NovelToon NovelToon
Pewaris Yang Tak Terduga

Pewaris Yang Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Percintaan Konglomerat / Konflik etika / CEO Amnesia
Popularitas:72
Nilai: 5
Nama Author: Her midda

Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Tak terasa dua minggu berlalu, dan kondisi tubuh Gibran sudah mulai membaik. Ia sudah mulai bisa berjalan dan beraktivitas, meskipun kakinya masih terasa ngilu.

Selama itu pula, ia tinggal di rumah Nadia karna tak tahu harus pulang kemana. Jangankan ingat jalan pulang, namanya sendiri pun ia tak ingat. Tapi kata Nadia, namanya itu Gibran, Nadia tahu karna menemukan kartu nama di pakaian milik Gibran saat pertama kali menemukannya di sungai.

"Heh, ngapain ngelamun!" sentak Nadia membuat Gibran terperanjat kaget.

"Dari pada melamun, mending kamu membantuku mencari ikan di sungai," lanjut Nadia.

"Untuk apa?" tanya Gibran tidak tahu.

Nadia mengehembuskan napas kasar,"Ya, untuk makan lah! stok makanan di rumahku sudah habis, jadi kita harus mencari ikan untuk makan malam nanti. Kamu mau mati kelaparan?!"

"Mau ikut? atau mau melamun saja disini? kalau tidak mau ikut, Aku akan menyeret dan mengusirmu dari rumahku. Enak saja, numpang di rumah orang tanpa membantu biaya hidup!" cerocosnya.

Nadia tidak tahu saja jika Gibran adalah konglomerat yang hartanya tidak terhitung, mungkin untuk ukuran biaya hidup bagi Gibran itu sangat mudah. Namun sayangnya ingatannya masih belum pulih.

"Iya, iya Aku ikut. Kamu ini bawel sekali jadi perempuan!"cetus Gibran.

"Nih! kamu bawa ember, Aku bawa pancingan."Nadia memberikan ember, yang di terima langsung oleh Gibran. Kemudian gadis itu berjalan mendahuluinya.

"Cepat-cepat! nggak usah manja deh!" teriak Nadia.

Gibran hanya mendesah pasrah, mau tak mau ia harus menuruti gadis cerewet itu.

Sesampainya di sungai, mereka berdua langsung mulai memancing. Ralat, hanya Nadia yang memancing, sedangkan Gibran tidak tahu caranya memancing.

"Kamu nggak bisa mancing?"tanya Nadia.

"Nggak," jawab Gibran.

Nadia menggeleng gelengkan kepalanya sembari berdecak tak percaya."Kamu ini laki-laki atau bukan? hidup di planet mana wahai dirimu kisanak? mancing nggak bisa, nyapu nggak bisa, nyuci piring nggak bisa, dasar anak manja!"

"Aku tidak manja!" selak Gibran tak terima."Lagi pula, semua pekerjaan itu adalah pekerjaan wanita, bukan pekerjaan laki-laki."

"Oh ya? tapi mendiang Ayahku dulu hampir setiap hari melakukan pekerjaan itu, dia tidak pernah bilang kalau pekerjaan itu khusus untuk perempuan. Ayah cuma bilang, pekerja keras itu mampu dan tidak malu melakukan pekerjaan apapun, termasuk pekerjaan wanita,"jelas Nadia.

"Tetap saja Aku tidak mau!"Gibran tak mau kalah.

"Melihat dari kelakuan dan caramu berbicara, sepertinya kamu orang elite yang sangat manja!" ejek Nadia seraya terkikik kecil.

"Stop mengejeku anak manja!"ujar Gibran mendengus kesal.

Nadia tertawa,"Kenapa marah? memang kenyataan kan, kalau kamu itu anak manja. Kalau nggak mau di sebut anak manja, coba buktikan padaku."

"Oke, akan ku buktikan kalau Aku bukan anak manja,"katanya meyakinkan.

**********

Sehabis memancing, Nadia dan Gibran langsung bergegas pulang. Sesampainya di rumah, Nadia langsung memebersihkan ikan-ikan yang tadi mereka dapat, untungnya mereka mendapat ikan lumayan banyak, Nadia pikir cukup untuk stok makan selama satu minggu.

"Mau Aku tolong?"

Nadia meilirik Gibran sekilas, raut wajahnya tampak meragukan."Yakin bisa?"

"Kalau kamu mau mengajariku, pasti lama kelamaan Aku bisa,"balas Gibran.

"Baiklah."

Nadia memberikan celemek kepada Gibran, lalu mereka berdua mulai membersihkan ikan-ikan tersebut dan setelah selesai, Nadia langsung memasukannya ke dalam kulkas supaya tahan sampai satu minggu.

"Jadi? kita hanya makan ikan ini?" tanya Gibran, tangannya sekarang sudah di penuhi darah dan sisik ikan. Terkadang dirinya agak merasa jijik dan mau muntah begitu mencium bau anyir ikan yang sangat menyengat.

"Selama satu minggu, kita hanya akan makan ikan," ujar Nadia.

"Tidak ada makanan lain?"

Nadia menggeleng,"Aku tidak punya uang untuk membeli bahan makanan yang enak. Kamu kan tahu, Aku cuma kurir makanan yang gajinya tidak seberapa. Hanya cukup untuk membeli beras dan membayar sewa rumah ini."

Ya, Nadia adalah yatim piatu. Sejak kecil ia tinggal di panti asuhan. Setelah lulus sekolah menengah atas Nadia memutuskan untuk keluar dari panti dan bekerja. Awalnya ia bekerja di bandara sebagai penjaga toko makanan, tapi karna kesalahan ia di pecat. Nadia kini beralih menjadi kurir pengantar makanan yang gajinya tidak seberapa, hanya cukup untuk membeli beras dan sewa rumah yang ia tempati.

Jika tidak ada lauk, Nadia akan pergi ke sungai memancing ikan untuk ia makan, itung-itung mengirit pengeluarannya. Bahkan Nadia sengaja menanam banyak sayuran di halaman rumahnya untuk berjaga-jaga jika dirinya tidak punya lauk sama sekali, ia bisa memanfaatkan sayuran tersebut untuk di makan.

"Harusnya kamu bersyukur, hari ini kita bisa makan ikan. Lihat di luaran sana, banyak orang-orang membutuhkan yang mengandalkan makanan sisa. Toh hari ini Aku tidak bekerja juga gara-gara kamu!"lanjut Nadia.

Gibran mendelik tak terima,"Gara-gara Aku?? kenapa menyalahkanku."

"Kalau kamu bisa memancing, mungkin Aku akan bekerja hari ini. Tapi karna kamu tidak bisa memancing, ya mau nggak mau Aku yang harus turun tangan."

"Sebenarnya bagiku sehari tidak kerja itu sangat di sayangkan, karna Aku sangat membutuhkan uang. Apalagi Aku kerja dari pagi sampai sore aja. Kalau malam nggak bisa."

"Kenapa nggak bisa sampai malam?" tanya Gibran.

"Ya, karna Aku perempuan. Di perusahaanku, kalau perempuan itu kerjanya di batasi. Katanya sih, bahaya kalau perempuan kerja sampai malam," jelas Nadia yang membuat Gibran mengangguk paham.

"Kamu disini hanya tinggal sendiri?" tanya Gibran penasaran, pasalnya Nadia tidak pernah bercerita tentang dirinya.

"Iya, Aku tinggal sendiri. Kata Ibu panti, waktu Aku bayi ada seorang perempuan yang menitipkanku ke panti asuhan, perempuan itu bilang jika dia saudara Ayah Ibuku yang sudah meninggal dan terpaksa menitipkanku di panti asuhan karna tidak mampu membiyai," jelas Nadia.

Gibran cukup merasa kasihan dengan gadis semuda Nadia yang hidup sendirian tanpa sanak saudara. Tapi Gibran salut dengan Nadia, meskipun cerewet, gadis itu sangat tangguh dan pekerja keras. Ia tidak malu melakukan apapun selagi halal.

"Hari ini, Aku akan memasak kuah ikan kuning, kamu harus membantuku menyiapkan masakan," lanjut Nadia.

Gibran mengangguk setuju."Oke, Aku akan membantumu."

Keduanya langsung menyiapkan bahan-bahan dan membagi tugas agar pekerjaan memasak jadi lebih mudah dan cepat. Saat keduanya sedang asyik memasak, tiba-tiba ada suara ketukan pintu.

TOK TOK TOK!!

"Nad, Nadia....!"

"Ah, itu suara Mbak Dian." Nadia langsung membukakan pintu utama rumahnya, mempersilahkan Mbak Dian masuk.

"Lama sekali."ujar Mbak Dian seraya berjalan masuk ke dalam.

Nadia terkekeh kecil," Maaf Mbak, Aku sedang sibuk memasak."

"Masak? padahal Mbak membawakanmu makanan, rencana mau makan barsama." Mbak Dian tampak menaruh rantang makanan di meja, beserta beberapa obat-obatan.

"Laki-laki yang kamu tolong itu, apa sudah membaik keadaanya?"

"Sudah, hanya saja kakinya masih sakit dan agak susah bergerak,"balas Nadia.

" Tenang saja, nggak lama kondisinya akan membaik kok. Apa dia sudah mulai mengingat identitasnya?"

Nadia menggeleng pelan."Sepertinya belum, Aku sering kali menyuruh dia mengingatnya, tapi saat dia berusaha mengingatnya, kepalanya selalu sakit. Aku jadi tidak tega."

Mbak Dian membuang napas pelan,"Ya, sudah untuk sementara, mungkin dia akan tinggal disini sampai dia sembuh dan benar-benar ingat semuanya."

"Baik Mbak."

"Mbak bantuin masak deh, biar cepat selesai."

"Hore!!" Nadia berseru ringan seraya mendorong pelan punggung Mbak Dian menuju dapur.

Ketiganya melanjutkan acara masak memasak, di selingi dengan canda dan tawa. Tapi suasana saat ini membuat Gibran merasa nyaman, entah kenapa jauh di dalam lubuk hatinya, Gibran seperti baru pertama kali merasakan kehangatan dan kenyamanan seperti saat ini.

**********

"Rangga! bereskan semua barang-barang milik Gibran. Mulai sekarang, saya yang akan memimpin perusahaan pusat ini," ucap Arya dengan suara lantang yang menggema di seluruh penjuru ruangan kantor.

Semua pekerja mulai berbisik-bisik membicarakan tentang keputusan Arya yang mengambil paksa jabatan Gibran, padahal Gibran belum di temukan, dan belum ada pengesahan dari Ibu Tina, tapi kerna keserakahannya, ia langsung merampas jabatan itu.

"Tapi, Pak... Gibran belum di temukan, polisi dan keluarga juga belum memutuskan, Nyonya besar juga belum melakukan pengesahan jabatan ini, saya tidak mau------"

"Jangan banyak omong!" potong Arya cepat."Ini atas dasar perintah saya sebagai anak sulung keluarga Pradikta! jadi saya berhak, mengambil alih perusahaan ini."

"Dengar semuanya....!" seloroh Arya."Jika kalian semua masih ingin bekerja di perusahaan ini, sebaiknya jangan membangkang dan ikuti peraturan saya. Mengerti?!"

Setelah mengatakan itu, Arya langsung pergi dari sana, menyisakan Rangga dan para karyawan. Mereka masih saling berbisik membicarakan Arya.

"Kenapa dia bisa seenaknya begitu?"

"Mungkin karna dia anak sulung, jadi punya hak besar dalam mengambil alih perusahaan."

"Serakah! padahal dia memegang perusahaan cabang satu, kenapa masih ingin mengambil pusat."

"Benar-benar jahat! adiknya belum di temukan dan belum di nyatakan meninggal, dia sudah seenaknya."

"Tidak ada empati!"

"Dia merasa punya kuasa karna anak paling tua."

Begitulah kira-kira, bisikan para karyawan kantor membicarakan Arya. Rangga sendiri langsung merasa sedih dan terpukul atas kejadian yang menimpa sahabat sekaligus bosnya, yaitu Gibran.

Andai saja, malam itu ia pulang bersama Gibran, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Rangga curiga, ada seseorang yang memang berniat mencelakai Gibran untuk merebut posisinya. Ia yakin, kejadian yang menimpa Gibran memang tidak wajar. Rangga harus menyelidiki semua ini.

bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!