Setelah menyelamatkan Alam Dewa dan mencapai ranah Dewa Sejati, Shi Hao terpaksa meninggalkan rumah dan orang-orang yang dicintainya demi mencegah kehancuran dimensi akibat kekuatannya yang terlalu besar.
Namun, saat melangkah keluar ke Alam Semesta Luar, Shi Hao menyadari kenyataan yang kejam. Di lautan bintang yang tak bertepi ini, Ranah "Dewa" hanyalah titik awal, dan planet tempat tinggalnya hanyalah butiran debu. Tanpa sekte pelindung, tanpa kekayaan, dan diburu oleh Hukum Langit yang menganggap keberadaannya sebagai "Ancaman", Shi Hao harus bertahan hidup sebagai seorang pengembara tak bernama.
Menggunakan identitas baru sebagai "Feng", Shi Hao memulai perjalanan dari planet sampah. Bersama Nana gadis budak Ras Kucing yang menyimpan rahasia navigasi kuno ia mengikat kontrak dengan Nyonya Zhu, Ratu Dunia Bawah Tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 205
Planet Arena Galaksi – Zona Pendaftaran Pusat.
Planet ini tidak memiliki lautan atau hutan. Seluruh permukaannya dilapisi logam dan batu, dipenuhi oleh jutaan arena, dan menara penginapan. Di sinilah Turnamen Sepuluh Ribu Bintang digelar.
Ribuan kapal spiritual terbang dari berbagai bentuk mendarat.
Tim Asura Neraka (nama resmi yang didaftarkan Shi Hao) berjalan menuju Aula Kualifikasi. Penampilan mereka sangat mencolok bukan karena gagah, tapi karena aneh.
Seorang Raksasa Batu yang gugup (Tie Shan), Tikus setinggi lutut yang celingukan (Shu Ling), Pemuda melayang (Luo Tian), dan dipimpin oleh pemuda santai (Shi Hao) serta gadis kucing pelayan (Nana).
"Lihat itu," bisik peserta lain dari Sekte Pedang Suci. "Apakah Nyonya Zhu sudah gila? Dia membawa rombongan badut?"
"Hahaha! Lihat batu besar itu, dia gemetar!" ejek seorang prajurit dari Klan Titan Bintang. "Hei, Batu! Jangan kencing di celana, nanti lantainya licin!"
Tie Shan menunduk malu. "Tuan Feng... mereka menertawakan kita."
Shi Hao berjalan santai, tangan di belakang kepala. "Biarkan saja. Badut yang tertawa paling keras biasanya mati paling cepat."
Aula Pilar Pengukur Bakat.
Di tengah aula raksasa itu, berdiri sebuah pilar kristal hitam setinggi 100 meter. Ini adalah Pilar Ukur Naga. Peserta harus memukulnya untuk mengukur kekuatan serangan mereka.
Nilai 1-3: Sampah.
Nilai 4-6: Lolos Kualifikasi.
Nilai 7-9: Jenius Langit.
Nilai 10: Legenda (Sangat jarang).
Saat ini, seorang pemuda berotot biru dari Klan Titan sedang maju. Dia meraung dan memukul pilar itu.
DUM!
Angka bersinar di pilar: 8.5.
"Hebat! Klan Titan memang monster fisik!" puji para Tetua Sekte yang mengawasi dari balkon.
Titan itu turun dengan sombong, sengaja menabrak bahu Tie Shan saat lewat. "Minggir, kerikil."
Petugas pengujian memanggil: "Selanjutnya! Tim Arena Asura!"
Nyonya Zhu mengibaskan kipasnya, keringat dingin mengalir di pelipisnya. "Jenderal Feng, siapa yang mau kau kirim? Kau sendiri?"
Shi Hao menggeleng. Dia menepuk pinggang batu Tie Shan.
"Tie Shan. Maju."
"S-Saya, Tuan?" Tie Shan panik. "Tapi... banyak orang melihat..."
Shi Hao menatap mata batu Tie Shan dengan tajam.
"Ingat latihan kita. Kau bukan batu. Kau apa?"
Tie Shan menelan ludah lahar. "Sa-Saya... Meteor."
"Bagus. Tunjukkan pada mereka bagaimana rasanya ditabrak meteor. Hancurkan benda itu."
Tie Shan berjalan lambat ke depan pilar. Penonton tertawa terbahak-bahak melihat gerakannya yang kaku.
Tie Shan berdiri di depan pilar kristal raksasa itu. Dia menarik napas dalam-dalam, mengabaikan tawa di sekelilingnya. Dia mengingat rasa sakit saat dipukuli Shi Hao, rasa takut saat menghadapi hantu beruang, dan rasa pembebasan saat menabrak dinding kapal.
Aku adalah Meteor...
Tie Shan mundur beberapa langkah untuk mengambil ancang-ancang.
Lalu, dia berlari.
DUM. DUM. DUM.
Lantai aula bergetar. Kecepatan Tie Shan meningkat drastis dalam jarak pendek. Aura Qi Tanah kuning meledak dari tubuhnya, menciptakan lapisan atmosfer yang terbakar di sekitar bahunya.
"TEKNIK METEOR: TUBUH GUNUNG MENABRAK BINTANG!"
Tie Shan tidak memukul. Dia melompat dan menabrakkan bahunya sekeras mungkin ke tengah pilar kristal itu.
Penonton: "Dia mau bunuh diri? Itu Kristal!"
KRAAAK!
Suara itu bukan suara benturan biasa. Itu suara kehancuran.
Saat bahu Tie Shan bertemu pilar, tidak ada angka yang muncul.
Kristal hitam itu retak.
Retakan menjalar dari titik benturan, naik ke atas hingga puncak, dan turun ke akar.
PRANG!!!
Pilar setinggi 100 meter itu meledak berkeping-keping. Pecahan kristal menghujani aula seperti hujan es.
Keheningan total.
Tawa Klan Titan mati di tenggorokan. Para Tetua di balkon berdiri serentak, mata mereka melotot.
"Dia... Dia menghancurkan Pilar Ukur Naga?!" teriak seorang Tetua. "Itu dirancang untuk menahan serangan Dewa Sejati Awal! Siapa makhluk batu itu?!"
Tie Shan mendarat di antara puing-puing kristal. Dia mengusap bahunya yang sedikit lecet.
"Maaf, Tuan Feng," kata Tie Shan polos. "Saya... kelepasan tenaga."
Shi Hao tersenyum puas. "Tidak apa-apa. Benda itu kualitasnya jelek."
Di tengah kekacauan dan kekaguman itu, Shi Hao tiba-tiba merasakan sensasi dingin di punggungnya.
Bukan karena niat membunuh, tapi karena resonansi Karma.
Shi Hao menoleh ke arah balkon tertinggi, tempat tamu-tamu terhormat dari Kekaisaran Pusat duduk.
Di sana, duduk seorang pria muda berjubah emas dengan sulaman matahari. Dia sedang menyesap anggur, menatap kehancuran pilar itu dengan tatapan tertarik.
Wajahnya asing. Energinya terasa seperti kultivator bintang biasa.
Tapi Shi Hao mengenali Jiwa itu.
Getaran jiwa yang sombong, panas, dan penuh dendam. Getaran yang pernah Shi Hao hancurkan di Istana Matahari Alam Dewa.
"Di Jun..." desis Shi Hao pelan.
Itu bukan Raja Dewa Di Jun yang asli. Tubuh aslinya sudah dihancurkan Shi Hao. Tapi ini adalah Avatar Jiwa yang mungkin dikirim keluar dari Alam Dewa jauh sebelum perang akhir terjadi, sebagai rencana cadangan.
Pria muda itu (Avatar Di Jun) seolah merasakan tatapan Shi Hao. Dia menoleh ke bawah.
Mata mereka bertemu.
Pria muda itu tersenyum sopan, mengangkat gelasnya ke arah Shi Hao, seolah memberi selamat. Dia tidak mengenali wajah "Feng", tapi dia jelas tertarik dengan pemimpin tim yang membawa monster batu itu.
"Menarik," batin Shi Hao. "Raja Dewa yang lama punya pecahan Avatar jiwa. Dan sekarang dia menjadi tamu kehormatan di sini dengan nama baru."
Shi Hao membalas senyuman itu dengan seringai dingin.
Bagus. Aku bisa membunuhmu untuk kedua kalinya.
"Tuan Feng?" panggil Nana yang melihat tuannya melamun dengan aura membunuh.
"Ah, tidak apa-apa," Shi Hao berbalik. "Ayo pergi. Kita sudah membuat cukup banyak keributan. Tagihan ganti rugi pilarnya kirim saja ke Nyonya Zhu."
Nyonya Zhu: "..."
Muantebz 🔝🐉🔥🌟🔛