Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.
Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Cermin yang Berbohong
Langit Sektor 7 telah kehilangan sisa-sisa warna pudar yang biasanya menggantung di atas gedung-gedung beton. Hanya ada abu-abu yang mati, sebuah kanvas kosong yang memayungi kota Lentera Hitam. Arlan melangkah melewati koridor apartemen yang berbau debu kertas dan ozon, sebuah kombinasi aroma yang tidak seharusnya ada di area hunian. Ia meremas tali tas kurirnya, merasakan beban beberapa paket barang hilang yang belum sempat ia serahkan ke gudang pusat.
Langkah sepatunya terdengar ganjil. Suaranya tidak memantul seperti biasa, seolah-olah dinding koridor itu mendadak terbuat dari spons yang menghisap frekuensi suara. Kondisi hampa akustik ini adalah anomali yang hanya ia sadari sejak ia mulai terobsesi pada detail biometrik dan forensik lingkungan.
Arlan berhenti di depan unit 402. Ia meraba saku jaketnya, memastikan sepasang kunci rumah tua tanpa pintu tetap di sana. Logam itu terasa dingin, mengirimkan sensasi hangat yang ironis ke telapak tangannya. Itu adalah satu-satunya benda yang ia percayai di dunia yang mulai terasa seperti sketsa kasar.
Saat pintu terbuka, aroma sup jagung menyambutnya. Di dapur, seorang wanita paruh baya sedang berdiri membelakangi pintu.
"Kau pulang terlambat, Arlan," suara itu terdengar datar, namun memiliki nada yang mencoba meniru kekhawatiran seorang ibu.
Arlan terdiam di ambang pintu. "Banyak paket yang tertunda, Bu. Sektor 7 sedang kacau karena pemeriksaan satpam di gerbang depan."
Wanita itu berbalik. Ia tersenyum tipis, sebuah tarikan otot di wajah yang tampak terlalu simetris. "Makanlah dulu. Ibu sudah menyiapkan semuanya sejak fajar memucat."
Arlan meletakkan tasnya di atas meja kayu. Pandangannya terkunci pada wajah wanita di depannya. Ada sesuatu yang bergeser dalam realitasnya. Jantungnya berdegup pelan, lalu melompat liar. Di pipi kanan wanita itu, terdapat sebuah tahi lalat kecil berwarna gelap.
Tahi lalat itu seharusnya berada di pipi kiri. Seumur hidupnya, Arlan mengingat sisi kiri ibunya adalah satu-satunya bagian yang memiliki tanda lahir itu.
"Ada apa?" tanya wanita itu lagi. "Kenapa kau hanya berdiri di sana? Kau terlihat seperti melihat hantu."
Arlan memaksakan diri untuk menarik kursi. Kursi itu berderit, namun suaranya terdengar teredam, seperti tertimbun salju. "Ibu merasa sehat hari ini?"
"Tentu saja. Kenapa kau bertanya begitu?"
"Suhu di ruangan ini terasa berbeda," Arlan meletakkan telapak tangannya di atas permukaan meja. Meja itu terasa beku, seolah-olah seluruh panas di dapur ini telah diisap oleh sesuatu. Ia memperhatikan dada wanita itu.
Dada itu naik dan turun dengan irama yang kaku. Ada jeda satu detik yang tidak alami di setiap akhir tarikan napasnya. Arlan tahu ini adalah indikator napas manual. Wanita itu tidak bernapas karena kebutuhan biologis; ia melakukannya karena ia tahu seorang manusia harus terlihat bernapas.
"Arlan, supnya akan dingin jika kau terus melamun," wanita itu melangkah mendekat, membawa mangkuk porselen.
"Nyonya," Arlan berujar dengan suara yang mendadak dingin. Punggungnya menegak, martabatnya sebagai seorang kurir barang hilang terusik oleh kepalsuan yang begitu dekat. "Sejak kapan tahi lalat Anda berpindah posisi?"
Wanita itu berhenti. Senyumnya tidak luntur, namun matanya yang gelap tampak seperti lensa kaca yang tidak memancarkan cahaya sama sekali. "Apa yang kau bicarakan, Nak? Ini tanda lahir yang sama sejak kau kecil."
"Ibu saya tidak pernah menyebut tanda lahir itu sebagai 'tanda lahir yang sama sejak kecil'. Dia membencinya. Dia selalu ingin menghapusnya jika saja kita punya cukup uang," Arlan berdiri, tangannya kembali masuk ke saku, menggenggam kunci tua sebagai jangkar emosinya. "Dan tahi lalat itu ada di kiri. Selalu di kiri."
"Mungkin kau hanya lelah karena terlalu banyak bekerja di arsip kantor, Arlan. Persepsimu sedang kacau."
"Atau mungkin cermin di rumah ini yang sedang berbohong," Arlan melangkah mundur menuju pintu keluar. "Atau justru Anda yang adalah kebohongan itu sendiri."
Wanita itu meletakkan mangkuk sup dengan denting keras. Suhu di dapur turun drastis, membuat uap napas Arlan terlihat gantung di udara akibat fenomena endotermik. "Kau bertingkah aneh. Duduklah. Ini perintah."
Arlan merasakan bau besi berkarat yang menyengat, reaksi kimia khas yang sering ia temukan pada benda-benda yang mulai kehilangan identitas aslinya. Ia tahu jika ia lari sekarang, protokol keamanan gedung akan langsung menguncinya.
"Maafkan saya," Arlan tiba-tiba mengubah ekspresi wajahnya menjadi bingung yang dibuat-buat. Ia memegang keningnya dengan tangan kiri. "Anda benar. Saya rasa saya salah minum obat flu di kantor tadi. Saya bahkan merasa ini bukan lantai empat. Ini... ini unit 402, kan?"
Wanita itu menyipitkan mata, gerakannya kembali ke mode observasi. "Tentu saja ini rumahmu, Arlan."
"Tidak, tidak. Saya rasa saya baru saja masuk ke unit yang salah. Tetangga sebelah punya tahi lalat yang mirip," Arlan tertawa kecil, tawa yang kering dan penuh kepalsuan. "Saya sangat malu. Tolong maafkan tetangga Anda yang bodoh ini, Nyonya. Saya akan pergi sekarang."
"Tunggu, Arlan—"
"Tidak perlu, Nyonya. Saya akan mencari unit saya yang sebenarnya. Terima kasih atas supnya," Arlan berbalik dengan cepat, meraih tasnya dan keluar dari apartemen sebelum wanita itu sempat bereaksi lebih jauh terhadap perubahan mendadak sikapnya.
Di koridor, Arlan tidak berlari. Ia berjalan dengan langkah teratur, mencoba menyinkronkan napasnya dengan detak jantungnya yang berpacu. Ia harus terlihat seperti penghuni yang linglung, bukan buronan yang sadar. Saat ia mencapai lobi, ia melihat satpam apartemen berdiri di dekat pintu kaca.
Satpam itu tidak menoleh, namun Arlan melihat posisi tangannya. Kedua tangan satpam itu terkatup di depan perut, dengan jari-jari yang kaku, persis seperti posisi tangan wanita di dapur tadi.
"Malam yang dingin, Pak," sapa Arlan saat melewati meja resepsionis.
Satpam itu hanya mengangguk kecil. Arlan memperhatikan leher pria itu. Tidak ada keringat, tidak ada pori-pori yang terbuka meskipun lobi itu tertutup rapat tanpa pendingin ruangan. Hanya ada permukaan kulit yang terlalu halus, seperti plastik yang dipoles.
Arlan melangkah keluar menuju trotoar yang basah. Ia meraba sebuah koin perak di saku rahasia tasnya. Koin itu bergetar halus. Pikirannya melayang pada arsip tahun 2012 yang menyatakan bahwa gedung apartemen di Sektor 7 ini telah terbakar habis hingga rata dengan tanah. Jika gedung itu sudah musnah, lalu apa yang selama ini ia tinggali?
Ia menengok ke belakang, menatap jendela lantai empat. Di sana, wanita yang menyerupai ibunya berdiri menempel di kaca, menatapnya dengan tatapan kosong yang menembus kegelapan.
"Siapa sebenarnya yang ada di dapurku?" bisik Arlan pada angin malam yang berbau logam.
Langkah Arlan terhenti di bawah lampu jalan yang berkedip dengan ritme ganjil. Cahaya merkuri di atasnya tidak lagi memancarkan warna kuning hangat, melainkan hijau kebiruan yang pucat, seolah-olah spektrum warna di distrik ini mulai terkikis oleh sesuatu yang tak kasat mata. Ia merogoh saku tas kurirnya, mengeluarkan sebuah map kusam berisi manifes barang hilang yang ia selamatkan dari gudang arsip tadi siang.
Jarinya gemetar saat membuka lembaran kertas yang tepiannya mulai menguning. Di sana, pada baris laporan bertanggal 15 Mei 2012, tertulis dengan tinta hitam yang tegas: Penghapusan Total Sektor 7 – Insiden Kebakaran Masif. Korban Jiwa: Seluruh Penghuni Unit 101 hingga 508.
"Jika semua orang mati, lalu siapa yang membesarkanku selama empat belas tahun terakhir?" gumam Arlan. Suaranya tertelan oleh hampa akustik yang mendadak menebal di sekelilingnya.
Ia berjalan menuju sebuah halte bus yang sudah berkarat. Di sana, seorang pria tua duduk diam dengan tatapan kosong menghadap jalanan yang sepi. Arlan memperhatikan pria itu. Kerutan di wajahnya tampak seperti pahatan kayu yang terlalu presisi, tanpa ada satu pun pori-pori yang mengeluarkan minyak alami kulit.
"Permisi, Kek. Boleh saya tanya sesuatu?" Arlan duduk di ujung bangku, menjaga jarak aman.
Pria tua itu menoleh perlahan. Gerakan lehernya mengeluarkan bunyi gesekan halus, serupa plastik yang beradu dengan karet. "Tanya apa, Nak? Malam sudah terlalu larut untuk seorang kurir."
"Kakek sudah lama tinggal di sekitar sini? Saya sedang mencari informasi tentang kebakaran besar tahun 2012," Arlan memperhatikan dada pria itu. Statis. Tidak ada gerakan napas sama sekali selama tiga puluh detik pertama mereka bicara.
"Kebakaran? Tidak pernah ada kebakaran di sini," pria itu menjawab dengan nada yang terlalu tenang, seolah-olah ia sedang membacakan naskah yang sudah dihafal. "Sektor 7 selalu seperti ini. Damai dan teratur. Kau pasti salah dengar."
"Tapi saya punya catatan forensiknya, Kek. Gedung apartemen yang saya tinggali seharusnya sudah menjadi abu empat belas tahun lalu," Arlan mencondongkan tubuh, mencoba menangkap bau dari pria di sampingnya. Tidak ada bau keringat. Hanya aroma ozon yang tajam dan bau besi berkarat.
Pria tua itu bangkit berdiri. Gerakannya mendadak menjadi sangat luwes, terlalu luwes untuk pria seusianya. "Catatan bisa berbohong, Nak. Ingatan juga bisa dimanipulasi. Tapi keteraturan... keteraturan adalah kebenaran mutlak. Pulanglah. Jangan mencari sesuatu yang sudah dihapus."
"Siapa yang menghapusnya? Anda salah satu dari mereka, kan?" Arlan ikut berdiri, tangannya mencengkeram koin perak di dalam saku. Koin itu mendadak menjadi sangat panas, membakar kulit jemarinya.
Pria itu tidak menjawab. Ia berjalan pergi menembus kabut kelabu yang mulai turun menyelimuti jalanan. Arlan tidak mengejarnya. Ia tahu itu sia-sia. Di kota Lentera Hitam, mengejar peniru di malam hari adalah cara tercepat untuk menjadi bagian dari barang yang takkan pernah ditemukan kembali.
Arlan kembali menatap koin perak di tangannya. Di permukaan logam yang dingin itu, ia melihat kilasan memori yang bukan miliknya. Ia melihat api yang membubung tinggi, jeritan yang diredam oleh dinding frekuensi, dan sosok ayahnya yang melemparkan koin ini ke arahnya sebelum semuanya menjadi gelap.
"Ayah tidak mati karena api," Arlan menyeka keringat dingin di pelipisnya. "Ayah dihapus karena dia tahu cara melawan."
Ia memandang kunci rumah tuanya. Kunci itu tidak memiliki lubang pintu yang cocok di gedung apartemen mana pun di Sektor 7 saat ini. Itu adalah kunci untuk sebuah pintu yang sudah tidak ada di dimensi ini. Martabatnya sebagai manusia murni memberontak; ia tidak bisa terus hidup dalam simulasi yang merampas sejarah keluarganya.
"Aku harus menemukan Dante malam ini juga," tegasnya pada diri sendiri.
Arlan melangkah menjauh dari halte, menuju zona gelap di pinggiran distrik yang belum terjamah oleh lampu-lampu jalan hijau kebiruan. Ia tahu satpam di lobi dan "ibu" di dapur mungkin sedang melaporkan anomali perilakunya ke pusat kendali Eraser. Ia tidak punya banyak waktu sebelum seluruh Sektor 7 dikunci secara sistemik.
Di ujung jalan, ia berhenti sejenak, melihat refleksi dirinya di sebuah kaca toko yang retak. Bayangannya tampak sedikit tertinggal, sebuah lag frekuensi yang menandakan bahwa realitas di tempat ia berdiri mulai goyah. Arlan memperbaiki posisi tasnya, menguatkan tekadnya untuk menembus kebohongan yang telah mencuri kehidupannya.