Sifa (18 tahun) hanyalah gadis lulusan SMA yang 'kasat mata'. Di dunia yang memuja kekayaan dan penampilan, Sifa yang miskin, culun, dan polos adalah target empuk. Hidupnya adalah serangkaian kesialan: di-bully habis-habisan oleh duo sosialita kejam Rana dan Rani sejak sekolah, dikucilkan tanpa teman, dan harus bekerja serabutan demi ibunya. Tak ada yang spesial dari Sifa, kecuali hatinya yang seluas samudra.
Hingga suatu sore di taman kota, takdir melempar sebuah jam tangan butut ke pangkuannya.
Siapa sangka, benda rongsokan itu adalah "Chrono", asisten AI super canggih dari masa depan yang bisa melakukan apa saja—mulai dari memanipulasi data, mengubah penampilan, hingga meretas sistem perusahaan elit NVT tempat Sifa bekerja sebagai staf rendahan!
Dengan bantuan jam ajaib yang sarkas dan kocak itu, Sifa mulai membalas dendam pada Rana dan Rani dengan cara yang elegan. Namun, kekacauan dimulai saat Adi, CEO NVT yang tampan namun dingin, mulai menaruh curiga... sekaligus menaruh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hafidz Irawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunga Melati di Hutan Beton
Grand Ballroom Hotel Indonesia Kempinski malam itu telah berubah menjadi lautan emas dan kristal. Langit-langit ruangan yang tinggi dihiasi ribuan lampu gantung yang berpendar seperti bintang-bintang yang ditangkap paksa. Lantai karpet tebal meredam suara langkah kaki ratusan tamu elit yang hadir dengan balutan busana termahal mereka.
Aroma di ruangan itu adalah campuran yang memusingkan: parfum Chanel No. 5, bau amis kaviar mahal, dan aroma uang yang tak kasat mata.
Di tengah kerumunan itu, Adi Pratama berdiri memegang gelas mocktail dengan bosan. Dia mengenakan tuksedo hitam Biyan yang dipotong sempurna mengikuti tubuh tegapnya, membuatnya terlihat seperti pangeran modern yang baru turun dari singgasana. Tapi matanya... matanya kosong.
"Mas Adi, coba lihat deh dekorasinya, bagus ya?" celoteh Clara, wanita pilihan ibunya yang sejak tadi menempel di lengan Adi seperti lintah berbalut gaun sequin perak.
Adi hanya mengangguk sopan. "Iya. Bagus."
Matanya menyapu ruangan, mencari sesuatu. Atau seseorang. Sejak tadi dia berharap melihat sosok gadis berkacamata lakban itu. Bodoh memang. Mana mungkin anak magang berani datang ke pesta sekelas ini? Dan kalaupun datang, dia pasti tenggelam di pojokan.
Di sudut lain, Rana dan Rani berdiri memegang wine, mata mereka berkilat-kilat mengawasi pintu masuk utama. Rana terlihat mencolok dengan gaun merah darahnya yang terbuka, sementara Rani dengan gaun peraknya sibuk mengunyah canapé sambil memperbaiki letak bulu mata palsunya.
"Mana dia? Belum dateng juga," desis Rana tidak sabar. "Jangan-jangan dia keder terus balik kanan."
"Sabar, Kak. Tikus biasanya keluarnya diem-diem," sahut Rani.
Tepat saat jarum jam menyentuh angka delapan malam, pintu mahoni raksasa di ujung ballroom terbuka perlahan.
Biasanya, kedatangan tamu tidak akan menghentikan obrolan. Tapi kali ini berbeda.
Ada aura yang masuk bersamaan dengan terbukanya pintu itu. Bukan aura kemewahan yang menyilaukan, tapi aura ketenangan yang magis.
Satu per satu kepala mulai menoleh. Suara obrolan yang berdengung seperti lebah, perlahan surut. Senyap. Hening merayap dari pintu depan hingga ke panggung utama.
Di sana, di ambang pintu, berdiri Sifa.
Dia tidak mengenakan gaun malam berekor panjang yang menyapu lantai. Dia tidak memamerkan bahu atau belahan dada. Dia mengenakan kebaya.
Kebaya encim putih tulang warisan ibunya membalut tubuh rampingnya dengan sopan namun memikat. Kain brokat tua itu memantulkan cahaya lampu gantung dengan lembut, tidak menyilaukan mata, tapi menyejukkan. Kain batik tulis cokelat tua melilit pinggang dan kakinya, membentuk siluet wanita Indonesia yang anggun dan bersahaja.
Rambutnya disanggul rapi di belakang tengkuk, dihiasi untaian bunga melati asli yang masih segar. Tidak ada perhiasan berlian yang mentereng. Hanya sepasang anting mutiara kecil (imitasi, tapi terlihat asli) di telinganya.
Wajahnya... wajah itu bukan lagi wajah Sifa si upik abu. Riasan natural hasil panduan Chrono membuat fitur wajahnya yang lembut menonjol. Matanya yang jernih, hidungnya yang mungil, dan senyum tipis yang ragu-ragu namun manis.
Dia terlihat seperti bunga melati yang tumbuh mekar sendirian di tengah hutan beton yang angkuh.
"Chin up, Nona. Dagu naik dikit," bisik suara Chrono di earpiece tulang pipi Sifa (fitur baru yang diaktifkan agar Sifa tidak perlu melihat jam terus). "Deteksi kerumunan: 500 orang. Status reaksi mereka: Terpana. Lo berhasil membungkam mulut-mulut sombong itu tanpa ngomong sepatah kata pun."
Sifa menelan ludah, jantungnya berdegup kencang seperti drum band. Kakinya yang mengenakan heels terasa goyah. Semua orang menatapnya. Dia takut ada yang tertawa. Dia takut ada yang berteriak "Kampungan!".
Tapi tidak ada.
Yang ada hanyalah tatapan kagum. Di tengah lautan gaun modern yang seragam dan membosankan, Sifa adalah anomali yang indah. Dia membawa nostalgia. Dia membawa identitas.
Adi, yang sedang mendengarkan ocehan Clara tentang liburannya ke Maldives, tiba-tiba terdiam. Gelas di tangannya nyaris terlepas.
Matanya terkunci pada sosok berbaju putih di pintu masuk.
"Itu... Sifa?" bisiknya tak percaya.
Dia tidak pernah melihat Sifa tanpa kacamata tebalnya. Dia tidak pernah melihat Sifa seanggun ini. Gadis yang kemarin makan cimol di lift, kini bertransformasi menjadi srikandi yang memukau. Ada desiran hangat yang aneh menjalar di dada Adi. Desiran yang belum pernah dia rasakan pada wanita manapun, termasuk Clara yang berdiri di sebelahnya.
Tanpa sadar, Adi melepaskan tangan Clara dari lengannya.
"Mas Adi? Mau ke mana?" tanya Clara bingung.
Adi tidak menjawab. Kakinya bergerak sendiri, membelah kerumunan, berjalan lurus menuju Sifa seolah ditarik magnet raksasa.
Di sisi lain ruangan, rahang Rana jatuh ke lantai. Gelas wine-nya miring, menumpahkan isinya sedikit ke karpet, tapi dia tidak peduli.
"Apa-apaan itu?!" desis Rana, matanya nyaris keluar. "Kenapa dia pake kebaya?! Kenapa dia nggak pake baju gembel?!"
"Kak... dia... dia cantik banget," gumam Rani jujur, sebelum sadar dan buru-buru meralat, "Maksud gue, cantik kayak dukun! Liat tuh, pake melati segala. Pasti pake susuk!"
"Sialan!" umpat Rana. "Liat Mas Adi! Dia nyamperin Sifa! Rencana kita bisa berantakan kalau Sifa jadi pusat perhatian positif!"
Rana meremas clutch bag-nya yang berisi kalung curian. "Kita harus gerak cepet, Ran. Jangan biarkan mereka ngobrol lama."
Kembali ke pintu masuk. Sifa masih berdiri kaku, bingung harus melangkah ke mana. Tiba-tiba, kerumunan di depannya terbelah. Sosok tegap dengan tuksedo hitam berjalan mendekat.
Adi.
Napas Sifa tercekat. Mas Adi malam ini terlihat seribu kali lebih tampan dari biasanya. Aura kekuasaannya begitu kuat, tapi tatapan matanya... lembut.
Adi berhenti tepat satu meter di depan Sifa. Wangi parfum mahalnya bercampur dengan wangi melati dari rambut Sifa, menciptakan harmoni aroma yang memabukkan.
"Sifa?" sapa Adi pelan, suaranya terdengar takjub.
"S-selamat malam, Pak Adi," jawab Sifa gugup, menunduk sedikit memberi hormat.
"Jangan panggil Pak di sini. Panggil Mas Adi saja," koreksi Adi sambil tersenyum. Senyum yang membuat beberapa wanita di sekitar mereka menahan napas iri. "Kamu... kamu terlihat luar biasa malam ini."
Pipi Sifa merona merah, menembus lapisan bedaknya. "Te-terima kasih, Mas. Saya... saya cuma pake baju lama Ibu. Maaf kalau salah kostum. Semuanya pake gaun internasional."
"Justru itu yang bikin kamu istimewa," kata Adi tulus. Dia menatap Sifa lekat-lekat. "Di saat semua orang berusaha jadi orang lain, kamu berani jadi diri sendiri. Saya suka kebaya kamu. Mengingatkan saya pada... rumah."
"Skor gombalan: 9/10," komentar Chrono di telinga Sifa. "Dia beneran terpesona, Fa. Pupil matanya melebar 20 persen. Hormon oksitosinnya naik. Sikat terus!"
Sifa tersenyum malu. "Terima kasih undangannya, Mas. Saya kaget dapet undangan VIP."
Dahi Adi berkerut sedikit. "Undangan? Oh... iya. Sama-sama."
Adi sebenarnya bingung. Dia tidak merasa mengirim undangan VIP. Dia hanya minta data Sifa ke sekretarisnya. Tapi melihat binar bahagia di mata Sifa, dia memutuskan untuk tidak merusak momen itu. Mungkin sekretarisnya yang inisiatif? Nanti saja dipikirkan.
"Mau berdansa?" tawar Adi, mengulurkan tangannya yang besar dan kokoh.
Sifa membelalak. Berdansa? Dengan CEO? Di depan semua orang?
"Terima tangannya, bodoh! Ini momen Cinderella lo!" teriak Chrono.
Baru saja tangan Sifa terangkat ragu-ragu untuk menyambut uluran tangan Adi, sebuah suara melengking merusak suasana.
"Mas Adi! Ya ampun, di sini ternyata!"
Rana muncul tiba-tiba entah dari mana, langsung menyelip di antara Adi dan Sifa. Dia tersenyum lebar—senyum plastik—pada Adi, lalu menoleh ke Sifa dengan tatapan menilai yang merendahkan.
"Eh, ada Sifa juga?" sapa Rana dengan nada yang dibuat-buat ramah, tapi matanya dingin seperti es. "Wah, unik banget bajunya. Tema hari pahlawan ya? Atau mau ikut lomba kartinian?"
Beberapa tamu di sekitar tertawa kecil mendengar sindiran itu.
Sifa merasakan kepercayaan dirinya sedikit goyah. Tapi kemudian Chrono bersuara.
"Jangan mundur. Lo bukan Sifa yang dulu. Balas dengan elegan."
Sifa menegakkan punggungnya. Dia menatap mata Rana lurus-lurus. "Malam, Rana. Bukan tema kartinian kok. Ini cuma wujud cinta budaya aja. Sayang kan kalau budaya sendiri dilupain cuma demi ikut-ikutan tren barat?"
Skakmat.
Senyum Rana berkedut. Sindiran halus Sifa tepat sasaran, mengingat Rana memakai gaun Versace yang sangat kebarat-baratan.
Adi menahan senyum geli. Dia menatap Sifa dengan kekaguman baru. Gadis ini bukan cuma manis, tapi juga cerdas.
"Benar kata Sifa," Adi menimpali, membela Sifa secara halus. "Nasionalisme itu elegan, Rana. Kamu juga cantik kok, tapi Sifa malam ini memang... berbeda."
Wajah Rana memerah padam menahan amarah dan malu. Dia kalah satu poin di depan Adi. Tangannya yang memegang clutch bag gemetar.
"Ah, iya dong, Mas," Rana tertawa paksa, suaranya terdengar sumbang. "Oh ya, Sifa. Maaf ya ganggu sebentar. Mas Adi dipanggil Papa di meja VIP sana. Katanya ada hal penting soal investor."
Adi menghela napas, wajahnya kembali terlihat lelah. "Sekarang?"
"Iya, urgent banget katanya," bohong Rana.
Adi menatap Sifa dengan menyesal. "Maaf, Sifa. Tugas memanggil. Nanti saya cari kamu lagi ya pas dansa utama. Simpan satu lagu buat saya."
Sifa mengangguk, jantungnya masih berdebar kencang. "Iya, Mas. Silakan."
Adi pergi dengan enggan, diikuti tatapan memuja Sifa. Begitu punggung Adi menjauh, senyum Rana langsung lenyap seketika, berganti seringai jahat.
Dia melangkah mendekat ke arah Sifa, mengikis jarak hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa sentimeter. Bau parfum Rana yang menyengat menabrak bau melati Sifa.
"Jangan seneng dulu, upik abu," bisik Rana tajam, suaranya berbisa. "Lo pikir lo siapa? Lo cuma mainan barunya Mas Adi. Nanti juga dibuang kalau dia udah bosen sama bau kampung lo."
Sifa tidak bergeming. Dia merasakan getaran hangat dari Chrono di pergelangan tangannya, memberinya keberanian.
"Mungkin aku kampung, Rana," jawab Sifa tenang. "Tapi setidaknya aku nggak perlu jadi palsu buat diperhatiin orang."
Rana mendengus kasar. "Mulut lo makin berani ya. Oke. Nikmati pesta ini selagi bisa, Sifa. Karena sebentar lagi... lo bakal berharap lo nggak pernah dilahirin."
Rana berbalik, memberi kode mata pada Rani yang sudah menunggu di dekat meja prasmanan.
"Peringatan: Pola pergerakan musuh terdeteksi," lapor Chrono waspada. "Rana bergerak ke arah kiri lo, Rani bergerak ke arah kanan. Mereka mau melakukan manuver 'Pincer Movement' (Jepit Kepiting). Waspada sama tas lo, Fa. Kunci ritsletingnya."
Sifa meraba tas selempang kecil yang dia pinjam dari tetangga. Tas itu sederhana, tidak ada kuncinya.
"Aku siap, Chrono," bisik Sifa. "Mereka mau main api? Ayo kita bakar."
Sifa berjalan menuju meja minuman, pura-pura tidak sadar sedang dikepung. Di sekelilingnya, musik orkestra mulai mengalun lembut, menyamarkan ketegangan yang mulai memuncak.
Malam ini, di bawah lampu kristal yang megah, perang sebenarnya baru saja dimulai. Dan Sifa, dengan kebaya putihnya, berdiri di tengah badai dengan senyum misterius.
semangat kakak