Apa jadinya jika air ketuban pecah di malam kencan pertamamu?
Panik dan syok, itulah yang dirasakan Maggie saat menjalani kencan pertamanya dengan Kael, seorang miliarder tampan dan karismatik.
Kencan romantis itu mendadak berubah kacau ketika air ketubannya pecah di tengah acara makan malam.
Alih-alih ikut panik, Kael justru sigap mengangkat Maggie dan membawanya ke limusin mewahnya untuk segera menuju rumah sakit.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apartemen Maggie
Hidup Kael selalu diisi dengan bandara, mobil, dan ruang konferensi. Dia sudah terbiasa dengan rutinitas itu. Berpindah dari satu benua ke benua lain, digiring dari satu ruang rapat ke ruang rapat berikutnya. Tapi belakangan ini semua itu mulai terasa berat.
Dia tidak yakin apakah karena menyaksikan kelahiran Maggie, atau karena datang ke pesta ulang tahun Sierra yang kelima, atau memang karena sudah waktunya. Namun hidup Kael yang seperti itu rasanya membosankan.
Pagi ini dia menghabiskan waktunya di ruang rapat yang kelabu, berusaha tetap tenang menghadapi pendiri perusahaan yang bangkrut. Kael menerima kritikan karena dia membeli mayoritas saham.
Tidak masalah.
Kalau dia tidak melakukannya, perusahaan itu sudah dilikuidasi dalam waktu kurang dari setahun.
Semua orang selalu ingin punya kambing hitam saat pekerjaan mereka tidak berjalan dengan semestinya.
Ketika pekerjaannya hari ini berakhir, dia menyingkirkan semua itu dari pikirannya.
Seorang petugas membuka pintu suite-nya dan seorang kurir mendorong troli berisi koper-kopernya.
Kael membawa lebih banyak barang dari biasanya karena bagian perjalanan ini akan berlangsung cukup lama. Pernikahan Haikal Adiputra tinggal empat hari lagi. Mereka sudah menjadwalkan rapat sebelum itu, meskipun besok seharusnya menjadi hari dinasnya yang terakhir.
Dia diundang untuk menghadiri jamuan makan malam, serta sebuah acara kecil yang bersifat tertutup.
Seperti biasa, setiap kali tiba di tempat baru, dia mengambil foto singkat dirinya dengan latar pemandangan dari jendela terbuka di belakangnya, lalu mengirimkannya ke Maggie.
Meski sudah satu setengah bulan tidak bertemu, perempuan itu sudah menjadi bagian dari rutinitasnya. Dia juga mulai memahami jadwal Maggie.
Perempuan itu biasanya mengirim pesan saat bayinya tidur siang di pagi hari dan membalas lagi sekitar pukul dua dini hari, saat bayi terbangun untuk menyusu.
Maggie bilang dia sudah mulai menyesuaikan diri dan merasa cukup tidur. Kael memang tidak terlalu paham soal bayi atau jadwal mereka, tapi menarik, melihat bagaimana balasan Maggie yang dulu random sekarang jadi lebih tertata dan teratur. Dan Kael menganggap itu tanda semuanya baik-baik saja.
Maggie sering mengirimkan foto bayi itu, tapi hanya beberapa foto dirinya sendiri. Dia biasanya membayangkan Maggie seperti yang dia ingat pada malam mereka makan malam bersama dan seperti keadaannya tak lama setelah bayi itu lahir.
Tentu saja, dia masih menyimpan gambar pertama yang bercahaya itu, foto Maggie bersama bayi yang baru lahir, yang dia ambil saat mereka sendirian hari itu.
Sering kali dia membuka dan menatap foto itu. Rambut Maggie terikat ke belakang, di bagian yang dulu dia rapikan dengan tangannya sendiri. Wajahnya tampak damai.
Balasan dari Maggie masuk saat dia bersiap-siap untuk perjalanan keesokan paginya.
Apartemen Maggie terasa tenang tanpa Jennie. Kakaknya baru akan mendarat di Jogjakarta beberapa jam lagi. Maggie sama sekali tidak cemburu.
Kael cepat-cepat menyelesaikan cukur janggutnya supaya bisa membalas sebelum mobil datang menjemputnya. Dia menulis bahwa dia berharap Maggie bisa datang ke pesta pernikahan keluarga Adiputra. Acara besar.
Tapi Maggie tidak bisa meninggalkan Biann. Penerbangannya terlalu panjang.
"Semua orang pasti akan membunuh bayi ini kalau dia menangis," balas Maggie.
Tangan Kael terhenti saat dia membenarkan dasinya di depan cermin. HPnya tergeletak di meja kamar mandi.
Sebuah ide mulai muncul. Lalu dia mengajukan pertanyaan yang sejak tadi ada di kepalanya. "Yang jadi masalah itu karena penerbangannya terlalu banyak orang, kah?"
Deretan titik muncul, "Aku cuma perlu menyusuinya atau kasih botol. Tapi bayinya masih terlalu kecil untuk berada di dekat semua kuman-kuman itu."
Apakah acara-acara itu benar-benar mengharuskan Maggie hadir?
Pesan kedua muncul. "Mobilnya sudah siap di bawah, Tuan."
Dia mengambil HPnya dan meraih jas dari gantungan, dan berlalu melewati ruang tamu suite.
Namun, bahkan saat sopir membawanya ke gedung itu, pikirannya terus berputar.
Apa ada cara lain untuk membawa Maggie ke sana?
Dia sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi.
Dia duduk di dalam limusin selama lima menit di jalan depan kompleks apartemen Maggie, sebelum akhirnya mengumpulkan keberanian untuk memberi tahu bahwa dia sudah di sana.
Sopir ini lebih profesional dibanding yang sebelumnya, menatap lurus ke depan dan tidak bertanya apa pun tentang alasan mereka berhenti di jalan.
Dia berusaha mengingat bahwa dia terbang dari Italia ke Jakarta, hanya demi satu persetujuan dari Maggie. Tapi kalau Maggie menolaknya, kalau rencananya benar-benar meleset, tidak apa-apa. Mereka bisa kembali ke hubungan backstreet seperti sebelumnya.
Tapi dia harus mencoba.
Secara etika, seharusnya Kael memberi tahu dulu perempuannya bahwa dia akan datang. Tapi ini bukan permintaan biasa. Kalau Kael memintanya lewat telepon, perempuan seperti Maggie pasti akan menolaknya. Maka dia harus menemuinya langsung.
Karena itu Kael mengambil risiko besar dengan terbang ke Jakarta. Dia harus berada tepat di depan Maggie saat mengajukan permintaan ini.
Kael menggulir kembali percakapan mereka. Pesan terakhir dari Maggie masuk saat dia masih di pesawat. Kali ini sebuah foto, Maggie berpakaian rapi sambil menggendong Biann dengan kain gendongan. Dia mengenakan kaus Sweety Spring. Dia bisa mengenalinya dari logo di dekat kepala Biann.
Maggie bilang dia sedang menghabiskan waktu di Toko.
Itu terjadi empat jam lalu, dan toko itu tutup sekitar setengah jam sebelum dia mendarat.
Kael mengirim pesan.
"Lihat bocah ini, sudah jadi endorse toko kamu!"
Tiga titik langsung muncul. Itu pertanda bagus.
Kael keluar dari limusin dan menutup pintu, lalu bersandar pada mobilnya. Setelah itu dia menelepon.
Maggie tidak langsung menjawab, dan tiba-tiba Kael khawatir Maggie sedang kerepotan. Mungkin sedang mengganti popok. Atau menyusui.
Tapi dia sudah terlanjur, jadi dia menunggu.
Panggilan malah masuk ke tinggalkan pesan suara.
Apa yang harus dia lakukan sekarang?
Apa yang harus dia katakan?
Dia tidak punya waktu untuk berpikir. Dia langsung bicara.
"Maggie. Ini Kael. Aku cuma mau menelepon sebentar buat mengucapkan selamat karena kamu kembali ke Toko."
Oke. Itu lumayan.
"Tapi aku bisa kirim pesan ke kamu," tambahnya.
Tepat saat dia hendak menutup panggilan, nada telepon lain berbunyi. Maggie menelepon balik di tengah pesan suaranya. Dia memutus sambungan dan beralih ke panggilan baru.
"Maggie!"
"Kael! Kamu nelepon?"
Dia tertawa. "Oh iya ada urusan bisnis."
"Aku tadi lagi nelepon nenek," katanya sambil tertawa.
"Begini, aku punya tawaran."
"Oke?"
"Kamu bisa lihat Oakwood Street dari apartemen mu?"
"Apa?"
"Oakwood Street. Jalan di depan kompleks apartemenmu. Kamu bisa lihat jalannya dari tempat kamu berdiri?"
"Bisa, kalau aku ke kamar Jennie." Nadanya terdengar curiga.
"Ya udah, ke kamar Jennie sekarang."
Hening sejenak, lalu terdengar suara gesekan, disusul tarikan napas dalam. "Itu limusin kamu?"
"Sewaan ... tapi iya. Itu punyaku."
"Itu kamu?"
...𓂃✍︎...
...Kalau ingin hidup sesuka hatimu, maka biarkanlah orang lain hidup sesuka hatinya juga....
...────୨ৎ────...
tapi aku gk naik limosin aku naik mobil trios mobil keluarga yg sederhana .