Judul: Di Balik Tumpukan Digit
Deskripsi:
Pernikahan Arini dan Reihan yang dulunya penuh hangat dan tawa kini mendingin di dalam sebuah rumah mewah yang megah namun terasa hampa. Terjebak dalam ambisi mengejar status dan kekayaan, Reihan perlahan berubah menjadi orang asing yang hanya mengenal angka dan prestasi kerja. Di tengah kemewahan yang melimpah, Arini justru merasa miskin akan kasih sayang. Novel ini mengisahkan perjuangan seorang istri yang berusaha meruntuhkan tembok "kesibukan" suaminya, menagih janji pelukan yang hilang, dan membuktikan bahwa dalam sebuah pernikahan, kehadiran lebih berharga daripada sekadar kemakmuran materi. Sebuah drama domestik yang menyentuh tentang titik jenuh, kesepian di tengah keramaian, dan upaya menemukan kembali detak cinta yang sempat mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syintia Nur Andriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Labirin Rahasia dan Puncak Kepalsuan
Bab 3: Labirin Rahasia dan Puncak Kepalsuan
Matahari baru saja mengintip dari balik gorden sutra kelabu saat Arini mendengar suara mesin mobil Reihan menderu di halaman. Ia tidak benar-benar tidur semalam. Pikirannya masih terpaku pada simbol angka—1998—yang tersembunyi di pangkal paha suaminya. Mengapa seorang pria yang sangat menjaga citra bersih seperti Reihan memiliki tato tersembunyi yang tampak dibuat dengan terburu-buru? Dan mengapa tahun itu terasa begitu mencekam bagi suaminya?
Alih-alih bangun untuk membuatkan kopi seperti biasanya, Arini menunggu hingga keadaan benar-benar sunyi. Ia tahu hari ini Reihan ada pertemuan besar di luar kota, yang berarti suaminya tidak akan kembali sebelum tengah malam. Inilah kesempatannya.
Arini melangkah menuju ruang kerja pribadi Reihan di lantai dua—sebuah ruangan yang dianggap suci dan terlarang bagi siapa pun, termasuk asisten rumah tangga. Pintu kayu ek itu terkunci rapat, namun Arini tahu di mana Reihan menyimpan kunci cadangannya: di dalam bingkai foto pernikahan mereka yang tergantung di lorong. Sebuah ironi yang pahit; kunci rahasianya disimpan di balik simbol janji suci mereka.
Klik. Pintu terbuka.
Aroma tembakau mahal dan kertas tua menyambutnya. Ruangan itu sangat rapi, hampir tanpa cela. Arini mulai memeriksa laci meja kerja, namun tidak menemukan apa pun selain laporan keuangan dan rencana akuisisi perusahaan. Hingga matanya tertuju pada sebuah brankas kecil yang tertanam di dinding di balik lemari buku.
Arini mencoba kombinasi angka: ulang tahunnya, ulang tahun Reihan, tanggal pernikahan mereka. Semuanya gagal. Jantungnya berdegup kencang saat ia memasukkan angka yang ia lihat di tubuh suaminya semalam: 1-9-9-8.
Bip. Lampu hijau menyala. Pintu brankas terbuka pelan.
Di dalamnya bukan tumpukan uang tunai atau emas batangan. Hanya ada sebuah map cokelat yang sudah mulai rapuh dan sebuah ponsel lama yang sudah mati. Arini membuka map itu dengan tangan gemetar. Isinya adalah potongan berita koran lama tentang kebangkrutan sebuah bank besar dan laporan kepolisian mengenai kasus bunuh diri seorang pria bernama Hendra Wijaya.
"Hendra Wijaya..." bisik Arini. Ia teringat nama itu. Itu adalah nama ayah Reihan yang katanya meninggal karena sakit jantung saat Reihan masih remaja. Namun, laporan ini berkata lain. Ayah Reihan mengakhiri hidupnya karena terlilit hutang besar kepada sebuah keluarga konglomerat setelah dikhianati dalam bisnis.
Di lembar terakhir, ada sebuah surat pernyataan hutang yang belum lunas. Nama keluarga yang menghancurkan ayah Reihan adalah Keluarga Dirgantara. Arini terkesiap. Keluarga Dirgantara adalah pemilik perusahaan tempat Reihan bekerja sekarang—perusahaan yang sedang ia perjuangkan untuk ia pimpin sebagai Direktur Utama.
"Jadi ini bukan tentang kesuksesan," gumam Arini dengan air mata mengalir. "Ini tentang balas dendam."
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah pintu. Arini tersentak dan menjatuhkan map itu ke lantai. Sosok Reihan berdiri di ambang pintu, masih mengenakan setelan jas lengkap. Wajahnya tidak menunjukkan amarah, melainkan kehampaan yang mengerikan.
"Aku lupa membawa dokumen presentasiku," ucap Reihan datar. Matanya perlahan turun menatap map yang berhamburan di lantai. "Tapi sepertinya kau baru saja menemukan dokumen yang lebih menarik."
"Reihan... kenapa kau tidak pernah bilang?" suara Arini pecah. "Kau bekerja untuk orang yang membunuh ayahmu? Kau mengejar harta ini untuk membalas dendam pada mereka? Apakah pernikahan kita juga bagian dari rencanamu untuk naik ke atas?"
Reihan melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan suara yang berdentum keras. Ia mendekat, auranya begitu mengancam namun penuh dengan kepedihan yang meluap-luap. Ia menyudutkan Arini ke meja kerja, kedua tangannya mengunci gerakan istrinya.
"Kau ingin tahu rahasianya, kan? Kau ingin perhatianku?" Reihan berbisik tepat di telinga Arini, suaranya parau dan panas. "Setiap sen yang kukumpulkan adalah satu paku untuk peti mati mereka, Arini. Aku tidak punya waktu untuk memelukmu karena tanganku sibuk mencekik leher mereka di bursa saham! Aku mengabaikanmu karena aku tidak ingin kau melihat betapa kotornya jiwaku!"
Reihan mencengkeram bahu Arini, tatapannya membara. "Setiap malam aku menyentuhmu dengan tangan yang penuh dosa ini, aku merasa tidak layak. Tapi kau terus menuntut kasih sayang, kau terus memintaku pulang, sementara rumah ini sendiri dibangun di atas tanah peperangan!"
Ini adalah puncak konflik yang meledak. Arini melihat suaminya bukan lagi sebagai pria yang haus uang, melainkan monster yang diciptakan oleh rasa sakit masa lalu.
"Hentikan, Reihan! Sudah cukup!" Arini memukul dada suaminya. "Kau menghancurkan dirimu sendiri! Kau menghancurkan kita! Uang itu tidak akan menghidupkan ayahmu kembali!"
Reihan tiba-tiba menarik Arini ke dalam pelukannya—bukan pelukan hangat yang Arini rindukan, melainkan pelukan yang penuh dengan keputusasaan dan gairah yang menyakitkan. Ia mencium Arini dengan kasar, seolah mencoba membungkam kebenaran yang baru saja terucap.
"Kau adalah satu-satunya hal yang nyata dalam hidupku, Arini," gumam Reihan di tengah cumbuan yang penuh amarah itu. "Tapi jika kau mencoba menghentikanku sekarang, aku akan kehilangan segalanya. Termasuk kau."
Di tengah ruangan yang penuh rahasia itu, di atas meja yang dipenuhi bukti pengkhianatan masa lalu, gairah dan kebencian bercampur menjadi satu. Arini merasa hancur. Ia mendapatkan perhatian Reihan, ia mendapatkan kejujurannya, namun dengan harga yang sangat mahal: ia kini tahu bahwa pria yang ia cintai adalah seorang pria yang sudah kehilangan jiwanya demi sebuah angka di tahun 1998.
Malam itu menjadi malam yang paling panas sekaligus paling dingin dalam hidup Arini. Panas karena gairah yang meledak dari kemarahan Reihan, dan dingin karena ia menyadari bahwa cinta saja tidak akan cukup untuk menyelamatkan suaminya dari jurang balas dendam yang sudah digali selama puluhan tahun