NovelToon NovelToon
Handsome Ghost

Handsome Ghost

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Beda Dunia / Romantis / Hantu / Mata Batin / Komedi
Popularitas:179
Nilai: 5
Nama Author: Queena lu

Kiara Selia tidak pernah percaya hal-hal berbau mistis. Hidupnya sederhana: sekolah, pulang, main game online di ponsel, lalu mengeluh soal hidup seperti remaja normal lainnya.
Sampai suatu sore di sebuah taman kota.
Saat sedang fokus menyelesaikan match game online, Kiara terganggu oleh seorang pemuda yang mondar-mandir tak jelas di depannya. Gerakannya gelisah, ekspresinya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Karena kesal dan tanpa berpikir panjang, Kiara menegurnya.
Dan sejak saat itu, hidupnya tidak pernah kembali normal.
Pemuda itu bukan manusia.
Sejak teguran itu, Kiara mendadak bisa melihat makhluk yang seharusnya tak terlihat, termasuk si pemuda bermata biru langit yang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut… sekaligus penuh harapan.
Menyadari bahwa Kiara adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarnya, sosok hantu itu mulai mengikuti Kiara ke mana pun ia pergi. Dengan cara yang tidak selalu halus, sering mengagetkan, dan kadang memalukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queena lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Cengkeraman yang Tak Terlihat

Kata-kata dokter masih menggantung di udara seperti kabut tebal yang tidak bisa disibakkan.

“Secara medis, tidak ada masalah serius.”

Kalimat itu seharusnya menenangkan. Tapi bagi Kiara, justru terasa seperti vonis yang lebih menakutkan. Karena jika tubuh Bima baik-baik saja, maka yang diserang bukanlah daging dan tulang.

Melainkan sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh alat medis.

Sesuatu yang tidak bisa ditangani dengan infus, obat, atau alat monitor.

Sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang bisa melihat dunia di balik tirai.

Bu Lina terduduk lemas di kursi. “Jadi… anak saya kenapa, Dok?”

Dokter menghela napas pelan. “Kami hanya bisa menyarankan rawat jalan untuk sementara. Kami akan beri obat penunjang dan vitamin. Tapi secara klinis, tidak ada diagnosis yang bisa kami pastikan.”

Pak Arman mengepalkan tangan. “Maksudnya kami bawa pulang begitu saja?”

“Untuk saat ini, iya, Pak,” jawab dokter hati-hati. “Kami akan jadwalkan kontrol lanjutan. Jika ada perubahan, segera kembali.”

Tidak ada yang benar-benar merasa lega.

Om Hardi berdiri, wajahnya keras. “Kalau rumah sakit nggak bisa apa-apa, kita cari cara lain.”

Kiara yang berdiri agak menjauh, tanpa sengaja menangkap bisikan itu.

Bu Lina menatap suaminya, suaranya direndahkan. “Mas… mungkin kita perlu… cari orang pintar.”

Pak Arman terdiam beberapa detik. Lalu mengangguk pelan. “Aku juga kepikiran itu.”

Darah Kiara terasa mendingin.

Orang pintar.

Dukun.

Di telinganya, kata itu bukan lagi sekadar mitos kampung. Bukan lagi cerita nenek yang digunakan untuk menakut-nakuti anak kecil.

Dengan apa yang sudah ia lihat, Kiara tahu… mereka mungkin tidak salah arah.

Sky berdiri di samping Kiara, ekspresinya menegang. “Mereka mulai menyadari ini bukan penyakit biasa.”

“Aku dengar,” bisik Kiara. “Dan itu bikin aku makin takut.”

“Kenapa?”

“Karena itu berarti… yang kita hadapi bukan cuma hantu.”

Sky tidak membantah.

Beberapa saat kemudian, perawat mendorong kursi roda keluar dari ruang perawatan.

Di atasnya, Bima terbaring. Wajahnya pucat. Matanya terpejam. Tubuhnya terlihat seperti kehilangan sebagian dari dirinya, seperti seseorang yang ditinggalkan jiwanya sedikit demi sedikit.

Bu Lina langsung berdiri dan mendekat, menahan tangis. “Bima…”

Nayla ikut berdiri, wajahnya penuh khawatir. Sebagai tetangga sekaligus sahabat dekat, ia tampak lebih seperti keluarga daripada sekadar teman.

Kiara berdiri kaku.

Lalu…

Ia melihatnya.

Bukan hantu genit itu.

Bukan sosok putih yang penuh penyesalan.

Yang Kiara lihat membuat napasnya tercekat di tenggorokan.

Di belakang Bima.

Menyatu dengan tubuhnya.

Membungkuk di atasnya seperti bayangan hidup.

Sosok hitam besar dan berbulu.

Bulu tebal menutupi hampir seluruh tubuhnya. Bahunya lebar. Lengannya panjang, terlalu panjang untuk ukuran manusia. Kukunya melengkung, runcing, hitam legam, mencengkeram leher Bima seperti cakar binatang buas.

Wajahnya setengah tertutup bulu, tapi Kiara bisa melihatnya dengan jelas.

Mata merah menyala.

Seperti bara api.

Panas.Mengintimidasi.Dan penuh kelaparan.

Kiara merasa lututnya hampir kehilangan tenaga.

Genderuwo.

Kata itu muncul di kepalanya tanpa ia sadari.

Sosok yang dulu hanya ada di cerita neneknya. Cerita tentang makhluk besar, berbulu, penunggu tempat sepi, pemakan energi manusia, penggoda, pencuri jiwa, makhluk yang tertawa di kegelapan.

Dan sekarang…

Cerita itu berdiri tepat di depan matanya.

Nyata. Mengerikan.

Genderuwo itu membuka mulutnya sedikit, memperlihatkan deretan gigi yang tidak sepenuhnya seperti manusia. Nafas hitam seperti asap tipis keluar dari sela bibirnya, mengalir ke arah wajah Bima.

Seolah sedang menarik sesuatu yang tidak terlihat.

Seolah sedang berusaha mencabut sesuatu dari dalam diri Bima.

“Sky…” bisik Kiara, suaranya nyaris tidak terdengar.

Sky menatap sosok itu, tubuhnya membeku. “Itu bukan hantu biasa.”

“Aku tahu…”

Yang lebih mengerikan, genderuwo itu tampak seperti tidak bisa sepenuhnya berhasil.

Cakarnya mencengkeram. Tapi ada sesuatu yang menahannya. Seolah ada batas. Seolah ada sisa jiwa Bima yang masih bertahan.

Atau sesuatu yang melindunginya.

Genderuwo itu menggeram pelan. Suara rendah, seperti getaran dari dalam tanah.

Lalu…

Matanya bergeser.

Menatap Kiara.

Langsung.

Tanpa ragu.

Tanpa salah sasaran.

Tatapan merah menyala itu bertemu dengan mata Kiara.

Untuk sepersekian detik, dunia terasa berhenti.

Kiara tahu.

Makhluk itu tahu.

Ia tahu Kiara bisa melihatnya.

Tatapan itu bukan hanya penuh ancaman.

Tapi juga penuh perhitungan.

Seolah berkata:

Aku tahu kamu melihatku.

Dada Kiara seperti dihantam palu. Napasnya tercekat. Tubuhnya mundur refleks. Pandangannya berkunang-kunang.

“Kiara?”

Suara Aditya terdengar, tapi terasa jauh.

Kaki Kiara melemas. Tubuhnya hampir terjatuh ke belakang.

Jika saja tangan Aditya tidak dengan cepat menahan bahunya.

“Kiara! Kamu kenapa?”

Aditya memegang Kiara agar tidak ambruk. Kiara tidak bisa menjawab. Dadanya naik turun cepat. Tangan-tangannya gemetar hebat.

Sky berdiri di depan Kiara, seolah ingin melindunginya meski ia tahu dirinya tidak bisa menyentuh.

“Kamu syok,” kata Sky, meski hanya Kiara yang bisa mendengar.

Genderuwo itu masih menatap Kiara.

Lalu bibirnya melengkung. Bukan senyum.Lebih seperti seringai. Seolah ia menikmati ketakutan itu. Seolah ketakutan Kiara adalah hiburan.

“Kiara, lihat aku,” kata Aditya, suaranya tegas tapi panik. “Kamu kenapa? Kamu pucat banget.”

Kiara tidak sanggup berkata, Ada genderuwo yang mencengkeram leher Bima.

Ia tahu.Tidak ada yang akan percaya.

Ia tidak mau disebut berhalusinasi.

Tidak mau dianggap stres.

Tidak mau dianggap mencari perhatian.

Refleks, Kiara memeluk Aditya.

Sangat kencang.

Seperti anak kecil yang berusaha bersembunyi dari monster di balik pintu.

Tubuhnya gemetar hebat.

“Aku mau pulang,” bisik Kiara dengan suara pecah. “Tolong… aku mau pulang.”

Aditya terkejut, tapi langsung membalas pelukan itu, menepuk punggung Kiara dengan canggung tapi tulus.

“Oke. Oke. Kita pulang,” katanya cepat. “Tenang. Aku antar.”

Sky menatap Kiara dengan campuran khawatir dan marah. “Kamu nggak bisa pura-pura ini nggak terjadi.”

“Aku tahu,” bisik Kiara. “Tapi aku juga nggak bisa bilang.”

Genderuwo itu akhirnya mengalihkan pandangannya kembali ke Bima. Cakarnya kembali menekan. Mulutnya menggeram pelan.

Seolah memberi peringatan.

Seolah berkata:

Ini belum selesai.

Kiara tidak menoleh lagi.

Ia tidak berani.

Ia takut jika ia menatap lagi, mentalnya akan runtuh sepenuhnya.

Aditya mengantar Kiara keluar dari rumah sakit. Langkah Kiara terasa ringan tapi juga berat, seperti kakinya tidak sepenuhnya menapak di lantai.

Di luar, udara malam terasa lebih dingin.

Terlalu dingin.

Sky melayang di sisi Kiara. “Itu bukan kebetulan.”

“Apa?”

“Genderuwo jarang mengincar satu orang tanpa alasan,” kata Sky serius. “Biasanya ada ikatan. Perjanjian. Kiriman. Atau… kutukan.”

Kiara menelan ludah. “Kamu pikir Bima…?”

“Aku nggak tahu,” jawab Sky jujur. “Tapi sesuatu sedang mencoba menarik jiwanya. Dan sesuatu yang lain mungkin masih menahannya.”

“Siapa?”

Sky terdiam.

“Mungkin… hantu genit itu,” lanjut Sky pelan. “Dia terikat pada Bima. Dan mungkin, untuk pertama kalinya… dia mencoba melindungi, bukan mengganggu.”

Kiara memejamkan mata.

Dunia yang ia kenal semakin kabur batasnya.

Antara hidup dan mati.

Antara logika dan hal gaib.

Antara cerita nenek dan kenyataan yang berdiri di depannya.

Saat motor Aditya melaju membawa mereka pulang, satu hal menjadi sangat jelas di kepala Kiara.

Ini bukan lagi sekadar misteri.

Ini adalah perburuan.

Dan Bima adalah mangsanya.

Genderuwo itu sudah menandainya.

Dan Kiara....

Tanpa ia sadari....

Baru saja menandai dirinya sendiri sebagai saksi.

Dan mungkin…

Sebagai target berikutnya.

1
kikyoooo
wah semangat! yuk saling support kak🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!