"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Misi Rahasia: Mencari Nomor WhatsApp Sang Dokter
Kertas kuning itu bertuliskan sebuah tantangan besar yang membuat Adrian merasa bahwa besok akan menjadi hari yang jauh lebih melelahkan daripada melakukan operasi bedah selama sepuluh jam penuh. Di sana tertulis dengan tinta warna-warni bahwa Lala akan mendapatkan nomor ponsel pribadi Adrian sebelum matahari terbenam esok hari. Adrian merobek kertas itu menjadi kepingan kecil lalu membuangnya ke dalam mesin penghancur dokumen dengan raut wajah yang sangat masygul.
"Saya tidak akan pernah memberikan akses komunikasi apa pun kepada bocah ingusan seperti dia," gumam Adrian sambil merapikan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan.
Sementara itu, Lala sudah berada di area apotek rumah sakit dengan mengenakan topi lebar dan kacamata hitam berukuran besar. Dia bersembunyi di balik pilar beton sambil mengawasi setiap pergerakan perawat yang membawa resep dokter dari ruangan Adrian. Tangannya memegang sebuah buku catatan kecil untuk mencatat setiap detil yang mungkin bisa membantunya membongkar rahasia sang dokter idaman.
"Permisi Suster, saya adik dari Dokter Adrian dan beliau meminta saya untuk mengambilkan berkas yang tertinggal di pendaftaran," ucap Lala dengan suara yang dibuat sedalam mungkin.
"Dokter Adrian setahu saya tidak memiliki adik perempuan yang masih sekolah, kamu siapa sebenarnya?" tanya perawat senior itu sambil menaruh kedua tangannya di pinggang.
Lala tersentak kaget namun segera memasang wajah sedih dengan air mata buatan yang mulai menggenang di sudut matanya yang bulat. Dia bercerita bahwa dirinya adalah adik angkat yang sedang mencari keberadaan sang kakak untuk memberikan kabar tentang kucing kesayangan mereka yang hilang. Perawat itu tampak mulai luluh meski matanya tetap memicing penuh dengan rasa curiga yang sangat mendalam.
"Coba kamu tanya ke bagian administrasi lantai dua, biasanya mereka menyimpan data kontak darurat para dokter spesialis," saran perawat itu akhirnya.
"Terima kasih banyak Suster yang cantik, semoga amal ibadah Suster dibalas oleh Tuhan dengan jodoh yang sangat tampan!" seru Lala sambil berlari menuju tangga darurat.
Lala menyelinap masuk ke ruang administrasi saat petugas sedang sibuk melayani antrean pasien yang sangat panjang dan melelahkan. Dia mendekati meja komputer yang sedang tidak dijaga lalu dengan cepat jemarinya menari-nari di atas papan ketik untuk mencari nama Adrian Abimanyu. Jantungnya berdebar-debar sangat kencang karena takut aksinya akan ketahuan oleh petugas keamanan yang sesekali berpatroli di area tersebut.
"Ketemu! Jadi ini nomor ponsel pribadimu yang sangat mahal dan sangat rahasia itu, Dokter Kulkas!" bisik Lala dengan penuh kegembiraan yang luar biasa.
Dia segera menyalin angka-angka tersebut ke telapak tangannya karena tidak sempat mengambil ponsel dari dalam tas sekolahnya. Saat dia hendak berbalik untuk kabur, sebuah bayangan besar tiba-tiba menutupi meja komputer tersebut hingga membuat suasana menjadi sangat mencekam. Lala perlahan mendongak dan menemukan Adrian sudah berdiri tepat di belakangnya dengan tangan bersedekap di dada.
"Sedang mencari apa kamu di dalam ruang data pribadi staf rumah sakit?" tanya Adrian dengan suara yang menggelegar layaknya petir di siang bolong.
"Aku hanya sedang mengecek apakah nama kita sudah terdaftar sebagai pasangan suami istri di sistem ini, Dokter," jawab Lala sambil menyembunyikan tangannya di balik punggung.
Adrian tidak membalas candaan itu dan langsung menarik pergelangan tangan Lala untuk memeriksa apa yang sedang disembunyikan oleh gadis itu. Matanya membelalak saat melihat deretan angka yang ditulis menggunakan tinta hitam di atas kulit telapak tangan Lala yang putih bersih. Rasa amarah Adrian kini benar-benar sudah mencapai puncaknya hingga ia menarik Lala keluar dari ruangan tersebut dengan langkah yang sangat lebar dan kasar.
"Ikut saya sekarang juga ke ruang keamanan untuk menghapus ingatanmu tentang nomor ini!" bentak Adrian tanpa mempedulikan tatapan orang-orang di sekitarnya.
"Dokter tidak bisa menghapus ingatan cintaku hanya dengan membawa petugas keamanan, itu sangat tidak adil bagi hatiku!" teriak Lala sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Adrian.
Pergumulan itu terhenti saat ponsel milik Adrian yang berada di dalam saku jasnya tiba-tiba bergetar dengan sangat hebat. Adrian melepaskan tangan Lala sejenak untuk mengangkat panggilan telepon yang ternyata berasal dari ruang operasi darurat. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Lala yang langsung berlari sekencang mungkin menuju pintu keluar rumah sakit sambil tertawa dengan sangat puas.
"Nomornya sudah aku hafal di luar kepala, tunggu saja kejutan tengah malam dariku, Dokter Adrian Sayang!" teriak Lala dari kejauhan sambil melambaikan tangannya.
Adrian hanya bisa berdiri mematung sambil menatap telapak tangannya sendiri yang terasa panas bekas bersentuhan dengan kulit Lala. Dia tahu bahwa malam ini kehidupannya yang tenang akan segera berakhir dan berganti menjadi sebuah teror yang sangat mengganggu-ganggu ketenangan tidurnya. Pria itu menghela napas panjang lalu melangkah menuju ruang operasi dengan perasaan yang sangat tidak karuan sama sekali.
Sangat tidak karuan sama sekali perasaan Adrian saat ia membayangkan pesan-pesan aneh apa yang akan dikirimkan oleh Lala tepat di tengah malam nanti.