NovelToon NovelToon
Dahaga Sang Tuan

Dahaga Sang Tuan

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cerai / CEO / Duda / Pengasuh / Ibu susu
Popularitas:17.7k
Nilai: 5
Nama Author: your grace

Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.

Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.

Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Dalam Jeratan Sang Tuan

Sinar matahari pagi yang menembus jendela mansion terasa seperti ejekan bagi Amara. Sepanjang pagi, ia tidak berani menatap mata siapapun, terutama Mbak Lasmi. Ia merasa ada dosa besar yang tertulis di keningnya. Bayangan bibir Arlan yang rakus mêñɏê§åþ asinya semalam terus berputar di kepalanya, membuat wajahnya panas dan dadanya berdenyut aneh.

Amara mencoba bersembunyi di balik tugasnya mengurus Kenzo. Ia berharap Arlan sudah berangkat ke kantor dan melupakan kegilaan semalam. Namun, harapannya hancur saat Siti datang menghampirinya di taman.

"Mara, Tuan Arlan memanggilmu ke kamar pribadinya. Katanya ada hal penting terkait Tuan Muda," ujar Siti tanpa curiga.

Jantung Amara seolah merosot ke perut. "Ke... ke kamarnya sekarang, Mbak?"

"Iya, segera ya. Tuan sepertinya sedang terburu-buru."

Dengan langkah yang terasa berat dan lutut yang gemetar, Amara menggendong Kenzo menuju sayap utama mansion. Setiap langkah menaiki tangga marmer terasa seperti menuju tiang gantungan. Ia mengeratkan pelukannya pada Kenzo, seolah bayi mungil itu adalah satu-satunya pelindungnya dari nafsu sang tuan.

Sesampainya di depan pintu jati yang megah itu, Amara berhenti. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdentum hebat—dag-dig-dug—begitu kencang hingga ia takut Kenzo bisa merasakannya.

"Ayo, Kenzo... jangan nakal ya," bisiknya lirih, lebih untuk menenangkan dirinya sendiri.

Amara ragu untuk mengetuk. Ia berdiri mematung selama beberapa menit. Namun, Kenzo yang seolah mengerti kegelisahan pengasuhnya, tiba-tiba mengeluarkan suara ocehan bayinya yang nyaring. "Agghuu... baa...!"

Suara itu menembus pintu yang ternyata tidak tertutup rapat. Sebelum Amara sempat melarikan diri, pintu itu ditarik dari dalam.

Srett.

Amara langsung memutar tubuhnya, membelakangi pintu dengan gerakan spontan. Matanya terbelalak karena sekilas ia melihat pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat. Arlan berdiri di sana, baru saja keluar dari kamar mandi. Uap hangat masih menguar dari tubuhnya.

Pria itu hanya mengenakan handuk putih yang melingkar rendah di pinggangnya, memperlihatkan garis otot perut yang sempurna dan dada bidang yang masih basah oleh tetesan air. Kulitnya yang kecokelatan nampak berkilat di bawah lampu kamar, menciptakan kesan maskulin yang sangat menggoda.

"Kenapa berbalik, Amara?" suara Arlan terdengar berat dan serak, sangat dekat di belakang telinga Amara. "Kau sudah melihatnya semalam."

Wajah Amara memerah padam sampai ke ujung telinga. "M-maaf, Tuan... saya tidak tahu Tuan sedang... sedang tidak berpakaian. Saya tunggu di luar saja."

"Masuk," perintah Arlan mutlak. Ia tidak memberi ruang untuk protes. "Atau kau ingin para pelayan yang lewat melihat kita berdiri seperti ini di depan pintu?"

Dengan perasaan campur aduk antara takut dan debar yang tak menentu, Amara melangkah masuk ke dalam kamar yang aromanya sudah bercampur antara parfum mahal dan uap sabun maskulin. Ia tetap menunduk, menatap ujung kakinya, sementara Kenzo justru tertawa kecil melihat ayahnya.

Arlan menutup pintu dan menguncinya dengan bunyi klik yang membuat nyali Amara menciut. Pria itu berjalan santai melintasi ruangan, sama sekali tidak merasa terganggu dengan kondisinya yang hampir polos.

"Kemarikan Kenzo," ucap Arlan. Ia mengambil bayi itu dari gendongan Amara. Aroma tubuh Arlan yang segar setelah mandi langsung menyerang indra penciuman Amara, membuatnya semakin pening.

Arlan meletakkan Kenzo di tengah tempat tidurnya yang luas, mengelilinginya dengan bantal, lalu ia berbalik menatap Amara. Matanya yang tajam langsung tertuju pada bagian dada Amara yang tampak menonjol di balik seragamnya.

"Aku merasa dadamu masih sangat penuh, Amara. Apa kau tidak merasa kesakitan?" Arlan melangkah maju, memperkecil jarak. Tangannya yang masih lembap menyentuh bahu Amara, mengusapnya perlahan. "Jangan berbohong. Aku bisa melihat rembesannya di kain seragammu."

Amara menelan ludah, ia merasa seolah oksigen di ruangan itu habis seketika. "Saya... saya bisa mengurusnya sendiri nanti, Tuan."

"Tidak," bisik Arlan sambil menarik Amara agar duduk di tepi ranjang, tepat di samping Kenzo. "Kau tahu peraturannya. Aku yang mengawasi... dan aku yang memastikan semuanya tuntas."

***

Amara berdiri mematung di tengah kamar yang luas itu, jemarinya meremas kain seragamnya dengan gelisah. Ia bisa merasakan tatapan Arlan yang membakar punggungnya, sebuah tatapan yang seolah-olah bisa menembus lapisan pakaiannya. Suasana sunyi itu hanya dipecah oleh suara napas berat Arlan dan celoteh riang Kenzo yang sedang asyik bermain dengan ujung bantal di atas ranjang.

Melihat ekspresi Amara yang ketakutan setengah mati dengan wajah pucat pasi, Arlan tiba-tiba terkekeh rendah. Suara tawanya terdengar seksi namun juga mengintimidasi, bergema di ruangan yang dingin itu.

"Sudahlah, jangan pasang wajah seperti akan dieksekusi begitu," ucap Arlan sambil melangkah santai menuju meja riasnya. "Siapkan bajuku."

Amara mendongak, matanya membelalak karena terkejut. "Ya? Maksud Tuan?"

Arlan berhenti sejenak, memutar tubuhnya perlahan sehingga otot-otot perutnya yang basah terpampang jelas di depan mata Amara. "Apa kau tuli, Amara? Aku bilang siapkan pakaian kerjaku. Sekarang."

Amara mengerjap, lidahnya terasa kelu. "T-tapi Tuan... bukankah tugas saya hanya mengurus keperluan Tuan Muda Kenzo? Saya tidak tahu soal pakaian Tuan..."

Arlan melangkah mendekat, memangkas jarak hingga Amara bisa mencium aroma sabun sandalwood yang maskulin dari kulit pria itu. Ia menunduk, membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduk Amara meremang.

"Mulai sekarang, tidak hanya keperluan Kenzo yang kau urus, tapi keperluanku juga. Segalanya, Amara. Mulai dari apa yang melekat di tubuhku, sampai apa yang masuk ke dalam perutku," bisik Arlan dengan penekanan yang penuh makna ganda. "Lemarinya ada di sebelah sana."

Arlan menunjuk ke arah sebuah pintu kaca besar yang menuju ke walk-in closet pribadi di ujung ruangan. Sebuah ruangan yang bahkan lebih luas dari kamar Amara di desa, berisi deretan jas, kemeja, dan koleksi jam tangan mewah.

Amara hanya bisa mengangguk pasrah. Di dalam hatinya, ia mengembuskan napas lega yang luar biasa. Setidaknya dia tidak memintaku melakukan hal gila seperti semalam lagi, batinnya mencoba menghibur diri. Dengan langkah cepat, ia berjalan menuju walk-in closet tersebut, berusaha mengalihkan pandangannya dari tubuh setengah †êlåñjåñg majikannya.

Namun, yang tidak diketahui Amara, Arlan tetap berdiri di tempatnya semula. Pria itu menyandarkan bahu kokohnya pada pilar ranjang, melipat tangan di depan dada sambil menatap punggung Amara yang menjauh. Sebuah senyum smirk menghiasi bibir tipisnya.

Arlan merasa sangat terhibur melihat betapa paniknya gadis itu. Ia menyukai bagaimana wajah pucat Amara perlahan berubah menjadi kemerahan saat ia menggodanya. Baginya, Amara adalah mainan baru yang sangat menarik—seorang gadis polos dengan rahasia yang "manis" di dadanya.

"Kau pikir kau aman hari ini, Amara?" gumam Arlan pelan pada dirinya sendiri.

Arlan melangkah menyusul Amara ke dalam walk-in closet. Saat Amara sedang sibuk meraba bahan kemeja sutra yang halus, Arlan tiba-tiba muncul tepat di belakangnya, berdiri begitu dekat hingga Amara bisa merasakan hawa panas dari tubuh Arlan yang hanya tertutup handuk.

"Pilihkan kemeja putih yang paling tipis," perintah Arlan tepat di tengkuk Amara. "Karena hari ini cuacanya panas, dan aku ingin merasa sejuk... sama seperti saat aku bersamamu semalam."

Amara tersentak, tangannya yang sedang memegang gantungan baju gemetar hebat. Godaan itu begitu nyata, dan ia tahu, hari-harinya di mansion ini tidak akan pernah tenang selama Arlan masih memiliki dahaga yang hanya bisa dipadamkan olehnya.

1
Naila Saputri
ini Amara seperti g ad harga diri y ,bus d bentak dan di hina oleh arlan ,mau aja d gituin
Bedjho
si Arlan minta di sapih 😭
Bedjho: 😭😭 pesona duda ga kaleng²🤌🏻
total 2 replies
Vicky Aulia
agak menyebalkan sih episode ini huhu
Linda Ayu Tong-Tong
thor kok arlan jahat banget..udah kamu kanir aja amara...biar arlan nyesel...
Linda Ayu Tong-Tong
kasihan amara...adih arlan..kamu jadiin amara pelacurmu..jahat banget...lebih jahat dari peran arya🥵🥵🥵
Linda Ayu Tong-Tong
double 🤣🤣🤣
Linda Ayu Tong-Tong
you crazy arlan🤣🤣🤣
Naila Saputri
arlan udh gila 🤣🤣🤣
Achom
laah si Arlan dia yg salah godain Amara mlulu tp dia yg marah² hadeuhh 😑
Ikaculeng
tulisan terrtata dengan baik
Uthie
menarik ceritanya 👍👍👍
Uthie
mampir 👍
Linda Ayu Tong-Tong
thorrr gerah geraah thor🥵🤣
Linda Ayu Tong-Tong
thor kok kyak diperlakukan kyak binatang
Linda Ayu Tong-Tong
oooohhh🥵🥵🥵
Linda Ayu Tong-Tong
waaaow panaasss,🥵🥵
Linda Ayu Tong-Tong
next
Linda Ayu Tong-Tong
wakakaka panas dingin aq thor🤣
afaj
kwkwkwk untuk u g nenek bareng anak u arlan
Linda Ayu Tong-Tong
ohh arlan kamu ketagihan nenennya amara🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!