Sifa (18 tahun) hanyalah gadis lulusan SMA yang 'kasat mata'. Di dunia yang memuja kekayaan dan penampilan, Sifa yang miskin, culun, dan polos adalah target empuk. Hidupnya adalah serangkaian kesialan: di-bully habis-habisan oleh duo sosialita kejam Rana dan Rani sejak sekolah, dikucilkan tanpa teman, dan harus bekerja serabutan demi ibunya. Tak ada yang spesial dari Sifa, kecuali hatinya yang seluas samudra.
Hingga suatu sore di taman kota, takdir melempar sebuah jam tangan butut ke pangkuannya.
Siapa sangka, benda rongsokan itu adalah "Chrono", asisten AI super canggih dari masa depan yang bisa melakukan apa saja—mulai dari memanipulasi data, mengubah penampilan, hingga meretas sistem perusahaan elit NVT tempat Sifa bekerja sebagai staf rendahan!
Dengan bantuan jam ajaib yang sarkas dan kocak itu, Sifa mulai membalas dendam pada Rana dan Rani dengan cara yang elegan. Namun, kekacauan dimulai saat Adi, CEO NVT yang tampan namun dingin, mulai menaruh curiga... sekaligus menaruh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hafidz Irawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amplop Merah dan Harga Diri
Senin pagi yang cerah di Gang Senggol tiba-tiba berubah menjadi mendung yang menyesakkan.
Aku baru saja selesai mandi, masih memakai handuk di kepala, ketika mendengar suara keributan dari ruang depan. Suara bentakan kasar laki-laki dan suara tangis tertahan Ibu.
"Bu, tolonglah Bu! Bayar sekarang! Jangan alasan terus! Bos saya bisa marah!" suara berat itu terdengar menggelegar, membuat dinding rumah kami yang tipis bergetar.
Jantungku mencelos. Aku tahu suara siapa itu. Bang Jampang, penagih utang keliling (rentenir) yang biasa beroperasi di daerah ini.
Aku buru-buru memakai baju kerja seadanya, menyisir rambut yang masih basah, lalu lari ke ruang depan.
Pemandangan di sana membuat darahku mendidih sekaligus hatiku hancur.
Ibu berdiri memojok di dekat meja jahit, tangannya gemetar memegangi dompet kain lusuhnya. Di hadapannya, dua orang pria berbadan besar dengan jaket kulit hitam berdiri berkacak pinggang. Wajah mereka garang, penuh ancaman.
"Saya... saya belum ada uangnya, Bang. Sifa belum gajian. Tolong kasih waktu seminggu lagi..." mohon Ibu dengan suara parau.
"Seminggu lagi, seminggu lagi! Bosen dengernya!" Bang Jampang menendang kursi plastik di dekatnya sampai terpental. Brak! "Utang Ibu ini udah nunggak dua bulan! Bunganya udah numpuk! Kalau hari ini nggak bayar minimal cicilan bunganya dua juta, barang-barang di rumah ini saya angkut!"
"Jangan, Bang! Jangan..." Ibu menangis. "Mesin jahit itu satu-satunya alat cari makan saya. Jangan diambil."
"Bodo amat!" Bang Jampang memberi kode pada temannya. "Angkut mesin jahitnya!"
Temannya yang bertato naga di lengan maju, hendak mengangkat mesin jahit tua kesayangan Ibu.
"BERHENTI!" teriakku lantang.
Semua orang menoleh. Aku berdiri di ambang pintu kamar, napas memburu, tangan mengepal.
"Jangan sentuh barang Ibu!" bentakku, meski lututku sebenarnya gemetar ketakutan melihat otot-otot mereka.
Bang Jampang menyeringai meremehkan. "Eh, ada Neng Sifa. Udah cantik, udah kerja di gedung tinggi, masa bayar utang emaknya nggak mampu?"
"Berapa utangnya, Bang?" tanyaku dingin, berusaha terdengar berani.
"Pokok sama bunga total lima juta. Tapi kalau mau aman hari ini, bayar dua juta dulu," jawab Bang Jampang enteng.
Dua juta.
Angka itu berdengung di telingaku. Itu lebih dari separuh gajiku nanti.
"Deteksi ancaman fisik level menengah," suara Chrono tiba-tiba terdengar di kepalaku, nadanya waspada. "Saran taktis: Gue bisa alirkan listrik tegangan rendah lewat gagang pintu kalau mereka nyentuh. Atau gue bisa retas rekening bos mereka biar saldonya jadi nol."
"Diem, Chrono," bisikku tegas dalam hati. "Ini bukan urusan kamu."
"Tapi Fa, lo nggak punya uang tunai sebanyak itu sekarang. Tabungan lo di bawah bantal cuma..."
"Aku bilang diem!"
Aku masuk kembali ke kamar, mengunci pintu. Aku berlutut di samping kasur, meraba bagian bawah ubin yang longgar di pojok kamar. Di sanalah aku menyimpan harta karunku.
Sebuah kaleng biskuit Khong Guan berkarat.
Aku membukanya. Di dalamnya ada tumpukan uang kertas yang sudah lecek dan berbau apek. Ada pecahan lima puluh ribu, dua puluh ribu, bahkan recehan logam.
Ini adalah tabunganku selama tiga tahun. Uang yang ku kumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil kerja serabutan pas SMA, sisa uang jajan, dan bonus lembur. Rencananya, uang ini buat DP (Uang Muka) beli motor bekas supaya aku nggak perlu desak-desakan di busway lagi. Atau buat nebus ijazah asliku yang masih ditahan sekolah.
Jumlahnya pas dua juta lima ratus ribu.
Tanganku gemetar memegang gepokan uang itu. Air mataku menetes satu. Rasanya berat sekali melepaskan mimpi motor bekas itu. Rasanya perih harus melihat hasil keringat bertahun-tahun lenyap dalam sekejap cuma buat bayar bunga rentenir.
"Fa..." suara Chrono melunak. "Gue serius. Gue bisa bantu. Lo nggak perlu korbanin masa depan lo buat lintah darat kayak mereka. Gue bisa bikin uang palsu digital yang valid selama 24 jam, cukup buat nipu mereka."
Aku menghapus air mataku kasar. "Nggak, Chrono. Kalau aku nipu mereka, aku sama aja kayak mereka. Masalah ini harus diselesaiin dengan cara yang bener. Walaupun sakit."
Aku mengambil dua juta dari tumpukan itu, menyisakan lima ratus ribu. Aku memasukkan uang itu ke dalam amplop merah bekas angpao lebaran tahun lalu.
Aku keluar kamar lagi dengan langkah mantap.
"Ini," aku melempar amplop merah itu ke meja di depan Bang Jampang. "Dua juta. Hitung."
Bang Jampang mengambil amplop itu, membuka isinya, dan menghitung lembaran uang lecek itu dengan teliti. Dia menjilat jarinya yang kotor saat menghitung. Menjijikkan.
"Satu sembilan ratus... dua juta. Pas," Bang Jampang menyeringai puas, memasukkan uang itu ke saku celananya. "Nah, gitu dong. Kalau dari tadi kan enak, nggak perlu pake drama nangis-nangis."
Dia menepuk bahu temannya. "Yuk, cabut. Mesin jahitnya selamet hari ini."
Sebelum pergi, Bang Jampang menatapku dengan tatapan melecehkan. "Bulan depan jangan telat lagi ya, Neng. Kalau nggak, Neng Sifa aja yang saya angkut jadi jaminan."
Mereka tertawa terbahak-bahak, lalu keluar dari rumah kami. Suara motor knalpot brong mereka menjauh.
Begitu mereka pergi, kakiku lemas. Aku merosot duduk di lantai.
Ibu langsung memelukku, menangis sesenggukan di bahuku. "Maafin Ibu, Nduk... Maafin Ibu... Uang tabunganmu habis... Padahal itu buat beli motor..."
Aku membelai punggung Ibu yang kurus, menahan tangisanku sendiri. "Nggak apa-apa, Bu. Uang bisa dicari lagi. Yang penting Ibu selamet. Yang penting mesin jahit Ibu nggak diambil. Itu kan nyawa Ibu."
"Ibu janji bakal kerja lebih keras. Ibu bakal ambil jahitan lebih banyak," isak Ibu.
"Ibu jangan forsir diri. Inget batuk Ibu," larangku lembut. "Sifa kan sekarang udah kerja enak di kantor. Nanti Sifa bakal dapet bonus kok. Tenang aja."
Aku berbohong lagi soal "bonus". Padahal nasibku di kantor juga belum jelas setelah insiden pesta itu.
Setelah menenangkan Ibu dan meminum segelas air putih, aku pamit berangkat kerja.
Di dalam busway yang padat merayap, aku berdiri bergelantungan memegang hand grip. Pikiranku kosong. Dompetku tipis, tabunganku ludes. Aku kembali ke titik nol.
"Lo manusia paling keras kepala yang pernah gue temui," kata Chrono, memecah keheninganku. "Lo punya akses ke AI super canggih yang bisa bikin lo jadi miliarder dalam semalam, tapi lo milih hidup susah. Kenapa?"
Aku menatap jalanan Jakarta yang macet lewat jendela bus. "Karena ada hal yang lebih mahal dari uang, Chrono. Namanya harga diri."
"Harga diri nggak bisa dipake beli beras, Fa."
"Tapi harga diri bikin nasi yang kita makan rasanya enak. Nggak ada rasa bersalah," jawabku dalam hati. "Lagian, kalau aku pake cara curang terus, kapan aku belajarnya? Aku mau sukses karena usahaku sendiri, bukan karena bantuan robot."
"Hmph. Terserah," dengus Chrono, tapi kemudian dia menambahkan dengan nada pelan. "Tapi... gue salut. Lo punya 'firewall' moral yang kuat. Di dunia digital, itu namanya sistem keamanan terbaik."
Aku tersenyum tipis. "Makasih pujiannya. Sekarang, bantu aku cari cara buat dapet duit tambahan yang halal dong. Ada ide?"
"Scanning peluang kerja sampingan..." Chrono berbunyi bip-bip pelan. "Hmm. Lo pinter masak, kan? Nasi goreng lo kemarin enak (kata analisis kimia lidah gue). Di kantor lo, banyak karyawan yang males turun cari makan siang. Gimana kalau lo buka jasa titip (jastip) bekal makan siang? Lo masak, lo jual ke temen-temen divisi lain."
Mataku berbinar. Ide bagus! Masak itu passion-ku. Dan modalnya nggak terlalu besar.
"Chrono, kamu jenius!" seruku dalam hati. "Malam ini kita belanja bahan. Besok aku mulai jualan 'Nasi Goreng Spesial Sifa'!"
Busway berhenti di halte depan NVT Tower. Aku turun dengan semangat baru. Uangku memang habis, tapi harapanku tidak.
Sesampainya di lobi kantor, suasana terasa berbeda. Tidak ada lagi tatapan sinis. Orang-orang justru tersenyum ramah padaku. Berita tentang dansaku dengan CEO dan insiden celana melorot Adiwangsa sudah menyebar. Aku bukan lagi "anak magang aneh", tapi "Cinderella-nya Pak Adi".
Saat menunggu lift (lift karyawan kali ini, aku nggak berani ke lift VIP lagi takut dikira ngelunjak), tiba-tiba pintu lift VIP terbuka.
Adi keluar dari sana, diikuti Bu Ratna. Dia terlihat segar dan berwibawa, tapi begitu melihatku di antrian lift karyawan, matanya langsung berbinar.
Dia mengabaikan Bu Ratna, berjalan lurus ke arahku.
"Pagi, Sifa," sapa Adi ramah, suaranya cukup keras membuat antrian hening.
"Pagi, Mas... eh, Pak Adi," jawabku gugup, pipiku memerah.
"Gimana kabar kamu? Kaki nggak pegel habis dansa?" godanya.
"Nggak kok, Pak. Aman."
Adi melirik tasku. "Hari ini bawa 'parfum bawang' lagi nggak?"
Aku tertawa kecil, menggeleng. "Nggak, Pak. Hari ini stok cimol habis. Saya lagi bokek."
Aku bercanda, tapi ada nada getir yang tak sengaja keluar. Adi yang peka langsung menangkapnya. Keningnya berkerut sedikit.
"Bokek?" tanyanya pelan, lebih serius. "Ada masalah?"
"Eh, nggak Pak! Cuma bercanda!" aku buru-buru meralat. Gengsiku terlalu tinggi untuk ngadu soal rentenir ke CEO.
"Oh, kirain," Adi tersenyum lega, tapi tatapannya masih menyelidik. "Ya sudah. Nanti siang makan bareng saya ya? Di kantin aja. Saya traktir. Saya mau cobain soto ayam yang katanya enak itu."
Makan siang bareng CEO di kantin umum? Itu sama saja deklarasi perang terbuka—atau deklarasi cinta—di depan satu kantor.
"Bapak yakin? Nanti Bapak dikira... aneh, makan sama anak magang," tanyaku ragu.
"Biarin aja. Saya kan bosnya. Siapa yang berani ngelarang?" Adi mengedipkan sebelah matanya. "Jam 12 ya. Jangan telat. Awas kalau kabur."
Adi berbalik, kembali ke rombongannya, meninggalkan aku yang berdiri mematung dengan jantung mau copot.
Teman-teman di antrian lift langsung mengerubungiku.
"Cieee Sifa! Ditraktir Bos!"
"Pelet apa yang lo pake, Fa? Bagi dong!"
"Sifa, nanti kenalin gue ya ke Pak Adi!"
Aku hanya tersenyum simpul. Di balik kebahagiaan ini, aku masih mikirin utang tiga juta sisanya. Tapi tawaran makan siang dari Adi setidaknya bisa menghemat pengeluaran makan siangku hari ini.
"Lihat sisi positifnya," kata Chrono. "Makan siang gratis \= hemat 20 ribu. Dan potensi dapet investor buat bisnis nasi goreng lo: 80 persen. Adi pasti suka masakan lo."
"Bener juga," batinku. "Siapa tau Mas Adi mau jadi pelanggan pertamaku."
Hari Senin yang diawali dengan air mata rentenir, ternyata berlanjut dengan senyuman CEO. Hidup Sifa memang penuh kejutan. Dan aku siap menghadapi semuanya. Tanpa jalan pintas. Tanpa uang haram. Hanya dengan kerja keras dan sedikit bantuan cinta.
baik tapi perhitungan 👍
jangan baik tapi oon
talk about real
kamu baik, oon, siap jadi keset parra manusia ambisius
semangat kakak