Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.
Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Aroma Hujan Perak
Langit di atas distrik pasar tiba-tiba kehilangan warna biru pucatnya, berubah menjadi hamparan logam yang mendidih dengan rona abu-abu metalik yang menindas. Arlan berdiri di persimpangan jalan setapak yang becek, menyesuaikan letak tas kurirnya yang kini terasa lebih ringan setelah ia memusnahkan suar pelacak berupa paket masa kecilnya di kantor tadi. Ia masih bisa merasakan panas api biru yang membakar gigi susunya di ujung jemari, sebuah sensasi nyata yang menjadi satu-satunya kompas saat realitas di sekitarnya mulai meluruh.
Awan rendah itu tidak menjatuhkan air. Sebaliknya, rintik-rintik yang turun memiliki massa yang lebih berat dan memantulkan cahaya neon hijau dari papan reklame pasar dengan cara yang tajam. Saat setetes cairan itu mengenai punggung tangannya, Arlan tidak merasakan basah yang dingin, melainkan rasa perih yang disusul oleh aroma tembaga terbakar yang menyengat. Hujan perak telah dimulai.
"Hujannya tidak mendinginkan, ya, Nak Arlan?" seorang pedagang sayur menyapa dari balik tumpukan apel yang tampak terlalu sempurna untuk menjadi nyata.
Arlan menoleh, menatap pria tua itu. Sang pedagang tidak memakai payung, membiarkan butiran perak itu melapisi kerutan di wajahnya hingga kulitnya tampak seperti patung cor yang belum selesai. Arlan memperhatikan dada pria itu; ada jeda dua detik sebelum dadanya naik, lalu turun dengan kaku—sebuah gerakan napas manual yang dipaksakan agar ia terlihat sedang menghirup udara yang sebenarnya sudah jenuh dengan bau ozon.
"Sepertinya cuaca sedang mengalami gangguan sistem, Pak. Apakah apel-apel ini baru datang dari gudang logistik?" tanya Arlan, suaranya tetap datar mengikuti protokol underdog yang waspada.
"Segar seperti baru dicetak pagi ini," jawab pedagang itu, menggunakan frasa yang membuat bulu kuduk Arlan meremang. "Cobalah satu. Rasanya konsisten, tidak ada cacat, tidak ada rasa asam yang mengganggu."
Arlan mengambil satu apel merah tersebut. Permukaannya licin, tanpa pori-pori, dan saat ia mendekatkannya ke hidung, tidak ada aroma tanah atau manisnya buah. Hanya ada bau kimia tajam yang samar. Ia teringat kembali pada peringatan tentang infiltrasi logistik pangan; para peniru mulai mengganti kebutuhan biologis manusia dengan material anorganik yang tidak bisa membusuk.
"Saya lebih suka apel yang punya sedikit cacat, Pak. Sesuatu yang membuktikan bahwa ia pernah tumbuh di tanah, bukan di dalam mesin pendingin yang terlalu stabil," Arlan mengembalikan apel itu ke tumpukan.
"Ketidaksempurnaan adalah kegagalan data, Arlan. Kenapa kau mencari kegagalan jika keteraturan sudah disediakan di depan mata?" suara pedagang itu berubah menjadi protokol formal-kaku yang dingin.
"Karena kegagalan adalah tanda bahwa sesuatu itu hidup," balas Arlan pendek.
Ia melangkah menjauh, masuk lebih dalam ke jantung pasar. Di sana, pemandangan semakin aneh. Orang-orang berjalan menembus hujan perak tanpa sekalipun mengedipkan mata saat partikel logam itu menyentuh kornea mereka. Suasana pasar yang seharusnya bising dengan tawar-menawar kini terjebak dalam hampa akustik; suara langkah kaki terdengar diredam, seolah-olah seluruh tempat ini dibungkus oleh lapisan beludru yang menyerap frekuensi.
Arlan merogoh saku jaketnya, memastikan botol kecil berisi larutan garam pekat masih ada di sana. Ini adalah senjata ketiga yang ia siapkan—logika sederhana kimia untuk menguji kemurnian. Ia harus menemukan pasokan organik yang tersisa sebelum seluruh tubuhnya dipaksa beradaptasi dengan material perak ini.
Di sudut pasar yang paling kumuh, ia melihat seorang wanita paruh baya yang sedang mencoba menutupi keranjang sayurannya dengan plastik bekas. Berbeda dengan pedagang lainnya, wanita ini gemetar kedinginan. Suhu di sekitarnya turun drastis, sebuah endotermik lokal yang biasanya menandakan kehadiran peniru, namun Arlan melihat uap napas wanita itu keluar secara tidak teratur dan alami.
"Nyonya, boleh saya lihat apa yang Anda sembunyikan di bawah plastik itu?" Arlan mendekat, suaranya melembut.
Wanita itu mendongak. Matanya merah karena debu perak yang berterbangan. "Ini hanya sisa-sisa, Nak. Tidak bagus. Sudah mulai layu dan berbau tanah. Tidak ada yang mau membelinya karena warnanya tidak secerah sayuran di depan sana."
Arlan berjongkok di samping keranjang itu. Ia melihat sawi yang pinggirannya mulai menguning dan tomat yang kulitnya sedikit pecah. Ia tersenyum tipis, sebuah ekspresi langka yang menyakitkan di tengah kepalsuan ini.
"Sayuran yang bisa layu adalah kemewahan saat ini, Nyonya," bisik Arlan.
"Apa maksudmu? Orang-orang bilang sayuranku beracun karena bisa membusuk. Mereka bilang makanan seharusnya abadi," wanita itu terisak, dan Arlan melihat air matanya bening, bukan perak cair seperti yang ia lihat pada pantulan cermin di kantor kurir sebelumnya.
"Boleh saya mengujinya sebentar? Hanya untuk memastikan," Arlan mengeluarkan botol garamnya.
Ia meneteskan cairan itu ke selembar daun sawi yang layu. Tidak ada reaksi. Daun itu tetap hijau kecokelatan. Namun, saat Arlan secara sengaja meneteskan sisa cairannya ke tiang logam penyangga lapak yang tampak seperti kayu, tiang itu tiba-tiba berdenyut dan mengeluarkan suara mendesis. Cairan perak mulai meleleh dari "kayu" tersebut, menetes ke tanah seperti nanah metalik.
"Dunia ini sedang melapisi dirinya dengan kebohongan, Nyonya. Dan Anda adalah salah satu dari sedikit orang yang masih memegang kebenaran yang mulai membusuk," Arlan berdiri, matanya menyapu sekeliling.
Beberapa orang di pasar mulai berhenti berjalan. Mereka menoleh serempak ke arah Arlan, kepala mereka miring dengan sudut yang sama. Napas manual mereka terhenti. Hampa akustik di area itu semakin pekat, membuat suara detak jantung Arlan sendiri terdengar seperti dentuman drum di telinganya.
"Anomali terdeteksi di sektor pangan," salah satu pembeli yang berdiri dekat Arlan berbicara, namun suaranya terdengar seperti gabungan dari ribuan frekuensi radio yang rusak. "Identitas subjek: Arlan. Status: Residu yang menolak sinkronisasi."
Arlan menggenggam tali tasnya erat-erat. Ia merasakan getaran kunci rumah tua di sakunya, sebuah peringatan sensorik bahwa ruang di sekitarnya mulai menyempit.
"Saya hanya seorang kurir yang sedang mencari makan siang yang nyata. Bukankah itu hak dasar setiap warga kota?" Arlan mencoba melakukan negosiasi taktis sambil mencari celah pelarian.
"Kebutuhan biologis adalah variabel yang sudah dihapus. Anda hanya butuh integrasi, Arlan. Biarkan hujan perak menyempurnakan kulit Anda yang cacat itu," sosok itu melangkah maju, tangannya memanjang dengan cara yang tidak mungkin dilakukan oleh tulang manusia.
Arlan melirik ke arah genangan cairan perak di bawah kakinya. Ia menyadari satu hal: di bawah hujan ini, bayangan orang-orang di pasar tidak lagi tertinggal satu detik seperti fenomena lag yang ia temukan di apartemen tempo hari. Bayangan mereka justru menghilang total, terserap ke dalam kilau metalik di permukaan jalan.
Arlan mundur selangkah, sepatu kurirnya berdecit di atas permukaan jalan yang kini terasa licin seperti lapisan oli. Ia tidak boleh terjebak dalam adu fisik di tempat terbuka seperti ini. Di sekelilingnya, para peniru yang menyamar sebagai pembeli mulai membentuk lingkaran sempurna. Gerakan mereka sinkron, sebuah koreografi mekanis yang mengerikan di bawah guyuran hujan perak yang kian deras.
"Nyonya, ambil keranjang Anda dan lari ke arah gang sempit di belakang toko daging!" bisik Arlan tajam kepada wanita penjual sayur organik itu.
"Tapi... tapi daganganku, Nak! Ini satu-satunya yang tersisa!" wanita itu memeluk keranjangnya dengan tangan gemetar.
"Dengarkan saya! Jika Anda tetap di sini, Anda akan menjadi bagian dari logam ini dalam sepuluh menit. Lari sekarang!" Arlan memberikan dorongan kecil namun tegas.
Wanita itu akhirnya tersentak dan berlari menjauh tepat saat salah satu peniru menerjang ke arah tempat Arlan berdiri. Arlan menghindar dengan gesit, membiarkan sosok itu menabrak meja kayu yang langsung berdenyut dan meleleh menjadi cairan perak saat bersentuhan dengan tubuh sang peniru. Bau ozon kini bercampur dengan bau amis besi yang memuakkan.
"Subjek menunjukkan resistensi terhadap proses penyempurnaan," suara kolektif itu terdengar lagi, kali ini keluar dari mulut seorang anak kecil yang berdiri di pojok. "Protokol eliminasi diaktifkan."
Arlan merogoh tasnya, mencari botol garam besar yang sengaja ia siapkan untuk situasi darurat. Ia melihat sebuah tong air besar milik pedagang ikan di dekatnya. Tong itu seharusnya berisi air tawar, namun di bawah hujan ini, isinya telah berubah menjadi perak cair yang kental.
"Kalian bilang ketidakteraturan adalah kegagalan data, bukan?" Arlan berteriak sambil menuangkan seluruh botol garam pekatnya ke dalam tong tersebut. "Mari kita lihat bagaimana sistem kalian menangani reaksi kimia yang tidak kalian prediksi!"
Arlan menendang tong besar itu hingga roboh. Cairan perak yang telah bercampur garam itu tumpah ruah ke jalanan, membanjiri kaki para peniru yang sedang mendekat. Begitu larutan garam bersentuhan dengan kulit perak mereka, sebuah reaksi berantai terjadi. Suara mendesis yang memekakkan telinga memenuhi pasar, diikuti oleh asap putih yang berbau belerang.
"Suhu... suhu tubuh tidak stabil!" salah satu peniru mengerang, suaranya terdistorsi hebat.
Kaki-kaki mereka yang terbuat dari material salinan mulai melunak dan kehilangan bentuk. Beberapa dari mereka jatuh berlutut, mencoba mencengkeram aspal yang juga mulai bergejolak. Arlan memanfaatkan kekacauan itu untuk berlari. Ia tidak menuju pintu keluar utama yang pasti sudah dijaga, melainkan memanjat tumpukan peti kayu menuju atap lapak yang rendah.
"Anda tidak bisa lari dari saturasi dunia, Arlan!" teriak pedagang apel yang tadi menyapanya. Wajah pria tua itu kini terbelah, memperlihatkan kekosongan gelap di dalamnya.
"Saya tidak lari, saya sedang bergerak menuju tempat di mana kebohongan kalian tidak bisa bernapas!" Arlan menjawab tanpa menoleh.
Ia melompat dari satu atap ke atap lain, merasakan hujan perak mulai membakar kain jaketnya. Perihnya nyata, namun rasa perih itu justru membuktikan bahwa saraf-sarafnya masih berfungsi secara biologis. Ia berhenti sejenak di puncak sebuah menara jam tua yang mati, menatap ke arah pasar di bawahnya.
Cairan perak itu kini telah menutupi hampir seluruh area, mengubah pasar tradisional yang hangat menjadi sebuah diorama logam yang dingin dan mati. Namun, di kejauhan, ia melihat wanita penjual sayur tadi berhasil mencapai zona bayangan di luar jangkauan hujan perak. Arlan mengembuskan napas lega yang gemetar.
"Setidaknya satu benih asli berhasil diselamatkan hari ini," gumamnya pada diri sendiri.
Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan satu butir tomat kecil yang sempat ia ambil dari keranjang wanita itu sebelum mereka berpisah. Tomat itu sedikit keriput dan warnanya tidak sempurna, namun aromanya—aroma tanah dan kehidupan—terasa begitu kuat mengalahkan bau logam di udara. Arlan memejamkan mata, membiarkan aroma itu menjadi jangkar emosinya.
"Dante benar, mereka tidak bisa menyalin rasa syukur," bisik Arlan, suaranya hampir hilang di telan sunyi yang tiba-tiba melanda kota.
Hujan perak berhenti secepat saat ia dimulai. Langit kembali ke warna abu-abu datar, namun permukaan bumi kini telah berubah menjadi cermin raksasa yang memantulkan bayangan dunia dengan cara yang salah. Arlan menyadari bahwa pelariannya baru saja dimulai, dan kota ini tidak akan pernah terasa sama lagi.