Bukan keinginannya masuk dalam pernikahan ini. Dia tahu jika suaminya tidak akan pernah menganggapnya sebagai istri, Marvin hanya akan memandangnya sebagai penyebab kematian dari calon istrinya yang sebenarnya.
Kecelakaan yang menimpa Kakak beradik ini, membuat dunia seorang Raina hancur. Kakaknya yang sebentar lagi akan menikah dengan kekasih hatinya, harus pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Raina yang sebagai orang yang selamat, pasti akan disalahkan di pojokkan. Meski dia juga tidak pernah mau hal ini terjadi.
Dalam keluarganya, hanya Amira yang peduli padanya dan menganggapnya keluarga. Tapi sosok seperti malaikat tak bersayap itu, malah harus pergi untuk selamanya. Meninggalkan Raina seorang diri untuk menghadapi kejamnya hidup.
Entah sampai kapan pernikahan ini akan bertahan, apa Raina akan sanggup terus bertahan disamping suaminya, atau pergi untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 ~ Takut Pertahananku Runtuh
Seseorang yang di sebut suami, seharusnya yang memberinya kehangatan. Tapi, dia malah membuatku kedinginan. Ternyata hanya diri sendiri yang bisa memeluk luka ini dan kecewa ini.
Tangisannya mereda, namun air mata masih tersisa di sudut mata. Pria di depannya juga masih terdiam dengan bingung. Raina mengusap kasar sisa air matanya, lalu berdiri dengan susah payah. Marvin pun ikut berdiri.
"Maaf Kak, aku pergi dulu"
Raina sudah naik ke motornya, dan ingin menyalakan mesin motornya, tapi tangannya langsung ditahan oleh Marvin. Raina menoleh dan menatap pria yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya itu. Matanya masih bengkak, bahkan memerah karena tangisan.
"Kau ikut pulang denganku, mengendarai motor saat keadaanmu seperti ini hanya akan berbahaya"
Raina terdiam, dia terpaksa kembali turun dari motornya ketika Marvin menarik tangannya. "Tidak bisa Kak, aku tidak bisa meninggalkan motorku disini"
Marvin tidak menghiraukan, dia menarik Raina pergi menuju mobilnya. Membuka pintu mobil. "Masuklah, dan Bayu yang akan membawa motormu pulang ke rumah"
Bayu yang sejak tadi diam di dalam mobil, hanya bisa terbengong dengan ucapan Marvin barusan. Bayu melihat semua yang terjadi pada Raina dan Marvin tadi, meski dari jarak beberapa meter.
"Kenapa aku? Kau saja" ketus Bayu.
"Kau juga sudah tidak dibutuhkan disini, sebaiknya pergi bawa motor Raina saja"
Bayu menatap sahabatnya dengan tidak percaya, setelah sidang perceraian selesai, bisa-bisanya Marvin menganggap Bayu tidak berguna lagi. "Sialan ya kau, Vin! Setelah kerja kerasku mengurus kasus perceraianmu itu, kau tega mengatakan aku tidak berguna"
"Tidak usah banyak drama, cepat turun!"
Bayu menghela napas pelan, dia sudah akan membuka pintu mobil, ketika suara Raina memecah. "Cukup Kak Marvin!" Suaranya penuh tekanan kuat, dia juga menghempaskan kasar tangan Marvin yang memegang tangannya.
Dengan apa yang dilakukan Raina, dia juga cukup terkejut. Marvin terdiam dengan tatapan lekat pada wanita itu.
"Jangan lakukan hal seperti ini lagi! Kita sudah akan berpisah, dan jangan bersikap seolah kamu benar-benar peduli dan perhatian padaku. Kak Marvin tahu, betapa aku berusaha untuk tidak meruntuhkan benteng yang aku bangun sendiri dalam pernikahan ini. Jadi, jangan bersikap seperti ini. Lebih baik tetap menjadi Kak Marvin yang dingin dan tidak peduli padaku! Aku tidak mau Kak, aku ... aku tahu pertahananku tidak akan kuat bertahan lagi"
Raina mengusap air matanya kasar, bahkan dia sudah tidak ingin menangis. Tapi air mata seolah tidak bisa ditahannya lagi. Raina pergi meninggalkan Marvin dan kembali ke motornya. Mengendarai motornya untuk pergi dari sana. Sementara Marvin hanya diam membeku melihat kepergian Raina. Tanpa sadar tangannya terangkat memegang dada yang terasa sesak dan berdenyut sakit.
"Kau paham 'kan Vin? Perempuan yang sudah kecewa dan menutup hati dan dirinya, maka dia tidak akan melihatmu dalam kebaikan lagi. Niat baikmu seolah peringatan waspada untuk dirinya agar tidak luluh" ucap Bayu.
Marvin menghembuskan napas panjang dengan memejamkan mata. Lalu dia masuk ke dalam mobil dan meminta sopir untuk melajukan mobilnya. Masih diam dan mengingat semua kejadian tadi. Bukan ucapan Raina saja yang terngiang dalam ingatannya, tapi isak tangisnya pun sama, isakan yang penuh kepiluan dan rapuh di baliknya.
*
Raina memarkirkan motornya, bukan di rumahnya. Tapi sebuah parkiran pemakaman. Dia pergi menuju makam yang belum lama itu, duduk bersimpuh di sana dengan menangis sejadi-jadinya. Tangannya mengusap nisan yang bertuliskan nama Kakaknya.
"Kak Amira, aku lelah ... aku bahkan tidak sanggup lagi menjalani semua ini. Tanpa Kakak, hidupku benar-benar tidak lagi kuat, aku lemah dan hancur Kak. Hiks.."
Dalam tangisannya, dia hanya mengingat bayangan kebersamaan dirinya dan Amira. Dulu, ketika dia menangis karena hal apapun, maka Amira yang selalu datang memeluknya, memberikan kehangatan dan kekuatan untuknya. Tapi sekarang, Amira sudah tidak ada, dan Raina benar-benar merasa sendirian di dunia ini.
"Aku harus bagaimana lagi, Kak? Hiks.. Tidak ada yang menginginkan aku, semua orang membenci kehadiranku"
Raina menyandarkan kepalanya di atas batu nisan, menangis sejadi-jadinya. Rintik hujan yang mulai turun, sama sekali tidak membuatnya ingin beranjak. Membiarkan hujan membasahi tubuhnya, dan meredam suara tangisannya.
Sejatinya hanya Amira yang selalu membuatnya nyaman, dan sampai sekarang pun makam Amira yang selalu menjadi pelariannya ketika sudah merasa tidak sanggup dengan semuanya. Amira adalah tempat ternyaman dan sandaran bagi Raina, namun sekarang sandaran itu hilang, sehingga Raina pun merasa kehilangan tujuan hidupnya.
Sebuah usapan lembut di kepalanya membuat Raina perlahan menoleh. Dia tertegun melihat Amira yang berada di sampingnya, gaun putihnya jatuh mengenai tanah saat dia berjongkok di depan Amira. Senyumannya masih penuh kehangatan seperti biasa.
"Kak Amira" Raina langsung memeluknya, hujan sudah reda, bahkan bajunya sudah basah kuyup. "Aku merindukanmu, Kak"
Pelukan hangat itu akhirnya kembali Raina rasakan. Usapan lembut di kepala hingga ke punggungnya cukup menenangkan Raina yang hampir hilang arah ini.
"Rain, kamu harus tetap bertahan dalam kondisi apapun. Kamu adalah adik Kakak yang paling kuat, tidak boleh menyerah begitu saja"
"Tapi aku lelah Kak, kenapa harus aku? Kenapa?"
"Karena Tuhan pun tahu jika kamu akan kuat, Sayang" Amira menangkup wajah Raina dan menatapnya lekat. "Sebentar lagi kamu akan mendapatkan malaikat kecil yang melindungimu dan menjagamu selamanya. Dia tidak akan pernah meninggalkanmu"
Raina menatap Amira dengan kening berkerut bingung. "Apa maksud Kakak?"
"Rain harus kuat pokoknya, Kakak yakin Rain bisa melewati semua ini. Kakak akan selalu berada disampingmu, dan Kakak akan selalu mendampingimu, Sayang. Kakak akan memastikan kamu mendapatkan kebahagiaan yang selayaknya, dan baru bisa meninggalkan urusan di dunia ini dengan tenang"
Raina menggeleng cepat, seperti baru menyadari jika sosok Amira di depannya tidaklah nyata. Di sampingnya masih ada makam dengan nisan bertuliskan nama Amira.
"Kak Amira jangan pergi lagi, aku ingin bersama kamu saja, Kak. Aku merindukanmu"
Amira tersenyum, dia mengusap sisa air mata di pipi adiknya. Mengecup keningnya dan kembali memeluknya sejenak. "Kamu tidak bisa ikut dengan Kakak, karena belum saatnya kamu meninggalkan dunia ini sebelum menemukan kebahagiaanmu. Rain anak yang kuat, Kakak akan selalu mendampingimu sampai menemukan kebahagiaan, Sayang. Kuat ya"
Senyuman Amira begitu menenangkan, namun perlahan wujudnya seperti menguap dan hilang. Raina mencoba menahannya, ingin melarang Amira agar tidak pergi. Tapi ... Amira benar-benar menghilang dari hadapannya.
"Kak Amira, jangan pergi!"
Raina mengerjap kaget, dia terbangun dari atas batu nisan. Hari sudah mulai gelap, sisa-sisa hujan masih berbekas, dan bajunya pun sudah hampir kering lagi setelah kehujanan tadi. Raina mengusap wajahnya, baru menyadari jika semua itu hanya sebuah mimpi.
Raina menatap lekat nisan, mengusap nama Amira itu dengan lembut. "Nanti aku datang lagi kesini, Kak"
Bersambung
👍
pergi dari rumah Marvin,,