NovelToon NovelToon
Jangan Lihat Gemetarku

Jangan Lihat Gemetarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Game / Idola sekolah / Komedi
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

Semua orang mengenal Genta sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) yang berwibawa. Tapi hanya Rara yang tahu kalau kakinya lemas setiap kali harus berpidato.

Berawal dari rahasia di balik panggung, Rara terjebak dalam kesepakatan rumit: Menjadi "support system" mental sang idola kampus secara offline, sambil menjaga rahasia bahwa sang pangeran es sebenarnya adalah Paladin manja yang ia kenal di dunia maya.

Satu hal yang Genta pelajari: Berakting cool itu mudah, tapi menyembunyikan detak jantung di depan Rara itu mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Si Pangeran Es di Gerbang Kampus

Matahari pagi di Jakarta tidak pernah mengenal kata toleransi. Baru pukul delapan lewat lima belas menit, namun aspal Universitas Nusantara sudah mulai mengeluarkan uap panas yang menyesakkan. Udara dipenuhi oleh campuran aroma yang ganjil: wangi kopi tubruk dari kantin kejujuran, bau keringat dari ribuan mahasiswa baru yang kebingungan, dan sisa-sisa asap knalpot dari gerbang utama yang macet total.

Rara berdiri di dekat pilar besar gedung Rektorat, mencoba menstabilkan napasnya. Kepalanya terasa sedikit ringan, efek samping yang tak terelakkan dari tidur hanya dua jam dan mengonsumsi tiga kaleng kafein murahan. Di bahunya, melingkar gulungan kabel XLR hitam yang berat, dan di tangannya, ia memegang tumpukan rundown acara yang sudah agak lecek karena keringat di telapak tangannya.

Sebagai mahasiswa semester tiga jurusan Ilmu Komunikasi, Rara seharusnya sudah terbiasa dengan hiruk-pikuk ini. Namun, menjadi panitia divisi logistik untuk Orientasi Mahasiswa Baru tahun ini terasa seperti kerja paksa di bawah terik matahari yang tak berpintu.

"Ra! Cek kabel di wing kanan, katanya ada yang mati!" teriak seseorang dari kejauhan.

Rara hanya mengacungkan jempol dengan lemas, tak bertenaga untuk membalas teriakan itu. Ia menyeka butiran keringat di dahinya dengan punggung tangan, lalu mendesah panjang. Pikirannya melayang kembali ke Silver Stream, sungai virtual yang tenang tempat ia duduk bersama Paladin_Z beberapa jam lalu. Di sana, semuanya terasa dingin, biru, dan aman. Di sini, semuanya terasa panas, kuning, dan melelahkan.

Tiba-tiba, sebuah fenomena aneh terjadi. Gelombang suara bising dari ribuan mahasiswa yang sedang mengantre registrasi mendadak surut. Seperti sebuah koreografi yang tidak direncanakan, kerumunan mahasiswa baru di depan gerbang utama perlahan-lahan membelah, menciptakan lorong kosong di tengah-tengah jalan utama kampus.

Rara mengernyit, mencoba melihat apa yang sedang terjadi melalui celah-celah topi hitamnya.

Dari arah gerbang, seorang pria berjalan dengan langkah yang begitu mantap seolah-olah dia pemilik setiap inci aspal yang dia injak. Dia mengenakan jas almamater Universitas Nusantara yang berwarna biru tua dengan sangat rapi, tidak ada satu pun kerutan yang terlihat di kainnya. Kemeja putih di dalamnya dikancingkan hingga ke leher, lengkap dengan dasi universitas yang terpasang sempurna.

Itu adalah Genta. Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa sekaligus "pajangan" tetap brosur universitas selama tiga tahun terakhir.

Rara memperhatikannya dari jauh. Deskripsi orang-orang tentang Genta sebagai 'Pangeran Es' ternyata bukan sekadar metafora. Wajahnya memiliki garis rahang yang tegas dan simetris, kulit yang bersih tanpa cela, dan rambut hitam legam yang tertata rapi menggunakan pomade hingga tak ada satu helai pun yang berani keluar dari tempatnya. Namun, yang paling mencolok adalah matanya. Tajam, berwarna gelap, dan sama sekali tidak memancarkan emosi. Dia menatap lurus ke depan seolah ribuan mahasiswa di sekelilingnya hanyalah patung-patung tak bernyawa.

"Gila... itu Genta, kan?" bisik seorang mahasiswa baru di sebelah Rara dengan nada memuja. "Ganteng banget, kayak keluar dari webtoon."

Rara mendengus pelan. Webtoon genre horor mungkin, batinnya sinis.

Langkah kaki Genta tiba-tiba terhenti tepat di depan seorang mahasiswa baru yang sedang duduk santai di pinggir taman, tidak jauh dari tempat Rara berdiri. Mahasiswa itu nampak sedang asyik menyesap sebatang rokok, lalu dengan santainya menyentil puntung rokok yang masih menyala ke atas rumput hijau yang terawat.

Suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Rara menahan napas.

Genta tidak berteriak. Dia hanya berdiri diam di depan mahasiswa itu, bayangannya yang tinggi menutupi wajah si maba yang mulai nampak pucat. Genta sedikit menunduk, lalu suara baritonnya yang berat dan dingin memecah keheningan.

"Ambil."

Hanya satu kata. Namun, nada bicaranya mengandung otoritas yang begitu mutlak hingga mahasiswa itu nampak gemetar.

"Eh, ma-maaf Kak, saya nggak tahu kalau—"

"Aku tidak menyuruhmu meminta maaf," potong Genta. Suaranya tidak meninggi, tapi ketajamannya bisa dirasakan hingga jarak sepuluh meter. "Aku menyuruhmu mengambil sampah yang baru saja kamu jatuhkan. Sekarang."

Mahasiswa baru itu segera membungkuk, memungut puntung rokok itu dengan jari yang gemetar, dan memasukkannya ke dalam saku celananya sendiri karena tidak berani mencari tempat sampah terdekat di bawah tatapan Genta.

Genta memperhatikan gerakan itu dengan mata yang menyipit dingin. "Universitas ini adalah tempat belajar, bukan asbak pribadi milikmu. Jika kamu tidak bisa menjaga kebersihan hal kecil seperti ini, kamu tidak punya tempat di sini. Paham?"

"P-paham, Kak..."

Tanpa kata lagi, Genta kembali menegakkan tubuhnya, merapikan sedikit kerah jas almamaternya yang sama sekali tidak miring, lalu melanjutkan perjalanannya menuju gedung Rektorat. Dia bahkan tidak melirik sedikit pun pada kerumunan yang kini mulai berbisik-bisik ketakutan.

Sementara itu, Rara merasakan bulu kuduknya meremang. Bukan karena kagum, tapi karena rasa tidak suka yang tiba-tiba meluap di dadanya. Dia telah melihat Genta berkali-kali di baliho kampus, tapi melihat auranya secara langsung terasa sangat berbeda. Pria itu nampak seperti robot yang diprogram untuk menjadi sempurna, dan untuk memastikan semua orang di sekitarnya merasa inferior.

Ia mencengkeram gulungan kabel di bahunya dengan lebih erat.

Sombong sekali, pikir Rara. Memang dia pikir dia siapa? Tuhan versi kampus?

Pikirannya secara otomatis membandingkan sosok kaku di depannya dengan suara lembut yang ia dengar lewat chat semalam. Paladin_Z adalah seseorang yang mau mengakui ketakutannya. Paladin_Z adalah seseorang yang menghargai bantuan sekecil apa pun dari orang lain. Paladin_Z adalah "Pahlawan" yang merasa dirinya tidak layak\, sementara Genta adalah manusia biasa yang merasa dirinya adalah "Dewa".

"Dunia ini benar-benar nggak adil," gumam Rara pelan, matanya masih mengikuti punggung Genta yang kian menjauh.

Kenapa ada orang semenyebalkan Genta yang dianugerahi segalanya? Wajah tampan, kecerdasan, dan kekuasaan? Dan kenapa ada orang selembut Paladin_Z yang harus bersembunyi di balik identitas anonim hanya untuk merasa aman?

Bayangkan jika Genta tahu bahwa ada orang di luar sana yang merasa gemetar hanya karena harus berpidato. Dia pasti akan menertawakan orang itu dengan tatapan menghina yang sama seperti yang dia berikan pada maba tadi. Bagi Genta, kelemahan mungkin adalah sebuah dosa.

Rara menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir rasa kesalnya. Dia harus fokus pada pekerjaannya sekarang. Tapi satu hal yang pasti, dia sudah memutuskan: dia akan menjaga jarak sejauh mungkin dari makhluk bernama Genta itu. Dia tidak butuh energi negatif dari sang 'Pangeran Es' di hari yang sudah cukup melelahkan ini.

"Ra! Mana kabelnya? Cepetan, acara mau mulai!" teriak koordinator divisi logistik lagi.

"Iya, iya! OTW!" balas Rara, kali ini dengan suara yang lebih kencang.

Dia berlari menuju panggung, membawa rasa benci yang baru tumbuh terhadap Genta, tanpa menyadari bahwa orang yang baru saja dia kutuk adalah orang yang sama yang ia janjikan untuk 'disembuhkan' lewat mantra-mantra penyemangat di tengah malam.

1
Hana Agustina
first
Hana Agustina
sweet bgt sih rara n genta
Leel K: Btw, udah baca dari awal belum? Soalnya aku udah revisi total dari bab 1 kemarin 😭
total 1 replies
Hana Agustina
first like thor.. sambil ngopi yaa.. aku krm biar semangat, aku sneng sm crita kamu
Leel K: Makasiiiii❤
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!