tangannya yang halus meraih sebuah kitab hadis yang terjatuh tepat di depan tangan Mas Azam. Untuk sekejap, pandangan mereka bertemu. Mas Azam, yang biasanya selalu tenang dan berwibawa sebagai seorang Doktor muda, tiba-tiba mematung. Ada getaran aneh yang belum pernah ia rasakan selama belasan tahun tinggal di Kairo.
"Tidak apa-apa, saya yang kurang hati-hati," ucap gadis itu dengan bahasa Arab yang sangat fasih dan lembut.
Bungah yang memperhatikan dari samping hanya bisa mengerjapkan mata. Ia melihat kakaknya yang biasanya tegas kini mendadak menjadi kikuk. "Mas Azam? Ayo bantu, malah melamun," bisik Bungah sambil menyenggol lengan kakaknya.
Mas Azam tersentak, wajahnya memerah. "Oh, iya. Ini... ini buku Anda."
"Terima kasih," jawab gadis itu. Ia menerima bukunya, memberikan senyum tipis yang sangat sopan, lalu segera berlalu masuk ke dalam gedung fakultas kedokteran yang berada di dekat sana.
Mas Azam masih berdiri di tempatnya, menatap punggung gadis itu sampai menghilang di balik pintu besar.
"Ehem!" Bungah berdehem keras. "Mas Azam, oii! Mentari sudah tinggi, katanya mau ketemu dosen? Kok malah jadi patung di pinggir jalan?"
Mas Azam menarik napas panjang, mencoba mengatur detak jantungnya yang berantakan. "Adek... kamu lihat tidak tadi? Matanya... teduh sekali."
Bungah tertawa di balik cadarnya, tawa yang sudah lama tidak terdengar seceria ini. "Wah, wah! Sepertinya Dr. Azam baru saja tertabrak takdir. Sebelas tahun di Kairo anti-perempuan, sekali tabrakan langsung luluh. Siapa ya dia tadi? Cantik sekali, Mas. Cocok jadi mbak ipar Bungah."
Mas Azam berdehem, berusaha kembali ke mode seriusnya meskipun gagal total. "Sudah, jangan bicara sembarangan. Ayo cepat, nanti kamu telat halaqah."
Meskipun Mas Azam berusaha mengalihkan pembicaraan, Bungah tahu satu hal: kakaknya yang selama ini hanya peduli pada ijazah S3 dan menjaga adiknya, kini telah menemukan teka-teki baru di hatinya. Di bawah langit Kairo yang cerah, Bungah merasa bahwa bukan hanya dia yang sedang memperjuangkan cinta, tapi Mas Azam pun baru saja memulai babak barunya sendiri.