"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: BONEKA PORSELEN YANG BANGKIT
Cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar di kamar utama terasa begitu tajam, seolah ribuan jarum kecil menusuk kornea mata Arunika. Setelah berhari-hari—atau berminggu-minggu, ia sudah kehilangan hitungan—terjebak dalam kegelapan sel bawah tanah, dunia luar tampak begitu asing dan menyakitkan.
Pintu kamar terbuka dengan desisan halus. Sandra masuk dengan langkah yang nyaris tak terdengar di atas karpet Persia yang tebal. Di tangannya terdapat nampan perak berisi bubur gandum halus dan segelas jus jeruk segar.
"Selamat pagi, Nyonya," sapa Sandra. Suaranya datar, namun ada sesuatu yang berbeda di matanya. Bukan lagi rasa kasihan, melainkan ketakutan yang dalam—seolah ia sedang berbicara dengan hantu yang hidup kembali.
Arunika tidak menjawab. Ia tetap duduk di kursi santai, menatap lurus ke arah taman belakang yang terlihat dari jendela. Rambutnya yang biasanya tergerai indah kini sedikit kusam, dan tulang pipinya tampak lebih menonjol. Ia tampak seperti boneka porselen mahal yang baru saja dikeluarkan dari kotak penyimpanan yang lembap.
"Tuan Adrian meminta Anda untuk bersiap. Dokter akan datang untuk memeriksa perkembangan kesehatan mental Anda sepuluh menit lagi," lanjut Sandra sembari meletakkan nampan di meja.
Arunika perlahan menoleh. Tatapannya kosong, namun suaranya terdengar sangat lembut, hampir seperti bisikan angin. "Kesehatan mental? Apakah mereka pikir aku gila, Sandra?"
Sandra terdiam sejenak, jemarinya meremas kain celemeknya. "Tuan mengatakan kepada semua staf bahwa Anda mengalami nervous breakdown akibat berita tentang kesehatan Ayah Anda. Semua orang di sini... dilarang membantah kata-kata Tuan."
Arunika tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. Gaslighting tingkat akhir. Adrian tidak hanya mengurungnya, ia telah menghapus kredibilitasnya sebagai manusia di mata dunia. Jika ia berteriak minta tolong sekarang, para pelayan hanya akan menganggapnya sebagai igauan seorang wanita gila.
"Begitu rupanya," gumam Arunika. Ia meraih gelas jus jeruk itu dan meminumnya dengan tenang. "Katakan pada suamiku, aku akan bersiap. Aku ingin terlihat cantik untuk dokternya."
Sepuluh menit kemudian, Adrian masuk bersama seorang pria paruh baya berkacamata tebal—Dokter Gunawan. Adrian langsung berjalan menuju Arunika, merangkul bahunya dengan posesif, dan mencium keningnya di depan sang dokter.
"Lihat, Dok. Dia sudah jauh lebih tenang hari ini. Isolasi mandiri dan terapi musik yang aku berikan tampaknya bekerja dengan baik," ucap Adrian dengan nada suara seorang suami yang sangat peduli.
Dokter Gunawan mengangguk-angguk, mencatat sesuatu di tablet digitalnya. "Luar biasa, Tuan Valerius. Dukungan keluarga memang kunci utama dalam penyembuhan trauma. Nyonya Arunika, apakah Anda masih mendengar suara-suara aneh atau melihat bayangan wanita di kamar ini?"
Arunika menatap mata Adrian. Ia bisa melihat kilatan ancaman di balik binar mata suaminya yang tampak mencinta itu. Ia tahu, satu jawaban yang salah akan mengirimnya kembali ke sel bawah tanah selamanya.
Arunika memaksakan sebuah tawa kecil yang terdengar manis dan malu-malu. "Suara-suara? Oh, Dokter... aku rasa itu hanya karena aku terlalu merindukan Adrian. Sekarang setelah dia membawaku kembali ke kamar ini, aku merasa jauh lebih baik. Bayangan-bayangan itu... mereka sudah pergi."
Adrian menghela napas lega yang dilebih-lebihkan. "Syukurlah. Aku sangat khawatir padamu, Sayang."
"Namun, Dok," lanjut Arunika, tangannya menggenggam tangan Adrian dengan erat—begitu erat hingga kuku-kukunya sedikit menusuk kulit suaminya. "Aku merasa ingatan saya sedikit kabur tentang kejadian di dermaga itu. Adrian bilang aku bermimpi berjalan dalam tidur sampai ke sana. Apakah itu mungkin?"
Dokter Gunawan menyesuaikan kacamata. "Dalam kondisi stres berat, otak sering menciptakan mekanisme pertahanan diri berupa amnesia disosiatif atau halusinasi visual. Apa yang Anda alami adalah reaksi wajar dari tubuh yang kelelahan."
Arunika mengangguk patuh. Sempurna, batinnya. Mereka sudah membangun narasi bahwa aku gila. Maka aku akan menggunakan kegilaan ini sebagai topengku.
Setelah dokter pergi, Adrian mengunci pintu kamar. Suasananya mendadak berubah. Kelembutan di wajahnya menguap, digantikan oleh ekspresi predator yang telah memenangkan perburuan.
"Kau sangat pintar hari ini, Arunika. Aku hampir percaya bahwa kau benar-benar lupa tentang Rendra," bisik Adrian sembari menyisir rambut Arunika dengan jarinya.
"Rendra? Siapa itu?" tanya Arunika dengan mata yang tampak polos dan kosong.
Adrian terdiam, menatap dalam-dalam ke pupil mata Arunika, mencari jejak kebohongan. Namun, obat-obatan dan isolasi yang ia berikan tampaknya telah memberikan hasil yang ia inginkan: seorang istri yang hancur.
"Bagus. Lupakan nama itu. Dia tidak pernah ada. Dia hanya karakter dalam mimpi burukmu," Adrian mengangkat tubuh Arunika dan membaringkannya di ranjang. "Mulai hari ini, kau diizinkan keluar kamar, tapi hanya dengan pengawalan Sandra. Dan ingat, jika kau mencoba bicara pada siapa pun tentang 'mimpi-mimpimu', aku akan kecewa."
"Aku tidak ingin membuatmu kecewa, Adrian. Aku hanya ingin bersamamu," ucap Arunika, membiarkan Adrian memeluknya.
Di dalam dekapan pria itu, Arunika menatap ke langit-langit kamar. Ia menyadari satu hal krusial: Untuk menghancurkan Adrian, ia tidak bisa lagi menjadi Arunika yang lama. Ia harus menjadi "boneka" yang diinginkan Adrian, sambil perlahan-lahan mengumpulkan informasi dari dalam.
Sandra adalah kuncinya. Sandra tahu segalanya, namun dia takut.
Sore harinya, saat Adrian sedang berada di ruang kerja bawah tanah, Arunika meminta Sandra untuk menemaninya berjalan-jalan di balkon. Angin sore bertiup kencang, menerbangkan helaian rambut Arunika.
"Sandra," panggil Arunika tanpa menoleh.
"Ya, Nyonya?"
"Kenapa kau masih di sini? Di rumah yang penuh dengan hantu ini?"
Sandra tersentak. Ia menoleh ke arah kamera CCTV terdekat, memastikan mereka berada di blind spot (titik buta) yang sempit di sudut balkon. "Saya tidak punya pilihan lain, Nyonya. Tuan Adrian memegang nyawa adik saya yang sedang dirawat di luar negeri. Saya terikat."
Arunika berbalik, menatap Sandra dengan tatapan yang tajam dan jernih—sama sekali tidak terlihat seperti orang gila. "Kita berdua terikat, Sandra. Tapi rantai itu bisa diputuskan jika kita tahu di mana letak kuncinya."
Sandra membelalak. "Nyonya... Anda tidak..."
"Aku tidak gila, Sandra. Dan aku tahu kau juga lelah melihat wanita-wanita di rumah ini dihancurkan satu per satu," bisik Arunika. "Bantu aku mendapatkan satu hal. Aku butuh tahu di mana Adrian menyimpan rekaman medis Elena yang asli. Bukan yang ia tunjukkan pada dunia, tapi yang ia simpan sebagai 'piala'."
"Itu terlalu berbahaya, Nyonya! Tuan memiliki sensor biometrik di ruang pribadinya."
"Dia punya satu kelemahan, Sandra. Dia terlalu percaya pada 'kesempurnaan' ciptaannya. Dia pikir aku sudah hancur. Dia pikir aku sudah lupa," Arunika menggenggam tangan Sandra. "Jika kau membantuku, aku berjanji, saat aku keluar dari sini, aku akan membawa adikkmu bersamaku. Kita akan bebas."
Suara langkah kaki terdengar dari dalam. Sandra segera menarik tangannya dan kembali ke posisi tegak yang kaku.
"Matahari mulai terbenam, Nyonya. Mari kita masuk sebelum Anda kedinginan," ujar Sandra dengan suara formal.
Namun, sebelum berbalik, Sandra membisikkan sesuatu yang sangat cepat: "Malam Jumat. Saat dia pergi ke klub cerutu. Di balik laci ketiga meja kerjanya ada tombol rahasia. Tapi hati-hati... dia selalu mengawasi dari ponselnya."
Arunika tersenyum tipis. Boneka porselen itu tidak lagi retak. Ia sedang menyusun setiap kepingan dirinya kembali, namun kali ini dengan tepi yang lebih tajam.
Adrian, kau pikir kau telah menjinakkanku? Kau hanya sedang memberi makan macan tutul di dalam sangkar emas. Dan suatu hari nanti, sangkar ini akan menjadi makammu.