Xiao Chen kehilangan seluruh keluarganya akibat sebuah rumor tentang Buku Racun Legendaris yang sebenarnya tidak pernah ada. Keserakahan sekte-sekte besar dan para pendekar buta membuat darah tak bersalah tumpah tanpa ampun.
Dihantam amarah dan keputusasaan, Xiao Chen bersumpah membalas dendam. Ia menapaki jalan terlarang, memilih menjadi pendekar racun yang ditakuti dunia persilatan.
Jika dunia hancur karena buku racun yang tak pernah ada, maka Xiao Chen akan menciptakannya sendiri—sebuah kitab racun legendaris yang lahir dari kebencian, kematian, dan dendam abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Singgasana yang Membusuk
Labirin bawah tanah meledak dari dalam. Lantai marmer aula utama Istana Naga Pasir terangkat dan hancur berkeping-keping saat gelombang energi perak dan ungu membumbung tinggi ke langit.
Dari balik debu yang mengepul, muncul tiga sosok yang akan menjadi mimpi buruk bagi seluruh Kekaisaran Wan.
Xiao Chen berjalan paling depan, langkahnya tenang namun setiap tapakannya meninggalkan retakan yang mengeluarkan uap beracun.
Di sebelah kirinya, Ling berdiri dengan mata kuning yang berkilat tajam, tangannya sudah dialiri racun hijau kebiruan yang siap meledak. Dan di sebelah kanannya, melilit erat di lengannya dengan tangan yang tak mau lepas, adalah Bai dalam wujud manusianya.
Bai menatap sekeliling dengan pandangan menghina. Setiap kali ada pengawal istana yang berani menatap Xiao Chen, matanya akan berkilat ungu, dan pengawal tersebut akan langsung jatuh berlutut sambil mencengkeram tenggorokan mereka yang mendadak membengkak.
"Siapa yang mengizinkan kalian bernapas di udara yang sama dengan Tuanku?" bisik Bai, suaranya yang lembut terdengar seperti lonceng kematian yang bergema di seluruh aula.
Di ujung aula, di atas singgasana emas yang tinggi, duduk Kaisar Wan Lu. Di sampingnya berdiri Ketua Agung Sekte Matahari Terbenam, Han Zhong, seorang ahli Ranah Raja Roh tingkat menengah yang telah hidup selama tiga ratus tahun.
"Xiao Chen..." Kaisar Wan Lu menggeram, tangannya mencengkeram sandaran kursi. "Kau menghancurkan adikku, kau melahap naga pelindung kami, dan sekarang kau berani berdiri di hadapanku?"
"Aku tidak datang untuk bicara, Kaisar," jawab Xiao Chen datar. "Aku datang untuk menagih bahan-bahan yang kau sembunyikan di perbendaharaan rahasiamu. Dan sebagai bayarannya, aku akan memberimu kematian yang tidak menyakitkan. Itu adalah penawaran terbaikku."
Ketua Agung Han Zhong maju selangkah, kuali alkimia emas miliknya melayang di atas kepalanya. "Bocah lancang! Kau mungkin bisa mengalahkan Zhao dan Qin di timur, tapi di sini, kami menguasai hukum materi! Jurus Alkimia Terlarang: Hujan Logam Cair!"
Han Zhong membalikkan kualinya. Ribuan liter tembaga panas yang telah dimantrai racun meluncur dari udara, menghujani Xiao Chen seperti meteor api.
Bai melangkah ke depan Xiao Chen, wajah cantiknya berubah menjadi dingin yang mengerikan. "Tuanku tidak perlu mengotori tangannya untuk serangga sepertimu."
Bai merentangkan tangannya. Rambut peraknya berkibar, dan seketika ribuan sisik perak muncul di udara, membentuk perisai raksasa yang tidak hanya menahan logam cair itu, tetapi justru membekukannya di tengah udara.
"Makan," perintah Bai pelan.
Sisik-sisik itu tiba-tiba berubah menjadi mulut-mulut kecil yang rakus, melahap energi dari logam cair tersebut dan mengubahnya menjadi energi perak yang kemudian ditembakkan kembali ke arah Han Zhong.
DUAARR!
Han Zhong terlempar mundur, kuali emasnya retak. Ia terengah-engah, menatap Bai dengan ngeri. "Evolusi manusia... Naga Komodo itu... kau telah melampaui ranah yang sangat mengerikan!"
Sementara Bai menyiksa Han Zhong, Xiao Chen menoleh ke arah Ling. "Ling, para pengawal itu milikmu. Tunjukkan padaku sejauh mana kau bisa mengendalikan Sembilan Racunmu dalam pertempuran nyata."
Ling mengangguk patuh. "Baik, Guru."
Gadis kecil itu melesat ke arah barisan pengawal elit kekaisaran. Meskipun tubuhnya kecil, gerakannya sangat liar.
Setiap kali ia menyentuh zirah mereka, racun hijau kebiruannya merambat masuk, membuat zirah besi itu berkarat dan hancur dalam sekejap.
Ling bergerak seperti hantu kecil di tengah medan perang, meninggalkan jejak mayat yang kulitnya berubah menjadi hijau tua.
Xiao Chen kini berdiri tepat di depan tangga singgasana. Kaisar Wan Lu menarik pedangnya, sebuah pedang pusaka yang konon bisa membelah gunung. "Aku adalah penguasa tanah ini! Kau tidak akan bisa—"
Xiao Chen hanya mengangkat satu jarinya.
"Kau bukan penguasa tanah ini. Kau hanyalah parasit yang memeras rakyatmu untuk mendanai eksperimen alkimia gagalmu," ucap Xiao Chen. "Seni Legenda: Penjara Inti Racun."
Tanpa menyentuh sang Kaisar, sebuah bola energi ungu gelap terbentuk di sekeliling singgasana.
Kaisar Wan Lu mencoba menebas bola itu, namun pedangnya justru meleleh saat bersentuhan dengan dinding energi. Udara di dalam bola itu perlahan-lahan berubah menjadi racun konsentrasi tinggi.
Kaisar Wan Lu mulai tercekik, wajahnya yang agung berubah menjadi pucat dan penuh ketakutan.
Ia menatap ke arah Han Zhong untuk meminta bantuan, namun ia melihat Ketua Agung itu sudah berada di bawah kaki Bai, dengan jantung yang telah dicengkeram oleh kuku perak sang wanita naga.
"Tolong... ampuni aku..." rintih Kaisar dari dalam penjara energinya.
Xiao Chen menatapnya tanpa kedipan. "Sepuluh tahun lalu, tidak ada ampunan untuk keluargaku. Hari ini, tidak ada ampunan untuk singgasanamu."
Xiao Chen mengepalkan tangannya. Penjara energi itu menciut seketika, menghancurkan singgasana emas dan sang Kaisar di dalamnya menjadi satu massa logam dan daging yang membusuk.
Istana itu kini hening, kecuali suara napas terengah-engah Ling yang kelelahan dan suara langkah kaki Bai yang kembali mendekati Xiao Chen. Bai langsung memeluk lengan Xiao Chen kembali, menjilati noda darah kecil di pipi Xiao Chen dengan penuh kasih sayang.
"Tuanku, semuanya sudah selesai," bisik Bai dengan nada manja yang kontras dengan kekejaman yang baru saja ia lakukan. "Harta karun mereka ada di bawah sini. Haruskah aku menghancurkan seluruh kota ini agar tidak ada yang bisa mengganggu istirahatmu?"
"Tidak perlu, Bai. Biarkan kota ini tetap berdiri sebagai monumen ketakutan," jawab Xiao Chen. Ia menatap Ling yang berdiri tegak di tengah tumpukan mayat. "Ling, ambil semua pil alkimia yang tersisa di kuali Han Zhong. Kita akan memulai tahap kedua kultivasimu malam ini."
Kekaisaran Wan telah jatuh dalam satu malam. Sang Legenda Pendekar Racun kini memiliki wilayah baru, harta yang tak terhitung, dan dua pengikut yang sangat mematikan.
Namun bagi Xiao Chen, ini barulah awal dari pencariannya untuk mencapai ranah yang belum pernah dicapai oleh ahli racun manapun dalam sejarah: Ranah Kaisar racun.
Silat Nusantara • Kultivasi • Dunia Purba • Dimensi
MC tidak naif.
Kekuatan dibangun dari raga, napas, dan kehendak.
👉 Jika suka progres nyata & cerita panjang,
jangan lupa favorit & komentar.