Raka, seorang arsitek sukses namun kesepian di usia 30-an, menemukan kembali barang-barang lamanya saat hendak pindah rumah. Penemuan ini membawanya menelusuri kembali ingatan tentang Naya—seorang perempuan yang sangat biasa-biasa saja; tidak paling cantik, tidak paling pintar, dan sering terlupakan oleh orang lain. Namun, bagi Raka, Naya adalah satu-satunya anomali dalam hidupnya yang teratur. Cerita ini berjalan dalam dua garis waktu: masa kini (Raka yang mencoba berdamai dengan kehampaannya) dan masa lalu (bagaimana hal-hal remeh bersama Naya membentuk siapa Raka hari ini).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siang Hari
Matahari sudah tinggi ketika Raka akhirnya membuka mata. Tidak ada bunyi alarm, tidak ada dering telepon dari Bayu, dan untuk beberapa detik pertama, tidak ada beban di dadanya. Tubuhnya terasa berat, seolah gravitasi bekerja dua kali lipat lebih kuat di kasur ini, sisa dari kelelahan fisik yang menumpuk sepanjang minggu. Tidur tanpa mimpi semalam adalah anugerah langka, sebuah jeda singkat di mana otaknya benar-benar mati rasa.
Raka duduk di tepi tempat tidur, mengusap wajahnya yang berminyak. Jam digital di nakas menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit. Sabtu. Hari di mana waktu seharusnya menjadi miliknya sendiri, namun bagi Raka, akhir pekan sering kali menjadi musuh yang menyamar. Tanpa struktur pekerjaan dan tenggat waktu, pikirannya memiliki terlalu banyak ruang kosong untuk melantur.
Ia bangkit dan berjalan menuju dapur kecil di sudut apartemen studionya. Kerongkongannya kering. Mungkin efek dari sambal pecel lele semalam yang membakar lidah, atau sekadar dehidrasi karena tidur terlalu lama. Raka menuangkan air dingin dari teko ke dalam gelas kaca, meneguknya habis dalam sekali tarikan napas. Sensasi dingin itu menjalar ke perut, menyadarkannya sepenuhnya bahwa ia masih hidup, dan hari ini harus dilewati.
Apartemen itu sunyi. Hanya ada dengung pelan dari lemari es dan suara samar kendaraan yang lewat jauh di bawah sana. Raka melihat sekeliling. Selama seminggu terakhir, ia mengabaikan tempat tinggalnya demi pekerjaan. Ada tumpukan pakaian kotor di kursi rotan, piring bekas sarapan kemarin yang belum dicuci, dan lapisan debu tipis di atas meja televisi.
"Oke," gumamnya pada diri sendiri. "Bersih-bersih."
Melakukan pekerjaan rumah tangga adalah strategi pertahanan Raka setiap akhir pekan. Jika tangannya sibuk, kepalanya tidak akan terlalu berisik.
Ia mulai dengan mengumpulkan pakaian kotor. Kemeja kerja, celana bahan, kaus kaki, dan beberapa kaus santai. Raka memilahnya berdasarkan warna, sebuah kebiasaan otomatis yang ia lakukan tanpa berpikir. Namun, gerakannya terhenti ketika tangannya menarik sehelai kaus abu-abu yang sudah agak melar di bagian lehernya.
Itu kaus biasa. Kaus promosi dari sebuah acara lari lima tahun lalu yang bahannya pun tidak terlalu bagus. Tapi Raka ingat betul teksturnya. Dulu, *dia* sering meminjam kaus ini jika menginap atau sekadar main ke tempat kos Raka yang lama karena ukurannya yang besar dan nyaman. Raka ingat bagaimana bahu perempuan itu terlihat tenggelam dalam kain abu-abu ini, dan bagaimana ia akan menggulung lengan kausnya yang kepanjangan hingga ke siku.
Raka mendekatkan kain itu ke wajahnya, sebuah refleks bodoh yang langsung ia sesali.
Tidak ada bau apa pun. Hanya bau apek pakaian kotor yang sudah terlalu lama didiamkan di keranjang. Wangi sampo stroberi atau parfum vanila yang dulu sering menempel di sana sudah hilang bertahun-tahun lalu, terhapus oleh puluhan kali putaran mesin cuci dan deterjen murah.
Namun, ingatan visual itu jauh lebih kuat daripada aroma. Raka bisa melihat bayangan itu duduk di sofa, memakai kaus ini sambil memegang stik *game console*, tertawa karena berhasil mengalahkan Raka dalam permainan balap mobil. Tawa yang renyah dan lepas.
Raka meremas kaus itu, lalu melemparnya masuk ke dalam tabung mesin cuci dengan sedikit tenaga berlebih. Ia menuangkan deterjen cair, memutar kenop ke mode pencucian berat, dan menekan tombol *start*. Suara air yang mengucur deras mengisi keheningan ruangan, memberikan sedikit kelegaan.
Mesin cuci berputar, menciptakan irama monoton yang menghipnotis. Raka beralih ke wastafel, mencuci piring dengan gerakan cepat dan efisien. Ia menggosok noda kopi di cangkir, membilas sisa minyak di piring, dan menata semuanya di rak pengering. Semuanya harus bersih. Semuanya harus rapi. Jika apartemennya berantakan, ia merasa isi kepalanya juga ikut berantakan.
Saat ia sedang mengelap meja makan, ponselnya bergetar di atas meja kopi.
Nama "Ibu" tertera di layar.
Raka menghela napas panjang sebelum mengangkatnya. Ia mengatur nada suaranya agar terdengar lebih ceria, atau setidaknya, lebih hidup.
"Halo, Bu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Ka. Baru bangun kamu?" Suara ibunya terdengar jernih, diiringi suara kicauan burung perkutut ayah di latar belakang.
"Sudah dari tadi, Bu. Ini lagi beres-beres apartemen," jawab Raka, berbohong sedikit tentang waktu bangunnya. "Kenapa, Bu? Tumben telepon pagi-pagi."
"Ini kan sudah siang, Raka. Kamu itu kebiasaan," omel ibunya lembut. "Ibu cuma mau tanya kabar. Minggu lalu kamu nggak telepon. Sibuk banget di kantor?"
"Iya, Bu. Kemarin sempat ada masalah sedikit, jadi harus lembur. Tapi sudah beres kok."
"Jangan kerja terus. Jaga kesehatan. Makan dijaga. Kamu itu kalau sudah kerja suka lupa segalanya," nasihat itu mengalir seperti kaset yang diputar ulang. Raka mendengarkannya sambil duduk di sofa, matanya menatap putaran mesin cuci yang terlihat dari pintu kaca kecil.
"Iya, Bu. Raka makan teratur kok."
Ada jeda sejenak di ujung telepon. Raka tahu apa yang akan datang selanjutnya. Ini adalah bagian dari percakapan yang selalu ia hindari.
"Lebaran nanti pulang, kan?" tanya Ibu.
"Masih lama, Bu. Masih dua bulan lagi."
"Tiket kereta itu cepat habis lho, Ka. Kalau nggak dipesan sekarang nanti kehabisan. Ayahmu kemarin tanya, Raka kapan pulang? Kok nggak pernah bawa teman?"
Kata "teman" diucapkan dengan penekanan yang halus namun jelas. Ibunya tidak pernah secara eksplisit bertanya soal pacar setelah kejadian dua tahun lalu itu, tapi Raka tahu maksud di baliknya. Orang tua selalu punya cara untuk bertanya tanpa bertanya.
"Nanti Raka cek jadwal dulu ya, Bu. Belum tahu dapat cuti atau nggak," elak Raka. "Soal teman... ya, nanti kalau ada yang bisa diajak, Raka ajak."
"Ya sudah. Jangan terlalu lama sendiri di sana, Ka. Nggak baik. Orang itu butuh teman ngobrol."
Kalimat itu menohok Raka tepat di ulu hati. *Orang butuh teman ngobrol.* Raka punya Bayu. Dia punya rekan kerja. Tapi Raka tahu definisi "teman ngobrol" yang dimaksud ibunya adalah seseorang yang bisa diajak berbagi hidup, bukan sekadar berbagi gorengan saat lembur.
"Iya, Bu. Nanti Raka kabari lagi ya. Ini mesin cucinya sudah mau selesai, mau jemur dulu."
Raka menutup telepon setelah mengucapkan salam. Keheningan kembali menyergap apartemen itu, kali ini terasa lebih menekan daripada sebelumnya. Percakapan dengan ibunya selalu meninggalkan rasa bersalah yang aneh. Rasa bersalah karena ia tidak bisa menjadi anak yang "normal" dan bahagia seperti harapan mereka. Ia merasa seperti sedang menipu orang tuanya dengan berpura-pura bahwa hidupnya baik-baik saja di kota besar ini.
Mesin cuci berbunyi *bip-bip-bip*, menandakan siklus pencucian selesai.
Raka mengeluarkan pakaian-pakaian basah itu ke dalam ember. Aroma pewangi pakaian menyeruak, segar dan artifisial. Ia membawa ember itu ke balkon kecil apartemennya. Matahari siang langsung menyengat kulitnya.
Satu per satu ia menjemur pakaian. Kemeja, celana, dan akhirnya, kaus abu-abu itu. Raka mengguncang kaus itu agar tidak kusut, lalu menyampirkannya di tali jemuran. Angin menerpa kain basah itu, membuatnya bergoyang pelan. Di bawah sinar matahari yang terik, kaus itu terlihat hanya sebagai sepotong kain tua yang menyedihkan. Tidak ada kenangan magis, tidak ada hantu masa lalu. Hanya benda mati yang basah.
Tapi Raka tahu, nanti malam saat ia mengangkatnya setelah kering, ia akan melipatnya dengan hati-hati dan menaruhnya di tumpukan paling bawah lemari, di tempat yang jarang ia sentuh.
Selesai menjemur, Raka kembali masuk dan melihat jam. Pukul dua belas siang. Masih ada setengah hari lagi yang harus dibunuh. Perutnya mulai terasa lapar, tapi ide makan di apartemen sendirian terasa menyedihkan setelah telepon dari Ibu.
Ia butuh suara. Ia butuh melihat manusia lain, meskipun tidak berinteraksi dengan mereka. Isolasi di dalam kotak beton ini mulai membuatnya sesak napas.
Raka mengambil dompet dan kunci apartemen. Ia mengganti celana pendeknya dengan celana jins dan mengenakan kemeja flanel kotak-kotak. Ia tidak punya tujuan pasti, tapi ia ingat ada toko buku besar di salah satu mal di pusat kota yang sudah lama tidak ia kunjungi.
Toko buku adalah tempat yang aman. Di sana, orang-orang sibuk dengan dunia mereka sendiri. Tidak ada yang peduli jika kau datang sendiri. Tidak ada yang bertanya kenapa kau memegang sebuah novel romantis dengan tatapan kosong. Dan yang paling penting, bau kertas baru selalu berhasil menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.
Raka mengunci pintu apartemen, meninggalkan keheningan dan jemuran yang bergoyang ditiup angin, melangkah keluar menuju keramaian kota yang tidak pernah benar-benar ia rasa sebagai rumah. Ia hanya butuh distraksi. Sesuatu, apa saja, untuk mencegah otaknya memutar ulang film lama yang seharusnya sudah tamat.
***