alia, gadis malang. kehidupannya yang menyakitkan setelah ibu tiri menjualnya, hamil tanpa suami di sisinya, kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua puluh dua
Alia berjalan gontai menuju lift yang sudah tertutup, ia terlihat lesu, sembab di matanya tidak menutupi isi hatinya yang saat ini kacau luar biasa, pintu lift yang terbuka pun luput dari perhatiannya, jika fandi tidak menyeretnya masuk, mungkin alia masih akan berdiri melamun di depan pintu lift.
"Kamu sakit?" Tanya fandi, menatap alia prihatin.
"Harusnya kalau sakit, jangan masuk dulu"
Alia menggeleng lesu, tangan fandi menggandeng alia, rasa cemas terlihat dari wajah pria kemayu itu.
"Aku nggak apa-apa, hanya sedikit pusing" sahut alia pelan, ia menurut saja ketika fandi menggandeng tangannya sembari berjalan, wajah alia tersenyum melihat ketulusan fandi.
"Duduklah.." perintah fandi, mengantarkan alia sampai ke kursinya.
"Ntar kalau terasa semakin parah pusingnya, ijin pulang aja"
Alia mengangguk pelan,
"makasih yah" ucap alia tersenyum tulus.
"Alia, tolong datang keruangan saya.." perintah bu wirda ketika jam istirahat makan, alia mengangguk, ia mengikuti direkturnya itu dari belakang.
"Surat pengunduran kamu tidak saya proses alia dan saya teruskan ke pak langit, beliau tidak menerima pengunduran dirimu, saya tidak perduli alasan kamu ingin resign, namun saya sangat menyayangkan keinginan kamu itu, kamu itu pintar dan berdedikasi, saya harap tolong pertimbangkan lagi"ujar bu wirda begitu alia duduk di hadapannya.
"Baik bu, maafkan saya" pinta alia dengan senyum merasa bersalah.
"Baiklah alia, sekarang kamu ke ruangan pak langit, beliau ingin bertemu denganmu"
Alia terhenyak hatinya merasa resah, sungguh ingin rasanya ia menolak namun ia tahu bahwa tidak mungkin ia menolak perintah dari pimpinan tertinggi di kantor ini.
Alia berjalan gontai menuju ruangan langit, debar jantungnya sungguh tidak bisa di ajak kompromi, ia berdiri di depan pintu, tangannya yang terulur untuk mengetuk masih menggantung di udara, rasa resah menguasai hatinya.
Alia masih ragu, namun suara berat dari dalam terdengar menyuruhnya untuk masuk, ia bahkan belum mengetuk pintu, tapi alia yakin pria itu sudah tahu kehadiran dirinya dari sekretarisnya.
"Duduklah.." perintah langit terdengar lembut, begitu alia berada di dalam, alia duduk di sofa dengan posisi duduk yang terlihat tidak nyaman.
Pria itu melangkah, menuju sofa tempat alia duduk, langit duduk tepat di hadapan alia yang terlihat resah.
"Terima kasih sudah mau mendengarkan permintaanku kemarin" ucapan tulus langit terdengar aneh di telinga alia, ia menatap tidak percaya ke arah pria yang menatapnya lekat.
"Aku tahu, permintaanku kemarin lebih terdengar seperti sebuah ancaman, tapi—"
"Bapak memang mengancam saya" potong alia cepat,
"saya harap bapak tidak menyebarkan video itu, dan kalau boleh saya meminta, tolong hapus video itu, pak langit" pinta alia menatap langit penuh harap, pria itu membuang pandangannya ke arah lain, binar penuh harap dari tatapan alia membuat jantungnya berdetak lebih kencang.
Ia saat ini sedang mengutuki dirinya sendiri, apa yang terjadi dengan dirinya, sehingga ia selalu merasa jengah, gugup dan sakit jika berhadapan dengan wanita ini.
"Aku akan menghapusnya, jika kamu mau menjanjikan sesuatu hal padaku" ucap langit dengan tenang, wajah tampannya terlihat penuh harap.
"Apa itu?" Tanya alia curiga, ia memicingkan matanya menatap langit yang terlihat sedikit gugup.
"Tetaplah bekerja untukku dan, dan.."
Mata alia semakin memicing, kegugupan langit membuat alia sungguh keheranan.
"Maukah kamu menjawab semua pertanyaanku"
"Tentang apa" tanya alia masih dengan sorot mata heran dan penasaran.
"Semuanya alia, semuanya...!" Jawab langit dengan penuh harap, terlihat alia termenung sesaat, mempertimbangkan permintaan langit, matanya menatap langit lekat.
"Tapi beneran kamu akan menghapus semuanya kan? Semua, tanpa ada file cadangan?" Tanya alia memastikan, matanya menelisik. Langit menganggukkan kepalanya mantap.
"Aku akan menghapusnya di depanmu, semuanya" jawab langit meyakinkan.
"Baiklah.." angguk alia tenang,
"aku akan meluangkan waktuku sehari, tapi ingat tidak ada permintaan lain"
"Iya.."
Langit mengangguk sendu, mata elang itu menatap kepergian alia dari ruangannya. Hatinya mendadak melow, ada rasa yang tak mampu langit ungkapkan, hanya ia merasa sedih.
Reaksi alia tadi, jawaban wanita itu atas tawaran yang ia berikan, kesediaan alia menerima permintaannya hanya karena sebuah ancaman, sungguh membuat langit merasa kecewa. Entah apa yang langit harapkan, namun hatinya kecewa melihat reaksi alia.
"Hhhhhhhhh..."
Desah nafasnya terdengar berat, ia tahu apa yang ia lakukan pada wanita itu dulu, adalah sesuatu yang tidak termaafkan, tapi entah mengapa, jauh dari hatinya ia berharap bahwa hubungannya dengan alia tidak seburuk ini.
Langit meraih kunci mobil yang berada diatas meja kerjanya, dengan langkah malas, ia keluar dari ruangannya. Di dalam mobil pun ia kebingungan, sungguh saat ini hatinya benar-benar sedang dalam keadaan kacau, ia sama sekali tak memiliki tujuan atau tempat yang ingin ia datangi.
Dalam kebingungan dan kegalauan yang semakin menyergap hatinya, dering ponsel mengalihkan perhatian langit. Matanya melirik, sebuah nama yang tertera di layar ponselnya. Langit melengos malas, namun tak urung tangannya menggulirkan panggilan itu ke mode terima.
"Heummmm.."sahut langit dengan malasnya.
"Aku nggak bisa pulang, banyak kerjaan yang harus aku selesaikan, mama dan bara saja yang merayakannya" jawabnya masih dengan raut wajah bosannya.
["Mama nggak mau dengar, pokoknya kamu pulang, jangan coba-coba bertingkah langit!, masa depanmu tergantung dari prilakumu tahu!"]Terdengar ucapan dari seberang meninggi.
"Kerjaanku di sini banyak ma, pria tua itupun tidak berharap aku datang di ulang tahunnya" sahut langit masih beralasan, ia memegang setir mobilnya dengan sebelah tangan.
["Jangan beralasan, kamu pikir mama bocah kemarin sore yang bisa kamu bohongi, bagaimanapun caranya, lusa kamu harus pulang di pesta ulang tahun papamu, paham! Dan kali ini jangan berulah lagi dengan membawa perempuan-perempuan tidak jelasmu itu"].
Panggilan itu langsung mati begitu ucapan terakhir dari mulut mamanya terdengar, langit mengedikkan bahunya menggumam.
"dasar cerewet"
Langit melirik kembali ponselnya yang berdering, pupil matanya melebar, senyum tipisnya terlihat manis.
Pria ini tak sadar, terkadang jika senyum tulusnya mengembang, ternyata ia memiliki senyum yang indah. Tangannya menggulir panggilan itu ke mode terima,
"hallo..alia" sapanya membuka pembicaraan, namun suara di seberang meresponnya dingin.
["Aku bersedia meluangkan waktuku lusa, kebetulan lusa libur, jadi datanglah ke rumahku"] suara lembut alia, walau terdengar dingin, namun tidak sefrontal biasanya.
Tanpa mendengar jawaban langit, panggilan itu di akhiri tanpa salam. Langit menghembuskan nafasnya berat, namun hatinya sedikit lega, wanita itu sudah mengurangi intensitas ketegangan diantara mereka.
Langit mengendarai mobilnya dengan tenang, walau dengan cara yang tidak etis dan berbohong seperti ini, tak bisa ia pungkiri hatinya bahagia, secercah harapan tumbuh di hatinya, semoga alia bisa memaafkannya.
Mata langit menatap seorang wanita yang mengenggam jemari seorang pria kecil, berdiri di depan pintu pusat perbelanjaan, ia menghentikan mobilnya mendadak, sehingga menghasilkan suara decitan yang mengundang perhatian.
Wanita yang mengenggam tangan pria kecil itu juga terlihat menoleh sekilas, namun tetap masuk. Langit memarkirkan mobilnya, dan mengikuti wanita itu, ia yakin, sangat yakin bahwa pria kecil tadi adalah luka, putra alia.
Dengan langkah tergesa dan hati yang cemas, langit melangkahkan kakinya setengah berlari, sungguh ia takut, hal-hal buruk akan menimpa bocah kecil tampan itu.
Tangan langit menarik luka dari tangan wanita, yang terlihat terkejut itu, mata mereka saling menatap, ada rasa ketakutan dari sorot mata mereka, langit memeluk luka cepat.
"Siapa kamu?" Bentak langit dan wanita itu bersamaan, mata narida dan langit saling menatap sengit.
Bersambung...