NovelToon NovelToon
Jangan Lihat Gemetarku

Jangan Lihat Gemetarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Game / Idola sekolah / Komedi
Popularitas:837
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

Semua orang mengenal Genta sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) yang berwibawa. Tapi hanya Rara yang tahu kalau kakinya lemas setiap kali harus berpidato.

Berawal dari rahasia di balik panggung, Rara terjebak dalam kesepakatan rumit: Menjadi "support system" mental sang idola kampus secara offline, sambil menjaga rahasia bahwa sang pangeran es sebenarnya adalah Paladin manja yang ia kenal di dunia maya.

Satu hal yang Genta pelajari: Berakting cool itu mudah, tapi menyembunyikan detak jantung di depan Rara itu mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisi Gelap Kania

Kampus Universitas Nusantara di sore hari biasanya dipenuhi oleh gelak tawa mahasiswa yang bersiap pulang, namun bagi Rara, setiap sudut bangunan ini kini terasa seperti jeruji besi yang semakin menyempit. Di tengah pengucilan sosial yang menyesakkan dan tatapan sinis yang ia terima di koridor, sebuah getaran singkat muncul dari ponselnya. Pesan itu bukan dari Genta, yang masih menghilang dalam bisu, melainkan dari nomor yang sangat ia kenali.

Kania.

"Ruang BEM. Sekarang. Sendirian."

Langkah kaki Rara bergema pelan di koridor gedung pusat yang mulai sepi, menciptakan suara ketukan yang terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangannya. Ia berdiri di depan pintu jati besar bertuliskan 'Kantor Presiden Mahasiswa'. Dengan napas yang berat dan jemari yang sedikit bergetar, ia mendorong pintu itu, masuk ke dalam wilayah yang kini terasa asing.

Suasana di dalam ruang BEM sangat kontras dengan hiruk-pikuk organisasi yang biasanya terjadi. Ruangan itu luas, namun terasa sangat sempit karena dikelilingi oleh lemari-lemari arsip yang menjulang tinggi, seolah-olah rahasia ribuan mahasiswa tersimpan di sana. Foto-foto mantan ketua BEM dari masa ke masa menatap dingin dari dinding, menambah beban otoritas yang menekan pundak Rara. Aroma pengharum ruangan ocean breeze yang tajam dan steril menusuk hidung, menciptakan suasana yang kaku, jauh dari kehangatan.

Kania duduk di balik meja kerja Genta yang besar, sebuah pemandangan yang memberikan pernyataan visual yang jelas tentang siapa yang sebenarnya memegang kendali saat sang raja sedang goyah. Ia mengenakan kemeja putih tanpa cela yang disetrika tajam, rambutnya dikuncir kuda sangat rapi tanpa ada satu helai pun yang berani keluar, dan wajahnya nampak tenang, namun menyimpan ketajaman yang mematikan.

"Duduk, Rara," ucap Kania tanpa mendongak sedikit pun. Matanya tetap sibuk memeriksa setumpuk dokumen, seolah keberadaan Rara hanyalah gangguan kecil dalam jadwalnya yang padat.

Rara duduk di kursi kayu di depan meja, merasa sangat kecil dan tidak berdaya di ruangan yang penuh dengan simbol kekuasaan ini. "Ada apa, Kak?"

Kania perlahan mengangkat wajahnya. Ia tidak menatap Rara dengan amarah yang meledak-ledak, melainkan dengan tatapan kasihan yang dingin, jenis tatapan yang jauh lebih menyakitkan daripada makian. "Kamu tahu, Rara? Genta itu seperti porselen mahal yang antik. Sangat indah untuk dilihat, sangat berharga bagi kolektor, tapi sangat mudah retak jika disentuh oleh tangan yang kasar. Dan kamu... " Ia mengambil jeda. "Kamu adalah guncangan yang tidak seharusnya terjadi di dunianya."

Kania tidak membuang waktu. Ia menggeser sebuah map kulit berwarna biru tua ke hadapan Rara dengan gerakan yang anggun namun tegas. Di dalamnya terdapat berkas-berkas tebal berbahasa Inggris dengan logo universitas ternama dari Amerika Serikat yang berkilau di bawah lampu ruangan.

"Ini adalah kontrak beasiswa Full-Ride Genta untuk program magister di Ivy League." Kania menjelaskan dengan nada datar, seolah sedang membacakan laporan cuaca. "Ayahnya menghabiskan waktu bertahun-tahun, membangun koneksi diplomatik dan reputasi keluarga hanya untuk memastikan Genta mendapatkan posisi ini. Genta sendiri menghabiskan seluruh masa mudanya untuk memastikan dia layak. IPK sempurna, kepemimpinan tanpa cela, citra sebagai pemuda harapan bangsa... semua itu adalah syarat mutlak yang tidak bisa ditawar."

Kania mengetuk jarinya yang lentik di atas foto siluet balkon yang kini tercetak jelas di atas meja, seolah sedang menunjuk sebuah bukti kejahatan. "Satu skandal lagi, Rara. Satu saja catatan moral atau pelanggaran etik yang masuk ke berkas resminya, maka seluruh menara masa depan yang sudah dirancang sedemikian rupa itu akan hancur lebur dalam semalam. Ayahnya tidak akan memaafkannya, dan yang paling parah, Genta... dia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri jika dia menjadi alasan hancurnya harapan besar keluarganya."

Rara menatap berkas-berkas itu dengan mata yang mulai mengabur. Ia melihat daftar prestasi Genta yang luar biasa panjang, deretan medali dan sertifikat yang kini nampak seperti beban yang mengikat kaki pria itu. Ia baru menyadari betapa tinggi jurang yang sedang Genta lalui, dan betapa fatalnya jika Genta harus jatuh hanya karena dirinya.

"Aku sudah mengenal Genta sejak kami masih mengenakan seragam sekolah menengah," lanjut Kania, suaranya kini sedikit melunak, sebuah manipulasi emosional yang rapi agar ia terdengar seperti satu-satunya orang yang benar-benar peduli. "Aku yang menutupi kecemasannya saat dia gemetar di belakang panggung olimpiade. Aku yang memastikan dia tetap terlihat sebagai Pangeran Es saat dunianya sedang runtuh. Aku adalah perisainya, Rara. Perisai yang memastikan dia tetap sampai ke tujuannya."

Kania mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya mengunci mata Rara dengan intensitas yang mengintimidasi. "Tapi kamu? Kamu datang membawa kekacauan yang egois. Kamu memancing sisi lemah yang sudah susah payah kami sembunyikan, membuatnya melakukan hal-hal impulsif yang membahayakan masa depannya sendiri. Jika kamu memang benar-benar peduli padanya, seperti caramu yang seolah ingin menjadi pahlawan dengan alasan tugas jurnalisme itu, kamu seharusnya tahu apa yang terbaik untuk Genta sekarang."

Kania memberikan jeda yang cukup lama, membiarkan kesunyian ruangan itu menelan keberanian Rara. "Menghilanglah dari hidupnya, Rara. Berhenti menghubungi dia, berhenti mengintai di sekitar kantor BEM, dan jangan pernah lagi muncul di hadapannya sebagai gangguan. Biarkan dia kembali ke dunianya yang aman dan stabil. Biarkan dia menjadi Presiden Mahasiswa yang hebat dan berangkat mengejar masa depannya ke Amerika tanpa beban emosional yang tidak perlu."

"Kakak memintaku untuk menyerah?" bisik Rara, suaranya terdengar sangat rapuh dan gemetar.

"Aku memintamu untuk menyelamatkannya," koreksi Kania dengan tajam. "Atau kamu lebih memilih egois? Melihatnya hancur, kehilangan beasiswa, dibuang oleh ayahnya, dan menjadi orang gagal hanya demi memuaskan perasaanmu yang baru tumbuh beberapa minggu ini?"

***

Rara keluar dari ruang BEM dengan langkah yang terasa sangat ringan, namun bukan karena lega, melainkan karena ia merasa jiwanya telah tercabut dan tertinggal di dalam sana. Matanya terasa sangat panas, namun ia menolak untuk membiarkan air mata jatuh di koridor kampus yang kejam ini. Ia tidak ingin memberikan kemenangan tambahan bagi siapa pun yang menontonnya.

Ia berjalan menuju halte bus tempat mereka pernah berteduh bersama saat badai. Hujan tidak turun hari ini, namun udara sore itu terasa jauh lebih dingin hingga menembus kulit. Rara mengeluarkan ponselnya, menatap layar yang menampilkan kontak Paladin_Z di aplikasi game.

Ia menyadari bahwa Kania benar dalam satu hal yang menyakitkan. Yakni kehadirannya memang membawa kekacauan bagi kehidupan Genta yang terstruktur. Di dunia nyata, Genta tidak punya zirah perak atau ramuan pelindung, ia hanya punya reputasi rapuh yang mudah hancur. Selama Rara ada di dekatnya, Genta akan selalu memiliki celah untuk diserang oleh naga-naga dalam wujud birokrasi dan ekspektasi keluarga.

Aku bukan sedang melarikan diri, Genta. Aku hanya sedang melakukan heal terakhir untukmu, batin Rara sambil menghapus draf pesan panjang yang sejak tadi ingin ia kirimkan.

Rara menyadari bahwa mencintai seseorang terkadang berarti bersedia menjadi orang asing kembali demi kebaikan orang tersebut. Ia memilih untuk mengalah, bukan karena ia takut pada ancaman Kania atau lelah dengan cemoohan satu kampus, tapi karena ia mencintai masa depan Genta lebih dari ia mencintai keberadaan dirinya sendiri di dalam hidup pria itu.

Ia mematikan ponselnya, memasukkannya ke dalam saku tas yang paling dalam, dan melangkah masuk ke dalam bus yang baru saja menepi. Sore itu, di bawah langit Jakarta yang mulai menggelap dan muram, Rara secara resmi melepaskan perannya sebagai Healer. Ia membiarkan sang Paladin melanjutkan perjalanannya sendirian ke puncak menara, meski itu berarti ia harus menanggung luka yang paling dalam di dunia nyata tanpa pernah bisa disembuhkan oleh mantra apa pun.

1
Hana Agustina
sabar ya genta.. menyakiti itu memang mudah banget.. tp utk pulih dr rasa sakit itu butuh waktu utk berdamai.. n rara butuh waktu itu
Hana Agustina
kamu hebat gentaa.... as a man.. real man...
Hana Agustina
first
Hana Agustina
sweet bgt sih rara n genta
Leel K: Btw, udah baca dari awal belum? Soalnya aku udah revisi total dari bab 1 kemarin 😭
total 1 replies
Hana Agustina
first like thor.. sambil ngopi yaa.. aku krm biar semangat, aku sneng sm crita kamu
Leel K: Makasiiiii❤
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!