Yura bukanlah wanita lemah. Di dunia asalnya, dia adalah agen rahasia berdarah dingin dengan tatapan setajam elang yang mampu mengendus pengkhianatan dari jarak terjauh. Namun, sebuah insiden melempar jiwanya ke raga Calista, seorang ibu susu rendahan di Kerajaan Florist.
Grand Duke Jayden, sang pelindung kerajaan, yang membenci wanita. Trauma menyaksikan ayah dan kakaknya dikhianati hingga tewas oleh wanita yang mereka percayai, membuat hati Jayden membeku. Baginya, Calista hanyalah "alat" yang bisa dibuang kapan saja, namun dia terpaksa menjaganya demi kelangsungan takhta keponakannya.
______________________________________________
"Kau hanyalah ibu susu bagi keponakanku! Jangan berani kau menyakitinya, atau nyawamu akan berakhir di tanganku!" ancam Jayden dengan tatapan sedingin es.
"Bodoh. Kau sibuk mengancam ku karena takut aku menyakiti bayi ini, tapi kau membiarkan pengkhianat yang sebenarnya berkeliaran bebas di depan matamu," jawab Calista dengan jiwa Yura, menyeringai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CANGGUNG
Calista menghela napas panjang saat merasakan gerakan gelisah di dalam dekapannya.
Lorenzo, yang baru saja tenang selama beberapa menit, mulai memutar-mutar kan kepalanya ke dada Calista, bibir mungilnya terbuka mencari-cari, dan suara rengekan kecil yang tidak sabar mulai keluar dari tenggorokan kecil nya.
"Ah, benar juga, kamu tidak peduli pada politik, kau hanya peduli pada perutmu, kan?" gumam Calista sambil menatap bayi itu dengan tatapan jenaka sekaligus pasrah.
Jayden, yang sebenarnya baru saja akan melangkah keluar, menghentikan langkahnya di ambang pintu, dia menoleh dan melihat sang pangeran kecil mulai merengek.
"Owen, keluar," perintah Jayden pendek tanpa menoleh.
Owen, yang sudah sangat peka dengan situasi, segera membungkuk dalam.
"Baik, Yang Mulia, Saya akan berjaga tepat di depan pintu dan memastikan tidak ada seorang pun yang berani melintas," jawab Owen, langsung keluar dari kamar Pangeran Lorenzo.
Pintu tertutup rapat, menyisakan Jayden yang masih berdiri di sana, sementara Calista sudah mulai melepaskan kancing bagian atas gaun hitamnya yang rumit.
"Jay, apa yang kau lakukan? Katanya mau pergi?" tanya Calista, tangannya sedikit kesulitan dengan aksen perak pada gaunnya yang dirancang terlalu kaku untuk seorang ibu susu.
"Ehem!"
Jayden berdehem, wajahnya yang biasanya sedingin es tampak sedikit canggung, dengan perlahan dia kembali berjalan mendekat, bukan untuk pergi, melainkan untuk membantu Calista yang sedang kesulitan dengan gaun nya.
"Gaun itu terlalu rumit untuk dilepas sendirian, biar ku bantu kancing bagian belakangnya agar kau tidak sesak," ucap Jayden, pelan.
"Tuan Grand Duke yang terhormat ingin menjadi pelayan pribadiku sekarang?" sindir Calista, namun dia tidak menolak saat tangan besar Jayden mulai membuka kancing punggungnya dengan sangat hati-hati, seolah-olah dia sedang menjinakkan bom.
Begitu kain gaun itu melonggar, Calista segera menyesuaikan posisinya, dia menyampirkan kain penutup tipis di bahunya, lalu membiarkan Lorenzo mendapatkan apa yang dia inginkan.
Seketika, suasana kamar menjadi hening, hanya terdengar suara hisapan rakus Lorenzo yang sangat puas.
Jayden tidak pergi, justru dia menarik kursi kayu di dekat ranjang dan duduk di sana, memerhatikan bagaimana wanita yang beberapa menit lalu hampir membunuh seorang Count, kini sedang menyusui calon raja dengan kelembutan seorang ibu.
"Kau tahu, Calista, melihatmu seperti ini, sulit dipercaya kau adalah orang yang sama yang mengancam akan membakar seluruh para pengkhianat tadi," ucap Jayden memulai pembicaraan dengan suara yang sangat rendah agar tidak mengganggu Lorenzo.
Calista menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi goyang, matanya terpejam sejenak menikmati ketenangan itu.
"Wanita itu punya banyak wajah, Jayden, untuk melindungi hal yang berharga, aku harus bisa menjadi iblis, tapi di depan bayi ini, aku hanya butuh menjadi sumber kehidupannya," jawab Calista, mengelus lembut kepala Lorenzo.
Lorenzo melepaskan hisapannya sebentar, mengeluarkan suara yang lucu, lalu kembali menyusu dengan penuh semangat.
"Dia sangat menyukaimu," ucap Jayden pelan, jemarinya tanpa sadar menyentuh ujung selimut Lorenzo.
"Mungkin karena dia tahu, hanya kau satu-satunya orang di istana ini yang tidak menginginkan apa pun darinya selain keselamatannya," lanjut Jayden, menatap keponakan nya yang sedang asik mengisi perut nya itu.
"Dan kau? Apa yang kau inginkan darinya, Jayden? Tahta itu? Atau beban yang menyertainya?"tanya Calista membuka matanya dan menatap Jayden tajam.
Jayden terdiam, menatap lurus ke arah Lorenzo.
"Aku hanya ingin dia hidup sampai dia cukup dewasa untuk memilih jalannya sendiri, jika dia ingin menjadi Raja, aku akan menjadi pedangnya, jika dia tidak ingin, aku akan menjadi tameng yang membawanya lari dari sini..." jawab Jayden, lirih.
"Jawaban yang bagus Grand Duke, setidaknya aku tahu aku tidak menyusui bayi untuk seorang tiran masa depan," ucap Calista tersenyum, sebuah senyum yang tulus
Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini tidak ada ketegangan.
Di luar sana, para pengkhianat sedang meratapi nasib di sel yang dingin, namun di dalam kamar ini, ada sebuah keluarga kecil yang tidak biasa, yang sedang bersiap menghadapi badai esok hari.
Calista terlalu fokus pada rengekan Lorenzo dan kerumitan kancing gaunnya hingga dia tidak menyadari bahwa Jayden masih ada di sana.
Baru setelah Lorenzo tenang dan suasana menjadi sunyi, Calista mendongak.
Matanya langsung bertabrakan dengan sepasang mata gelap Jayden yang sedang memperhatikannya dengan intensitas yang tidak biasa.
"Jayden! K-kau! Kenapa kau masih di sini?" tanya Calista tersentak, refleks menarik kain penutup tipis di bahunya lebih rapat, meski Lorenzo masih asyik dengan dunianya sendiri.
Wajah Calista yang biasanya tenang dan tak tergoyahkan, kini menampakkan rona merah yang samar.
Jayden seolah baru tersadar dari lamunannya, dia berdehem canggung, mengalihkan pandangannya ke arah rak buku di sudut ruangan, namun dia tidak beranjak pergi.
"Aku hanya memastikan Lorenzo benar-benar tenang," jawab Jayden, suaranya sedikit lebih berat dari biasanya.
"Lagi pula, aku belum selesai bicara soal rencana pengamanan di alun-alun besok," lanjut Jayden, beralasan.
"Bicara soal rencana bisa dilakukan sambil memunggungi aku, Grand Duke, kau tahu, di desa, pria yang menatap wanita menyusui tanpa izin bisa berakhir dilempar kuali panas," ucap Calista mendengus, mencoba menutupi rasa gugupnya dengan keberanian yang biasa dia tunjukkan.
Jayden menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang tampak sedikit nakal, ekspresi yang sangat langka bagi seorang panglima perang yang kaku.
"Untungnya kita tidak di desa, dan aku adalah pemilik istana ini," jawab Jayden, dia perlahan memutar tubuhnya membelakangi Calista, namun tetap berdiri cukup dekat.
"Tapi baiklah, aku akan menghormati aturan kuali milikmu," lanjut Jayden, tersenyum di balik punggung tegap nya.
Hah...
Calista menghela napas, mengatur detak jantungnya yang mendadak tidak beraturan.
Ada keheningan yang berbeda sekarang, yaitu bukan hening yang mencekam seperti di aula, melainkan hening yang terasa intim.
"Jay," panggil Calista pelan, suaranya melunak saat dia melihat kepala kecil Lorenzo yang mulai terkulai lemas karena kekenyangan.
"Ya?" jawab Jayden tanpa berbalik.
"Terima kasih sudah tidak membiarkan menteri-menteri itu menyentuhku tadi, aku tahu kau sebenarnya bisa saja menangani mereka sendirian tanpa melibatkan pelayan sepertiku," ucap Calista tulus.
Jayden terdiam sejenak, punggungnya yang tegap tampak sedikit turun, menunjukkan sisi manusianya yang lelah.
"Kamu bukan sekadar pelayan, Calista, aku sudah mengatakannya tadi, kamu adalah kecerdasan di balik pedangku, tanpamu, Lorenzo mungkin sudah menjadi abu, dan aku mungkin sudah menjadi monster yang membantai seluruh istana karena dendam," jawab Jayden, pelan.
Calista tidak langsung menjawab, dia melihat Lorenzo yang melepaskan hisapannya sepenuhnya dan mengeluarkan suara sendawa kecil yang lucu, lalu tertidur pulas dengan sisa susu di sudut bibirnya.
Mengenai respon dan tanggapan lawan bicaramu itu adalah hal yang tidak dapat kamu kontrol.
Dengan kunci utama adalah jujur, percaya diri, memilih waktu dan tempat tepat, serta menggunakan cara yang halus tapi jelas.
Cara mengungkapkan perasaan setiap orang berbeda-beda, ada yang mengungkapkan secara langsung, ada juga yang mengungkapkan melalui surat atau chat agar tidak bertatap muka langsung.
Memang menyatakan perasaan termasuk hal yang berat dilakukan, karena kita tidak pernah tau apa respon atau tanggapan dari orang yang kita tuju...😘💚🥰💜😍💗
Peringatan keras adalah teguran serius dan tegas yang diberikan kepada seseorang atau pihak yang melakukan pelanggaran, menunjukkan kesalahan fatal dan menjadi sanksi etika atau disiplin yang berat sebelum sanksi lebih fatal untuk efek jera.
Ini adalah tingkatan tertinggi dalam sanksi peringatan, mengindikasikan bahwa tindakan selanjutnya bisa lebih berat, seperti hukuman mati.