NovelToon NovelToon
Halte Takdir

Halte Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:844
Nilai: 5
Nama Author: Nameika

Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.

Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.

Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.

Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?

Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TINTA DARI LUKA LAMA

"Jangan sentuh dia pake pena sialan itu! Lo nggak berhak nulis apa pun soal hidup kami!"

Lukas berteriak hingga urat lehernya menegang. Ia meronta, namun pasir waktu yang mengisapnya terasa seperti ribuan serpihan kaca kecil yang menyayat kulitnya. Semakin ia bergerak, semakin dalam ia tenggelam ke dalam dasar gerbong yang kini berubah menjadi sumur tanpa dasar. Cairan jam pasir itu mulai mencapai dadanya, dingin dan menyesakkan, seolah-olah setiap detik yang ia lalui di masa lalu sedang dipadatkan untuk menghimpit paru-parunya.

Sang Arsitek sama sekali tidak menoleh. Jemarinya yang pucat mengapit pena emas itu dengan keanggunan seorang tiran. Di ujung pena tersebut, setetes cairan safir milik Viona bergetar, memancarkan pendar redup yang seolah-olah sedang menjerit minta tolong. Sang Arsitek mulai menggoreskan ujung tajam itu ke udara, tepat di atas kening Viona yang kini tertutup lapisan tipis zat hitam menyerupai minyak.

"Kebenaran adalah kemewahan bagi mereka yang memiliki penonton, Lukas. Di sini, di jantung Origin, akulah satu-satunya saksi," ucap Sang Arsitek. Suaranya datar, namun getarannya membuat dinding cermin di sekeliling mereka meretak.

Seketika, dunia di dalam gerbong itu berkedip. Lukas merasakan kepalanya seperti dihantam godam raksasa. Memori tentang kecelakaan sepuluh tahun lalu—suara decit ban di aspal basah, kilatan lampu truk, dan wajah Nathan yang tenang di balik kemudi—mulai bergeser. Gambar-gambar itu bergoyang, memburam, lalu tersusun kembali dengan komposisi yang mengerikan. Lukas melihat tangannya sendiri memegang kemudi mobil yang hancur. Ia melihat dirinya berdiri di pinggir jalan tol dengan tangan berlumuran darah, sementara Nathan tergeletak tak bernyawa di aspal.

"Nggak... itu bukan gue! Lo bohong! Julian, jangan dengerin dia!" Lukas mengerang, mencoba memukul kepalanya sendiri untuk mengusir bayangan palsu itu.

Julian, di sisi lain, tampak lebih parah. Wajahnya yang semula dingin kini dipenuhi peluh. Napasnya tersengal-sengal, sementara matanya menatap kosong ke arah patahan payung biru di tangannya. Di bawah pengaruh pena Sang Arsitek, Julian tidak lagi melihat dirinya sebagai penagih utang yang mencoba menebus dosa. Ia melihat dirinya sebagai sosok yang sengaja memotong kabel rem mobil Nathan. Ia mulai merasakan beban dosa yang bukan miliknya, sebuah memori artifisial yang disuntikkan langsung ke dalam nadinya.

"Pilihan yang sangat efisien, bukan?" Sang Arsitek berbisik, kini ujung penanya mulai menyentuh kulit Viona. "Sejarah akan mencatat bahwa Viona tumbuh besar dalam dendam kepada kalian. Dan dengan dendam itu, ia akan menjadi tinta yang paling hitam, paling abadi, untuk menuliskan bab baru Ordo."

Viona, yang terperangkap dalam bola cahaya, mulai meluruh. Cahaya safir di dadanya kini benar-benar padam, digantikan oleh kegelapan yang pekat. Tubuhnya tidak lagi padat; ia mulai mencair, berubah menjadi aliran tinta yang berputar-putar di dalam penjara cahayanya. Setiap tetes tinta itu membawa fragmen emosinya yang tersisa—harapan, tawa di halte, dan aroma hujan Jakarta—yang kini sedang diformat ulang menjadi kehampaan.

"Bacot lo! Gue nggak bakal biarin lo menang cuma gara-gara pulpen emas itu!" Julian tiba-tiba menggeram.

Dengan sisa tenaganya, Julian tidak mencoba keluar dari hisapan pasir. Sebaliknya, ia membenamkan lengannya lebih dalam ke dalam jam pasir tersebut, mencari sesuatu di dasar dimensi Origin. Tangannya meraih patahan rangka payung biru milik Viona yang tadi ia genggam. Logam yang patah itu mendadak bereaksi terhadap kegelapan di dalam gerbong.

"Lukas! Lo denger gue nggak?!" Julian berteriak, suaranya parau. "Benda ini... payung ini masi punya frekuensi Vio yang asli! Jangan liat apa yang dia tulis, liat apa yang lo inget soal hujan!"

Lukas mendongak, matanya yang basah oleh air mata paksaan mulai fokus pada rangka payung di tangan Julian. Logam itu bergetar, mengeluarkan pendar biru tipis yang sangat kontras dengan pendar putih Sang Arsitek. Pendar itu adalah sisa-sisa dari hari di mana Viona pertama kali memberikan perlindungan di bawah halte—sebuah memori yang terlalu manusiawi untuk bisa dihapus oleh algoritma waktu.

Sang Arsitek menghentikan gerakannya. Matanya yang berupa lubang jarum menyipit, memancarkan aura kemarahan yang dingin. "Benda rongsokan itu seharusnya sudah hancur bersama realitas lama. Mengapa dia masih berdenyut?"

"Karena lo nggak tahu bedanya sejarah sama kenangan, Tante!" Lukas menyeringai, meski pasir sudah mencapai lehernya.

Lukas memejamkan mata. Ia berhenti melawan hisapan pasir. Ia membiarkan pikirannya tenggelam ke dalam satu momen kecil: rasa pahit kopi yang ia minum bersama Viona di bawah guyuran hujan. Ia memanggil rasa dingin yang menggigit, aroma aspal basah, dan suara tawa Viona yang sedikit sumbang. Ia menjadikan memori itu sebagai jangkar, sebuah titik tetap yang tidak bisa digeser oleh pena emas Sang Arsitek.

Pendar biru dari patahan payung itu meledak, menghantam bola cahaya tempat Viona berada.

Zing!

Suara frekuensi tinggi membelah gerbong kereta. Bola cahaya itu retak. Aliran tinta hitam yang merupakan wujud Viona mulai bergejolak hebat. Dari dalam kegelapan tinta itu, sebuah tangan muncul—bukan tangan hitam, melainkan tangan manusia yang gemetar, mencoba menggapai udara.

"Viona... jangan jadi tinta," bisik Nathan-yang-terlupakan. Pria berjubah itu berdiri mematung di sudut, namun air mata perak mengalir dari balik kain kasanya. "Jadilah luka yang tidak pernah sembuh... agar mereka tidak bisa menghapusmu."

Sang Arsitek menggeram, ia mengangkat pena emasnya tinggi-tinggi untuk menghujamkan perintah terakhir. "Diam, sisa sejarah! Viona, menyerahlah! Menjadi tinta adalah satu-satunya cara agar kamu tidak lagi merasakan sakit!"

Namun, tinta hitam itu justru meledak keluar dari penjara cahayanya. Zat cair itu menghantam lantai gerbong, merayap ke arah jam pasir tempat Lukas dan Julian terjepit. Alih-alih menenggelamkan mereka, tinta itu justru membeku, menjadi pijakan yang solid bagi mereka untuk merangkak keluar.

Viona berdiri di tengah gerbong. Wujudnya masih belum stabil, separuh tubuhnya tampak seperti manusia, separuhnya lagi masih berupa bayangan cair yang terus menetes. Ia menatap Sang Arsitek dengan pandangan yang tidak lagi kosong.

"Lo bilang sejarah itu soal siapa yang pegang penanya?" Viona bersuara. Suaranya bukan lagi bisikan di bawah air, melainkan gema yang berasal dari ribuan detik yang pernah ia lalui.

Viona melangkah maju, kakinya meninggalkan jejak tinta hitam di lantai gerbong yang bersih. Ia meraih ujung pena emas milik Sang Arsitek dengan tangan telanjangnya. Cairan hitam dari tubuh Viona merambat masuk ke dalam pena emas tersebut, mencemari pendar putihnya dengan warna gelap yang kental.

"Kalau gitu, gimana kalau gue patahin penanya sekarang?"

Sang Arsitek terbelalak. Wajah porselennya mulai menunjukkan retakan nyata. "Kamu tidak akan berani. Tanpa pena ini, Origin akan kolaps! Kamu akan terjebak dalam ketiadaan selamanya!"

Viona melirik Lukas dan Julian yang kini sudah berhasil keluar dari jam pasir. Ia melihat patahan payung biru di tangan Julian. Sebuah senyum tipis, senyum Viona yang lama, muncul di wajahnya yang pucat.

"Gue sudah biasa hidup di antara ketiadaan, Tante. Tapi gue nggak biasa liat temen-temen gue dijadiin pembunuh cuma buat ngerapiin buku lo."

Viona mengerahkan seluruh energinya. Tinta hitam di tubuhnya berdenyut, mengeluarkan tekanan gravitasi yang luar biasa. Pena emas itu mulai membengkok, mengeluarkan suara derit logam yang memilukan.

Tiba-tiba, gerbong kereta itu berhenti mendadak. Bukan berhenti di stasiun, tapi berhenti karena seluruh jalurnya hancur. Kegelapan di luar jendela mulai merembes masuk, memakan dinding-dinding cermin gerbong tersebut.

"Julian! Lukas! Pegangan!" teriak Viona.

Tepat saat pena emas itu patah menjadi dua di tangan Viona, sebuah lubang hitam muncul di tengah gerbong, menghisap segala sesuatu ke dalamnya. Namun, sebelum mereka benar-benar tertelan, Sang Arsitek membisikkan sesuatu yang membuat Viona membeku di tengah pusaran.

"Kamu pikir mematahkan penaku akan mengakhiri segalanya, Nirmala? Lihat ke belakangmu. Siapa yang baru saja kamu lepaskan dari penjara tinta itu?"

Viona menoleh ke arah tumpukan tinta hitam di belakangnya, dan matanya membelalak ngeri saat melihat sesosok makhluk tanpa wajah mulai merangkak keluar dari bayangannya sendiri.

"Siapa... lo?"

1
Mila Febri
wah kayak nya seru..mau mampir akh🤭
Nameika: Selamat datang Kak.. Mari kita berpetualang bersama Viona 🤩
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!