NovelToon NovelToon
Istri Bawel Ustadz Galak

Istri Bawel Ustadz Galak

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romansa / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Gadis Bar-bar×Ustadz galak+Benci jadi Cinta+Cinta Manis,Komedi Romantis】Karakter Utama Namira Salsabila (Mira) Gadis mungil berusia 18 tahun yang baru saja menanggalkan seragam SMA-nya ini adalah definisi nyata dari kata "unik". Mira dikenal karena sifatnya yang sangat cerewet dan "bawel", namun di balik rentetan bicaranya, ia memiliki hati yang luar biasa penyayang, terutama jika sudah berhadapan dengan anak kecil. Secara fisik, Mira memiliki pesona baby face yang menggemaskan: Wajah & Kulit: Kulitnya putih bersih dengan wajah yang cenderung baby blues (sangat imut dan awet muda). Mata & Alis: Bulu matanya lentik alami layaknya memakai maskara, dipadukan dengan alis tebal yang konon katanya melambangkan sifat boros dalam keuangan—sebuah mitos yang ternyata menjadi kenyataan dalam gaya hidupnya. Hidung & Bibir: Memiliki bentuk bibir yang khas ("bibir terbalik") dan hidung yang proporsional (tidak mancung namun tidak pesek), menambah kesan imut pada wajahnya. Postur Tubuh: Tubuhnya san.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

Namira menyibak selimutnya dengan malas-malasan. Dengan mata setengah terpejam dan langkah gontai, ia berjalan menuju kamar mandi. Namun, baru saja masuk ke dalam, terdengar pekikan tertahan dari balik pintu.

"Astagfirullah! Mas! Mas Ayyan!" seru Namira dari dalam kamar mandi.

Ayyan yang sedang melipat sajadah langsung menoleh dengan wajah cemas. "Ada apa, Namira? Kamu terpeleset?"

Pintu kamar mandi terbuka sedikit, hanya menampakkan wajah Namira yang panik dan memelas. "Mas... aku... aku tembus. Kayaknya jadwal bulananku maju gara-gara capek perjalanan kemarin. Dan parahnya, aku lupa naruh 'rotinya' di koper mana!"

Ayyan tertegun sejenak. Sebagai laki-laki yang hidup di lingkungan pesantren yang konservatif, ini adalah situasi yang cukup baru baginya. "Maksudmu... pembalut?" tanya Ayyan memastikan.

Namira mengangguk cepat dengan wajah merah padam. "Iya! Masa aku harus nunggu pagi? Mana perutku mulai kram lagi. Mas... tolongin..."

Ayyan melirik jam dinding. Masih pukul 03.45. Minimarket di depan gerbang pesantren biasanya buka 24 jam untuk melayani santri atau warga sekitar yang butuh kebutuhan mendesak.

"Ya sudah, kamu tunggu di dalam. Jangan keluar-keluar dulu," ucap Ayyan sambil menyambar jaket dan kunci motornya.

***

Di Minimarket

Bisa dibayangkan betapa canggungnya seorang Gus Ayyan—yang biasanya dicium tangannya oleh ribuan santri—kini berdiri di depan rak kebutuhan wanita. Ia berdiri mematung sambil menatap deretan bungkusan plastik berwarna-warni itu dengan dahi berkerut, seolah-olah sedang membaca kitab fathul mu'in yang paling sulit.

"Mau cari apa, Gus?" tanya penjaga kasir yang kaget melihat sosok terpandang itu muncul sepagi ini.

Ayyan berdehem pelan, mencoba tetap terlihat berwibawa. "Itu... pembalut. Yang... yang biasa," jawabnya pendek.

"Yang siang atau yang malam, Gus? Yang pake sayap atau enggak?" tanya si kasir polos.

Ayyan terdiam. Sayap? Sejak kapan benda itu bisa terbang? batinnya heran. "Beri saya yang paling bagus dan paling nyaman saja. Dan... tolong masukkan ke kantong plastik hitam ya."

***

Kembali ke Kamar

Sepuluh menit kemudian, Ayyan kembali ke kamar. Ia mengetuk pintu kamar mandi pelan. "Namira, ini."

Namira membuka pintu sedikit, mengambil bungkusan itu. "Makasih ya, Mas. Duh, maaf banget ya jadi ngerepotin pangeran pesantren pagi-pagi begini."

Ayyan bersandar di tembok depan kamar mandi, menunggu Namira selesai. "Tidak apa-apa. Itu sudah tugas saya. Lagipula, kamu sedang berhalangan, berarti kamu tidak perlu ke masjid untuk jemaah Subuh."

Begitu Namira keluar, ia melihat Ayyan sudah menyiapkan air hangat di dalam gelas dan minyak kayu putih di atas meja.

"Sakit sekali perutnya?" tanya Ayyan sambil menatap Namira yang berjalan agak membungkuk menahan kram.

Namira mengangguk sambil meringis. "Iya, biasanya hari pertama emang begini, Mas. Rasanya kayak ada demo masak di dalem perut."

Ayyan menuntun Namira untuk duduk di kasur. "Istirahatlah. Saya akan ke masjid dulu untuk mengimami santri. Nanti setelah selesai, saya minta Mbak dik (pelayan ndalem) untuk membuatkanmu jamu kunyit asam."

Namira menatap suaminya dengan tatapan haru. "Mas Ayyan ternyata nggak cuma pinter ceramah ya, pinter jagain istri juga. Makasih ya, Mas Kulkas yang hatinya kayak microwave, anget banget."

Ayyan hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. "Sudah, jangan banyak bicara. Tidur lagi sana."

Begitu pintu kamar tertutup dan suara langkah kaki Ayyan menjauh menuju masjid, Namira yang tadinya meringis kesakitan mendadak "sehat" seketika. Ia langsung merogoh kolong bantal dan mengambil ponselnya yang sedari tadi disembunyikan.

"Aman!" bisiknya sambil nyengir lebar.

Namira menyalakan ponselnya. Notifikasi langsung membanjiri layar. Sebagai influencer dengan 3,5 juta followers, Namira memang jarang bisa lepas dari dunia maya. Ia membuka aplikasi TikTok dan melihat lagu Victoria sedang trending. Jiwa kontennya meronta-ronta.

"Mumpung Mas Ayyan nggak ada, mumpung kamarnya estetik, kita bikin transisi tipis-tipis!"

Namira mulai beraksi. Ia menaruh ponselnya di atas tumpukan kitab tebal milik Ayyan sebagai penyangga (maaf ya Mas Ayyan!). Ia berdiri di depan cermin besar, masih memakai piyama beruangnya tapi dengan gerakan yang sangat lincah mengikuti beat lagu.

"Victoria... Victoria..."

Ia melakukan gerakan transisi: dari piyama beruang, tiba-tiba cut ke video di mana dia sudah memakai hijab instan yang rapi dan kacamata hitam, seolah-olah sedang siap menjadi "Ibu Nyai Gaul".

"Oke, satu lagi! Slide ke kiri, terus peace!" gumamnya semangat. Namira benar-benar asyik sendiri, bergoyang tipis dengan ekspresi wajah yang sangat ekspresif, lupa kalau di luar sana ribuan santri sedang khusyuk mendengarkan lantunan ayat suci yang dipimpin suaminya.

Tanpa sadar, Namira terlalu asyik sampai durasi videonya sudah mencapai satu menit. Ia pun mulai mengedit, memberi caption: "POV: Hari pertama jadi Ibu Nyai, tugas utama: Menjaga kewarasan di tengah tumpukan kitab gundul. 💅✨ #IbuNyaiGaul #VictoriaTrend #PesantrenLife"

Tepat saat ia hendak menekan tombol 'Post', terdengar suara langkah kaki yang sangat ia kenal di lorong depan kamar. Langkahnya tenang, tegas, dan berwibawa.

"Waduh! Mas Ayyan balik!"

Namira panik. Ia langsung melempar ponselnya ke bawah selimut dan segera merebahkan diri, menarik selimut sampai ke leher, dan memejamkan mata rapat-rapat sambil mengatur napas agar terlihat seperti orang yang sedang tidur nyenyak karena kram perut.

Ceklek...

Pintu terbuka. Ayyan masuk membawa nampan berisi teh hangat dan bubur sumsum. Ia melihat Namira yang tertidur sangat pulas—mungkin terlalu pulas untuk ukuran orang yang tadi mengeluh kesakitan.

Ayyan mendekat ke arah tempat tidur. Ia melihat ada cahaya kecil yang masih berkedip-kedip dari balik selimut Namira. Ayyan menyipitkan mata, lalu perlahan mengangkat ujung selimut itu.

Ponsel Namira masih menyala, menampilkan layar draft TikTok dengan wajah Namira yang sedang berpose duckface di depan tumpukan kitabnya.

Ayyan menarik napas panjang, lalu berbisik tepat di telinga Namira. "Ning Namira... apakah lagu Victoria itu bagian dari zikir pagi?"

Namira langsung melek sempurna. "E-eh... Mas Ayyan... sudah pulang? Itu... itu tadi HP-nya nyala sendiri, Mas! Beneran!"

1
Ayumarhumah
Hay ... aku sudah mampir tetap semangat ya 💪💪💪
Rina Casper: iya makasih ya kakk sudah mampir🤭 semoga suka dengan novelnya😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!