NovelToon NovelToon
LINTAS DIMENSI

LINTAS DIMENSI

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Timur / Time Travel / Penyeberangan Dunia Lain / Hari Kiamat / Fantasi Wanita
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Di tahun 3000 terjadi kekacaun dunia. Banyak orang berpendapat itu adalah akhir zaman, bencana alam yang mengguncang dunia, Gempa bumi, lonsor, hujan yang disertai badai..

Saat mata mereka terbuka, dunia sudah berubah. Banyak orang yang tewas akibat tertimpa bangunan yang roboh dan juga tertimbun akibat tanah longsor.

Tapi, ada yang berbeda dengan Orang yang terkena air hujan. Mereka tiba-tiba menjadi linglung, bergerak dengan lambat, meraung saat mencium bauh darah.

Yah, itu Virus Zombie. Semua orang harus bertahan hidup dengan saling membunuh. Kekuatan yang muncul sedikit membantu mereka untuk melawan ribuan Zombie.

Lima tahun berlalu, Dunia benar-benar hancur.. Tidak ada lagi harapan untuk hidup. Sumber makanan sudah habis, semua tanaman juga bermutasi menjadi tanaman yang mengerikan.

Aruna Zabire, memasuki hutan yang dipenuhi hewan dan tumbuhan mutasi. Dia sudah bosan untuk bertahan, tidak ada lagi keluarga dan kerabat. Mereka semua tumbang satu persatu ditahun ketiga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Aruna Memasak

Di sore hari tepat pukul 4, mereka akhirnya tiba di pintu gerbang Kota Nuwu. Ada sekitar lima orang penjaga, Kepala Desa jalan mendekat untuk melapor, dan memutuskan untuk menginap di luar gerbang.

Penjaga yang melihat Kepala Desa mendekat tampak sedikit terkejut, "Jika ingin melapor, lapor kepada kami, tugas ini langsung perintah dari Tuan Bupati."

"Baik, ini berkasnya! Silahkan diperiksa!" Kepala Desa sedikit gugup, ini pertama kalinya dia berkunjung ke kota lain, seandainya tidak pergi untuk mengungsi, mungkin selama hidupnya dia tidak akan pernah keluar kota.

"Kalian bisa melanjutkan perjalanan esok hari. Karena pagi tadi, baru saja satu Desa meninggalkan Kota!" salah satu penjaga tiba-tiba menyahut.

Kepala Desa terkejut, bukankah seharusnya Desa itu meninggalkan Kota Nuwu beberapa hari yang lalu? Kenapa malah baru berangkat tadi pagi, mungkinkah terjadi sesuatu dengan mereka.?

"Itu karena di dalam Kota ada acara yang dilakukan Tuan Bupati, jadi pintu gerbang di tutup. Tidak ada yang boleh masuk dalam kota," jelasnya kepada Kepala Desa.

Melihat Kepala Desa mengagguk mengerti, dia kembali berkata "Anda boleh kembali! sekitar satu jam baru datang lagi untuk mengambil berkasnya! Oh ya, jika ingin masuk kota untuk berbelanja, hanya diperbolehkan satu orang untuk mewakili"

Setelah mengucapkan terima kasih, Kepala Desa segera balik kerombongan, dan menyampaikan apa yang dikatakan penjaga kepada warganya.

Semua warga penasaran, acara apakah yang diselenggarakan Tuan Bupati sampi harus tutup pintu gerbang.? Tapi tidak dengan Aruna, dia hanya mendengus dingin, acara apalagi? Kalau bukan acara pribadi.

"Baiklah, silahkan kerjakan tugas masing-masing! Setelah itu kita masak buat makan malam!"

Untuk membuat beberapa tenda, dan kamar mandi tidak lagi membutuhkan waktu yang lama.

Aruna mengambil tugas memberi minum sapi, satu-satunya harta yang paling berharga milik Desa Suning. Semenjak diberi Air Spiritual, sapi itu sedikit lebih berisi dan makin bertenaga.

Aruna kemudian teringat, jika dirinya ingin mengambil alih juru masak, sebelumnya dia belum sempat, karena dirinya harus tidur di rumah Li Dali. Hanya untuk berjaga-jaga, jika terjadi sesuatu dengan Istrinya, maka mereka tidak perlu repot untuk pergi memanggilnya.

Aruna buru-buru ke dapur, ternyata nasi sudah masak. Mereka baru saja ingin meracik bumbu untuk daging babi yang mereka tangkap di hutan saat beristirahat untuk makan siang.

"Nenek biarkan aku yang memasak!" pintanya tanpa sungkan.

Nenek Suyu menatap Aruna, dia sedikit ragu apakah Aruna benar-benar bisa masak? Membuat roti dan membuat mie itu wajar saja jika dia bisa, karena itu sangat mudah.

"Nenek, aku bisa masak. Jika masakanku tidak enak, kedepannya aku tidak akan pernah masuk dapur lagi" keluh Aruna.

"Ibu, biarkan Nak Aruna mencobanya. Gadis muda biasanya memang sangat suka penasaran,!" Bibi Ying ikut menyahut.

Nenek Suyu akhirnya menyerah, "Baiklah, kamu harus hati-hati. Jangan sampai tanganmu kena api atau wajan panas!" Ucap Nenek Suyu penuh perhatian.

Aruna hanya mengiyakan, hatinya menghangat setiap kali orang-orang mengkhawatirkannya, jika dikatakan Aruna sangat haus kasih sayang, memang sangat benar. Di zamannya, tidak ada orang yang menyayanginya, orang-orang bahkan sangat membencinya.

Aruna meminta Bibi Ying untuk memotong kecil-kecil daging Babinya, dan tulang kakinya dia rebus terlebih dahulu sampai berkaldu. Barulah dia menyiapkan bumbu yang diperlukan, Aruna memutuskan, memasak Sup Daging Babi.

Bibi Ying harus meminta bantuan pada Ibu-ibu lainnya agar lebih cepat selesai, Atas perintah Aruna satu ekor babi itu akan dimasak sekaligus karena ukurannya yang kecil mungkin sekitar 50 kg saja.

Karena ada banyak tangan yang membantu, sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk selesai, Aruna memarinasinya sebelum dimasukkan ke dalam kaldu.

Setelah air kaldu mendidih, masukkan daging yang sudah dimarinasi. Setengah matang baru masukkan bumbu, garam, kecap, asin dan bumbu lainnya.

Seketika Aroma masakan yang sangat harum menyebar keberbagai arah, apalagi ada angin di sore hari. Semua orang memandang ke arah dapur, pasalnya kabar Aruna yang menggantikan Nenek Suyu untuk memasak sudah diketahui oleh semua orang. Siapa yang berani melarangnya? Tentu saja tidak ada, karena semua itu milik Aruna. Jadi apapun hasilnya, mereka akan tetap memakannya.

Mereka mengira, nona muda yang dimanjakan seperti Aruna tidak tau sama sekali tentang masalah dapur. Tapi setelah mencium aroma yang sangat harum, semua pemikiran orang-orang langsung terpatahkan.

"Waahhh harumnyaa.."

"Astaga, bumbu apa yang dia gunakan, sampai bau masakannya sangat harum"

"Perutku langsung berbunyi,, hehehehe!"

"Nak Aruna ternyata sangat pandai memasak!"

"Ibu, aku tidak sabar untuk makan masakan Kak Aruna, ummm!"

Bibi Ying dan Nenek Suyu terbelalak, sebelumnya mereka tidak yakin jika Aruna bisa memasak, tiba-tiba rasa malu menghantam wajahnya.

"Bumbu apa yang digunakan?" gumamnya berbisik.

Di dapur Aruna masih fokus memasak, dia hanya tersenyum kecil mendengar keributan di luar. Aruna mencoba kuahnya, menurutnya masih ada yang kurang.

"Haiss,, ternyata kurang lada!" ucapnya penuh sesal. Tapi kemudian, dia menutup matanya untuk melihat di dalam ruangnya.

Namun apa yang dilihatnya membuat Aruna syok, bahkan hampir terjungkal, Ruangnya mengalami perubahan besar, "Apa yang terjadi? Astaga, apa ruangku naik level?"

Karena adanya perubahan, letak barang-barang dalam ruangnya juga ikut berubah. Aruna tidak menemukan tempat penyimpanan bumbu.

Tiba-tiba dia memiliki ide, "Dua bungkus bumbu kaldu!" Dan yaa, sangat mengejutkan. Ide itu ternyata bisa dilakukan, karena dua bungkus kaldu yang diminta tiba-tiba berada di tangannya, sebelumnya tidak bisa jika Aruna tidak mengetahui letak barang tersebut.

Segera Aruna memasukkan semuanya, mengaduk lalu mencobanya.

'Slurp'

'Slurp'

"Hmm, segarnya.. Ini yang aku inginkan. Uhh,, akhirnya aku bisa makan enak lagi!" Aruna sangat bersemangat.

Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya sup daging matang juga. Aruna keluar untuk memanggil Nenek Suyu dan Bibi Ying yang ada di luar tenda. Keduanya memang berada di luar tenda, karena Aruna memintanya untuk beristirahat sambil menunggu.

"Nek Ayo, supnya sudah masak!" seru Aruna. Eh ada apa? Kenapa kalian berkumpul di sini?" tanyanya setelah melihat semua warga ada di luar tenda dapur.

"Nak Aruna, kami hanya penasaran. Aroma masakan Nak Aruna sangat harum, jadi kami menunggu di sini!" ucap seorang Bibi.

"Ya,yaaa. Sangat harum, pasti sangat lezat."

Aruna merasa sedikit bangga, bukannya sombong, memang dia akui jika dirinya sangat pandai memasak banyak hidangan, itu hasil dari ke gabutan nya.

"Ah, ternyata seperti itu. Nenek Ayo, sajikan di mangkok, semuanya sudah kelaparan." Waktunya juga sangat tepat untuk makan malam.

Nenek Suyu masak ke dalam dapur, aroma sup makin kuat tercium. Saat membuka penutup panci dirinya langsung menelan ludah. Benar-benar wangi, tidak bisa dibandingkan dengan masakannya yang dia banggakan selama ini.

Dengan sigap Nenek Suyu menuangkan ke dalam mangkok, semua mendapat porsi yang sama kecuali orang-orang yang pergi berburu dan yang mendorong gerobak, itu sedikit lebih banyak. Karena mereka membutuhkan tenaga untuk melakukan pekerjaan berat.

Aruna mengambil rantang dua susun yang sudah dia pisahkan, dia berjalan keluar lalu mencari Kepala Desa.

"Kakek, aku ingin ke sana sebentar." ucap Aruna sambil memperlihatkan rantang di tangannya.

Kakek Ji yang mengerti maksud Aruna tak melarang "Jangan pergi sendiri." Mau sekuat apapun Aruna, dirinya tetaplah seorang perempuan.

Aruna sebenarnya tidak takut, tapi dia tidak ingin membantah. Dia ingin menjadi cucu yang patuh dan dimanjakan, sesuatu yang belum pernah dia rasakan. Dia mencari seseorang untuk menemaninya, tapi semua sedang antri di dapur.

"Kamu pergi dengan Ozian! Tunggu saja, dia masih di kamar mandi" Tabib Gu tiba-tiba bersuara. Dia juga tidak setuju, jika Aruna harus pergi sendiri.

"Emm baiklah!" Kata Aruna dengan patuh.

Ketiganya menunggu sambil berbincang, Kakek Ji meminta Aruna untuk tidak menanyakan hal-hal yang sensitif. Jangan sampai mereka tersinggung dan tidak membiarkan mereka untuk lewat.

Beberapa menit berlalu Ozian akhirnya datang, dan langsung setuju untuk menamani Aruna. Dia sangat ingin bertanya, kenapa mesti Aruna yang pergi? Banyak orang lain yang bisa mengambil alih.

Jika Aruna tau apa yang Ozian pikirkan, mungkin Aruna benar-benar menganggapnya pria yang bodoh. Kenapa Aruna yang pergi?. Karena Aruna membutuhkan informasi sebelum masuk Kota Nuwu.

Para penjaga yang melihat kedatangan Aruna dan Ozian sedikit terkejut, wajah keduanya terlihat sangat menawan dan aura mereka sangat kuat dan berwibawa. Apakah mereka tamu atau pendatang dari luar Kota? Tapi para penjaga tidak melihat barang bawaan atau kereta kuda seperti pendatang orang kaya pada umumnya, yang mereka lihat Aruna hanya membawa sebuah rantang dua susun, sedangkan Ozian tidak membawa barang bawaan.

"Nona, jika ingin masuk kota, maka masuklah sekarang, pintu gerbang akan tutup sebentar lagi" salah satu penjaga yang paling kurus diantara kelimanya.

"Tapi perlihatkan surat izin jalan, atau kartu keluarga kalian." Penjaga lainnya juga menyahut.

Aruna dan Ozian saling tatap dengan wajah bingung. Kenapa para penjaga malah meminta surat izin jalan lagi, bukan kah Kakek Ji sudah melapor.

"Tuan penjaga, kami tidak ingin masuk Kota. Maksudnya belum sekarang, mungkin besok pagi. Untuk surat jalan, bukankah Kepala Desa kami sudah datang kemari untuk melapor?"

Para penjaga saling pandang, hari ini hanya ada satu Desa yang melapor, berarti dua orang yang ada di depan mereka adalah warga Desa yang sedang menuju pengungsian. Tak disangka, orang dari Desa juga bisa memiliki aura yang sangat kuat.

"Jadi kalian dari warga Suning?" tanya penjaga yang melakukan pemeriksaan pada data yang dia terima dari Kepala Desa.

"Ya, apa ada masalah?" tanya Aruna.

"Tidak.. Tidak ada masalah, Jadi kalian datang untuk apa?"

"Ini, kami tadi masak untuk makan malam, dan kami menyisihkan untuk paman penjaga. Jangan ditolak, kami tidak maksud lain." Aruna menyodorkan rantang itu kepada penjaga yang paling dekat dengannya.

Penjaga yang bertubuh besar, dengan wajah yang dingin menatap Aruna untuk menekannya, tapi Aruna malah tersenyum kepadanya, dia terkejut, Apa-apaan ini? Kenapa gadis ini tidak takut sama sekali.

"Nona, jika kamu butuh sesuatu katakan saja! Tidak perlu sampai memberi makan seperti ini. Kita semua tau, kondisi saat ini dalam masa kritis." ucap si kurus

Aruna menatap penjaga tersebut, para penjaga ini memiliki pikiran yang logis, tidak mengambil kesempatan untuk menekan para warga Desa untuk kepentingan pribadi.

"Tuan, kami baru tiba hari ini. Kami belum tau apa-apa tentang kota Nuwu. Bolehkah para penjaga memberi sedikit informasi untuk berjaga-jaga, agar kami tidak melakukan kesalahan. Apalagi besok pagi, saya akan masuk kota!"

Para penjaga kembali saling tatap, ucapan Aruna juga ada benarnya. Dari pengalaman sebelumnya, warga desa yang masuk kota salalu membuat kesalahan, karena alasan sebagai orang luar dan tidak tau apa-apa, dengan terpaksa mereka dibebaskan. Dan ada beberapa penduduk setempat tidak terima, karena merasa dirugikan.

Kejadian beberapa hari yang lalu masih teringat jelas, seorang gadis yang masuk kota untuk mewakili Desanya untuk berbelanja, selesai berbelanja, gadis itu kelaparan dan mampir di salah satu Restoran mewah.

Gadis itu melihat banyak pemuda tampan naik kelantai dua, dan di lantai satu semuanya perempuan. Tanpa mencari tau dia berlari ke lantai dua, dan dia terpana melihat kumpulan pemuda kaya yang tampan. Dia mencibir dalam hati, 'Betapa bodohnya para wanita di lantai satu'

Melihat semua mata tertuju padanya dia langsung gugup, tapi dia berusaha santai. Dengan percaya diri mencari meja yang masih kosong, dia berjalan dengan dagu terangkat, 'Lihatlah, semua mata melotot kepadaku'

Tapi sebelum duduk seorang pelayan menegurnya. "Nona apa yang Anda lakukan di sini?" tanyanya dengan kesel. Bisa-bisanya dia kecolongan, Manager pasti akan memerahinya.

Alis gadis itu mengernyit 'Dasar pelayan bodoh, datang ke Restoran apalagi kalau bukan untuk makan'. Tapi dia tetap tersenyum memaklumi pelayan yang menegurnya

"Eh, aku datang untuk makan. Apalagi?" tanya tanpa dosa.

Melihat wajah gadis itu yang sangat santai membuatnya makin kesal. "Nona, saya tau. Tapi apakah nona tidak tau Aturan di Restoran kami.? Setidaknya nona baca aturan yang ada di lantai satu"

"Aku tidak tau, memang aturan apa?" tanyanya bingung. Mau makan saja sangat ribet. Apa susahnya tinggal makan saja.

"Nona, lantai dua itu khusus untuk laki-laki. Dan untuk perempuan di lantai bawah.!" jelas pelayan dengan suara sedikit keras.

Gadis itu tertegun, dia mengingat kembali saat pertama masuk, memang dia melihat di lantai satu semua pelanggan yang duduk semuanya perempuan, dan laki-laki semuanya naik ke lantai dua. Dan dengan pedenya dia berlari ke lantai dua, tanpa bertanya-tanya.

Malu, dia sangat malu. Apalagi melihat tatapan para pemuda yang ada di lantai dua. Jadi mereka menatapnya bukan karena terpesona, tapi... Ah sudahlah, dia sangat ingin menghilang saat itu juga.

Kerana kejadian itu, para pelanggan merasa waktu makan mereka terganggu. Sehingga Manager harus memberi mereka diskon 20 persen. Dan si gadis yang sudah melanggar aturan diminta untuk membayar kompensasi.

"Aku cuman warga Desa yang menuju pengungsian, jadi aku tidak tau apa-apa tentang aturan itu."

Sang manager merasa dirugikan, tapi setelah diselidiki, gadis itu memang warga pengungsi yang tidak memiliki apa-apa. Baju yang dia pake saja sangat lusuh. Tapi masih sangat berani masuk Restoran mahal!

1
Andira Rahmawati
ceritanya sgt keren
Andira Rahmawati
kerennnn👍👍👍👍
lanjut thorr💪💪💪
Chen Nadari
luar biasa thor👍
Chen Nadari
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Chen Nadari
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Chen Nadari
👍👍👍👍👍
Chen Nadari
semangat up my Thor
Chen Nadari
semangat up my Thor
Chen Nadari
ayo Thor lanjut 👍👍👍👍
Fauziah Daud
trusemangattt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!