Setelah menyelamatkan Alam Dewa dan mencapai ranah Dewa Sejati, Shi Hao terpaksa meninggalkan rumah dan orang-orang yang dicintainya demi mencegah kehancuran dimensi akibat kekuatannya yang terlalu besar.
Namun, saat melangkah keluar ke Alam Semesta Luar, Shi Hao menyadari kenyataan yang kejam. Di lautan bintang yang tak bertepi ini, Ranah "Dewa" hanyalah titik awal, dan planet tempat tinggalnya hanyalah butiran debu. Tanpa sekte pelindung, tanpa kekayaan, dan diburu oleh Hukum Langit yang menganggap keberadaannya sebagai "Ancaman", Shi Hao harus bertahan hidup sebagai seorang pengembara tak bernama.
Menggunakan identitas baru sebagai "Feng", Shi Hao memulai perjalanan dari planet sampah. Bersama Nana gadis budak Ras Kucing yang menyimpan rahasia navigasi kuno ia mengikat kontrak dengan Nyonya Zhu, Ratu Dunia Bawah Tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 226
Ruang Kemudi Bahtera Teratai Merah.
Peringatan merah berkedip gila-gilaan di kristal Qi, menyinari wajah pucat Nana yang duduk di kursi navigator. Ekornya meremang kaku, matanya menatap layar kristal yang menampilkan pemandangan di luar kapal.
"Tuan Feng!" teriak Nana, suaranya bergetar. "Anomali itu...! Itu Badai Void tingkat lima!"
Di luar jendela kapal, ruang angkasa yang biasanya hitam kini berubah menjadi dinding pusaran ungu raksasa. Petir-petir hitam menyambar di dalam awan gas itu, masing-masing sambarannya cukup kuat untuk menghancurkan sebuah bulan kecil.
Kapal berguncang hebat. Suara logam berderit terdengar menyakitkan, seolah kerangka kapal sedang ditarik ke dua arah yang berlawanan.
Shi Hao berdiri di anjungan, tangannya mencengkeram pagar pembatas hingga bengkok.
"Kita tidak bisa memutar?" tanya Shi Hao.
"Tidak bisa!" Nana menggeleng cepat. "Di belakang kita ada aura sisa Raja Dewa yang mengejar. Di kiri kanan adalah sabuk asteroid padat. Satu-satunya jalan keluar dari Sektor Sampah ini adalah menembus badai itu!"
Wuming masuk ke ruangan dengan wajah serius.
"Tuan, perisai energi kapal menipis. Badai ini menyerap Qi. Jika kita masuk lebih dalam, pelapis lambung kapal bagian kanan akan sobek. Jika itu terjadi, tekanan Void akan meremukkan kita semua menjadi pasta daging."
Shi Hao menatap badai ungu yang mengamuk itu. Dia baru saja mendapatkan harta dan kekuatan baru, dia tidak berniat mati konyol karena badai.
Dia berbalik menatap Tie Shan.
Raksasa batu itu kini mengenakan Zirah Gunung Bintang yang baru—baju zirah hitam legam yang terbuat dari inti planet, memancarkan aura berat yang menindas.
"Tie Shan," panggil Shi Hao.
"Siap, Tuan!" Tie Shan membusungkan dada.
"Kau dengar Wuming? Lambung kanan akan jebol. Perisai energi tidak berguna di sana."
Shi Hao menunjuk ke luar jendela, ke arah neraka petir ungu itu.
"Keluar sana. Tahan lambung kapal itu secara manual."
Mata Nana terbelalak. "Tuan Feng?! Itu bunuh diri! Di luar sana ada Petir Void dan tekanan hampa udara!"
Tie Shan tidak bertanya dua kali. Dia hanya menurunkan pelindung wajah zirahnya. Matanya yang menyala kuning di balik helm menyiratkan tekad baja.
"Jadilah dinding, Tie Shan," kata Shi Hao pelan. "Aku akan memacu kapal ini sampai batas maksimal. Jangan lepaskan peganganmu, atau kau akan hanyut selamanya di antariksa."
"Saya adalah Batu, Tuan. Batu tidak hanyut," jawab Tie Shan berat.
Dia berbalik menuju ruang ruang kedap udara.
Eksterior Kapal – Di Tengah Badai.
Pintu palka terbuka. Tie Shan melangkah keluar ke lambung kapal.
Seketika, dia dihantam oleh angin surya yang menderu tanpa suara. Gravitasi mencoba menariknya lepas.
Tie Shan merangkak menuju bagian lambung kanan yang mulai retak.
"Seni Gunung: Penyatuan!"
Tie Shan membesarkan tubuhnya hingga setinggi lima meter. Dia membaringkan tubuhnya di atas retakan itu. Dia mencengkeram pinggiran yang robek dengan kedua tangan dan kakinya.
Dia menjadikan tubuhnya sendiri sebagai "Tambalan" hidup.
KRAAAK!
Kapal memasuki inti badai.
Petir ungu menyambar.
BLAR!
Satu sambaran menghantam punggung Tie Shan.
Jika dia tidak memakai Zirah Gunung Bintang, tubuhnya pasti sudah hancur. Zirah itu menyerap 80% dampak petir, tapi 20% sisanya tetap masuk ke tubuh Tie Shan, membakar saraf batunya.
"GRRRHHH!" Tie Shan menggeram, asap mengepul dari punggungnya. Tapi cengkeramannya tidak melonggar.
Namun, petir bukan satu-satunya ancaman.
Dari dalam awan badai ungu itu, sepasang mata biru menyala muncul. Lalu sepasang lagi. Dan lagi.
Makhluk-makhluk panjang seperti belut listrik raksasa, dengan mulut penuh gigi jarum, berenang di udara hampa.
Binatang Petir Void (Void Lightning Beasts). Tingkat: Setara Penyatuan Kehampaan.
Mereka memakan energi listrik, dan kapal ini adalah prasmanan berjalan bagi mereka.
"Sreee!"
Tiga ekor Binatang Petir melesat ke arah Tie Shan yang sedang tidak berdaya karena harus memegangi kapal.
Mereka menggigit bahu, paha, dan leher Tie Shan. Gigi mereka menembus celah zirah, mengalirkan listrik tegangan tinggi langsung ke daging batu Tie Shan.
Tie Shan meraung kesakitan. Dia ingin memukul mereka, tapi jika dia melepaskan tangannya, lambung kapal akan sobek dan semua temannya di dalam akan mati.
Tahan... Tahan... Aku adalah Benteng!
Tie Shan membiarkan monster-monster itu menggigitinya. Dia mengalirkan Qi Tanah-nya untuk memperkeras tubuh, mengubah kulitnya menjadi intan hitam.
"MAKAN INI, CACING!" teriak Tie Shan, mengalirkan balik energi petir yang dia terima ke lambung kapal untuk memperkuat.
Interior Kapal.
"Lambung kanan stabil! Tapi ada tanda kehidupan asing menempel di luar!" lapor Nana.
"Luo Tian!" teriak Shi Hao. "Bersihkan parasit itu dari punggung saudaramu!"
Luo Tian sudah berada di posisi (Meriam Manual) kapal. Namun, meriam energi kapal tidak bisa membidik monster yang menempel di tubuh Tie Shan tanpa melukai Tie Shan sendiri.
"Tidak bisa pakai meriam!" kata Luo Tian panik.
Dia mengambil keputusan nekat. Dia membuka jendela kecil di samping. Dia mengeluarkan Busur Jiwa-nya.
Dia tidak menggunakan Panah Pembunuh. Dia memadatkan Qi-nya menjadi panah-panah kecil yang tajam.
Mata ketiganya terbuka, membidik lewat celah badai.
"Bertahanlah, Kakak Besar..."
Twang! Twang! Twang!
Tiga panah energi melesat menembus badai, melengkung menghindari arus, dan...
JLEB! JLEB! JLEB!
Ketiga panah itu menancap tepat di mata Binatang Petir yang menggigit Tie Shan.
Monster-monster itu menjerit dan melepaskan gigitan mereka, lalu tubuh mereka meledak menjadi percikan listrik.
Di luar, Tie Shan melihat monster-monster itu mati. Dia mengacungkan jempolnya ke arah tempat Luo Tian berada.
Di ruang kemudi, Shi Hao melihat celah di badai di depan sana.
"Itu dia! Mata Badai!"
Shi Hao menyuntikkan Api Matahari (dari Benih Api Sembilan Yang) langsung ke kapal.
VROOOOM!
Bahtera Teratai Merah meraung. Ekor kapal menyemburkan api putih kebiruan sepanjang satu kilometer.
Kapal itu melesat maju dengan kecepatan yang menembus batas, merobek dinding badai ungu itu.
Tekanan pada Tie Shan meningkat seribu kali lipat. Zirahnya mulai retak. Tulang-tulang jarinya patah satu per satu karena menahan.
JANGAN... LEPAS!
BLARRRR!
Cahaya putih menyilaukan menelan mereka.
Zona Tenang – Perbatasan Sektor.
Hening.
Guncangan berhenti. Suara derit logam menghilang.
Bahtera Teratai Merah melayang di ruang angkasa yang tenang, berbintang, dan bebas dari kabut.
Di ruang kemudi, Nana merosot lemas di kursinya. "Kita... Kita berhasil keluar."
Shi Hao tidak merayakan. Dia langsung berlari ke ruang ruang kedap udara.
"Wuming! Buka pintu palka! Tarik Tie Shan masuk!"
Pintu terbuka. Wuming dan Shi Hao menarik tubuh raksasa Tie Shan yang berasap masuk ke dalam.
Kondisi Tie Shan mengerikan. Zirah Gunung Bintang-nya hangus dan penyok di banyak tempat. Jari-jari tangannya hancur karena mencengkeram besi terlalu kuat. Tubuhnya penuh bekas gigitan yang menghitam.
Tie Shan terbatuk, memuntahkan kerikil panas. Dia membuka helmnya, memperlihatkan wajah batu yang retak namun tersenyum lebar.
"Tuan..." suara Tie Shan parau.
"Kapalnya... utuh?"
Shi Hao menatap Tie Shan. Rasa hormat yang mendalam terpancar di mata kapten itu.
"Ya," jawab Shi Hao, menepuk bahu Tie Shan pelan (di bagian yang tidak luka). "Mulus tanpa goresan. Berkat kau."
"Istirahatlah,. Kau butuh pemulihan besar."
Tie Shan mengangguk puas, lalu pingsan dengan suara mendengkur seperti batu yang digiling.
Shi Hao berdiri, menatap ke luar jendela. Di depan mereka, terbentang kehampaan luas yang memisahkan Sektor Pinggiran dan Sektor Pusat.
Lautan Hampa (The Void Sea).
"Satu rintangan selesai," gumam Shi Hao. "Sekarang kita menyeberang."
Tapi Shi Hao tahu, ketenangan ini hanya sementara. Di radar jarak jauh, titik-titik merah kecil mulai bermunculan.
Muantebz 🔝🐉🔥🌟🔛