NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Seragam SMA

Rahasia Dibalik Seragam SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Anak Genius
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.

Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Naura berjalan dengan langkah yang jauh lebih tegas setelah menjauh dari pandangan Arkan dan kakaknya. Begitu sampai di sebuah kafe bergaya industrial di sudut kompleks, ia tidak masuk melalui pintu depan, melainkan pintu samping yang dikhususkan untuk staf.

Di dalam, suasana sangat berbeda. Musik jazz mengalun rendah, dan aroma biji kopi yang baru digiling memenuhi ruangan. Seorang wanita seumuran Naura, Risa, sedang memeriksa laporan keuangan di balik meja bar.

"Baju SMA lagi?" sapa Risa tanpa mendongak, mengenali langkah kaki Naura. "Gimana rasanya jadi bocah tujuh belas tahun lagi, Dr. Naura?"

Naura melepaskan jaketnya dan melemparkannya ke kursi kosong. Ia menghela napas panjang, lalu duduk dengan gaya yang sangat dewasa, jauh dari kesan "siswi ceria" yang ia perankan tadi siang.

"Melelahkan, Ris. Terutama saat lo harus satu kelompok tugas dengan cowok yang punya insting seperti anjing pelacak," jawab Naura sambil memijat pelipisnya.

Risa tertawa kecil sambil menyodorkan segelas double shot espresso tanpa gula. "Arkan itu? Cowok yang lo bilang mencurigakan? Ingat, kau itu lulusan S3 kriminologi tercepat dari Oxford. Masa menghadapi satu anak SMA saja kewalahan?"

Naura menyesap kopinya, membiarkan rasa pahit itu menenangkan sarafnya. "Dia bukan anak SMA biasa. Dia memperhatikan detail kecil—cara gue bicara, cara gue nulis, bahkan cara gue bernapas. Dan sialnya, dia teman kakak gue. Hampir saja penyamaran gue terbongkar di depan Najam tadi."

"Kenapa lo nggak jujur aja sama Najam?" tanya Risa serius. "Dia kakak lo, dia berhak tahu kalau adiknya ini sedang menjalankan misi investigasi independen, bukan cuma sekadar 'pulang sekolah'."

Najam tidak pernah tahu kalau adik nya itu sudah tiga kali sarjana, karena naura beralasan ia keluar negeri untuk mengurus nenek mereka yang sakit.

"Najam terlalu jujur," potong Naura cepat.

"Kalau dia tahu gue lagi mengincar sindikat di sekolah itu, dia bakal langsung lapor polisi, dan semua rencana gue selama enam bulan ini bakal hancur. Gue butuh bukti dari dalam, Ris. Bukti yang nggak bisa didapat dengan cara legal."

Naura mengeluarkan buku catatan yang tadi ia bawa. Di balik catatan tentang "Etika Penulisan" yang ia kerjakan bersama Arkan, terdapat kode-kode rumit dan skema jaringan yang ia susun sendiri.

"Arkan benar tentang satu hal hari ini," gumam Naura sambil menatap catatan itu. "Sekali kebohongan terungkap, semua karya sebelumnya akan dipertanyakan. Gue harus memastikan, sebelum dia berhasil mengungkap siapa gue, gue sudah lebih dulu mengungkap siapa dia."

......................

Di rumah Najam, suasana semakin riuh dengan suara dentuman dari konsol game. Arkan memanfaatkan momen ketika Bimo, Rio, dan Najam sedang terlibat duel sengit dalam permainan sepak bola untuk menyelinap pergi.

"Gue ke toilet bentar," izin Arkan singkat yang hanya dibalas anggukan tak acuh dari yang lain.

Bukannya ke toilet, Arkan justru bergerak dengan langkah seringan kucing menuju lorong kamar. Ia tahu kamar Naura adalah kunci. Ia membuka pintu kamar dengan sangat hati-hati. Kamar itu tertata rapi, beraroma lavender, dan dipenuhi pernak-pernik khas remaja perempuan pada umumnya boneka di atas tempat tidur, rak buku dengan novel-novel populer, dan meja belajar dengan tumpukan alat tulis warna-warni.

Arkan bergerak cepat. Ia memeriksa laci meja, balik bingkai foto, hingga kolong tempat tidur. Hasilnya? Nol.

Tidak ada dokumen rahasia, tidak ada alat penyadap, bahkan tidak ada buku catatan mencurigakan. Semuanya terlihat sangat "normal". Terlalu normal untuk seseorang yang memiliki tatapan mata sekeras Naura saat mereka di atap sekolah tadi siang.

"Sial, dia bersih banget," gumam Arkan pelan. Ia baru saja akan memeriksa tumpukan buku di rak ketika tiba-tiba pintu terbuka lebar.

"Woy, Arkan! Lo ngapain di situ?"

Arkan membeku. Rio berdiri di ambang pintu dengan seringai lebar, diikuti oleh Bimo dan Najam yang tampak bingung.

"Cieee... yang nggak bisa move on dari debat di perpustakaan tadi siang," goda Bimo sambil menyenggol bahu Rio.

"Sampai-sampai nyasar ke kamar adeknya Najam. Mau nyari foto Naura buat disimpan ya?"

Najam tertawa kecil, meskipun ada sedikit sorot protektif di matanya. "Wah, Arkan, gue nggak tahu kalau lo se-agresif ini. Baru kenal beberapa hari udah berani masuk kamar Naura."

"Bukan gitu," Arkan mencoba bersuara datar, meski dalam hati ia mengutuk kecerobohannya. "Gue cuma... salah pintu. Gue kira ini arah ke balkon."

"Alasan!" seru Rio sambil merangkul Arkan keluar dari kamar itu. "Bilang aja kalau lo naksir. Santai, Jam, Arkan anaknya baik kok, meski agak kaku kayak kanebo kering.

Cocoklah sama Naura yang ceria."

Arkan hanya bisa diam saat teman-temannya terus menggoda, sementara pikirannya masih tertinggal di dalam kamar itu. Ia sadar, Naura bukan hanya pintar berakting, tapi dia adalah seorang profesional dalam menyembunyikan jejak.

Di sisi lain, tuduhan "naksir" dari teman-temannya justru menjadi keuntungan baginya. Ia bisa menggunakan alasan itu sebagai "cover" untuk terus mendekati Naura tanpa memicu kecurigaan Najam.

......................

Malam semakin larut saat Naura melangkah keluar dari kafe Risa. Ia sengaja mengambil jalan memutar melalui area yang lebih sepi untuk memastikan tidak ada yang membuntutinya. Namun, instingnya sebagai lulusan kriminologi bergejolak; ia merasa ada sepasang mata yang mengawasinya dari kejauhan.

Di kegelapan, Arkan bergerak seperti bayangan. Ia menjaga jarak cukup jauh, menggunakan kemampuannya untuk tetap tidak terdeteksi. Ia harus tahu ke mana "adik" Najam ini pergi di jam segini.

Langkah Naura terhenti saat suara deru mesin motor yang kasar memecah keheningan malam. Lima motor besar mengepungnya di sebuah jalan yang lampunya remang-remang. Sekelompok pemuda dengan jaket kulit mulai membentuk lingkaran, menghalangi jalan Naura.

"Wah, ada gadis cantik sendirian malam-malam begini," salah satu dari mereka berseru sambil memainkan gas motornya.

"Mau kita antar pulang? Atau mau mampir dulu main sama kita?"

Naura menghela napas, jemarinya meremas tali tasnya. Secara mental, ia sudah menghitung titik-titik lemah para pria ini, tenggorokan, lutut, dan mata. Ia bisa saja melumpuhkan mereka dalam hitungan detik, tapi itu akan menghancurkan penyamarannya sebagai siswi SMA yang lemah lembut. Jika ia melawan, Arkan yang ia curigai ada di sekitar sini pasti akan melihat kemampuan aslinya.

Naura terjepit antara harga diri dan misinya. Ia memilih untuk tetap di dalam "karakter". Ia menundukkan kepala, pura-pura gemetar.

"Tolong, biarkan saya lewat. Saya cuma mau pulang."

"Jangan buru-buru, manis," goda pria lainnya sambil turun dari motor dan mencoba meraih bahu Naura.

Tepat sebelum tangan pria itu menyentuh Naura, sebuah suara dingin terdengar dari balik kegelapan.

"Dia bilang dia mau pulang. Telinga kalian bermasalah?"

Arkan muncul dari bayangan dengan wajah tanpa ekspresi, namun matanya memancarkan ancaman yang nyata. Ia berdiri tepat di depan Naura, menjadi tameng manusia yang kokoh.

"Arkan?" gumam Naura, kali ini dengan nada yang dicampur antara rasa lega sekaligus kesal karena ruang geraknya benar-benar terkunci oleh kehadiran pria ini.

"Oh, ada pahlawan kesiangan," ejek pemimpin geng motor itu. "Cuma satu orang? Lo mau mati?"

Arkan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya melirik Naura sekilas, memastikan gadis itu tetap berada di belakangnya. "Lari ke arah pos satpam di depan kompleks, Naura. Sekarang."

Naura ragu sejenak. Jika ia lari, ia meninggalkan Arkan bertarung sendiri. Namun, jika ia tinggal dan membantu, rahasianya terbongkar. Akhirnya, dengan akting ketakutan yang sempurna, ia mengangguk dan berlari menjauh, sambil tetap melirik ke belakang untuk memastikan Arkan tidak terluka serius atau sebaliknya, untuk melihat seberapa hebat kemampuan bela diri pria yang terus menguntitnya itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!