Pernikahan Liana dan Abi hanyalah kesepakatan pahit di atas kertas untuk menyambung keturunan.
Liana terjepit di antara rasa hormat kepada Genata dan status barunya sebagai istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara "paman" dan "suami" mulai mengabur. Abi terjebak dalam dilema besar saat ia menyadari bahwa Liana bukan sekadar pelanjut nasab, melainkan pemilik kunci hatinya yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Abi dengan sigap menahan bahu Liana yang limbung.
"Pelan-pelan, Liana. Jangan dipaksa langsung bangun," ucapnya lembut sambil menyusun bantal di belakang punggung Liana agar ia bisa bersandar dengan nyaman.
Liana menatap selang infus di tangannya dengan tatapan kosong, lalu beralih menatap Abi.
Ada sorot luka yang mendalam di matanya. Abi tidak mengatakan apa-apa lagi tentang status mereka.
Abi mengambil mangkuk bubur yang masih mengepulkan uap tipis dari atas nakas.
"Mbak Gen sudah membuatkan bubur hangat untukmu. Kamu harus makan sedikit agar tenagamu pulih," kata Abi sambil menyodorkan sesendok bubur ke depan bibir Liana.
Liana hanya menatap sendok itu, lalu memalingkan wajahnya.
Ia menggelengkan kepala perlahan, bibirnya terkatup rapat.
Rasa mual di perutnya tidak sebanding dengan rasa sesak yang menghimpit dadanya.
"Aku tidak lapar, Paman," bisiknya lirih.
Abi menghela napas panjang, namun ia tidak menyerah.
Melihat keras kepala Liana, ingatan Abi mendadak terlempar ke belasan tahun yang lalu.
Saat itu, Liana kecil sedang mogok makan karena es krimnya jatuh ke pasir pantai.
Abi tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sudah lama tidak ia tunjukkan.
Ia menurunkan sendoknya sejenak, menatap Liana dengan tatapan jenaka yang dulu selalu berhasil meluluhkan hati gadis itu.
"Ingat tidak, dulu ada gadis kecil yang menangis seharian karena es krim cokelatnya jatuh? Dia juga tidak mau makan nasi sama sekali sampai harus dirayu dengan 'pesawat terbang'," ucap Abi pelan.
Liana tertegun, matanya sedikit membelalak mendengar cerita itu.
Kenangan masa kecil itu tiba-tiba melintas begitu saja di benaknya.
Abi kembali mengangkat sendoknya, lalu menggerakkannya perlahan di udara seolah-olah sedang menerbangkan mainan.
"Ayo, satu suapan saja untuk 'pilot' kecil Paman. Pesawatnya mau mendarat, kalau tidak dibuka pintunya, nanti dia kehabisan bahan bakar dan jatuh di sini."
Suara berat Abi yang meniru nada bicaranya saat merayu Liana kecil dulu membuat pertahanan Liana sedikit goyah.
Ada kehangatan lama yang mendadak menyeruak di tengah dinginnya kenyataan pahit ini.
"Paman, aku bukan anak kecil lagi," gumam Liana, namun sudut bibirnya sedikit bergetar, menahan antara tawa getir dan tangis.
"Di mataku, kamu tetap Liana yang harus kupastikan tidak jatuh sakit," jawab Abi dengan nada yang lebih serius namun tetap lembut.
"Satu suapan saja. Demi Papa, Liana. Kalau Papa tahu kamu sampai pingsan dan masuk infus seperti ini, kondisinya pasti akan semakin drop."
Mendengar nama Papanya disebut, Liana akhirnya menyerah.
Dengan perlahan, ia membuka mulutnya, membiarkan suapan bubur pertama itu masuk.
Meski terasa hambar di lidahnya, kehangatan bubur itu perlahan mulai menjalar ke tubuhnya yang dingin.
"Nah, begitu. Anak pintar," puji Abi, persis seperti kalimat yang selalu ia ucapkan dulu.
Tanpa mereka sadari, di balik celah pintu yang sedikit terbuka, Genata berdiri mematung.
Ia menyaksikan interaksi itu dengan perasaan yang berkecamuk.
Ia melihat sisi Abi yang tidak pernah ia lihat selama ini.
Abi seorang pria yang begitu telaten dan penuh kasih pada seorang wanita lain.
Hatinya perih, namun di sisi lain, ada kelegaan melihat Liana akhirnya mau makan.
Genata perlahan menjauh dari pintu, membawa langkah kakinya kembali ke kamarnya sendiri, membiarkan "keluarga baru" itu menemukan jalannya di dalam kesunyian kamar tersebut.
Abi menoleh ke arah pintu saat melihat Genata masuk membawa nampan berisi makanan untuknya.
Wajah istrinya itu tampak begitu tulus, meski ada gurat kelelahan yang tak bisa disembunyikan.
"Makanlah dulu, Bi. Kamu belum menyentuh makanan sejak tadi pagi. Biar aku yang menjaga Liana sebentar," ucap Genata lembut sambil meletakkan nampan di meja kecil dekat jendela.
Liana yang sudah setengah sadar namun masih sangat lemah, memperhatikan interaksi itu dengan mata sayu.
Ia melihat bagaimana Genata memperlakukan Abi, dan bagaimana Abi menatap Genata.
Ada ruang di antara mereka yang terasa begitu kokoh, namun kini ia dipaksa masuk ke tengah-tengahnya.
Saat Abi baru saja hendak berdiri untuk menghampiri makanan itu, suara Liana yang lirih memecah kesunyian kamar.
"Kenapa, Mbak meminta aku untuk menjadi istri kedua Paman Abi?"
Pertanyaan itu seperti petir di siang bolong. Abi menghentikan langkahnya, sementara Genata mematung di sisi ranjang.
Genata perlahan menundukkan kepalanya, menghindari tatapan tajam namun rapuh dari Liana. Jemarinya meremas kain gamis yang ia kenakan.
Keheningan di kamar itu terasa begitu berat. Hanya suara tetesan infus yang terdengar teratur.
Genata menarik napas panjang sebelum akhirnya berani mengangkat wajahnya, meski matanya mulai berkaca-kaca.
"Liana, aku tahu ini egois. Bertahun-tahun aku mendampingi Abi, tapi rahimku tidak bisa memberinya apa yang paling ia inginkan yaitu seorang anak. Aku melihatnya mencintai anak-anak dan setiap kali itu pula hatiku hancur karena gagal menjadi wanita yang sempurna untuknya."
"Tapi, kenapa aku? kenapa bukan wanita lain?"
"Kenapa kamu? Karena aku tahu siapa kamu. Aku tahu bagaimana Abi menyayangimu sejak kecil, dan aku tahu kamu adalah gadis yang baik dari keluarga yang sangat dihormati Abi. Aku tidak ingin Abi bersama orang asing. Aku ingin setidaknya jika ada wanita lain, itu adalah kamu, yang sudah kami anggap seperti bagian dari kami sendiri."
Aku pikir aku cukup kuat untuk berbagi. Aku pikir ini adalah satu-satunya cara untuk menebus kekuranganku sebagai istri."
Liana memalingkan wajahnya ke arah jendela, air matanya jatuh membasahi bantal.
"Mbak tidak bertanya apakah aku kuat? Mbak hanya memikirkan kebahagiaan Paman Abi dan rasa bersalah Mbak sendiri.
Abi berdiri di antara dua wanita yang kini sama-sama terluka karena keputusannya.
Ia mendekat ke arah ranjang, namun tangannya tertahan di udara, bingung harus menguatkan yang mana.
"Genata sudah cukup menyalahkan dirinya sendiri, Liana. Dan aku juga bersalah karena tidak bisa menolak permintaannya maupun janji pada Papamu."
Genata masih menunduk, butiran air mata jatuh ke lantai.
Ia merasa seperti seorang penjahat yang baru saja merampas masa depan seorang gadis, meski niat awalnya adalah demi keutuhan garis keturunan suaminya.
Di tengah suasana kamar yang penuh sesak oleh pengakuan jujur Genata, sebuah suara nyaring memecah ketegangan.
Ponsel Liana yang tergeletak di atas nakas bergetar hebat, menampilkan nama "Mama" di layarnya.
Dengan tangan gemetar dan selang infus yang tertarik, Liana menyambar ponsel itu.
Perasaannya mendadak tidak enak. Firasat buruk yang sejak tadi menghantui kini terasa semakin nyata.
"Halo, Ma?" bisik Liana parau.
Di seberang telepon, tidak ada kata-kata pembuka yang tenang.
Hanya suara isak tangis yang meledak, suara napas yang tersengal, dan deru hiruk pikuk khas rumah sakit sebagai latar belakang.
"Liana, Papa, Nak. Papa sudah tidak ada. Papa meninggalkan kita, Liana!" jerit Mama Prameswari di sela tangis sesenggukannya.
Kalimat itu bagaikan hantaman gada besar yang menghancurkan seluruh pertahanan Liana.
Dunia yang sejak kemarin sudah retak, kini benar-benar hancur berkeping-keping.
"Ma? Mama bohong, kan? Papa baru saja menikahkanku! Papa janji mau sembuh!" teriak Liana histeris.
Ponselnya terlepas dari genggaman, jatuh menghantam lantai dingin.
"Liana, tenanglah!" Abi mencoba memegang bahu Liana, namun Liana memberontak hebat.
"Ini semua karena kalian! Kalau bukan karena pernikahan gila ini, Papa tidak akan stres! Papa meninggal karena aku membantahnya!"
Liana menjerit sejadi-jadinya, mencabuti rambutnya sendiri seolah ingin melarikan diri dari kenyataan yang terlalu pahit ini.
"Liana, istighfar."
Genata mencoba mendekat dengan air mata yang juga mengalir deras, namun Liana menatapnya dengan tatapan penuh luka dan benci yang mendalam.
"Jangan sentuh aku! Pergi!"
Napas Liana mulai memburu, tidak teratur. Dadanya naik turun dengan cepat, wajahnya yang semula pucat kini menjadi biru karena kekurangan oksigen akibat syok yang luar biasa.
Matanya mendelik ke atas, dan dalam satu sentakan hebat, seluruh tubuhnya melemas.
"Liana!" seru Abi saat melihat kepala Liana terkulai.
Tubuh Liana merosot dalam dekapan Abi, lunglai tak bertenaga seperti boneka yang kehilangan talinya.
Jeritan histeris yang baru saja memenuhi ruangan seketika berganti dengan suara napas yang tercekat dan mengerikan.
"Gen! Panggil ambulans sekarang! Cepat!" suara Abi menggelegar, penuh dengan nada ketakutan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
Dengan tangan gemetar, Genata segera menyambar ponsel dan menelepon bantuan.
Air matanya terus mengalir, namun ia mencoba tetap tegar demi suaminya dan gadis yang baru saja sah menjadi madunya itu.
Sirene ambulans kembali meraung, membelah keheningan yang baru saja hendak menyelimuti rumah itu.
Abi menggendong tubuh Liana yang dingin, tak peduli dengan noda darah akibat jarum infus yang terlepas paksa dari tangan gadis itu.
Di dalam mobil ambulans, Abi tak melepaskan genggamannya pada tangan Liana yang membiru.
Ia terus membisikkan doa, sementara di sudut lain, Genata duduk termenung dengan tatapan kosong.
Kematian Pak Habibie adalah berita duka bagi mereka semua, namun bagi Liana, itu adalah kiamat kecil yang menghancurkan dunianya.
Sesampainya di rumah sakit, suasana sudah dipenuhi oleh sanak saudara.
Di sana, Mama Prameswari duduk bersimpuh di depan pintu ruang jenazah, dikelilingi oleh Tante Rani dan Angela yang terus mencoba menenangkannya.
Liana langsung dilarikan ke ruang UGD untuk mendapatkan bantuan oksigen, sementara Abi melangkah gontai menghampiri Mama Prameswari.
"Ma..." suara Abi tercekat.
Mama Prameswari mendongak, wajahnya sembab dan matanya merah.
"Dia pergi, Bi. Dia bilang kalau dia sudah tenang karena Liana sudah ada yang menjaga. Tapi lihat, Liana hancur, Bi!"
Abi memejamkan matanya saat mendengar perkataan dari Mama Prameswari.
Dua jam kemudian, kondisi Liana mulai stabil berkat bantuan medis, meski ia belum sepenuhnya sadar dari pengaruh obat penenang.
Namun, ia harus melihat kenyataan dan rengan bantuan kursi roda yang didorong oleh Abi, Liana dibawa menuju ruang persemayaman terakhir ayahnya sebelum dimandikan.
Di depan tubuh yang terbujur kaku di bawah kain jarik itu, Liana tidak lagi menjerit.
Ia hanya diam yang jauh lebih menakutkan daripada tangisan paling keras sekalipun.
Liana menyentuh kening ayahnya yang dingin.
"Papa jahat," bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.
"Papa menikahkanku hanya untuk memberi alasan bagi Papa untuk pergi. Papa bilang ini demi keselamatanku, tapi tanpa Papa, apa lagi yang selamat dariku?"
Genata yang berdiri beberapa langkah di belakang Liana, hanya bisa menutup wajahnya dengan kerudung, menahan isak yang menyesakkan dada.
Ia merasa kehadirannya di sana hanyalah menambah beban bagi Liana.