Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Sore itu, langit berubah mendung lebih cepat dari biasanya. Nadia yang baru saja keluar dari gedung kantor berhenti di anak tangga, menatap hujan yang tiba-tiba turun deras, seolah ditumpahkan tanpa aba-aba.
Ia melirik motornya---motor butut yang setia menemaninya menempuh jarak kampung ke kota setiap hari. Tanpa jas hujan, tanpa pelindung apa pun.
Jarak pulang memang tidak terlalu jauh. Tapi ia tahu, jika dipaksakan, tubuhnya akan basah kuyup, dan besok pagi ia harus kembali bekerja dalam keadaan demam atau masuk angin. Nadia menghela napas pelan, menepi di bawah atap kecil, menunggu hujan reda dengan sabar.
Tak lama kemudian, pintu gedung kembali terbuka. Zane keluar dengan langkah panjang, jasnya rapi, ponsel di tangan. Ia berhenti sejenak ketika melihat Nadia berdiri di dekat motornya, menatap hujan dengan wajah lelah yang tak sempat disembunyikan.
Pandangan Zane tertahan sesaat. Ia mendecak pelan, lalu melangkah mendekat.“Hujannya deras,” katanya datar, seolah hanya mengomentari cuaca.
Nadia menoleh, sedikit terkejut. “Iya, Pak.”
Zane melirik motor Nadia, lalu kembali menatap jalanan yang dipenuhi air. Beberapa detik hening berlalu sebelum ia kembali bersuara.“Aku mau pulang,” ucapnya santai. “Kalau kau mau ikut, naik saja.”
Nada suaranya sama sekali tidak terdengar seperti ajakan. Lebih mirip pernyataan sampingan---datang atau tidak, bukan urusannya.
Nadia terdiam. “Maksudnya Pak…?”
Zane menghela napas kecil, jelas tidak suka mengulang.“Aku bisa mengantarmu. Tapi terserah. Aku tidak akan menunggu lama.”
Ia menunjuk mobil hitam yang terparkir tak jauh dari sana, lalu memasukkan kunci ke saku. Tak ada tatapan penuh empati, tak ada bujukan. Hanya sikap cuek yang terasa dingin, namun anehnya… tulus dengan caranya sendiri.
Nadia menggigit bibir. Hujan tak menunjukkan tanda-tanda akan reda, dan motornya tampak semakin menyedihkan di bawah guyuran air.
Mau tak mau, Nadia menoleh kembali ke motornya. Hujan masih mengguyur tanpa ampun, membuat aspal mengilap dan udara sore semakin dingin. Setelah berpikir singkat, ia mendorong motornya ke area parkir kantor.
Tempat itu memang cukup aman, dijaga satpam dua puluh empat jam. Ia menyapa satpam dengan anggukan kecil, lalu kembali ke depan gedung.
Zane sudah berdiri di dekat mobilnya, satu tangan membuka pintu, ekspresinya tak sabar.
“Mau ikut atau tidak?” tanyanya datar, tanpa menoleh penuh ke arah Nadia.
Nadia berhenti beberapa langkah dari mobil itu. Tangannya saling menggenggam, wajahnya ragu.
Sepanjang hari ia sudah cukup diuji oleh sikap Zane. Berada di ruang tertutup bersamanya---berdua---entah kenapa membuat dadanya terasa semakin sempit.
Zane mendecak pelan.“Ya sudah, kalau tidak mau ikut,” katanya sambil menutup kembali pintu mobil, “aku duluan.”
Ia melangkah pergi, seolah benar-benar tak peduli.
Hati Nadia mencelos. Ia menatap punggung Zane yang menjauh, lalu hujan, lalu kembali ke motor yang sudah ia parkir. Tak ada pilihan lain yang masuk akal.
“Eh—!” serunya refleks.
“Iya, Pak! Saya ikut.”
Langkah Zane terhenti. Ia menoleh sedikit, satu alis terangkat. Tanpa komentar, ia kembali membuka pintu mobil, memberi isyarat singkat agar Nadia masuk.
Nadia bergegas menghampiri, jantungnya berdegup tak karuan. Begitu duduk di kursi penumpang, aroma mobil yang bersih dan hangat langsung menyergap, kontras dengan dinginnya hujan di luar.
Zane masuk ke kursi pengemudi, menyalakan mesin tanpa berkata apa-apa. Mobil itu melaju perlahan meninggalkan gedung kantor, membelah hujan sore yang masih deras.
Hening menyelimuti kabin. Hanya suara hujan dan wiper yang bergerak ritmis. Nadia menatap lurus ke depan, sementara Zane fokus pada jalan. Tak ada ejekan, tak ada perintah---dan justru itulah yang membuat suasana terasa canggung. Tapi Nadia bernapas lega, karna ia tidak harus repot-repot menahan emosinya.
Entah kenapa, untuk pertama kalinya hari itu, Nadia merasa sikap Zane yang cuek tidak sepenuhnya menyebalkan. Di balik dinginnya cara bicara pria itu, ada satu hal yang tak bisa ia pungkiri---Zane memilih berhenti dan menawarinya tumpangan, meski gengsinya jelas tak mengizinkan untuk mengakuinya.
********
Mobil itu berhenti tepat di depan sebuah rumah kecil di ujung gang. Cat dindingnya tampak kusam, atapnya sedikit miring, dan halaman sempitnya hanya diterangi lampu bohlam kuning yang redup, serta tumbuhan seperti sayuran yang tertanam disana.
Hujan sudah mulai mengecil, menyisakan rintik yang jatuh pelan.
“Ini rumah saya, Pak,” ucap Nadia sambil meraih gagang pintu. “Terima kasih sudah mengantar.”
Zane hanya mengangguk kecil. Tidak ada jawaban, tidak ada basa-basi.
Nadia tersenyum tipis, lalu turun dari mobil. Ia menutup pintu dengan hati-hati, menoleh sebentar ke arah mobil, kemudian melangkah cepat menuju pintu rumah. Sesaat kemudian, tubuhnya menghilang di balik daun pintu yang sudah usang.
Namun Zane tidak langsung melajukan mobilnya. Ia tetap duduk di balik kemudi, pandangannya tertahan pada rumah itu. Matanya menelusuri setiap sudut---dinding yang mengelupas, jendela kecil dengan tirai tipis, dan teras sempit yang nyaris tak layak disebut teras.
“Kecil…” gumamnya pelan.
Bukan sekadar sederhana. Di mata Zane, rumah itu tampak kumuh.
Ia menyandarkan punggung ke kursi, rahangnya mengeras. Sulit ia cerna bagaimana gadis muda seperti Nadia---dengan wajah bersih, paras yang lumayan cantik, dan sikap yang tak sepenuhnya lemah---bisa hidup di tempat seperti ini. Dunia mereka terasa begitu jauh, seolah dipisahkan oleh tembok tak kasatmata yang tak mungkin ditembus.
“Tidak masuk akal,” bisiknya.
Bagi Zane, rumah seperti itu bukan hanya asing---melainkan sesuatu yang bahkan tak pernah terlintas untuk ia injak. Bukan levelnya. Bukan dunianya.
Namun entah mengapa, malam itu, pandangannya tak bisa segera berpaling dari pintu rumah yang baru saja tertutup. Ada perasaan ganjil yang menyelinap, tipis namun mengganggu---rasa heran yang berubah menjadi sesuatu yang belum sempat ia beri nama.
Zane bukan lelaki yang mudah terusik oleh hal-hal sepele, apalagi oleh sosok perempuan yang jelas-jelas berada di luar dunianya. Selama ini, ia hanya tertarik pada perempuan cerdas, ambisius, dan sepadan dengannya---bukan gadis sederhana seperti Nadia yang setiap hari hanya menunduk, patuh, dan berbicara seperlunya.
Namun entah sejak kapan, keberadaan Nadia mulai menyelinap ke dalam pikirannya tanpa izin. Ia mendapati dirinya memperhatikan hal-hal kecil yang seharusnya tak penting, cara Nadia menggenggam tas lusuhnya dengan hati-hati, senyum tipis yang selalu muncul meski sering menerima perlakuan dingin darinya, serta tatapan mata yang jujur, tanpa kepura-puraan.
Zane mengernyit, kesal pada dirinya sendiri. Sejak kapan ia peduli pada hal-hal semacam itu?
Di benaknya, pertanyaan-pertanyaan aneh bermunculan. Apa yang istimewa dari gadis itu? Mengapa sikap Nadia yang polos justru membuatnya ingin menguji, bahkan mengguncang ketenangannya? Ia tahu betul, Nadia bukan tipenya. Terlalu sederhana. Terlalu berbeda level. Terlalu… tidak seharusnya menarik perhatiannya.
Namun semakin Zane menyangkal, semakin kuat rasa penasaran itu tumbuh. Ada sesuatu pada diri Nadia yang tak bisa ia jelaskan---sesuatu yang membuatnya ingin memahami lebih jauh, meski egonya menolak mengakuinya. Untuk pertama kalinya, Zane merasa dirinya kehilangan kendali atas perasaan sendiri. Dan itu membuatnya gelisah… sekaligus tertantang.
"Pantas saja, Gibran sebegitu peduli dengan gadis itu," gumamnya seolah mengerti, alasan Gibran terlalu peduli berlebihan pada Nadia.
bersambung....