NovelToon NovelToon
A Penliba

A Penliba

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan
Popularitas:267
Nilai: 5
Nama Author: Kacang Kulit

"Lo tuh ngeselin!" bisik Giselle di telinga Libra.

"Udah tau." Selalu, jawaban Libra semakin membuat Giselle kesal. Gadis itu cemberut sepanjang pelajaran dimulai. Padahal hari masih pagi, tetapi dia sudah dibuat emosi oleh pemuda yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri.

Libra tau Giselle sedang marah padanya. Namun, pemuda itu malah tersenyum geli sembari menopang dagunya menatap gadis yang sedang mengerucutkan bibirnya itu.

***

Sebuah kisah tentang dua remaja yang sedang berjuang untuk menemukan tujuan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang Kulit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 - Tidak Bisa Melawan

Pukul delapan malam, rumah Libra masih terang. Lampu ruang tengah menyala, tapi pikirannya gelap ke mana-mana. Ponselnya sudah beberapa kali ia angkat, menekan nama yang sama, berharap kali ini panggilan itu terjawab.

Tidak ada.

Biasanya, sepadat apa pun hari Giselle, ia akan memberi kabar. Sekadar pesan singkat. Sekadar tanda bahwa ia baik-baik saja. Namun, berbeda dengan malam ini.

Libra meletakkan ponsel di meja, lalu berdiri. Ia tak mengambil jaket, tak perlu. Rumah mereka berdampingan. Beberapa langkah saja sudah cukup untuk sampai ke depan pintu rumah Giselle.

Ia mengetuk pelan.

Beberapa detik berlalu sebelum pintu terbuka. Bukan Giselle yang muncul, melainkan Atika. Wajah perempuan itu datar, nyaris dingin, seolah kehadiran Libra bukan sesuatu yang perlu disambut.

“Tante,” sapa Libra sopan. “Giselle ada?”

Tatapan Atika menajam. “Giselle lagi nggak bisa diganggu.”

Libra terdiam sejenak. “Saya cuma mau pastiin dia baik-baik aja, Tante. Dari tadi saya telepon—”

“Sudah,” potong Atika. “Selama liburan ini, lebih baik kamu nggak usah ke sini dulu. Biar Giselle fokus belajar. Dia terlalu banyak terdistraksi.”

Kata terdistraksi itu terasa menghantam. Tangan Libra mengeras di sisi tubuhnya, jemarinya mengepal tanpa ia sadari. Dadanya sesak, bukan karena marah semata, tapi karena khawatir yang tak punya tempat untuk keluar.

Apakah harus sejauh ini?

Ia ingin bertanya. Ingin membela. Ingin mengatakan bahwa Giselle bukan anak yang malas, ia tidak pernah bermain-main saat belajar. Ada banyak luka yang tak bisa disembuhkan hanya dengan angka-angka di rapor. Namun, semua kalimat itu berhenti di tenggorokan.

Ia tidak punya hak.

“Iya, Tante,” jawabnya akhirnya, suaranya tertahan rapi. “Maaf kalau saya ganggu.”

Atika tidak membalas. Pintu ditutup perlahan, tapi bunyinya terdengar berat di telinga Libra.

Ia berdiri beberapa detik di sana, menatap pintu yang kini tertutup rapat. Rumah yang biasanya terasa dekat, malam ini terasa jauh. Terlalu jauh untuk sekadar memastikan seseorang yang ia pedulikan sedang baik-baik saja.

Libra berbalik dan melangkah pulang. Setiap langkahnya pelan, seolah ia sedang menahan sesuatu agar tidak runtuh. Marah, khawatir, dan perasaan tak berdaya bercampur jadi satu, mengendap diam-diam di dadanya.

Di kamarnya, lampu masih menyala. Namun, seperti rumah di sebelah, ada jarak yang tak bisa ia lewati malam ini. Dan itu yang paling menyakitkan.

...***...

Kelopak mata Giselle terasa berat ketika akhirnya terbuka. Kepalanya berdenyut, dadanya masih terasa sesak, seolah tangisan panjangnya meninggalkan rasa sakit yang tidak akan pergi. Dia menatap langit-langit kamar cukup lama, tatapannya kosong, ia masih berusaha mengumpulkan kesadaran sebelum akhirnya duduk pelan.

Tangannya meraba kasur, mencari di mana letak ponselnya. Jam di dinding sudah menunjuk pada angka sepuluh malam.

Giselle menemukan ponselnya tergeletak di atas kasur, tertutup oleh guling. Dia mengambil ponselnya yang ternyata mati. Baterainya habis entah sejak kapan.

“Sialan…” gumamnya lirih.

Ia segera menyalakan ponsel itu. Beberapa detik waktu pemuatan terasa jauh lebih lama dari biasanya. Begitu layar menyala sempurna, notifikasi langsung bermunculan. Dada Giselle seketika mengencang ketika matanya menangkap satu nama yang muncul berulang kali.

Libaaaa — tiga panggilan tak terjawab.

Tangannya bergetar saat membuka ruang obrolan.

Giselle:

Liba, kenapa?

HP gue mati. Baru bangun.

Pesan itu baru saja terkirim ketika layar kembali berubah. Nama Libra muncul sekali lagi, kali ini dalam bentuk panggilan video.

Tanpa berpikir panjang, Giselle mengangkatnya, tetapi refleks langsung membalik kamera ke arah langit-langit kamar. Layar hanya menampilkan atap berwarna pucat yang sudah ia hafal setiap detail retaknya.

“Pen,” suara Libra terdengar cepat, nadanya jelas dipenuhi kecemasan. “Lo ke mana aja dari tadi?”

“Gue ketiduran,” jawab Giselle pelan. Suaranya terdengar serak, bahkan asing di telinganya sendiri. “HP gue mati.”

Hening menyela percakapan mereka sejenak. Sepertinya Libra menyadari suara Giselle yang terdengar berbeda dari biasanya.

“Pen,” Libra kembali bersuara, kali ini lebih rendah, namun tegas. “Mana muka lo.”

“Nggak mau, ah,” Giselle menolak singkat. “Gue baru bangun, muka gue lagi jelek.”

“Cepet, Pen. Gue mau lihat lo,” ulang Libra. Tidak terdengar memaksa, tetapi jelas tidak memberi ruang untuk tawar-menawar. “Tolong.”

Giselle menggigit bibirnya. Tangannya tertahan beberapa detik, ragu, sebelum akhirnya menurunkan ponsel dan mengarahkan kamera ke wajahnya sendiri.

Libra seketika terdiam.

Mata Giselle terlihat bengkak. Kelopak matanya sembap, hidungnya masih memerah, sementara sisa-sisa tangis belum sepenuhnya pudar dari wajahnya. Rambutnya berantakan, dan raut lelah itu menempel begitu jelas dengan cara yang membuat dada terasa sesak jika terlalu lama dipandangi.

“Pen…” napas Libra terdengar tertahan. “Lo habis nangis.”

Giselle segera memalingkan wajahnya, menjauh dari layar. “Habis nonton drama gue.”

“Jangan bohong,” ucap Libra pelan, tetapi penuh tekanan. “Lo kalau nangis karena drama gak kayak gini.”

Keheningan kembali jatuh di antara mereka. Giselle menunduk, jemarinya mencengkeram ujung selimut seolah itu satu-satunya pegangan yang tersisa.

“Maaf,” katanya akhirnya. Suaranya nyaris tak terdengar. Tidak jelas apakah ia meminta maaf karena menangis, atau karena telah membuat Libra khawatir.

Libra menarik napas panjang. “Gue tadi ke rumah lo.”

Kepala Giselle langsung terangkat. “Apa? Kapan?”

“Nyokap lo yang buka pintu,” lanjut Libra. “Dia bilang lo lagi nggak bisa diganggu. Katanya… gue jangan ke sini dulu selama liburan.”

Wajah Giselle menegang. Dadanya terasa semakin berat, seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam.

“Oh.” Hanya satu kata itu yang mampu keluar.

Libra menatap layar cukup lama, seakan menyimpan banyak hal di benaknya yang tak tahu harus diucapkan atau tidak. “Lo beneran gapapa, Pen?”

Pertanyaannya sederhana, tetapi justru itu yang meruntuhkan pertahanan Giselle sepenuhnya. Ia menggeleng pelan. Air mata yang sejak tadi ia tahan kembali memenuhi matanya.

“Liba…” suaranya pecah. “Gue capek banget.”

Di seberang layar, Libra memejamkan mata sesaat. Rahangnya mengeras, menahan emosi yang bercampur, amarah, kekhawatiran, dan rasa tidak berdaya karena ia tahu, ada hal-hal yang tidak bisa ia lawan, sekeras apa pun ia menginginkannya.

...***...

8 Februari 2026

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!