Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
"Iya, Pa. Aku baru sampai… iya, sebentar lagi.”
Nadia menangkap satu kata itu. Pah. Entah kenapa dadanya terasa makin sesak.
Laki-laki itu menutup telepon, lalu menatap Nadia lagi."Kamu tahu siapa aku?"tanyanya datar.
Nadia menggeleng pelan.
"Aku Zane,” katanya singkat. “Zane Pradikta.”
Nama itu seperti petir yang menyambar. Nadia memang tak hidup di dunia para konglomerat, tapi nama Pradikta bukanlah nama asing...keluarga besar yang sering muncul di berita, penuh kekuasaan dan kontroversi.
“Putra tunggal Arya Pradikta,” tambah Zane, seolah sengaja menegaskan posisinya.
Nadia menelan ludah."Saya… saya benar-benar minta maaf," ucapnya lagi, kali ini suaranya semakin pelan.
Zane memandangnya lama, sejenak matanya menyipit...bukan sekadar marah, tapi seperti sedang menilai.
“Kita nggak selesai sampai di sini,” katanya akhirnya. “Aku akan hubungi orangku. Kamu ikut.”
Nadia terdiam. Ada dorongan untuk menolak, untuk lari, tapi kakinya terasa berat. Ia hanya bisa mengangguk kecil, tak menyadari bahwa langkah kecil itu adalah awal dari jerat yang jauh lebih besar.
Saat Nadia menaikkan kembali motornya, ia tak tahu bahwa tabrakan kecil barusan bukan sekadar kecelakaan di jalan. Itu adalah pintu masuk...ke dalam keluarga Pradikta, ke pusaran konflik, rahasia, dan bahaya yang perlahan akan menyeret hidupnya semakin dalam. Dan tanpa ia sadari, nama Pradikta yang selama ini hanya ia dengar dari berita… kini akan menjadi bagian dari takdirnya sendiri.
**********
Udara di dalam ruangan itu terasa dingin, berbanding terbalik dengan perasaan Nadia yang kian tertekan. Ia duduk di kursi depan meja kaca besar, jemarinya saling menggenggam erat di atas pangkuan. Di seberangnya, Zane berdiri santai dengan kedua tangan bersedekap, wajahnya datar namun penuh tekanan.
“Total kerugiannya seratus lima puluh juta,” ucap Zane tanpa ekspresi, seolah sedang menyebutkan angka receh.
Nadia membeku."Se… seratus lima puluh juta?"suaranya nyaris tak terdengar.
“Iya,” jawab Zane dingin. “Bumper, sensor, cat ulang. Mobil itu nggak bisa diperlakukan sembarangan.”
Nadia menelan ludah, dadanya sesak. Dengan tangan gemetar ia mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi perbank-an. Angka yang tertera membuat matanya memanas.
“Tabungan saya cuma lima juta,” katanya jujur, nyaris berbisik. “Itu pun hasil kerja saya selama ini.”
Zane mendengus kecil."Bukan urusanku,” katanya datar. “Kamu yang nabrak, kamu yang harus bertanggung jawab.”
“Tapi jumlah itu…” Nadia mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca. “Saya nggak sanggup, Pak.”
Zane melangkah mendekat, menumpukan kedua tangannya di meja.
“Kamu punya waktu tiga hari,” katanya tegas. “Atau kita lanjutkan secara hukum.”
Nadia terdiam. Kepalanya dipenuhi nama-nama yang berputar...Tita, Mbak Dian. Ia tahu mereka mungkin akan membantu. Tapi bayangan harus menjelaskan semuanya, harus merepotkan mereka karena kesalahannya sendiri, membuat hatinya semakin perih.
“Aku nggak mau jadi beban,” batinnya.
Ia menunduk, bahunya bergetar pelan.
Zane memperhatikannya beberapa detik, lalu menarik napas panjang."Kalau kamu nggak punya uang,” ucapnya akhirnya, nadanya sedikit berubah, “ada cara lain.”
Nadia mengangkat kepala dengan cepat.
“Cara apa?”
Zane berdiri tegak."Kamu kerja untukku.”
Nadia tertegun."Kerja… maksud Bapak?”
“Jadi asisten pesuruhku di kantor,” jawab Zane tenang. “Ngurus jadwal, dokumen kecil, keperluan pribadi. Gajimu akan aku potong setiap bulan sampai kerugian itu lunas.”
Nadia membelalakkan mata."Di… di kantor?”
“Kantor ayahku,” jawab Zane tanpa ragu. “Perusahaan Pradikta.”
Nama itu kembali menghantam Nadia, kali ini lebih keras."Kalau begitu saya harus berhenti kerja antar makanan,” gumamnya.
“Ya,” sahut Zane singkat. “Pilihannya itu, atau tuntutan hukum.”
Nadia terdiam lama. Kepalanya terasa pening. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan diri. Pekerjaan yang selama ini menjadi sandarannya harus ia lepaskan, diganti dengan dunia asing penuh orang-orang berkuasa seperti keluarga Pradikta.
Perlahan, Nadia membuka matanya kembali dan menatap Zane.
“Kalau saya setuju,” ucapnya pelan, “kapan saya harus mulai?”
“Besok,” jawab Zane cepat. “Datang jam delapan pagi. Jangan terlambat.”
Nadia mengangguk kecil. Tak ada pilihan lain.
"Kau bisa main komputer, kan?"tanyanya singkat.
Nadia mengangguk ragu. "Bisa... sedikit."
"Cukup," potong Zane. "Atau mengurus keperluanku, jadwal kerja, pakain dan lain-lain." Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada datar yang terkesan meremehkan. Tak usah belaga seperti karyawan kantor."
Nadia menegang.
"Kai bekerja sebagai pesuruhku," lanjut Zane tanpa basa-basi. Kalau aku butuh sesuatu, kau yang mengurus. Apa pun itu, selama masih urusan kantor."
Nadia mengepalkan jarinya di bawah meja. Ada perasaan terhina yang merayap, tapi ia menahannya rapat-rapat. "Saya mengerti," jawabnya pelan.
Zane mengangguk puas. "Bagus. Jangan banyak tanya. Datang, kerjakan, pulang. Kita sama-sama di untungkan."
Nadia menunduk dalam diam. Ia menyadari satu hal pahit... posisinya bukan sekedar pegawai, melainkan seseorang yang terikat oleh keadaan.
**********
Pagi itu udara terasa lebih berat dari biasanya bagi Nadia. Ia berdiri di depan gedung tinggi bertuliskan PRADIKTA GROUP – CABANG SATU, jemarinya menggenggam tali tas sederhana yang sudah sedikit pudar warnanya. Gedung megah itu menjulang angkuh, seolah menegaskan betapa kecil dirinya di hadapan dunia yang akan ia masuki.
Nadia menarik napas dalam.
Hari ini adalah hari pertamanya bekerja...bukan sebagai pegawai biasa, melainkan sebagai asisten pesuruh Zane Pradikta. Laki-laki yang kemarin dengan dingin memaksanya masuk ke hidup keluarga Pradikta.
Ia menunduk sejenak, memperhatikan penampilannya sendiri. Dress selutut berwarna krem yang sudah lama ia simpan, rambutnya ia kuncir asal karena tak sempat merapikan lebih lama, wajahnya hanya diberi bedak tipis dan sedikit lip balm. Sederhana. Terlalu sederhana untuk tempat semewah ini.
Namun Nadia tetap melangkah masuk.
Zane sudah berada di ruangannya. Duduk di kursi empuk di balik meja besar, mengenakan setelan rapi dengan jam mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. Aura angkuh itu langsung terasa saat matanya menatap Nadia dari ujung kepala hingga kaki.
Ia mengernyit,"Itu… pakaian kerjamu?” tanyanya datar, nyaris tak percaya.
Nadia berhenti di depan meja.
“Iya,” jawabnya pelan. “Ini yang saya punya.”
Zane mendengus, bangkit dari duduknya lalu berjalan memutari Nadia perlahan, seperti sedang menilai barang cacat.
“Kamu bercanda?” ucapnya sinis. “Datang ke kantor Pradikta dengan penampilan seperti ini?”
Nadia menunduk."Saya minta maaf kalau—”
“Bukan soal minta maaf,” potong Zane tajam. “Penampilanmu buruk. Sangat buruk.”
Kata-kata itu menghantam telak.
“Kamu perempuan,” lanjut Zane tanpa rasa bersalah. “Dan bahkan pesuruh pun harus terlihat pantas. Ini bukan warung makan tempat kamu biasa mondar-mandir antar pesanan.”
Pipi Nadia memanas. Tangannya mengepal, tapi ia memilih diam.
Zane mengambil ponsel dan kunci mobilnya.“Ayo.”
Nadia mengangkat wajahnya terkejut.
“Ke mana, Pak?”
“Mall,” jawab Zane singkat.
“Apa?” Nadia spontan menggeleng. “Tidak perlu. Saya tidak minta—”
“Aku yang butuh,” potong Zane dingin. “Aku tidak mau asisten pesuruhku terlihat memalukan.”
Nadia menelan ludah.“Tapi saya nggak punya uang,” katanya jujur. “Dan saya nggak enak—”
Zane berhenti melangkah, menoleh tajam.“Dengarkan,” ucapnya tegas. “Aku tidak peduli kamu asisten, pesuruh, atau apa pun sebutannya. Di tempatku, penampilan nomor satu. Terutama bagi perempuan.”
Nadia terdiam.
“Aku tidak mau orang-orang berpikir aku tidak punya standar,” lanjut Zane. “Anggap saja ini investasi. Kamu pakai, kamu kerja dengan layak, hutangmu tetap berjalan.”
Nadia menghela napas pelan. Tak ada ruang untuk menolak.“Baik,” ucapnya akhirnya.
Zane kembali melangkah tanpa menunggu, yakin gadis itu akan mengikutinya.
Saat Nadia berjalan di belakangnya, dadanya terasa sesak. Hari pertamanya bekerja bukan hanya tentang tugas dan tanggung jawab...melainkan tentang harga diri yang perlahan diuji.
Dan ia mulai sadar, bekerjla untuk Zane Pradikta bukan sekadar melelahkan secara fisik, tapi juga menggerus batin.
Namun ia tak punya pilihan.
Karena sejak langkahnya memasuki gedung Oradikta pagi itu, hidup Nadia tak lagi sepnuhnya miliknya sendiri.
bersambung....