Ia dikenal sebagai dosen yang tenang, rasional, dan tak pernah melanggar batas.
Sampai suatu hari, satu tatapan membuat seluruh prinsipnya runtuh.
Di ruang kelas yang seharusnya netral, hasrat tumbuh diam-diam tak pernah diucapkan, tapi terasa menyesakkan. Setiap pertemuan menjadi ujian antara etika dan keinginan, antara nalar dan sisi manusia yang paling rapuh.
Ini bukan kisah cinta.
Ini adalah cerita tentang batas yang perlahan retak dan harga mahal yang harus dibayar ketika hasrat tak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Deklarasi di Meja Makan
Restoran Jepang otentik yang dipilih Jordan siang itu sangat tenang. Hanya ada suara gemericik air dari pancuran bambu di sudut ruangan. Mereka duduk di sebuah bilik privat yang tertutup pintu geser kayu, memberikan privasi penuh yang memang diinginkan Jordan.
Airin sedang berusaha menikmati chawanmushi miliknya yang lembut. Ia masih merasa canggung setelah "penculikan" singkat di parkiran tadi. Setiap kali ia mengangkat pandangan, ia selalu mendapati mata tajam Jordan sedang mengawasinya dengan intensitas yang sulit dijelaskan.
"Airin," panggil Jordan tiba-tiba. Suaranya rendah, namun memiliki getaran yang membuat Airin berhenti menyuap.
"Ya, Pak?"
"Berhenti memanggilku 'Pak' saat kita hanya berdua. Dan satu lagi..." Jordan menjeda sejenak, menatap lurus ke dalam netra cokelat Airin. "Jadilah wanitaku. Secara resmi. Aku tidak suka status yang menggantung."
Uhukk!
Airin tersentak hebat, potongan kecil jamur di dalam telurnya menyangkut di tenggorokan. Ia terbatuk-batuk kecil dengan wajah yang seketika berubah merah padam. Jordan dengan sigap berpindah posisi, duduk di samping Airin dan menepuk-nepuk bahu gadis itu dengan pelan namun mantap.
"Pelan-pelan," gumam Jordan, tangannya yang besar kini mengusap punggung Airin dengan gerakan menenangkan. "Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu tersedak."
Setelah napasnya kembali teratur dan meminum segelas air putih, Airin menoleh ke arah Jordan dengan tatapan kesal. Kelembutan suaranya kali ini dibumbui sedikit ketegasan. "Bapak ini benar-benar keterlaluan. Bagaimana bisa Bapak mengatakan hal seserius itu saat seseorang sedang makan?"
"Aku hanya tidak ingin membuang waktu," jawab Jordan santai, tangannya masih menetap di bahu Airin.
"Saya menolak," ucap Airin cepat, membuat gerakan Jordan terhenti.
Alis tebal Jordan bertaut. "Menolak? Atas dasar apa?"
Airin menunduk, meremas serbet di pangkuannya. Pertanyaan yang sejak semalam menghantui kepalanya akhirnya terlontar begitu saja. "Apa Bapak pikir saya ini perempuan penggoda? Memangnya apa yang menarik dari saya? Saya hanya mahasiswi pendiam yang membosankan. Bapak bisa mendapatkan model atau pengusaha wanita mana pun yang Bapak mau."
Rahang Jordan mengeras mendengar kata-kata itu. Ia tidak suka Airin merendahkan dirinya sendiri. Dengan gerakan perlahan namun penuh dominasi, Jordan meraih kedua tangan Airin, memaksa gadis itu untuk menghadapnya sepenuhnya.
"Dengarkan aku baik-baik, Airin Rodriguez," ucap Jordan dengan nada bicara yang melunak namun sangat dalam. "Kamu bukan perempuan penggoda. Kamu adalah ketenangan di tengah hidupku yang bising. Aku sudah melihat banyak wanita, tapi tidak ada yang memiliki jiwa sepertimu. Kepolosanmu, caramu berpikir, bahkan suaramu yang lembut... itu semua adalah candu bagiku."
Jordan membawa tangan Airin ke depan bibirnya. Ia memejamkan mata sejenak, lalu mulai mengecup jari-jemari lentik Airin satu per satu dengan sangat penuh perasaan. Kecupan itu lembut, hangat, dan sangat intim.
Airin terdiam seribu bahasa. Desiran aneh menyapu hatinya, membuat perutnya terasa seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu yang beterbangan. Ia ingin menarik tangannya, namun sentuhan bibir Jordan seolah mengunci seluruh saraf motoriknya.
"Jangan pernah berpikir kamu tidak menarik," bisik Jordan setelah mengecup ujung jari manis Airin. "Bagiku, kamu adalah satu-satunya hal yang ingin aku pelajari seumur hidupku. Jadi, tidak ada kata penolakan, mengerti?"
Airin menatap tangan yang baru saja dikecup itu, lalu menatap wajah sangar Jordan yang kini tampak begitu tulus. Ia masih merasa bingung, namun di dalam hatinya, pertahanan yang ia bangun selama ini mulai retak perlahan-lahan.
"Bapak benar-benar pemaksa," gumam Airin sangat pelan, nyaris tak terdengar.
"Aku lebih suka menyebutnya sebagai usaha gigih untuk mendapatkan masa depanku," balas Jordan sambil tersenyum tipis sebuah senyuman yang kali ini terlihat sangat tulus hingga lesung pipi Airin pun muncul kembali karena rasa malu yang tak terbendung.