Di Jepang modern yang tampak damai, monster tiba-tiba mulai bermunculan tanpa sebab yang jelas. Pemerintah menyebutnya bencana, masyarakat menyebutnya kutukan, dan sebuah organisasi bernama Justice tampil sebagai pahlawan—pelindung umat manusia dari ancaman tak dikenal.
Bagi Shunsuke, atau Shun, dunia itu awalnya sederhana. Ia hanyalah pemuda desa yang hidup tenang bersama orang tuanya. Sampai suatu hari, semua kedamaian itu runtuh. Orang tuanya ditemukan tewas, dan Shun dituduh sebagai pelakunya. Desa yang ia cintai berbalik memusuhinya. Berita menyebar, dan Shun dicap sebagai “Anak Iblis.”
Di ambang kematian, Shun diselamatkan oleh organisasi misterius bernama Nightshade—kelompok yang dianggap pemberontak dan ancaman oleh Justice. Perjalanan Shun bersama Nightshade baru saja dimulai.
PENTING : Cerita ini akan memiliki cukup banyak misteri, jadi bersabarlah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bisquit D Kairifz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke desa?
CHAPTER 6
Setelah itu, Juichi bergegas ke garasi dan menghidupkan mesin mobilnya.
Malam itu, Shun akan kembali ke desanya untuk mengambil barang-barangnya yang tertinggal.
Shun tidak pergi sendiri; ia ditemani oleh Juichi, Yuzuriha, dan Neir.
Mobil Juichi, yang tampak biasa saja, melaju keluar dari garasi dan berhenti di hadapan Shun dan teman-temannya.
Juichi menurunkan kaca mobil.
"Kau yakin dengan ini, Shun?"
"Iya... Aku yakin," jawab Shun dengan tekad membara.
Mereka bertiga masuk ke dalam mobil, dan perjalanan menuju desa Shun pun dimulai.
Di tengah perjalanan, Shun mencoba mengingat kembali semua yang telah ia pelajari dari latihan bersama Kai. Ia berusaha membiasakan diri agar semakin mahir dalam mengendalikan Ten.
Namun, tiba-tiba Juichi melihat sesuatu di kaca spion.
Dua mobil polisi tampak mengejar mereka. Tanpa ragu, Juichi langsung memacu kecepatan mobilnya.
Benar saja, dalam sekejap mata polisi mengetahui keberadaan mereka. Kedua mobil polisi itu pun langsung tancap gas untuk mengejar.
"Sial! Bagaimana mereka bisa tahu!" gerutu Juichi, namun sebuah senyum licik tersungging di bibirnya.
Juichi mengaktifkan Ten. Energi hijau menyebar ke seluruh bodi mobil, menyebabkan mobil Juichi berubah menjadi kendaraan futuristik yang jauh lebih cepat.
Kedua mobil polisi itu masih terus mengejar, dan para petugas di dalamnya keluar melalui jendela sambil menembaki mobil Juichi.
"Yuzu... Kau siap!" Juichi menekan sebuah tombol di dekat pintu.
"Tentu saja!" jawab Yuzuriha sambil melepaskan jarum yang mengikat rambutnya.
Atap mobil Juichi terbuka lebar.
Yuzu mengaktifkan Ten. Energi merah menyelimuti tubuhnya, lalu merambat ke jarum yang ia pegang.
Seketika, jarum Yuzuriha menjadi lebih besar dan panjang.
Dengan gerakan cepat, Yuzuriha melemparkan satu jarumnya.
Siapa sangka, jarum itu menduplikasi diri menjadi lima buah.
Jarum-jarum itu tepat mengenai kepala para sopir, menyebabkan salah satu mobil polisi oleng dan menabrak tiang listrik.
Jarum lainnya mengenai polisi yang baru saja keluar dari mobil.
Setelah selesai, jarum itu kembali ke tangan Yuzuriha.
Mobil polisi yang tersisa masih terus menembaki. Dengan cekatan, Yuzuriha menangkis setiap peluru yang datang, lalu kembali melemparkan jarumnya.
Namun, kali ini jarum itu berhasil dihindari.
"Hampir saja... Maaf saja ya, Nona. Kalau lemparanmu semudah itu dihindari," ejek sopir mobil polisi itu.
Yuzuriha tersenyum sinis. Ia mengangkat tangannya, lalu mengepalkan jari-jarinya satu per satu.
"Begitu, ya? Kalau begitu, hati-hati, Pak Sopir. Lihatlah ke belakangmu."
Sopir itu menoleh ke belakang, dan ia terkejut melihat jarum itu berbelok arah.
Jarum itu menembus kepala sopir dan mengenai mesin mobil.
Seketika, mobil itu meledak dan hangus terbakar.
Yuzuriha meletakkan tangannya di pinggang sambil tersenyum lebar.
"Hahaha! Mudah sekali," katanya dengan nada puas.
Shun, yang menyaksikan kejadian itu, hanya bisa terpana.
Rambut merah Yuzuriha yang indah berkibar tertiup angin kencang.
Dalam benak Shun, hanya ada dua kata: Menawan dan Kuat.
Yuzuriha kembali duduk dan mengikat rambutnya seperti semula.
Mobil Juichi kembali tertutup, dan Juichi memutuskan untuk mengaktifkan mode kamuflase agar mobilnya tampak seperti mobil biasa. Pasalnya, ia lupa mengganti plat nomor mobilnya, yang masih menampilkan simbol Nightshade.
Perlahan-lahan, desa Shun mulai terlihat.
Mobil Juichi melambat dan parkir cukup jauh dari desa.
Yang akan pergi ke rumah Shun hanya Shun dan Neir saja. Yuzuriha dan Juichi akan menunggu di mobil sambil mengawasi keadaan sekitar.
Setelah berjalan cukup lama, mereka tiba di depan rumah Shun.
Saat Shun hendak meraih gagang pintu, ingatan tentang pembunuhan itu kembali menghantuinya. Tangannya gemetar, dan keringat dingin membasahi dahinya.
Saat tangannya menyentuh pintu, napas Shun menjadi tidak beraturan. Tangannya gemetar hebat, dan ingatan mengerikan yang ingin ia lupakan muncul begitu jelas di benaknya.
Tiba-tiba...
"Tidak apa-apa... Lawan trauma itu," kata Neir sambil menepuk bahu Shun.
Shun merasa sedikit lebih tenang.
"Neir... Terima kasih!"
Ia memutar gagang pintu dan membukanya. Namun, pemandangan di dalam rumah membuatnya terkejut.
Rumah itu tampak bersih dan rapi, dan lampu menyala terang.
Di sana, berdiri seseorang yang sangat familiar bagi Shun.
Dia adalah...
"Pa-Paman Jiro!" Shun terkejut.
Jiro menoleh ke arah Shun, lalu tersenyum tipis.
"Shun..."
Jiro memeluk Shun dengan erat.
"Syukurlah kau baik-baik saja."
Jiro berusaha menahan air matanya.
Setelah kematian sahabatnya, yaitu ayah Shun, Jiro tidak bisa melakukan apa pun selain tinggal di rumah sahabatnya, menunggu kepulangan Shun, satu-satunya anak sang sahabat.
Mereka pun duduk di ruang tamu. Shun menceritakan banyak hal, seperti bagaimana ia bisa selamat, dan apa saja yang terjadi di penjara.
Jiro tersenyum melihat Shun tetap ceria dan tidak menjadi anak yang dipenuhi dengan dendam.
"Satu lagi, Paman!" kata Shun sambil menyodorkan wajahnya. "Aku bisa... memakai Ten!" Ia menyilangkan tangannya dengan bangga.
Jiro terkejut.
"Woahh, kau bisa, Shun!"
"Tentu saja," jawab Shun sambil memperlihatkan energi Ten miliknya.
"Ohh... Warna ini..." Sorot mata Jiro menyipit.
"Kenapa, Paman?"
"Tidak apa-apa," jawab Jiro.
Setelah itu, Shun menjelaskan bahwa ia hanya pulang sebentar untuk mengambil barang-barangnya.
Jiro tidak heran, karena Shun sudah menjadi buronan.
Jiro membantu Shun mengemasi barang-barangnya. Barang yang paling berharga adalah...
Foto keluarga. Shun pulang untuk mengambil foto keluarga, karena dengan adanya foto itu, Shun merasa seperti ditemani oleh ayah dan ibunya.
Selain foto keluarga, ada satu lagi barang yang sangat berharga.
Sepatu sneakers hitam dan merah, hadiah dari ayah dan ibunya saat ulang tahunnya yang ke-10. Sayangnya, ayah dan ibunya membeli ukuran yang terlalu besar.
Karena itu, Shun tidak pernah memakainya. Namun, kali ini Shun memutuskan untuk memakai sepatu itu.
Ia mengikat tali sepatu, dan ukurannya pas! Sepatu yang selalu ingin ia pakai akhirnya bisa ia gunakan juga.
Shun dan Neir pun berpamitan kepada Paman Jiro.
"Paman!" teriak Shun sambil melompat-lompat. "Kalau aku ke sini lagi, kita akan memancing menggunakan Ten!"
Air mata Jiro tidak bisa ditahan lagi.
"Iyaaa!... Hati-hati di jalan."
Mereka kembali ke mobil, dan melanjutkan perjalanan pulang.
Saat mereka sampai di Kediaman Nightshade, hari sudah sangat malam, sekitar pukul 01.21.
Sesampainya di kamar, Shun langsung merapikan barang-barangnya. Ia meletakkan pakaian di lemari, dan meletakkan foto keluarga di atas lemari kecil di dekat meja.
Ia berbaring sebentar, namun tak lama kemudian Shun tertidur pulas.
Shun terbangun pukul 09.30. Ia tidur lebih lama dari biasanya karena kemarin ia melakukan banyak aktivitas.
Shun langsung mandi dan mengenakan pakaian yang diberikan oleh Kai sebelum berangkat kemarin, yaitu kaus singlet putih yang di bagian depannya terdapat simbol bulan dan mata di tengah-tengah.
Agar penampilannya semakin keren, ia mengenakan jaket berbulu berwarna hitam yang ia bawa dari rumah, celana panjang hitam, dan sepatu sneakers hitam dan merah.
Ia keluar kamar dengan sangat bangga.
"Selamat pagi... My dunia," sapanya sambil mengibaskan rambutnya.
Di depan kamarnya, Yuzuriha baru saja keluar dari kamarnya.
Shun mendekat dan berkata, "Selamat pagi... Yuzu," sambil mengedipkan mata.
Yuzuriha tampak kebingungan.
"Kau kenapa, Shuchan...? Sakit?"
Shun dan Yuzu pergi ke dapur untuk sarapan.
Setelah selesai makan, Yuzuriha berpamitan karena ia harus menjalankan misi sebentar lagi.
Shun melanjutkan langkahnya menuju ruang latihan.
"Enaknya bisa menjalankan misi," gumam Shun pada dirinya sendiri.
Ia sekarang sudah bisa membuka pintu ruang latihan dengan mudah.
Di dalam ruang latihan, sudah ada beberapa orang, termasuk Kai yang sudah menunggunya.
"Boss... Hari ini latihannya apa?" tanya Shun.
Kai berpikir sejenak.
"Hmmmm... Hari ini, ya. Mungkin kita akan langsung mencoba mengubah benda."
Shun senang mendengar itu. Ia sudah lama menantikan momen ini.
Kai sudah menyiapkan beberapa benda.
"Ambil yang kau sukai," kata Kai sambil menyilangkan tangannya.
Shun mengambil dua benda yang mirip belati.
Kemudian, Kai berkata, "Ulangi apa yang sudah kuajarkan kemarin."
Shun mengulangi semua langkahnya, mulai dari merasakan aliran Ten hingga menstabilkan energi. Namun, kali ini ada yang berbeda. Saat ia memegang benda-benda itu, ia merasa bisa menyalurkan energinya ke benda yang ia pegang.
"Salurkan energimu," ucap Kai tiba-tiba.
Shun menyalurkan energinya ke benda-benda itu.
Dan...
Benda yang mirip belati itu berubah menjadi belati sungguhan yang tajam, dengan bilah berwarna hitam dan gagang berwarna merah.
Shun menatap kedua belati di tangannya dengan takjub.
"Be-Berhasil... Aku berhasil!" serunya dengan gembira.
"Boss, aku berhasil!" Shun melompat-lompat kegirangan.
Kai tersenyum khas.
"Ha ha ha ha... Bagus, bagus sekali, bocah!" Kai mengangkat tubuh Shun.
Namun, setelah itu Kai mengatakan sesuatu yang lebih menarik lagi, sesuatu yang membuat Shun terkejut.
Dan membuat perkiraannya benar.