NovelToon NovelToon
The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Dark Romance
Popularitas:150
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: PERJAMUAN PARA SERIGALA

Pagi menyapa mansion Valerius dengan ketenangan yang palsu. Setelah malam yang mencekam di bawah kucuran air shower dan ancaman Adrian tentang pelayan butik itu, Arunika bangun dengan perasaan lelah yang luar biasa. Tubuhnya terasa berat, namun otaknya bekerja dua kali lebih cepat.

Adrian sudah tidak ada di tempat tidur. Hanya ada bekas lekukan tubuh di seprai sutra yang menandakan keberadaannya beberapa jam lalu. Di atas nakas, terdapat secangkir kopi yang sudah dingin dan sebuah catatan pendek: “Berpakaianlah yang rapi. Sore ini ada tamu penting.”

Arunika bangkit, langkah kakinya gontai menuju lemari. Ia memilih gaun berwarna biru tua yang tertutup rapat hingga ke leher. Ia tidak ingin memberikan celah sedikit pun bagi Adrian untuk mengomentari kulitnya atau bekas cengkeraman rahang semalam yang syukurlah tidak meninggalkan memar berarti.

Saat ia keluar kamar, ia berpapasan dengan Bi Marta di lorong. Wanita tua itu sedang membawa nampan berisi vas bunga perak. Mereka saling bertatapan selama sedetik. Bi Marta tidak bicara, tapi gerak matanya tertuju pada saku gaun rumah yang dipakai Arunika—tempat chip memori itu masih tersimpan rapat.

"Tuan sedang di ruang kerja, Nyonya. Beliau sedang melakukan rapat besar melalui video konferensi dengan kantor pusat di London," ucap Bi Marta dengan nada suara yang datar, namun ada penekanan pada kata 'rapat besar'.

Arunika mengangguk paham. "Terima kasih, Bi."

Ini adalah kesempatan. Jika Adrian sedang melakukan rapat besar dengan kantor pusat, dia biasanya tidak ingin diganggu selama berjam-jam. Dan yang paling penting, Adrian sering meletakkan jam tangan peraknya—yang menyimpan kunci kecil itu—di atas meja kerja jika dia sedang merasa gerah atau terfokus sepenuhnya pada angka-angka di layar.

Arunika berjalan menuju lantai bawah. Ia tidak langsung menuju ruang kerja Adrian, melainkan ke dapur. Ia harus terlihat natural. Ia meminta segelas jus jeruk pada pelayan dapur, lalu membawanya berjalan-jalan di sekitar lantai satu.

Langkah kakinya membawanya ke depan pintu jati besar ruang kerja Adrian. Dari dalam, terdengar suara bariton Adrian yang sedang berbicara dalam bahasa Inggris dengan nada otoriter.

"Saya tidak peduli dengan kendala logistik di pelabuhan. Pastikan pengiriman selesai minggu ini atau kontrak mereka saya putuskan."

Arunika menahan napas. Ia mencoba memutar knop pintu. Terkunci.

Ia menggigit bibir bawahnya. Tentu saja terkunci. Adrian bukan pria yang ceroboh. Namun, Arunika teringat sesuatu. Ada pintu penghubung kecil melalui perpustakaan pribadi yang letaknya bersebelahan. Pintu itu biasanya digunakan Adrian untuk mengambil referensi buku tanpa harus keluar ke lorong.

Arunika berputar arah menuju perpustakaan. Ruangan itu sunyi, hanya ada aroma buku tua dan kayu cendana. Ia menyelinap di antara rak-rak buku yang menjulang tinggi hingga sampai ke sebuah pintu kayu yang tersembunyi di balik tirai beludru.

Perlahan, ia mendorong pintu itu. Keberuntungan sedang berpihak padanya; pintu itu tidak terkunci dari sisi perpustakaan.

Arunika melongokkan kepalanya sedikit. Adrian sedang duduk membelakanginya, menghadap tiga monitor besar yang menampilkan wajah-wajah pria asing. Dan di sana, di atas meja mahoni, terletak jam tangan perak itu. Berdampingan dengan sebuah kunci kecil yang dikeluarkan Adrian dari balik jam tangannya.

Jantung Arunika berdegup kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya sendiri. Ia merayap masuk ke dalam ruangan, berlindung di balik sofa kulit besar yang ada di pojok ruangan.

Adrian tampak sangat sibuk. Dia sedang berdebat tentang laporan audit. Ini adalah waktu yang tepat. Arunika merangkak di lantai, gerakannya sangat pelan, memastikan tidak ada gesekan kain yang menimbulkan suara.

Begitu sampai di sisi meja, ia melihat kunci itu. Hanya butuh satu gerakan cepat untuk mengambilnya. Namun, tiba-tiba Adrian bergerak. Dia memutar kursinya sedikit untuk mengambil sebuah map.

Arunika segera merapatkan tubuhnya di kolong meja yang gelap. Napasnya tertahan. Ia bisa melihat ujung sepatu kulit Adrian yang mengkilap hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya.

"Audit ini harus bersih, Sandra. Aku tidak ingin ada satu pun angka yang terlihat mencurigakan bagi otoritas pajak," suara Adrian terdengar tepat di atas kepalanya.

Arunika membeku. Sandra? Apakah Sandra ada di sana juga?

Ia melirik ke celah bawah meja. Benar saja, ia melihat kaki ramping mengenakan high heels merah berdiri di seberang meja Adrian.

"Tentu, Tuan. Semuanya sudah saya tangani. Termasuk masalah... 'pembersihan' di unit properti lama," jawab Sandra dengan nada suara yang sangat licik.

Pembersihan. Kata itu lagi. Arunika mengepalkan tangannya.

"Bagus. Sekarang keluar. Aku ingin menyelesaikan panggilan ini sendirian," perintah Adrian.

Arunika mendengar langkah kaki Sandra menjauh dan pintu ruang kerja tertutup. Adrian kembali menghadap monitor.

Inilah saatnya. Saat Adrian kembali berbicara dengan layar, Arunika mengulurkan tangannya yang gemetar ke atas meja. Dengan sangat hati-hati, ia meraih kunci kecil itu. Begitu benda logam itu ada di genggamannya, ia menarik tangannya kembali.

Ia berhasil.

Namun, belum sempat ia merayap keluar, Adrian tiba-tiba berdiri.

"Cukup untuk hari ini. Kita lanjutkan besok pagi," ucap Adrian pada lawan bicaranya di layar. Dia mematikan monitor.

Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti ruangan. Adrian tidak langsung pergi. Dia terdiam sejenak, lalu tangannya bergerak ke arah jam tangan di atas meja.

Arunika memejamkan mata. Dia baru saja mengambil kuncinya, tapi jam tangannya masih ada di sana. Jika Adrian memakai jam tangan itu dan menyadari kuncinya hilang, semuanya berakhir.

"Di mana kuncinya?" gumam Adrian pelan.

Darah Arunika terasa berhenti mengalir. Ia mendengar suara laci meja ditarik dengan kasar. Adrian sedang mencari kunci itu.

Ting!

Tiba-tiba ponsel Adrian di atas meja bergetar. Adrian mengangkatnya.

"Ya? Ada apa, Marta?"

Suara Bi Marta terdengar samar dari ponsel. "Maaf mengganggu, Tuan. Nyonya Arunika tampaknya pingsan di taman belakang. Saya butuh bantuan untuk membawanya ke dalam."

Arunika tertegun. Pingsan di taman? Dia ada di sini, di bawah meja ini! Bi Marta sedang berbohong untuk menyelamatkannya.

"Sial," umpat Adrian. Dia meninggalkan jam tangannya dan langsung berlari keluar dari ruang kerja tanpa mengunci pintu laci yang sudah setengah terbuka.

Begitu suara langkah kaki Adrian menghilang di lorong, Arunika segera keluar dari bawah meja. Dengan tangan yang masih bergetar hebat, ia menggunakan kunci itu untuk membuka laci paling bawah meja kerja Adrian yang selama ini selalu terkunci rapat.

Di dalamnya, ia menemukan sebuah map kulit berwarna hitam. Di sampulnya tertulis satu nama: ELENA.

Arunika membuka map itu dengan terburu-buru. Isinya adalah foto-foto Elena, tapi bukan foto pernikahan yang bahagia. Itu adalah foto-foto Elena yang tampak kurus, dengan mata yang cekung dan penuh ketakutan. Ada juga beberapa surat diagnosa dokter yang menyatakan Elena menderita gangguan jiwa berat.

Tapi yang paling mengejutkan adalah sebuah surat pernyataan yang ditandatangani oleh Elena. Isinya adalah penyerahan seluruh asetnya kepada Adrian Valerius jika terjadi sesuatu padanya. Tanggal di surat itu hanya selisih dua hari sebelum Elena dinyatakan "hilang".

"Jadi ini caramu menghancurkan mereka, Adrian," bisik Arunika pahit.

Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki yang sangat cepat kembali menuju ruang kerja. Adrian kembali!

Arunika tidak sempat keluar melalui pintu perpustakaan. Ia hanya sempat menutup laci, mengantongi kunci itu, dan bersembunyi di balik tirai jendela besar yang menutupi balkon.

Pintu ruang kerja terbuka dengan debuman keras.

"Marta! Kau bilang dia di taman!" suara Adrian menggelegar penuh kemarahan.

"Maaf, Tuan. Tadi saya melihatnya terkapar di sana, tapi saat saya kembali membawa air, Nyonya sudah tidak ada. Mungkin dia sudah siuman dan masuk ke kamarnya," suara Bi Marta terdengar tenang di lorong.

Adrian masuk ke dalam ruang kerja. Ia berdiri tepat di tengah ruangan, matanya menyapu setiap sudut. Ia berjalan menuju meja kerjanya.

Arunika menahan napas di balik tirai. Ia bisa melihat bayangan Adrian melalui kain tipis itu. Adrian berdiri tepat di depan tirai. Hanya ada selembar kain yang memisahkan mereka.

Adrian mengulurkan tangan, hendak menyibakkan tirai tersebut.

Drt... Drt...

Ponsel Adrian kembali bergetar. Kali ini dari Sandra.

"Apa lagi?" gertak Adrian saat mengangkat telepon.

"Tuan, investor dari Dubai sudah sampai di lobi hotel. Anda harus segera ke sana."

Adrian terdiam sebentar, tangannya masih menggantung di dekat tirai. Ia menghembuskan napas kasar. "Siapkan mobil. Aku turun sekarang."

Adrian mengambil jam tangannya, memasukkannya ke saku celana tanpa memeriksa kuncinya lagi, lalu keluar dengan langkah terburu-buru.

Arunika luruh ke lantai di balik tirai. Tubuhnya basah oleh keringat dingin. Ia baru saja lolos dari maut.

Ia segera keluar dari ruang kerja dan kembali ke kamarnya melalui jalan memutar. Di sana, ia menemukan Bi Marta sedang berdiri di depan pintu kamarnya, memegang tumpukan handuk bersih.

"Nyonya sebaiknya beristirahat. Wajah Anda sangat pucat," ucap Bi Marta datar.

Arunika menatap wanita tua itu. "Kenapa Anda membantuku, Bi?"

Bi Marta mendekat, lalu berbisik sangat pelan di telinga Arunika. "Karena saya tidak ingin membersihkan 'darah' lagi di rumah ini, Nyonya. Elena adalah wanita yang baik, tapi dia tidak cukup cerdik. Jangan ulangi kesalahannya."

Setelah Bi Marta pergi, Arunika masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Ia mengeluarkan kunci kecil dan chip memori itu. Sekarang ia punya kepingan-kepingan rahasia Adrian.

Namun, ia menyadari satu hal. Jika Adrian tahu kuncinya hilang, dia akan tahu siapa yang mengambilnya. Ia harus segera bertindak sebelum Adrian kembali dari pertemuannya.

Arunika mengambil laptopnya yang selama ini hanya ia gunakan untuk menonton film. Ia memasukkan chip memori itu.

Layar memunculkan sebuah folder tersembunyi. Saat diklik, sebuah video mulai terputar.

Di layar, muncul sosok Elena. Dia tidak sedang memohon-mohon seperti yang dibayangkan Arunika. Elena sedang menatap kamera dengan tatapan tajam dan penuh dendam.

"Arunika... atau siapa pun yang menggantikanku di rumah ini," suara Elena terdengar serak di video itu. "Jika kau menonton ini, berarti aku sudah tidak ada. Jangan percaya pada air matanya. Adrian tidak butuh istri. Dia butuh korban untuk menutupi kejahatan yang lebih besar di bawah pondasi rumah ini."

Tiba-tiba, video itu terputus oleh suara gangguan sinyal, dan di detik terakhir, Arunika melihat latar belakang tempat Elena merekam video itu.

Itu adalah ruang bawah tanah mansion ini. Ruangan yang menurut Aturan No. 1, dilarang keras untuk dimasuki oleh siapa pun kecuali Adrian.

Arunika menutup laptopnya dengan keras. Jantungnya berpacu. Ia baru saja menyadari bahwa ia bukan sekadar dinikahi oleh seorang predator, tapi ia sedang mengantre menuju eksekusinya sendiri.

"Aku harus keluar dari sini," bisiknya pada diri sendiri.

Namun saat ia melihat ke arah jendela, ia melihat dua penjaga baru bertubuh besar sedang berdiri di depan gerbang taman belakang. Adrian telah menambah pengamanan.

Sangkar emas itu kini telah berubah menjadi sel isolasi.

Apakah Arunika akan nekat turun ke ruang bawah tanah untuk mencari tahu apa yang disembunyikan Adrian di sana?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!