Di tahun 3000 terjadi kekacaun dunia. Banyak orang berpendapat itu adalah akhir zaman, bencana alam yang mengguncang dunia, Gempa bumi, lonsor, hujan yang disertai badai..
Saat mata mereka terbuka, dunia sudah berubah. Banyak orang yang tewas akibat tertimpa bangunan yang roboh dan juga tertimbun akibat tanah longsor.
Tapi, ada yang berbeda dengan Orang yang terkena air hujan. Mereka tiba-tiba menjadi linglung, bergerak dengan lambat, meraung saat mencium bauh darah.
Yah, itu Virus Zombie. Semua orang harus bertahan hidup dengan saling membunuh. Kekuatan yang muncul sedikit membantu mereka untuk melawan ribuan Zombie.
Lima tahun berlalu, Dunia benar-benar hancur.. Tidak ada lagi harapan untuk hidup. Sumber makanan sudah habis, semua tanaman juga bermutasi menjadi tanaman yang mengerikan.
Aruna Zabire, memasuki hutan yang dipenuhi hewan dan tumbuhan mutasi. Dia sudah bosan untuk bertahan, tidak ada lagi keluarga dan kerabat. Mereka semua tumbang satu persatu ditahun ketiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Tuntas
Setelah menyelesaikan tugasnya, Aruna meminta rombongan Desa Suning kembali mendekat. Meski posisi mereka lumayan jauh, Mereka masih bisa melihat apa yang Aruna lakukan, bahkan suara-suara yang meminta tolong terdengar sangat jelas.
Aruna sengaja membiarkan mereka tetap melihatnya dari jarak jauh. Agar kedepannya tak perlu ada ditutupi lagi, dia kuat, dia punya kekuatan untuk melawan.
Ada sedikit rasa takut dalam diri mereka, karena baru pertama kali melihat pembunuhan secara langsung. Tapi juga ada rasa kagum.
Melihat suasana yang sedikit canggung, Aruna langsung berkata. "Kalian tak perlu takut, ini baru permulaan. Aku juga membunuh mereka karena membela diri, jika aku tak melakukannya, maka aku yang diposisi mereka."
Semua mengangguk mendengar penjelasan Aruna. Benar, jika Aruna tak membela diri, Aruna akan diculik, dilecehkan, terus dibunuh. Jika mereka yang berada di posisi Aruna, mungkin mereka hanya akan menangis karena tak punya kekuatan untuk melawan.
"Nak apa kamu baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" Nenek Suyu jalan mendekat, dia sangat khawatir, saat mendengar orang-orang itu berteriak minta tolong.
Aruna tak menyangka, mereka ternyata masih peduli padanya. Awalnya dia berpikir, tak ada lagi yang ingin berteman dengannya setelah aksinya tadi.
"Nenek aku baik-baik saja!"
"Ya syukurlah. Ini minum dulu, pasti sangat lelah!" Nenek Suyu menyodorkan segelas air.
Aruna tak menolak, dia benar-benar haus. Kekuatannya masih sangat lemah, "Terima kasih!"
"Wahhh, Aruna kamu sangat hebat!"
"Yaa,, Aruna melawan mereka sendiri!"
"Aruna ajarkan kami beladiri, kami juga ingin kuat!"
"Aku juga, setidaknya kami bisa menjaga diri sendiri."
"Aku juga!"
Pandangan mereka terhadap Aruna makin kagum, bukan hanya bisa pengobatan, tapi juga sangat hebat dalam beladiri. Di Negara Xu, atau bahkan di Negara lain, orang-orang yang memiliki ilmu beladiri sangat dihormati, karena belajar beladiri sangat sulit.
Aruna hanya mengatakan, jika ingin belajar beladiri, besok pagi harus bangun jam 4 pagi. Jika sudah maju, maka tak boleh mundur, jadi mereka harus memikirkan baik-baik.
Semua warga sangat senang, setelah mengucapkan terima kasih, mereka mendirikan tenda, karena sudah jam 4 sore, Kakek Ji memutuskan untuk menginap di lokasi tersebut.
Aruna mengajak Kakek Ji untuk berbicara, keduanya berjalan sedikit jauh. Masalah sebenarnya belum selesai.
"Nak ada apa?" tanya Kakek Ji dengan serius, jika Aruna mengajaknya berbicara berdua, pasti ada yang penting.
"Kakek, orang-orang tadi itu bukan bandit gunung!" jelas Aruna.
"Ha, jadi mereka siapa?"
"Dilihat dari segi kekuatannya mereka orang-orang yang sudah terlatih, beladiri mereka lumayan, belajar beladiri bukan suata hal yang bisa dipelajari begitu saja!"
"Tapi mereka tetap bandit, karena mereka ingin menculikmu!"
"Ya, tapi para bandit yang sebenarnya lebih mengutamakan barang-barang berharga, seperti uang dan makanan. Tapi orang-orang tadi, lebih mementingkan menculik orang.!"
Kepala Desa akhirnya paham, badannya bergetar. Ya, dia ingat, orang-orang tadi memang tidak meminta apapun kecuali menatap Aruna dengan pandangan jijik.
"Nak, apakah mereka,,,?"
"Sindikat Penculikan!"
Badan Kakek Ji makin bergetar, ini bukan masalah kecil, apa yang harus mereka lakukan? Aruna sudah membunuh orang-orang itu, berarti mereka semua dalam bahaya.
"Kita harus pergi sekarang, kita tidak boleh menginap di sini. Pasti kelompok itu akan datang untuk mencari teman mereka!" Ucap Kakek Ji dengan cemas.
"Mana mungkin kita pergi, karena sudah terlanjur, mari kita tuntaskan!" kata Aruna sambil menatap puncang gunung dengan dingin.
"Tidak,, tidak. Kamu tidak boleh gegabah! Mereka berkelompok, pasti orang-orang mereka sangat banyak." tegasnya.
"Kakek, markas mereka ada di belakang gunung, dan itu hanya salah satu dari markas mereka. Tidak banyak orang di sana."
"Nak jangan nekat, itu sangat berbahaya. Kakek tau kamu kuat, tapi kamu juga tetap seorang gadis. Bagaimana jika terjadi sesuatu, dan kami tidak bisa datang menolong."
Perasaan Aruna kembali menghangat, "Kakek, mereka sudah melakukan kejahatan besar. Aku tidak mungkin hanya diam saja, jadi apa gunanya semua kekuatan yang aku miliki jika tidak digunakan untuk melakukan kebaikan?"
Kakek Ji terdiam, dia ingin mengatakan sesuatu, tapi bingung harus berkata apa. Dia hanya takut, jika terjadi sesuatu pada Aruna.
Melihat Kakek Ji terdiam, Aruna kembali berkata. "Kakek, aku harus pergi sekarang. Jika tebakanku tidak salah, banyak orang yang sudah diculik dan dikurung di markas mereka."
Dengan berat hati, Kakek Ji mengizinkan Aruna pergi. Awalnya, dia ingin memanggil Ozian untuk pergi bersama, tapi Aruna menolak, jika Ozian pergi, tidak ada yang menjaga rombongan.
Setelah Aruna menghilang dari pandangannya, Kakek Ji kembali bergabung dengan yang lainnya. Dia hanya mengatakan, jika Aruna pergi mencari sumber air untuk membersihkan dirinya, karena pakaian yang dia pakai sudah penuh dengan darah.
...----------------...
Braakkk...
"Apa-apaan ini?" Tanyanya dengan penuh emosi sambil membanting pintu.
"Bos ada apa?"
"Ck, kenapa tangkapan kalian akhir-akhir ini sangat buruk?" Dia benar-benar emosi, karena sudah satu bulan tidak menyalurkan hasratnya dengan puas.
"Maa- maaf Bos, mereka hanya orang desa. saat ini, ketua Dong sengaja tidak mengincar orang-orang kota."
Alis sang Bos mengerut, "Oh, apa ada yang mencurigakan?"
"Ehh, apa Bos besar tidak tau? Kalau Tuan Muda melarang semua cabang untuk tidak bertindak. Katanya, ada seseorang yang yang menyelidiki"
Mata sang Bos terbelalak, "APA? Ada hal seperti itu, kenapa aku tidak tau? Kau, kau dengar dari mana?" tanyanya dengan marah, ini adalah perintah Tuan Muda, tapi dia malah melanggarnya.
"Sa,,sa saya dengar dari yang lainnya, katanya Ketua Dong tanpa sengaja bertemu dengan temannya di cabang lain, dan memberi tahunya informasi itu!" jelasnya dengan gugup.
"Brengsek! Sungguh berani. Sudah tak menyampaikan pesan, dan dia tetap beraksi setelah mengetahui informasi itu. Benar-benar pemberontak!" Dia emosi dan juga takut. Takut, Tuan Muda mengetahui dirinya tak menjalankan perintah.
"Bos, jika ada pesan dari Tuan Muda, biasanya kita menerima surat!"
Sang Bos tertegun, memang seharusnya begitu. Tapi "Ya surat, di mana suratnya? Kenapa tidak ada? Oh, ketua Dong di mana dia? Pasti dia yang menyimpannya."
"Bos, Tuan Dong belum balik! Tapi ini sedikit aneh, mereka sudah pergi sekitar tiga jam." ujarnya dengan perasaan cemas. Sebenarnya dia ingin menyampaikan kepada Bosnya, tapi sang Bos berada dalam kamar selama dua jam, dan tak ada yang boleh menggagunya.
Alis sang Bos mengerut "Pergi, cari dia sekarang!" perintahnya dengan perasaan campur aduk, dia tidak pernah setakut itu.
"Baik Bos.!" Di segera keluar, dan pergi bagian belakang. Dia salah satu anak buah yang jarang turun langsung untuk bertugas, karena kekuatannya tidak sekuat yang lainnya.
Di halaman belakang ada sebuah lonceng kecil yang tergantung di atas pintu gerbang, itu bukan lonceng biasa, lonceng itu akan berbunyi sebagai alarm bahaya, atau seseorang sedang meminta bantuan. Tapi lonceng itu tidak berbunyi, berarti tidak ada yang meminta bantuan.
Namun, hatinya tetap tidak tenang. Dia harus pergi mencari Ketua Dong sesuai perintah Bos besarnya. Baru saja keluar dari gerbang, dia merasakan kepalanya dihantam dengan kuat, dia ingin berteriak, tapi orang itu tak memberinya kesempatan.
***
Aruna melihat seseorang yang ingin pergi saat dirinya baru saja tiba di sebuah lembah, tanpa ragu dia memukul kepala orang itu dengan batu. Siapa yang menyangka ada sebuah markas yang tersembunyi dengan baik di gunung tersebut. Pantas saja, para petugas, tidak menemukannya, karena lokasinya benar-benar di dasar lembah. Lembah itu tidak luas, dan tidak akan terlihat jika dilihat dari puncak gunung.
"Hmm,, tidak ada penjaga, benar-benar santai." gumamnya sambil menatap markas itu dengan sedikit kagum. Lumayan besar, bersih dan rapih.
Ada sekitar 10 orang dari kelompok tersebut, dan 10 korban penculikan. "Mari bermain!"
Aruna berjalan menuju pintu depan, dan melihat dua orang sedang bermain kartu di halaman.
"Hei, apa kau tau kenapa Bos marah?" Tanya si A.
"Oh, aku dengar dia tidak puas dengan tangkapan kita akhir-akhir ini!" Balas si B.
"Hmm, menurutmu kenapa Ketua Dong belum balik?" Si A kembali bertanya, sambil mengangkat bidak Caturnya.
"Mungkin...!" ucapannya terpotong melihat bidak catur berhamburan karena tertimpa sesuatu.
Duk
Arrrggg..
"Itu, itu itu.." Dia ingin mengatakan itu Kepala Ketua Dong. Tapi tapi mulutnya terasa sangat kaku, badannya bergetar.
"Bukan kah Kalian sedang mencarinya? Berterimakasih lah! Karena aku sudah mengantarnya pulang tanpa selamat!"
Kedua orang itu sangat syok melihat kepala ketua Dong tergelatak begitu saja dia atas papan catur, darah segar masih mengalir, yang menandakan Ketua Dong baru saja dibantai.
Aruna merasa sudah membuang banyak waktu, tanpa ragu dia langsung membantai kedua orang itu. Tak lupa selangkangan yang sudah menghancurkan banyak masa depan para gadis.
"Cihh, bikin repot saja!"
Aruna menuju pintu masuk yang terbuka lebar, dia melihat ada tujuh orang yang sedang berpesta arak. Semuanya sudah mabuk berat, sampai tak mendengar keributan dari luar.
Sssett
Sseett
Jarum yang mengandung racun tertancap di leher mereka. Seketika ketujuh orang itu kembali sadar dari mabuknya, tapi kesadaran mereka sudah tak normal lagi. Semua saling tatap, dipenglihatan mereka, ada banyak gadis sedang telanj*ng bulat.
Aruna menyeringai dengan puas, dia langsung pergi setelah mereka saling bertempur dengan suara menjijikan.
Braakkk..
"Beraninya kau, sudah bosan hidup haa?" teriaknya dengan marah, dia sedang kalut, tapi malah dikagetkan dengan suara pintu yang dibanting dengan keras. Tapi dia malah tertegun dengan matah terbelalak, saat melihat siapa yang masuk kedalam ruangannya.
"Sungguh sangat cantik!" ucapnya sambil menelan ludah.
Aruna berjalan dengan santai, dia berdiri di sebrang meja. Matanya berkilat dingin melihat tatapan orang itu.
Jleb
Jleb
Arrrggg
"Matakuuu,, beraninya kau!" Teriaknya dengan marah, dia langsung berdiri ingin membalas Aruna, tapi dia sudah tidak bisa melihat.
Aruna tak peduli dengannya lagi, dia keluar dan menuju ruang bawah tanah, di mana korban penculikan di kurung.
Aruna berjalan sambil membawa obor, bau busuk yang sangat menyengat langsung tercium, padahal dia sudah menggunakan penutup hidung yang berlapis, tapi baunya masih sangat keras.
Kreek
Dengan sekali hantam, gembok besi langsung hancur, hanya ada satu ruangan, mereka seperti berada di dalam penjara. Ternyata sindikat itu hanya menculik para gadis, tatapan mereka kosong penuh kepasrahan. Badan sangat kurus, seperti tulang kering.
Aruna memasukkan mereka semua ke dalam batu penyimpanan. Selanjutnya menuju dapur, ada banyak persediaan makanan di sana, beras lima karung, terigu, minyak dan biji-bijian. Sudah sangat jelas, persedian itu mereka beli sendiri, jika hasil rampok dari para pengungsi tidak akan sebaik itu kondisinya. Kecuali, yang mereka rampok orang-orang kaya dari kota.
Aruna mengambil semuanya, dia juga menemukan banyak pedang. Bagus sekali, itu bisa digunakan para pria dewasa untuk melindungi diri. Aruna keluar dari markas lalu menuju bagian belakang, di sana ada 3 ekor kuda di dalam kandang, 10 ekor ayam dan bebek, dan juga 2 ekor babi besar yang semuanya terawat dengan baik.
Setelah puas menjarah semuanya, Aruna membakar markas tersebut menggunakan api dari elemen petirnya, agar tidak berasap dan tidak meninggalkan sisa abu.
lanjut thorr💪💪💪