NovelToon NovelToon
Semua Ini Demi Kebahagian Ayah Dan Adik

Semua Ini Demi Kebahagian Ayah Dan Adik

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi Wanita / Ruang Ajaib
Popularitas:17.8k
Nilai: 5
Nama Author:

Anjeli Pranita, putri cantik pak Burhan yang biasa di sapa Anjeli. Gadis cantik dengan julukan kembang desa rela putus sekolah semenjak insiden yang membuat Keseharian ayahnya hanya bisa duduk di kursi roda yang usang pemberian tetangganya. Anjeli adalah gadis yang pintar di bidang akademik, murah senyum dan ceria. Namun, kepergian ibunya bersama laki-laki lain dengan alasan sudah capek hidup miskin dan ditambah kondisi ayahnya, menghilangkan senyum dan keceriaan di wajahnya akibat luka yang ditoreh ibunya untuk mereka. Anjeli si gadis sederhana harus menjadi kuat dan tahan banting di umurnya yang masih 16 tahun. Suatu hari, Anjeli yang menjadi tulang punggung untuk keluarga sedang mengais rezeki sebagai kuli panggul di pasar menggantikan pekerjaan bapaknya sebelum kecelakaan. Pagi itu tanpa sengaja Anjeli bertemu seorang nenek yang sedang kelaparan, ia yang memang memiliki hati yang baik memberikan bekal untuk makannya kepada sang nenek itu. Dari pertolongan itu Anjeli diberikan sebuah cincin usang oleh sang nenek sebagai bentuk kebaikan Anjeli. Cincin apakah yang diberikan oleh sang nenek itu kepada Anjeli????? Apakah ada keajaiban untuk Anjeli dan keluarganya??? Yukkkkk….,ikuti cerita Anjeli….

29

Bus tua yang membawa mereka kembali ke desa terbatuk-batuk mengeluarkan asap hitam sebelum akhirnya berhenti di tepian jalan aspal Desa. Anjeli turun lebih dulu, memastikan pijakan kakinya mantap sebelum membantu Ayah turun. Pak Burhan melangkah dengan hati-hati, meskipun lelah setelah berjam-jam duduk di persidangan, sorot matanya kini jauh lebih hidup, seolah beban berton-ton yang selama ini menekan pundaknya telah diangkat oleh palu hakim tadi siang.

"Hati-hati, Ayah. Pelan-pelan saja jalannya," ucap Anjeli sambil memegang lengan Pak Burhan.

"Ayah tidak apa-apa, Nak. Rasanya udara desa kita sore ini jauh lebih segar daripada udara di kota tadi," sahut Pak Burhan dengan senyum lebar.

Aris melompat turun dengan riang, tas sekolahnya yang kosong berayun-ayun di punggungnya. "Kita pulang! Kita tidak akan pergi lagi kan, Kak?" tanya bocah itu sambil menarik-narik ujung kebaya Anjeli.

Anjeli berjongkok, menyamakan tingginya dengan Aris, lalu merapikan kerah baju adiknya yang miring. "Tidak, Sayang. Kita akan tetap di sini, menanam buncis, melihat mawar mekar, dan makan bersama Ayah setiap hari. Adek senang?"

"Senang sekali!" Aris berseru, lalu berlari kecil menuju gerbang rumah mereka.

Saat mereka sampai di depan pagar mawar, aroma harum yang biasanya menyambut mereka terasa sedikit memudar. Anjeli menyipitkan mata melihat beberapa daun mawar pelindungnya tampak menguning dan merunduk, ini pasti bekas serangan zat kimia semalam yang belum sepenuhnya pulih. Namun, sebelum ia sempat memeriksa lebih jauh, suara nyaring Mak Odah sudah menggelegar dari arah teras.

"Nah! Itu dia pahlawan-pahlawan kita!" Mak Odah keluar membawa nampan besar berisi gorengan hangat dan sepoci teh melati. "Bagaimana? Si hakim itu tidak berani macam-macam kan setelah lihat Pak Burhan sudah bisa jalan?"

"Alhamdulillah, Mak. Hak asuh Aris tetap di tangan Ayah," jawab Anjeli sambil menyalami tangan Mak Odah yang masih berbau bumbu dapur.

"Syukurlah! Aku sudah buatkan tumpeng kecil di dalam. Tidak mewah, tapi ini tanda syukur kita. Mari masuk, jangan berdiri saja di sini. Kalian pasti lapar," ajak Mak Odah dengan semangat.

Mereka duduk di ruang tamu yang kini terasa jauh lebih lapang setelah dibersihkan tempo hari. Cahaya matahari senja masuk melalui jendela yang mengkilap, menciptakan garis-garis emas di atas lantai semen.

Anjeli duduk di antara Ayah dan Aris. Di hadapan mereka, sebuah tumpeng nasi kuning sederhana dengan hiasan telur dadar dan sambal goreng tempe tertata rapi.

"Aris, ayo berdoa dulu. Ayah yang pimpin," pinta Anjeli.

Pak Burhan mengangkat kedua tangannya, diikuti oleh Anjeli dan Aris. Suara Ayah terdengar sedikit bergetar saat mengucapkan syukur. "Ya Tuhan, terima kasih atas perlindungan-Mu. Terima kasih telah memberikan hamba kekuatan untuk berdiri lagi, dan terima kasih atas putri hamba, Anjeli, yang telah menjadi tiang rumah ini saat hamba rapuh..."

Anjeli menunduk, merasakan setetes air mata jatuh ke pipinya. Perjuangan berbulan-bulan ini, mulai dari mencangkul tanah berbatu hingga menghadapi hinaan Bu Sumi, rasanya terbayar lunas saat mendengar doa tulus dari Ayahnya.

Setelah berdoa, Anjeli memotong puncak tumpeng dan memberikannya kepada Pak Burhan. "Ini potongan pertama untuk Ayah. Karena Ayah sudah berani bicara di depan hakim tadi."

"Terima kasih, Nak. Tapi sebenarnya, potongan ini lebih pantas untukmu," ucap Pak Burhan sambil menyodorkan kembali piringnya agar Anjeli ikut mengambil suapan pertama. "Kamu yang menyelamatkan Ayah, kamu yang menyelamatkan Aris."

"Aris juga mau! Aris juga mau nasi kuningnya!" teriak Aris sambil menyodorkan piring plastiknya.

Anjeli tertawa, suasana haru itu berganti menjadi keceriaan. "Hahaha…Iya..Iya, ini untuk Adik kesayangan kakak. Makan yang banyak ya, biar nanti kalau bantu Kakak di kebun, badannya kuat seperti Ayah."

"Kak, nanti kalau Aris sudah besar, Aris mau jadi hakim," ucap Aris tiba-tiba sambil mengunyah telurnya.

"Kenapa mau jadi hakim, Ris?" tanya Ayah penasaran.

"Biar Aris bisa pukul meja pakai kayu, terus bilang kalau orang jahat tidak boleh ambil anak dari ayahnya!" jawab Aris dengan polos, membuat seisi ruangan tertawa, bahkan Mak Odah sampai terpingkal-pingkal.

Setelah makan malam dan Mak Odah pulang ke rumahnya, Anjeli pamit untuk memeriksa kebun sejenak. Ia membawa senter, hatinya masih merasa sedih melihat kondisi mawar di pagarnya.

Di bawah sinar bulan, Anjeli melihat kondisi sebenarnya. Mawar pelindungnya, yang selama ini menjadi benteng gaib dari gangguan luar, tampak menderita. Zat kimia yang disiramkan oleh orang suruhan semalam ternyata sangat keras. Beberapa dahan yang biasanya tegak kini terkulai, dan duri-durinya tampak tumpul.

"Maafkan aku...aku terlambat melindungi kalian," bisik Anjeli sambil mengelus kelopak bunga yang layu.

Anjeli merasa sedih. Mawar ini bukan sekadar tanaman baginya tapi mereka adalah teman bicara di saat sepi dan pelindung keluarganya. Ia menyadari bahwa kesuksesannya akan selalu mengundang badai, kecemburuan dan rasa iri. Hari ini ia menang di pengadilan, tapi besok, bisa jadi ada serangan lain yang lebih licik.

Ia masuk ke dalam rumah dan menemukan Ayah sedang duduk di teras, menatap langit.

"Nak, ada apa dengan mawarmu? Ayah lihat kamu tadi di sana cukup lama," tanya Pak Burhan.

Anjeli duduk di samping kaki Ayah, menyandarkan kepalanya di lutut Pak Burhan seperti saat ia masih kecil sambil terisak. "Mawarnya sakit, Ayah. Hiks..Hiks…Sepertinya racun semalam cukup kuat. Anjeli sedih melihatnya layu, Yah.”

Pak Burhan mengelus rambut Anjeli dengan penuh kasih. "Tanaman itu seperti manusia, Nak. Terkadang dia harus jatuh sakit dulu untuk tumbuh lebih kuat. Jangan menyerah. Kamu punya tangan dingin, kamu pasti bisa menyembuhkannya. Sudah jangan nangis lagi, putri Ayah ini kan kuat.” Kata ayahnya sembari menghiburnya

"Ayah tidak takut kalau nanti orang-orang itu datang lagi?" tanya Anjeli pelan.

"Dulu Ayah takut karena Ayah tidak bisa melindungimu. Tapi sekarang, lihat Ayah," Pak Burhan berdiri perlahan tanpa bantuan apa pun. Ia merentangkan tangannya. "Ayah sudah bisa berdiri. Ayah akan menjagamu dan Aris. Kamu tidak usah memikul semuanya sendirian lagi."

Anjeli memeluk kaki Ayahnya, merasa sangat tenang. Keinginannya selama ini hanya satu yaitu melihat Ayah kembali menjadi sosok pelindung, dan malam ini, ia melihat sosok itu telah kembali.

Setelah memastikan Ayah dan Aris tertidur lelap, Anjeli masuk ke Ruang Ajaib melalui pintu rahasia di kamarnya. Suasana di dalam ruang itu tetap damai, dengan aroma padi emas yang menenangkan.

Anjeli langsung menuju lemari akar. Ia mencari sesuatu yang bisa menyembuhkan tanaman yang terkena racun keras. Di laci kedua, ia menemukan sebuah botol kecil berisi cairan berwarna perak bening dengan label bertuliskan “Sari Kehidupan Tanah - Penawar Racun Bumi".

"Ini dia," gumam Anjeli.

Ia juga mengambil beberapa butir benih Mawar Abadi untuk ditanam sebagai penyulam dahan yang mati. Sebelum keluar, ia menyempatkan diri memetik sebutir buah tomat ajaib yang baru matang. Ia berencana memberikannya kepada Aris besok pagi agar adiknya itu tetap ceria dan sehat.

Kembali ke dunia nyata, Anjeli membawa ember berisi Air Rohani yang sudah dicampur dengan Sari Kehidupan Tanah. Di kegelapan malam, ia menyiramkan ramuan itu ke akar-akar mawar pelindungnya satu per satu.

"Tumbuhlah kembali... jadilah benteng yang lebih kuat," bisiknya.

Ajaibnya, saat cairan perak itu menyentuh tanah, dahan-dahan mawar yang tadi terkulai tampak bergetar pelan. Warna kuning pada daunnya perlahan memudar, berganti dengan hijau zamrud yang lebih pekat. Duri-durinya kembali menajam, bahkan tampak lebih besar dari sebelumnya.

Anjeli tersenyum puas. Ia tahu, perjuangannya demi kebahagiaan Ayah dan Aris tidak akan berhenti di sini. Esok, ia harus mulai menata kebun buncisnya lagi untuk memenuhi kontrak dengan Pak Hendra. Ia juga berencana menanam jahe merah lebih banyak di lahan kosong samping rumah yang selama ini tidak terurus.

Sebelum benar-benar beristirahat, Anjeli kembali ke ruang tengah. Ia melihat Aris yang tidur mendengkur halus dengan memeluk buku gambarnya. Di kursi panjang, Ayah tertidur sambil memegang tasbih kayu, wajahnya tampak sangat tenang tanpa guratan kekhawatiran yang biasanya menghiasi dahinya.

Anjeli menyelimuti mereka berdua satu per satu. Ia mencium kening Aris, lalu mencium tangan Ayahnya.

"Anjeli akan terus berjuang, Ayah. Sampai rumah kita tidak hanya punya akar yang kuat, tapi juga punya sayap untuk terbang tinggi," bisiknya pelan agar tidak membangunkan mereka.

Malam itu, Anjeli tidur dengan perasaan paling damai yang pernah ia rasakan selama setahun terakhir. Ia tahu, meskipun debu-debu jalanan kota masih membekas di pakaiannya, dan musuh-musuh seperti Bu Sumi masih mengintai di balik pagar, keluarganya kini telah utuh kembali. Kebahagiaan mereka bukan lagi sekadar impian yang ia tanam di dalam hati, melainkan kenyataan yang tumbuh subur di halaman rumah mereka.

________🌹❤️

Terimah kasih sudah membacanya

Jangan lupa di like dan komen ya..

Jangan lupa juga di kasih👉🌟⭐️

Kalau ada Point saweran dong👉🌹

Heheheh🤭😅lanjutttt cerita…

1
Wanita Aries
bagus thor gk bosen bacanya
Wanita Aries
emak dzolim ninggalkan hutang ke anjeli
Wanita Aries
kasian anjeli masa jd kuli panggul
@Mita🥰
wkwkwk pak Handoko gigit jari🤣🤣🤣
Wanita Aries
mampir thorr
@Mita🥰
wah kasihan ya rumah Anjeli baru di bangun
Andira Rahmawati
lanjutttt makin seruuu💪💪💪
Lala Kusumah
semangat Anjeli, kamu pasti bisa 💪💪💪
Lala Kusumah
good job Anjeli 💪💪💪👍👍👍😍😍
@Mita🥰
semangat Anjeli
@Mita🥰
semoga sukses selalu thor
@Mita🥰
lanjut thor
@Mita🥰
lanjut
Lala Kusumah
mantaaap 👍👍👍
@Mita🥰
ini ruang ajaib nya bukan di cincin itu ya thor kok lewat pintu
@Mita🥰
bagus ceritanya
@Mita🥰
lanjut
Lala Kusumah
sukses selalu untuk Anjeli ya 🙏🙏🙏
Aretha Shanum
lanjut, suka ceritanya
Putri Hasan
suka ceritanya /Smile/
semangat updatenya 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!