Apa jadinya jika air ketuban pecah di malam kencan pertamamu?
Panik dan syok, itulah yang dirasakan Maggie saat menjalani kencan pertamanya dengan Kael, seorang miliarder tampan dan karismatik.
Kencan romantis itu mendadak berubah kacau ketika air ketubannya pecah di tengah acara makan malam.
Alih-alih ikut panik, Kael justru sigap mengangkat Maggie dan membawanya ke limusin mewahnya untuk segera menuju rumah sakit.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jet Pribadi Kael
Menurut Maggie, jet pribadi ini benar-benar kelewatan. Karena dia bisa turun dari limusin langsung ke landasan kecil.
Angin berembus kencang. Maggie menggendong kereta bayi Biann di lengannya sambil mengamati sekitar. Menara kontrol bandara terlihat di kejauhan. Pesawat itu panjang, ramping, berwarna perak, tepat di depan mereka.
Sopir bertanya apakah dia mau Biann dibawakan menaiki tangga menuju pintu jet.
Tidak mungkin.
Tidak ada yang boleh menggendong bayinya naik tangga selain Maggie sendiri.
“Tidak, terima kasih,” katanya. “Tapi ini bisa kamu bawa.”
Maggie menyerahkan tas popok, tas tangan, dan sling yang mungkin dibutuhkannya di dalam pesawat.
“Baik, Bu,” jawab sopir itu sambil menambahkan barang-barangnya ke tumpukan koper yang dipindahkan dari bagasi ke troli.
Begitu lah laki-laki. Begitu ada bayi, status panggilannya langsung berubah dari Nona menjadi Ibu.
Kael memutari mobil, sebelumnya sempat memberi arahan pada pria lain soal koper. “Kamu enggak kewalahan gendong Biann?” tanyanya.
Maggie menggenggam pegangan kereta bayi lebih erat. “Aku baik-baik aja.”
Dia memang sengaja berdandan begini. Kacamata hitam besar ala bintang film. Kerudung emas mengilap menutupi kepalanya, shall melingkar di leher dan dibiarkan menjuntai tertiup angin.
Maggie mengenakan lingerie pembentuk yang dibelinya saat hamil untuk menahan perutnya. Dia sudah melewatinya sebulan lalu, tapi hari ini benda itu berguna untuk menahan semuanya.
Awalnya Maggie menyesal meminjamkan terlalu banyak gaun cantiknya ke Jennie, tapi ia sadar kalau gaun-gaun itu tidak akan cocok untuk tubuhnya setelah melahirkan.
Untungnya, isi lemarinya tidak melulu gaun ketat. Pakaian hari ini berupa gaun lurus longgar, panjangnya sedikit di atas lutut.
Kael menggenggam lengannya dan menuntunnya ke tangga. “Aku di belakangmu. Kalau bayinya terasa berat, bilang aja.”
Maggie mengangguk. Baru setengah tangga, lengannya mulai gemetar, tapi dia mengatupkan gigi dan terus melangkah. Meski begitu, saat akhirnya masuk ke dalam pesawat, dia lega bisa meletakkan bayi itu.
Seorang perempuan berparas ceria berusia sekitar lima puluhan, mengenakan rok pensil biru abu-abu elegan dan kardigan, mendekat.
“Akhirnya datang juga!” Tatapannya beralih ke Biann. “Ya ampun, bayinya manis sekali.”
Oke, Maggie langsung suka dengan orang ini.
Perempuan itu menunjukkan tempat untuk mengunci dudukan bayi di bangku pesawat. “Kami punya tempat di sini untuk mengikat keretanya supaya aman. Sepertinya dia sudah tertidur pulas.”
Biann memang tertidur selama perjalanan di mobil, seperti biasa. Setelah bayi itu terpasang dengan aman, barulah Maggie menoleh dan melihat bagian dalam jet.
Dua baris kursi kulit lebar memenuhi bagian kabin dekat dinding depan, yang sepertinya menuju kokpit. Di dinding seberangnya, ada meja makan tertata rapi dengan taplak dan gelas kristal menunggu di dekat jendela.
Di sisinya, ada dua kursi putar, lalu bangku empuk tempat kursi Biann terpasang.
Kael mengamati sekeliling lalu mengangguk. “Semuanya kelihatan sempurna, Larry. Terima kasih. Aku akan bicara dengan Cesar soal rencana penerbangan. Tunjukkan ke Maggie supaya dia tahu letak semuanya yang dia butuhkan, kalau perlu buatkan sesuatu untuk bayinya.”
Larry tersenyum. “Tentu. Sepertinya dia akan tidur sebentar. Kita bisa keliling sebentar.”
Kael berjalan ke bagian depan pesawat. Larry menekan tombol di dinding belakang dekat kursi putar, membuka kompartemen lain. “Lewat sini,” katanya.
Mereka melewati dapur kecil dengan wastafel, microwave, dan kulkas. Jelas ini tempat kru menyimpan makanan dan perlengkapan lain.
“Kalau perlu menghangatkan susu bayi, bilang aja. Bisa pakai microwave atau aku panaskan air di panci dan rendam botolnya. Terserah kamu. Kamu bawa sesuatu yang perlu disimpan?”
“Aku bawa sedikit ASI.”
“Bagus. Kita simpan.”
“Aku enggak yakin tas popoknya ditaruh di mana,” kata Maggie.
“Pasti masuk ke sini,” ujar Larry. Ia menekan sebuah tombol, panel belakang terbuka ke ruangan lain yang ukurannya sekitar sepertiga dari ruangan pertama. “Ini kamar tidur. Sofanya bisa diubah jadi tempat tidur.”
Semuanya tampak mewah dan bersih tanpa cela.
Larry berkata, “Bilang aja kalau mau aku siapkan tempat tidurnya untuk kamu dan Biann. Kael tidur di depan. Bangku tempat Biann juga bisa diubah jadi tempat tidur.”
“Oh, apa aku sebaiknya pakai yang itu aja?” tanya Maggie.
Larry menggeleng. “Kamu sebaiknya di sini. Kamu pasti pingin dekat kamar mandi.” Ia menekan satu tombol lagi dan panel lain terbuka.
Berapa panjang sebenarnya jet ini?
Tapi dari bentuk ruangan ini, jelas mereka sudah di bagian paling belakang. Ada shower dari kaca dan toilet, serta wastafel yang mengilap.
“Kami enggak punya meja ganti,” kata Larry. “Aku akan pastikan ada kantong plastik kecil untuk popok. Kamu pakai popok kain atau sekali pakai?”
“Aku bawa popok sekali pakai untuk perjalanan,” balas Maggie.
Larry mengangguk. “Kalau begitu gampang.”
Mereka kembali ke kamar tidur. “Aku harap bisa dapat kesempatan menggendong bayinya,” kata Larry. “Anak-anakku sudah besar, dan masih lama sebelum punya cucu. Aku senang bisa gendong bayi orang lain.”
Maggie tertawa. “Aku yakin kamu bakal dapat giliran.”
...𓂃✍︎...
...Jatuh hati denganmu adalah patah hati yang paling disengaja....
...────୨ৎ────...
tapi aku gk naik limosin aku naik mobil trios mobil keluarga yg sederhana .