Di tahun 3000 terjadi kekacaun dunia. Banyak orang berpendapat itu adalah akhir zaman, bencana alam yang mengguncang dunia, Gempa bumi, lonsor, hujan yang disertai badai..
Saat mata mereka terbuka, dunia sudah berubah. Banyak orang yang tewas akibat tertimpa bangunan yang roboh dan juga tertimbun akibat tanah longsor.
Tapi, ada yang berbeda dengan Orang yang terkena air hujan. Mereka tiba-tiba menjadi linglung, bergerak dengan lambat, meraung saat mencium bauh darah.
Yah, itu Virus Zombie. Semua orang harus bertahan hidup dengan saling membunuh. Kekuatan yang muncul sedikit membantu mereka untuk melawan ribuan Zombie.
Lima tahun berlalu, Dunia benar-benar hancur.. Tidak ada lagi harapan untuk hidup. Sumber makanan sudah habis, semua tanaman juga bermutasi menjadi tanaman yang mengerikan.
Aruna Zabire, memasuki hutan yang dipenuhi hewan dan tumbuhan mutasi. Dia sudah bosan untuk bertahan, tidak ada lagi keluarga dan kerabat. Mereka semua tumbang satu persatu ditahun ketiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Wabah
Rombongan Desa Suning kembali melihat lautan manusia, tapi kali kondisinya berbeda dengan yang ada di Kota Lawa. Mereka seperti bukan manusia, tapi lebih mirip ke mayat hidup. Tatapan kosong, ada banyak luka dan darah di tubuh mereka, belum lagi bauk busuk, tapi itu bukan bau bangkai manusia, karena bau bangkai manusia sudah terekam baik dipenciuman mereka.
"Ya Dewa.. Apa yang terjadi?" gumam Kakek Ji dengan lirih, matanya berkaca-kaca melihat kondisi mereka seperti itu.
"Kakek! Biarkan aku pergi melihatnya." Ucap Aruna. "Jangan pasang tenda di sini, kalian mundur lebih jauh sedikit,"
"Baiklah, tapi kamu harus berhati-hati. Jangan pergi sendiri!" Kakek Ji membiarkan Aruna pergi dengan rasa bersalah, setiap ada hal yang berbahaya, Aruna yang selalu mengajukan dirinya untuk membantu mereka.
"Ya, aku akan pergi dengan Ozian!" Aruna sudah menganggap Ozian sebagai partner kerjanya.
***
Saat ini mereka sudah tiba di Kota Yinzi, dan ada banyak rombongan pengungsi di pintu gerbang, Aruna dan Ozian menggunakan tenaga dalam untuk masuk Kota, karena pintu gerbang tertutup rapat.
Suasana dalam kota sangat sunyi, tidak ada aktivitas di luar rumah, pasar yang seharusnya ramai malah tidak terlihat penjual sama sekali, restoran juga semua pada tutup. Hanya ada beberapa anak-anak yang terlihat, tapi mereka berjalan sangat hati-hati, seolah takut ketahuan.
"Ada yang tidak beres!" Ucap Ozian.
"Ya, mari kita tanya bocah itu!" Ujar Aruna, lalu berjalan mengikuti anak kecil itu.
Namun, apa yang mereka lihat membuat hati terunyah. Anak kecil itu sedang menjilati bungkusan kue yang ada di tempat sampah.
Dengan langkah pelan, Ozian berjalan mendekat. Dia membekap mulut anak kecil itu dan membawanya pergi ke tempat terpencil. Si bocah ingin memberontak, berteriak minta tolong, tapi dia tidak mampu, badannya lemah tak bertenaga.
"Hei adik kecil, kami bukan orang jahat. Kami akan melepaskanmu, tapi kamu jangan berteriak.!" Kata Aruna dengan suara lembut, agar anak itu menurut.
Dan benar saja anak kecil itu mengagguk, dia sangat takut, jadi dia hanya bisa menurut berharap Aruna tidak membohonginya. Percuma jika dia berteriak minta tolong, tempat ini sangat jarang dilalui orang, dan saat ini para penjaga hanya berpatroli di tengah Kota.
"Jangan takut! Aku hanya ingin tanya, apa yang terjadi?" tanya Aruna.
Anak kecil menatap Aruna dengan seksama, matanya terbelalak, dia baru sadar Aruna sangat cantik. "Itu.. Eh Kakak cantik kamu bukan warga sini ya?" dia malah bertanya balik dengan nada akrab, entah ke mana perginya rasa takut itu.
"Ya, kami dari jauh!"
Anak kecil itu mengangguk, lalu dia mulai bercerita. Sekitar dua minggu yang lalu, tiba-tiba banyak yang jatuh sakit. Awalnya, mereka hanya merasa pusing, lalu demam, batuk, dan muncul bentolan yang bernanah.
Kejadian itu membuat gempar, Tuan Bupati langsung meminta penjaga menutup kedua pintu gerbang, tak ada yang boleh masuk dan keluar dari Kota. Para pengungsi yang ada di luar gerbang jadi heran.
Para Tabib sudah bersusah payah meracik obat tapi tak ada satupun yang berhasil. Dengan terpaksa Tuan Bupati meminta orang-orang yang sakit dikurung dalam kamar, karena penyakit itu menular.
Beberapa hari berlalu, mereka tidak bisa bertahan lagi. Bentolan yang bernanah terasa sangat gatal, mereka tak tahan untuk tidak menggaruknya sampai berdarah, karena hal itu banyak yang mati.
Tuan Bupati kembali mengeluarkan perintah, agar orang-orang tidak keluar rumah untuk beraktivitas, mereka hanya diberi waktu sehari untuk membeli perbekalan. Itulah kenapa kota terlihat sepi dan sunyi.
Sehari setelahnya, Tuan Bupati baru mengetahui kondisi para pengungsi di luar gerbang, yang ternyata lebih parah dari warganya. Dan para pengungsi telah mengalami gejalanya dua hari sebelum warga lokal, yang berarti para pengungsi itu yang membawa penyakit tersebut.
Sampai hari ini para Tabib belum bisa meracik obatnya. Kemampuan mereka hanya mempu meredakan demam dan rasa gatal, tapi efeknya tak seberapa, selang dua jam akan kambuh lagi.
Dan entah apa yang terjadi dengan bocah itu, dengan hati-hati dia keluar rumah untuk mencari makan, dia hanya orang miskin yang tak mampu membeli stok perbekalan. Tetapi dia tidak pernah ketahuan, dan juga tidak tertular.
Aruna menghela nafas, dia hanya bisa berharap. Semoga Pengungsi yang sudah lewat Kota Yinzi tidak terkena wabah. Ya, itulah Wabah yang berasal dari bangkai manusia. Hal serupa juga pernah terjadi di hari kiamat, bangkai manusia dan bangkai Zombie di mana-mana, dan yang terjangkit wabah langsung dibakar hidup-hidup.
Aruna mengantar Anak kecil itu pulang, rumahnya berada di pinggiran Kota di dalam gang. Rumah kecil yang sudah reot, di dalam rumah tidak ada barang berharga, karena adik kecil itu memiliki seorang Kakak perempuan, maka Aruna memberi sembako untuk dijadikan stok. Setelah berterima kasih, Aruna dan Ozian pamit pulang.
Si bocah hanya mematung melihat ada banyak bahan makanan yang Aruna berikan, dia tidak sadar jika air matanya sudah menetes. Dia bergegas mengunci pintu, dan menunggu Kakaknya pulang yang juga sedang keluar mencari makan. Tapi dia menggerutu, karena lupa menanyakan nama Aruna. Tidak jadi masalah, wajah cantik Aruna terekam baik dalam otaknya.
...----------------...
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Kakek Ji dengan perasaan cemas dan sedih. Begitupun dengan yang lainnya, ternyata benar-benar ada wabah.
Aruna juga sedikit bingung, pasalnya para pengungsi sudah dalam keadaan linglung, tidak bisa diajak komunikasi. Bagaimana caranya dia melakukan pemeriksaan dan memberi mereka obat? Jika jumlah mereka sedikit tak jadi masalah, ini kurang lebih 500 orang. Dia juga tak yakin, apakah ada obat atau penawar dalam ruangnya.
Namun setelah dia ingat-ingat, memang tidak ada obat untuk wabah itu dalam ruangnya, dia harus membuatnya sendiri. "Kita harus membuat mereka sadar dulu, jika dibiarkan dengan kondisi seperti itu, mereka tidak bisa bertahan lama."
"Nak apa kamu bisa membuat obatnya?" Tanya Tabib Gu dengan penuh harap. Dia baru pertama kali melihat wabah penyakit itu, jadi dia tidak bisa berbuat apa, tapi juga tidak tega melihat kondisi mereka.
Aruna terdiam sejenak, bahkan Akupuntur tidak bisa membuat mereka sadar. Tiba-tiba dia teringat air spiritualnya, "Aku akan mencobanya, kalian tetap di sini, jangan mendekat ke sana!"
"Nak, berhati-hatilah!"
Aruna hanya mengangguk, lalu dia melompat ke atas pohon sampai di sebuah pohon besar tepat di atas tenda, dia mengeluarkan selang air yang memeliki alat penyemprot.
Byuuurrrr...
Suara air terdengar, para pengungsi yang merasakan air di tubuh mereka tiba-tiba mendongak dan spontan membuka mulut. Aruna membiarkan beberapa menit untuk melihat hasilnya.
Sambil menunggu, Aruna tetap menyemprotkan air kepada para pengungsi. Dan ternyata berhasil, satu persatu kesadaran mereka pulih, dan langsung berteriak.
"Aiiiiirrrr.."
"Air, air air,, ada air!"
"Minum, minum! Cepat ada air!"
Aruna terbang di atas mereka, untuk melihat pengungsi yang belum terkena air. Dan setelah beberapa menit dia berhenti, menurutnya sudah cukup.
Efek dari Air Spiritual bukan cuman membuat mereka sadar, tapi juga rasa sakit kepala dan gatal mulai mereda..
Seseorang dari mereka menyadari keberadaan Aruna segera berkata "Nona terima kasih atas airnya!" dia tetap berdiri di tempatnya, jangan sampai menular kepaa Aruna.
"Ya, bagaimana perasaan kalian?" tanya Aruna, sambil menatap orang yang ada di depannya.
"Setelah minum air tadi, kami merasa lebih baik. Gatalnya juga sudah mulai menghilang!" Balasnya dengan rasa syukur. Dia sempat berpikir tidak akan selamat dari penyakit menular itu.
"Hmm, tolong kumpulkan semua Kepala Desa! Oh, ada berapa Desa?" Aruna kembali bertanya.
"Nona di sini ada tujuh Desa, saya kepala Desa A. Kalau begitu Nona tunggu sebentar, saya akan memanggil mereka!" Orang tua itu seumur Kakek Ji, tapi tubuhnya sangat kurus, dan sekarang ada banya bentol bernanah di tubuhnya yang terlihat sangat mengerikan.
Aruna juga memanggil Kakek Ji dan beberapa orang lainnya untuk mendekat. Dia mengeluarkan banyak roti dan susu kotak untuk dibagikan. Tapi sebelum itu Aruna meminta mereka untuk mengganti pakaian yang sudah basah.
Yang telah berganti pakaian langsung antri untuk mendapatkan roti dan susu. Sudah lama sekali mereka tidak makan dengan baik, Susu? Punya air saja mereka sudah sangat bersyukur.
"Terima kasih Nona!"
"Terima kasih Tuan"
"Terima kasih, terima kasih!"
"Terima kasih!"
Ketujuh kepala Desa langsung bersujud sambil mengucapkan Terima kasih kepada Aruna dan yang lainnya. Segera Aruna meminta mereka untuk berdiri.
Aruna juga mengetahui jumlah mereka sudah berkurang banyak, ada yang meninggal di Tengah jalan, dan juga meninggal karena penyakit menular itu. Mereka hanya dikuburan di dalam hutan, itu lebih baik daripada dibiarkan saja menjadi bangkai.
Aruna berpamitan untuk membuat obat, dia sudah tidak khawatir meninggalkan mereka. Tak lupa dia meninggalkan Inti Kristal, di dalamnya ada banyak roti dan susu yang dikeluarkan setiap hari dari ruangnya.
Karena belajar beladiri, mereka juga sudah bisa menggunakan tenaga dalam. Dan Inti Kristal hanya bisa digunakan menggunakan tenaga dalam. Mereka sangat bahagia, karena mendapat kesempatan itu.
****
Aruna sudah berada di laboratoriumnya, dia membaca buku resep obat, Ternyata membuat penawarnya menggunakan banyak bahan, Aruna mengumpulkan satu persatu dan dia kekurangan dua bahan yang tidak ada dalam ruangnya.
"Ehh, dua bahan ini pernah aku petik di gunung!" dia sangat senang, karena tugasnya dipermudah.
Setelah bahan obat terkumpul, Aruna menakarnya sesuai yang ada di buku. Aruna memilih membuat pil, daripada ramuan obat yang direbus. Menurutnya, jika ramuan yang direbus sangat ribet.
Aruna tinggal di dalam ruangnya selama dua hari untuk membuat obat Pil, tapi di luar hanya beberapa menit. Dia membuat banyak Pil, karena dia sangat yakin, obat itu diminati banyak orang.
"Kayaknya sudah cukup!" gumamnya sambil melihat pil yang dia bungkus dalam plastik klip, ada 3 pil setiap bungkusnya. Sebelum keluar, dia makan dan mandi terlebih dahulu.
Aruna melihat pembagian roti baru saja selesai. Semuanya berjalan dengan lancar, tak ada yang berani berbuat rusuh karena orang-orang dari Desa Suning membawa pedang.
"Bagaimana, apa semua sudah kebagian?" tanya Aruna.
"Sudah, masih ada banyak sisa di dalamnya." kata Kakek Ji.
"Bagus, sekarang waktunya pembagian obat!" Aruna mengeluarkan obat di atas meja.
Kakek Ji dan yang lainnya sangat bahagia melihatnya. "Nak, kamu berhasil?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca, akhirnya mereka akan selamat.
"Aruna kamu sangat hebat!"
"Belum bisa dikatakan berhasil, kita akan mengetahuinya setelah mereka meminumnya." jelas Aruna.
Kakek Ji dan lainnya langsung terdiam, benar juga, mereka harus meminumnya terlebih dahulu, tapi maukah mereka meminumnya? Mereka semua hanya orang asing yang kebetulan bertemu.
Tabib Gu yang tidak ingin menyia-nyiakan kerja keras Aruna langsung berkata kepada ketujuh Kepala Desa. "Tuan perkenalkan, saya seorang Tabib, dan dia Cucuku yang juga seorang Tabib. Melihat kondisi kalian, Cucuku berusaha meracik obat penawar untuk penyakit kalian. Jika kalian percaya dan menginginkannya, maka kalian boleh mengambilnya, tapi jika tidak ingin juga tidak masalah."
Mendengar status Aruna yang seorang Tabib membuat mereka kagum, pantas saja, hanya dengan meminum air gatal yang sudah berhari-hari langsung sembuh begitu saja, dan juga Aruna sangat dermawan.
Salah satu Kepala Desa bertanya. "Obat? Kami sudah tidak gatal lagi. Bentol nanah ini butuh beberapa hari akan mengering sendiri. Jadi tak perlu minum obat."
Para kepala Desa saling tatap, mereka merasa tidak yakin, tapi jika harus minum obat mereka tidak sanggup untuk membelinya, tabungan mereka tidak akan cukup, Uang itu habis untuk masuk di Kota Lawa.
"Itu hanya sementara, besok akan muncul bentol yang baru. Untuk menghentikan bentol tidak muncul lagi, kalian harus minum Obat ini. Tenang saja, kalian tak perlu membelinya, aku memberikan secara percuma!" Ujar Aruna.
"Benarkah?" Semua Kepala Desa bertanya dengan serempak. Kenapa ada orang sebaik ini, dari mana datangnya nona cantik ini? sungguh baik hati.
"Ya, satu orang dapat 3 pil, diminum 1 pil perhari. Ini silahkan ambil, Jangan memaksa mereka yang tidak ingin, aku hanya membantu bagi yang mau saja!"
"Ambil, ambil.."
"Ya, ya! Ini buatan Tabib, mana mungkin kami menolaknya."
"Aku akan memukul mereka yang tidak patuh, mendapat obat gratis itu berkah untuk kita!"
"Ya, aku juga!"
"Terima Kasih Nona Tabib!" serunya dengan bahagia, mereka hanya menunduk, karena mereka sudah ditegur diawal tadi.
Aruna hanya mengangguk, dan meminta mereka untuk segera mengambil dan membagikan kepada setiap warga mereka masing-masing.
Dengan senang hati mereka mengambilnya dan membagikan kepada para pengungsi, mereka juga langsung meminumnya dengan air yang sudah Aruna sediakan. Apa yang Tabib Gu takutkan tidak terjadi, karena semua minumnya dengan senang hati, menurut mereka Aruna adalah sosok Dewi yang turun dari langit.
***
Tiga hari berlalu, kondisi mereka sudah bisa dikatakan sangat baik. Semenjak minum pil, bentol nanah langsung meletus dan akhirnya mengering.
Aruna masih tetap memberikan mereka ramuan obat yang direbus, kali ini mereka merebusnya sendiri karena kondisi tubuh sudah lebih baik. Dalam tiga hari itu, Aruna juga memberi mereka kebutuhan dapur.
Baju yang sudah terkena penyakit langsung dibakar, dan seluruh area itu dilakukan bersih-bersih.
lanjut thorr💪💪💪