NovelToon NovelToon
Mas Kapten, Ayo Bercerai!

Mas Kapten, Ayo Bercerai!

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:2.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Lima tahun lalu, malam hujan hampir merenggut nyawa Kapten Shaka Wirantara.
Seorang wanita misterius berhelm hitam menyelamatkannya, lalu menghilang tanpa jejak. Sejak malam itu, Shaka tak pernah berhenti mencari sosok tanpa nama yang ia sebut penjaga takdirnya.

Sebulan kemudian, Shaka dijodohkan dengan Amara, wanita yang ternyata adalah penyelamatnya malam itu. Namun Amara menyembunyikan identitasnya, tak ingin Shaka menikah karena rasa balas budi.
Lima tahun pernikahan mereka berjalan dingin dan penuh jarak.

Ketika cinta mulai tumbuh perlahan, kehadiran Karina, gadis adopsi keluarga wirantara, yang mirip dengan sosok penyelamat di masa lalu, kembali mengguncang perasaan Shaka.
Dan Amara pun sadar, cinta yang dipertahankannya mungkin tak pernah benar-benar ada.

“Mas Kapten,” ucap Amara pelan.
“Ayo kita bercerai.”

Akankah, Shaka dan Amara bercerai? atau Shaka memilih Amara untuk mempertahankan pernikahannya, di mana cinta mungkin mulai tumbuh.

Yuk, simak kisah ini di sini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Meski dia kembali aku akan berusaha merebut - Karina

Langit siang itu tampak jernih, tapi di dalam kokpit Virus-01, Shaka merasakan sesuatu yang berbeda. Angin memang tenang, awan tipis bergulir pelan, tapi radar menunjukkan aktivitas tak biasa, sinyal samar muncul lalu menghilang seolah ada yang berusaha menembus sistem penerbangan mereka.

“Kapten, sinyal asing di radar kiri muncul lagi,” lapor Haris dengan wajah tegang. “Ini sudah ketiga kalinya dalam lima menit.”

Shaka memicingkan mata ke arah layar. “Jangan panik, tetap di jalur dan pastikan komunikasi dengan menara utama tetap aktif.”

Suara Shaka tenang, namun nadanya mengandung kewaspadaan tinggi. Sebagai seorang pilot berpengalaman, nalurinya langsung tahu ini bukan gangguan biasa.

Sementara itu, jauh di ruang bawah tanah kediaman Marvionne, Amara menatap layar digital dengan jantung berdegup kencang. Di depan matanya, pesawat Virus-01 milik Wirantara Air tampak bergerak melintasi wilayah yang seharusnya aman. Namun, sinyal merah kecil mulai muncul dari sisi barat radar.

“Zico! Jalur timur mulai diblokir oleh pesawat tak dikenal,” seru Amara.

Zico menatap cepat ke arah monitor lain. “Aku tahu! Mereka bukan dari militer atau sipil, itu jaringan gelap yang selama ini ku curigai Nona Amara ... mereka mau menukar akses penerbangan dengan penyelundupan senjata.”

Amara menggertakkan rahangnya. “Tidak selama Shaka ada di sana.”

Tangannya bergerak cepat di atas panel kontrol digital. Dengan kecepatan luar biasa, ia memutus salah satu jaringan udara buatan kelompok itu, mengirimkan sinyal interferensi palsu ke radar mereka. Hanya beberapa detik kemudian, radar di pesawat Shaka kembali stabil.

“Gangguan hilang, Kapten,” ujar Haris lega.

Namun Shaka tidak tersenyum. Matanya menatap tajam layar radar.

“Tidak mungkin sesederhana itu … Ada seseorang yang menutupinya dari luar.”

Di ruangan Marvionne, Amara menarik napas panjang. Ia tahu betul Shaka pasti mulai curiga. Tapi ia tidak peduli, yang penting saat ini adalah keselamatan pria itu. Beberapa menit kemudian, suara alarm kecil kembali terdengar dari sistem Amara.

Zico menatap cepat ke arahnya. “Mereka ganti strategi! Sekarang mereka coba serang dari frekuensi komunikasi! Kalau ini sampai berhasil, Shaka kehilangan kontak dengan menara!”

Amara tak berpikir dua kali. Ia langsung mengaktifkan sistem perlindungan otomatis buatan kakeknya, Marvionne Defense Link. Dalam hitungan detik, semua jalur frekuensi jahat itu terbakar oleh enkripsi lawas milik keluarga Marvionne, meninggalkan sinyal kosong di udara.

Zico menatap layar dengan takjub.

"Anda berhasil lagi, Nona.”

Amara hanya tersenyum samar, tapi matanya masih menatap monitor yang menampilkan pesawat Virus-01 melaju stabil di jalur aman.

Di kokpit, Shaka menarik napas lega. “Frekuensi kembali normal.”

Haris menatapnya, “Tadi siapa yang bantu kita, Kapten?”

Shaka menatap ke luar jendela pesawat, seolah berbicara pada dirinya sendiri.

“Entahlah ... tapi rasanya aku pernah merasakan perlindungan seperti ini … lima tahun lalu.”

Sementara itu di ruang bawah tanah, Amara menutup sistem koneksi dan menatap layar yang kini gelap.

“Selamat terbang, Kapten Wirantara…” gumamnya lirih, penuh emosi yang tak bisa ia jelaskan.

Bandara Wirantara sore itu masih ramai, tapi di ruang VIP terminal eksekutif, suasananya justru terasa menegang.

Shaka baru saja kembali dari penerbangan panjang, Virus-01 berhasil mendarat dengan selamat setelah insiden misterius di udara. Semua kru telah dibubarkan, dan kini hanya kesunyian yang tersisa di ruang kerja pribadinya di lantai dua gedung utama.

Dia melepaskan seragam pilotnya, duduk di kursi besar di balik meja kayu mahoni, dan menatap layar laptop yang menampilkan laporan penerbangan. Semua sistem tercatat normal, tidak ada catatan gangguan, dan tidak ada sumber bantuan.

Namun Shaka tahu betul, seseorang di luar sana telah menyelamatkan pesawatnya hari ini.

“Siapa pun itu … dia tahu semua sistem pertahanan udara milik Wirantara,” gumamnya pelan, menatap layar dengan sorot penuh tanya.

Pintu diketuk dua kali.

“Masuk,” ucap Shaka tanpa menoleh.

Langkah kaki berderap ringan, aroma parfum mewah segera memenuhi ruangan.

“Mas Shaka,” suara lembut tapi dibuat-buat itu terdengar.

“Aku dengar penerbanganmu sempat bermasalah?”

Shaka mengangkat wajahnya, mendapati Karina berdiri di ambang pintu dengan segelas kopi di tangan, senyum samar menghiasi bibirnya.

“Sudah lewat, tidak perlu khawatir,” sahut Shaka datar. Karina berjalan mendekat, meletakkan cangkir kopi di meja.

“Justru itu yang ingin ku bicarakan. Mas beruntung, karena ada seseorang yang membantu menyelamatkan penerbanganmu hari ini.”

Shaka menatapnya, keningnya berkerut.

“Dari mana kamu tahu soal itu?”

Karina tersenyum samar. “Aku punya koneksi, Mas Shaka. Dan aku ingin memperkenalkan orang itu padamu.”

Ia menoleh ke arah pintu dan berkata pelan,

“Masuklah.”

Pintu terbuka perlahan, seorang pria berjas hitam melangkah masuk. Wajahnya tampak biasa, tapi tatapannya tajam, penuh perhitungan.

“Kapten Wirantara,” ucapnya datar sambil mengulurkan tangan.

“Senang bisa bertemu dengan mu langsung. Saya orang yang menstabilkan frekuensi komunikasi di penerbangan Anda.”

Shaka berdiri pelan, menatap tangan yang terulur itu tanpa langsung menyambutnya.

“Begitu?” suaranya dingin. “Sayangnya, sistem komunikasi itu dilindungi protokol internal. Seharusnya tidak mungkin ada orang luar yang bisa mengaksesnya.”

Pria itu tersenyum tipis. “Mari anggap itu ... keberuntungan, Kapten.”

Karina melangkah di antara mereka, menatap Shaka dengan nada lembut namun mendesak.

“Mas Shaka, aku tahu kamu tidak mudah percaya. Tapi pria ini benar-benar menyelamatkanmu. Kamu seharusnya berterima kasih ... dan mungkin memberi sedikit bonus atas jasanya.”

Shaka menatap Karina lama, matanya redup, tapi sorot waspada itu jelas tak bisa disembunyikan.

“Bonus?” ulangnya pelan, dengan nada nyaris sinis.

“Untuk seseorang yang bahkan belum jelas siapa dia?”

Karina mengembuskan napas pendek, mencoba tersenyum agar suasana tidak membeku. Namun sebelum Shaka sempat menolak atau bertanya lebih jauh, pintu ruangannya tiba-tiba terbuka lebar.

Ceklek!

Suara langkah sepatu beradu cepat di lantai marmer, disusul hembusan angin yang masuk dari luar koridor.

Karina menoleh tajam, Shaka spontan bangkit dari kursinya.

Di sana, berdiri sosok yang selama seharian ini tak ia lihat, dengan wajah pucat namun tegas, dan tatapan yang membuat waktu seolah berhenti seketika.

“Amara…”

Suara itu lirih, nyaris tak terdengar, tapi bagi Shaka, dunia berhenti pada detik itu juga. Dan di antara mereka, Karina yang membeku menatap tak percaya, sementara pria berjas hitam itu perlahan menoleh ke arah Amara, dengan senyum samar yang sulit diartikan.

1
Ning Suswati
jgn sampai karinanya dibunuh, biar tau rasanya disiksa lahir dan bathin, dan biarkan dia memohon untuk dibunuh,
Ning Suswati
siapa lagi dirga,
Ning Suswati
ada2 saja kaya gk ada laki2 lagi di dunia ini, dasar kunti laknat, semoga amara selalu didepan🤭
Ning Suswati
emangnya saka bisa apa, waktu ada gangguan di perusahaan wirantara aja amara yg segera bertindak, laupun dia sdh memutuskan untuk bercerai, tapi tetap peduli dg shaka, dan shaka tetap tdk mengakui, boro percaya apa yg sdh dilakukan amara pada perusahaannya, yg dufikirannya cuma nek kunti
Ning Suswati
ya begitulah sakitnya perempuan, bibir bisa memafkan tapi sulit untuk bisa melupakan, bayangkan karena hasutan nek kunti, sampai tdk mengakui anak yg dikandung amara dan banyak lagi, kata2, prilaku yg menyakitkan, lebih percaya orang lain daripada menggunakan otaknya sendiri, aq jadi curhat nih, karena itu aq merasakan
Ning Suswati
ya terserah amara lah, dia yg merasakan, orang lain hanya bisa menasehati dan memberi masukan, tapi gk pernah merasakan pada posisi amara selama 5 thn di sia2kan suami dan berjuang sendiri.
Ning Suswati
ya tuhan semoga amara segera selamat, amara hukan orang biasa kan, paati ada cara untuk bertindak dan menyelamatkan diri
Ning Suswati
semua nya yergantung taqdir, kalau memang bukan jodoh ya paling tidak jgn masuk ke lobang yg sama
Bulan Hampa
sengaja langsung lihat bab ahir kirain benar cerai, gajadi deh.
Ning Suswati
aq suka keputusan amara, laki2 tdk akan pernah berubah total, kalau ada maunya, ber baik2, tapi akan mengulanginya lagi
Ning Suswati
semua kehancuran keluarga saka, ortunya sendiri yg membuat nasib rumah tangga anaknya se hancur2nya, sdh tau ada kunti di dln rumah tapi diam selama ber thn2,
Ning Suswati
sama dong kayanya plan plin plen, sdh basi, emang masih ingin disakiti kembali, laki2 gk akan berubah, kecuali apa y🤔
Ning Suswati
kok zico yg jadi pelampiasan, emangnya ciuaman belum tuntas, sok2an merasa gagah, tapi dikadali laki2 dodol masih aja nyosor.
Ning Suswati
woooiiiii sdh pisah masih aja bikin masalah, selama ini kemana aja gk pernah membela dan percaya sama isteri sendiri, sekarang didekati laki2 lain sewot aja lho, sinting gila miring🤭
Fitri Guntoro
lanjut thor gantung banget deh
Ning Suswati
keegoisan ortu selalu dg nafsu tanpa perasaan, apa imbas dari keegoisan mereka
Ning Suswati
gk malu apa keluarga wirantara masih menyebut cucuku, selama ini kemana aja, membiarkan ular menyebarkan racun dlm rumah tapi tetap diam, pengausaha apa, pengusaha kotoran kali y🤔, biasanya pengusaha itu selalu berfikir dan bertindak, bukan diam seribu kata
Ning Suswati
seringkali kejadian ceritanya seperti ini, terus katanya tdk ingin lagi ketemu, masih ada rasa peduli, tapi apa lukanya amara sdh sembuh, terlalu baik juga jgn
Ning Suswati
terus siapa perempuan dan suaminya yg membela anak dan isterinya, tanpa tau masalah
Ning Suswati
yah kalamaan sampe 5 thn lagi2 5 thn, gk ada kata lain apa y, dan td siapa wanita yg ingin memukul azril, apakah nek kunti
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!