NovelToon NovelToon
Halte Takdir

Halte Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:285
Nilai: 5
Nama Author: Nameika

Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.

Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.

Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.

Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?

Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gema di Balik Kabut

"Maksud Kakak apa? Jangan sebut nama yang mana? Dan... Kakak tahu dari mana nama panggilan saya?"

Viona menarik tangannya dengan cepat, seolah sentuhan Elly mengandung arus listrik yang mengejutkan. Jantungnya berdegup kencang, memukul dinding dada yang kini terasa asing. Ia menatap wanita di sampingnya dengan saksama. Wajah itu memang Elena, ibunya, namun binar di matanya jauh lebih tajam dan waspada, seolah ia telah melintasi ribuan badai yang tak pernah diceritakan dalam buku sejarah mana pun.

Elly tidak langsung menjawab. Ia justru menempelkan jari telunjuknya ke bibir, lalu melirik ke arah jendela bus yang mulai dibasahi oleh rintik hujan yang aneh—airnya berwarna perak bening, mengalir lambat seperti air raksa.

"Nama adalah jangkar, Vio. Kalau kamu sebut nama pemberian Nathan di dalam bus ini, kamu bakal narik perhatian mereka yang lagi nyari 'materi yang hilang'. Di tempat ini, kamu bukan lagi Viona Mahendra. Kamu adalah sesuatu yang lebih murni, tapi juga lebih rapuh," bisik Elly dengan suara yang nyaris tak terdengar di bawah deru mesin bus yang halus.

Viona menunduk, menatap payung biru di pangkuannya. Di gagang payung itu, ukiran yang tadi ia lihat mulai bercahaya redup. Ia memicingkan mata, mencoba mengeja huruf-huruf yang muncul di sana. Bukan "Viona". Ukiran itu bertuliskan Nirmala.

"Nirmala?" Viona bergumam tanpa sadar.

Seketika, bus tersebut berguncang hebat. Lampu di dalam kabin berkedip-kedip kencang sebelum akhirnya mati total, menyisakan keremangan yang hanya berasal dari kabut putih di luar sana. Suara mesin yang tadinya halus berubah menjadi raungan rendah yang memekakkan telinga.

"Sudah terlambat," desis Elly. Ia bangkit dari kursinya, menarik tangan Viona agar ikut berdiri. "Ayo, jangan duduk terus. Kita harus ke bagian belakang bus. Sekarang!"

Viona terhuyung, mengikuti tarikan Elly di tengah koridor bus yang gelap. Ia merasa seolah-olah berat tubuhnya terus berubah—kadang terasa seringan kapas, kadang terasa seberat timah. Memorinya tentang kamar rumah sakit, wajah Alfred yang ramah, dan pelukan hangat ibunya terasa seperti mimpi yang perlahan menguap saat ia terbangun.

Bus itu melaju menembus kabut pekat. Di luar jendela, Viona melihat bayangan-bayangan besar melintas. Mereka tidak berbentuk manusia; mereka adalah gumpalan awan gelap yang memiliki ribuan mata kecil yang bersinar seperti jarum jam.

"Kak Elly, sebenarnya kita mau ke mana? Dan siapa 'mereka' yang Kakak maksud?" tanya Viona sambil mencoba menyeimbangkan diri.

Elly menoleh sejenak sambil terus menyeret Viona ke barisan kursi paling belakang. "Mereka adalah The Remnants, sisa-sisa Ordo yang nggak ikut hancur pas kamu mecahin Jantung Waktu. Mereka nggak punya pemimpin sekarang, tapi mereka punya insting buat balik ke bentuk asal. Dan asal mereka... ada di dalam kamu."

Langkah mereka terhenti di depan pintu belakang bus. Viona baru menyadari bahwa bus ini tidak memiliki ujung yang pasti. Barisan kursi di belakangnya seolah memanjang hingga ke kegelapan yang tak berdasar.

"Duduk di sini, jangan lepasin payung itu," perintah Elly sambil menunjuk kursi di pojok. "Payung itu bukan cuma pengingat, tapi perisai. Alfred kasih itu karena dia tahu 'hujan perak' ini bakal nyari celah buat masuk ke ingatan kamu."

Viona duduk dengan gemetar, memeluk payung birunya erat-erat. "Tadi Alfred bilang saya bakal lupa segalanya kalau saya pilih jadi manusia. Tapi kenapa saya masih ingat nama Ayah? Kenapa saya masih ingat rasa sakitnya?"

Elly berlutut di depan Viona, menatapnya dengan pandangan yang tiba-tiba melunak, mirip sekali dengan Elena yang dulu sering mengusap keningnya saat ia demam. "Karena rasa sakit itu bukan memori, Vio. Rasa sakit itu adalah bagian dari materi asalmu. Nathan nggak bisa menghapus itu saat dia ngebentuk kamu. Dia cuma bisa nyembunyiin itu di balik nama 'Viona'."

Tiba-tiba, suara benturan keras terdengar dari atap bus. Dung! Dung! Dung!

Sesuatu yang berat sedang berjalan di atas sana. Atap bus yang terbuat dari logam mulai melengkung ke bawah, seolah ditekan oleh beban yang luar biasa. Viona mendongak, matanya membelalak ngeri saat melihat cairan perak mulai merembes dari sela-sela atap, menetes ke lantai bus.

Cairan itu bergerak. Ia tidak mengalir mengikuti gravitasi, melainkan merayap menuju kaki Viona seperti ular yang lapar.

"Elly, awas!" teriak Viona.

Elly dengan sigap mengeluarkan sebuah kompas tua dari sakunya. Jarum kompas itu berputar liar tak tentu arah. "Sial, mereka sudah mulai nge-format ulang dimensi bus ini. Vio, buka payungnya! Sekarang!"

Viona dengan tangan gemetar mencoba menekan tombol pembuka pada gagang payung biru kusam itu. Namun, payung itu macet. Rangkanya yang bengkok seolah terkunci oleh kekuatan gaib.

"Nggak bisa, Kak! Macet!"

Cairan perak itu sudah sampai di ujung sepatu Viona. Saat cairan itu menyentuh kulit sepatunya, Viona merasakan kepedihan yang luar biasa, seolah-olah bagian dari jiwanya sedang ditarik paksa. Bayangan tentang wajah Nathan saat melambai di halte tadi tiba-tiba memudar, berganti menjadi layar putih kosong.

"Ayah... saya lupa wajah Ayah!" isak Viona panik. "Kak, tolong! Saya nggak mau lupa!"

Elly mencengkeram bahu Viona, mengguncangnya dengan keras. "Vio, dengerin saya! Jangan cari wajahnya di pikiran kamu! Rasain hangatnya di hati kamu! Nama 'Nirmala' itu bukan cuma kata, itu kekuatan kamu untuk tetap utuh!"

Viona memejamkan mata, mencoba mengabaikan rasa perih yang menjalar di kakinya. Ia memikirkan kehangatan teh botol di pinggir jalan, suara tawa Nathan yang serak, dan aroma hujan di Jakarta yang asli. Ia membayangkan semua rasa sakit dan kasih sayang itu menyatu menjadi sebuah cahaya.

"Nirmala..." bisik Viona dengan penuh keyakinan.

KLIK.

Payung biru itu terbuka dengan sentakan kuat. Pendar cahaya biru lembut terpancar dari kain kusamnya, membentuk kubah transparan yang menghalau cairan perak itu menjauh. Suara raungan di luar bus mendadak meredup, digantikan oleh kesunyian yang mencekam.

Bus mendadak berhenti.

Hening. Tak ada suara mesin, tak ada tetesan hujan di atap. Elly berdiri perlahan, matanya menatap tajam ke arah pintu depan bus yang perlahan terbuka sendiri. Kabut putih di luar mulai menipis, menyingkapkan sebuah pemandangan yang membuat napas Viona tertahan.

Mereka tidak berada di jalan raya. Bus itu berhenti di sebuah jembatan gantung yang sangat panjang, yang kedua ujungnya hilang di dalam kabut. Di bawah jembatan itu, terdapat jurang yang dipenuhi dengan jutaan roda gigi emas yang berputar tanpa henti—persis seperti yang ia lihat di kolong jembatan Jakarta, namun dalam skala yang jauh lebih kolosal.

Sesosok pria berdiri di ambang pintu bus. Ia tidak memakai jas dokter seperti Alfred, juga tidak memakai jas hujan seperti Julian. Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu yang sangat rapi, memegang sebuah jam saku emas di tangannya. Wajahnya tampak paruh baya, dengan kumis tipis dan tatapan mata yang sangat dingin.

"Selamat siang, Nirmala," ucap pria itu dengan nada yang sangat sopan, namun mengandung ancaman yang kental. "Saya adalah Auditor dari Dewan Pusat. Sepertinya ada kesalahan dalam administrasi keberangkatan Anda."

Viona merapatkan pegangannya pada payung. "Auditor? Administrasi apa maksud Bapak? Saya sudah pilih untuk jadi manusia!"

Pria itu melangkah masuk ke dalam bus. Setiap langkahnya membuat lantai bus bergetar dan mengeluarkan bunyi detak jam yang nyaring. Elly segera berdiri di depan Viona, melindungi gadis itu.

"Dia bukan manusia yang bisa kamu audit, Tuan," sahut Elly tajam. "Dia sudah bebas lewat Ruang Keputusan."

Sang Auditor berhenti, lalu membuka jam sakunya. "Bebas adalah ilusi yang diciptakan Nathan untuk menghibur dirinya sendiri. Materi tetaplah materi. Dan materi yang tidak memiliki pemilik... harus dikembalikan ke gudang pusat."

Ia menatap Viona, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman yang lebih mirip dengan seringai pemangsa.

"Nirmala, pilihannya sederhana. Ikut saya dengan sukarela, atau saya akan menghapus wanita di depan Anda ini dari sejarah selamanya, seolah-olah Elena Larasati tidak pernah menarik napas pertamanya."

Viona gemetar. Ia menatap Elly, lalu menatap sang Auditor. Rasa takut yang tadinya melumpuhkan kini berganti menjadi keberanian yang membara. Ia menyadari satu hal; ia tidak lagi ingin menjadi pion dalam permainan waktu siapa pun.

"Bapak bilang saya materi yang nggak punya pemilik?" Viona berdiri, menatap sang Auditor dengan mata yang kini memancarkan pendar biru safir yang redup. "Bapak salah. Pemilik saya adalah diri saya sendiri."

Sang Auditor mengangkat alisnya, tampak sedikit terkejut. "Keberanian yang menarik. Tapi, apakah kamu tahu apa yang terjadi kalau materi mencoba memberontak pada hukum dasarnya?"

Pria itu menjentikkan jarinya. Seketika, jembatan gantung di luar bus mulai runtuh satu per satu. Bus itu mulai miring ke arah jurang roda gigi.

"Kak Elly, pegangan!" teriak Viona panik.

Elly menoleh ke arah Viona dengan tatapan yang penuh duka. "Vio... kalau bus ini jatuh, jangan tutup payungnya. Kamu harus tetap melompat ke arah roda gigi pusat."

"Maksud Kakak apa? Kita bakal hancur kalau lompat ke sana!"

Elly tersenyum pahit tepat saat bus itu meluncur jatuh ke dalam jurang. "Nggak, Vio. Karena di bawah sana... Ayah kamu sudah nunggu buat nangkep kamu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!