NovelToon NovelToon
Kultivator Tinta Surgawi

Kultivator Tinta Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Action / Epik Petualangan / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:411
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

"Langit adalah kertas, darah adalah tinta, dan kehendakku adalah kuasnya."
Yuen Guiren hanyalah seorang pemuda buta dari desa kecil, tak berarti bagaikan semut di mata para kultivator abadi. Namun, ketika tragedi merenggut segalanya dan memaksanya untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya, semut itu berubah menjadi monster pembasmi kemungkaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Penyergapan di Malam Hujan

Hujan di Kota Qing-He tidak turun dengan lembut, ia menghantam atap-atap sirap dengan kemarahan yang meluap, menenggelamkan suara langkah kaki dan napas di balik tirai air yang pekat. Udara terasa berat oleh bau tanah basah.

Di dalam kamar penginapan yang sempit, Guiren duduk mematung. Tangannya menggenggam batang Kuas Bulu Serigala Roh yang tersembunyi di balik jubahnya. Wadah tinta di dalam dadanya, dantian yang baru saja terbentuk itu berdenyut perih, bereaksi terhadap riak energi asing yang mendekat dari atas langit-langit.

Riak itu dingin. Tajam. Dan sangat kukuh.

"Lian’er," bisik Guiren tanpa menoleh. "Jangan lepaskan jubahku. Ada yang datang."

Gadis yang baru saja terbangun dari tidur gelisahnya, tidak banyak bertanya. Ia merasakan getaran halus di telapak tangan kakaknya, sesuatu yang jarang ia rasakan sebelumnya. Gadis itu meringkuk, membenamkan wajahnya di kain punggung Guiren yang kasar. Isak tangisnya tertahan, hanya berupa napas pendek yang gemetar, namun cengkeramannya pada tali jubah Guiren begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Atap kayu di atas mereka jebol. Sebuah bayangan melesat turun bersamaan dengan runtuhnya kepingan kayu dan air hujan. Sebuah kilatan logam dingin menyambar ke arah leher Guiren.

Guiren tidak menghindar dengan anggun. Ia menjatuhkan diri ke samping, menyeret Xiaolian bersamanya hingga bahunya menghantam dinding bata yang lembap. Xiaolian terpekik singkat saat kepalanya terbentur siku Guiren, namun ia segera menutup mulutnya dengan tangan, matanya yang besar menatap liar ke arah kegelapan yang kini dihuni oleh maut. Dalam Visi Qi-nya, penyerang itu tampak seperti gumpalan energi abu-abu gelap yang padat, bergerak dengan presisi seorang penjagal.

Tanpa sempat mengatur napas, Guiren menarik 'tinta' dari dalam dadanya. Rasanya seperti menarik paksa urat syarafnya sendiri. Ia mengayunkan Kuas Bulu Serigala Roh ke arah bayangan itu.

"Tinta Menelan Bayangan!"

Tetesan hitam pekat meluncur dari ujung kuas, pecah di udara sebelum menyentuh lantai. Bukannya membasahi permukaan, tinta itu justru melebar secara tidak wajar, menciptakan noda kegelapan yang seolah-olah menyedot cahaya lilin yang tersisa. Bayangan sang pembunuh yang jatuh di lantai seakan tertahan, terjerat oleh noda tinta yang mulai mengental.

Gerakan pembunuh itu tertahan sekejap. Hanya sekejap.

"Dasar anjing pengganggu," sebuah suara parau terdengar dari balik topeng hitam. “Kau pikir kau bisa mengalahkanku?”

Pembunuh itu menghentakkan kakinya. Getaran energinya menghancurkan jeratan tinta Guiren dalam satu hentakan kasar. Ia melesat kembali, pedang pendeknya membelah udara dengan suara siulan yang tipis.

Guiren mengangkat batang kuasnya untuk menangkis. Benturan itu mengirimkan gelombang kejut yang membuat pergelangan tangan Guiren nyaris patah. Ia terlempar keluar dari celah atap yang hancur, mendarat di atas genting yang licin dan miring. Xiaolian terseret, kakinya tergores kayu yang patah, membuatnya merintih kesakitan sambil terus memeluk pinggang Guiren dengan putus asa.

“Ah! kakiku… .” Xiaolian membisikkan rasa sakitnya di tengah deru hujan, suaranya nyaris hilang ditelan petir.

“Bertahanlah, Lian’er.”

Hujan menyapu wajah mereka, menyusup ke balik kain penutup mata sang kakak.

Dunia perak dalam penglihatannya mulai berkedip-kedip tak stabil. Wadah tinta di dantiannya terasa kosong dengan cepat. Setiap gerakan teknik tadi telah menguras Qi yang susah payah ia kumpulkan di Paviliun Awan Hijau. Ia belum siap. Kekuatan ini masih terlalu besar untuk tubuhnya yang ringkih.

Pembunuh itu muncul di hadapannya, berdiri tegak di tengah guyuran hujan seolah air tidak mampu menyentuhnya.

"Koin perak itu... kau mencurinya dari orang yang salah," kata si pembunuh. "Berikan apa yang kau bawa, dan aku akan membiarkan adikmu mati dengan cepat."

Guiren tidak menjawab. Ia merasakan Xiaolian menangis di belakangnya, kuku gadis itu menancap dalam di kulit pinggangnya. Kemarahan dingin mulai membakar sisa-sisa tenaganya.

Ia kembali mengayunkan kuas, namun kali ini bukan untuk menyerang. Ia menyapukan tinta ke udara, mengikuti aliran air hujan yang mengalir deras di permukaan genting. Hitam bertemu bening. Tinta itu tidak menyebar, melainkan menunggangi air, menciptakan jebakan licin yang gelap di bawah kaki sang pembunuh.

Saat pembunuh itu melangkah maju untuk memberikan serangan akhir, tumpuan kakinya goyah. Hujan dan tinta menciptakan lapisan gesekan yang asing.

Guiren tidak menyia-nyiakan detik itu. Ia tidak mencoba membunuh, ia tahu ia akan kalah. Ia memeluk Xiaolian erat-erat, lalu menggulingkan tubuh mereka dari tepi atap, jatuh ke arah tumpukan jerami di gang gelap di bawah sana.

Rasa sakit menghantam punggungnya saat ia mendarat, namun Guiren segera bangkit. Ia berlari menembus kegelapan gang, mengabaikan meridiannya yang terasa seperti terbakar api.

“Bisa lari?” tanya Guiren singkat, suaranya tertahan sakit.

Xiaolian mengangguk cepat meski matanya basah oleh air mata dan hujan. Ia tidak melepaskan tangan Guiren seincipun saat mereka berlari menembus kegelapan gang, mengabaikan meridian Guiren yang terasa seperti terbakar api. Setiap beberapa langkah, Xiaolian tersandung karena kakinya yang luka, namun ia segera menarik dirinya tegak, takut jika ia melambat, tangan kakaknya akan terlepas.

Di belakangnya, ia mendengar suara hantaman logam di atas genting. Pembunuh itu masih di sana. Masih memburu.

Guiren terus berlari hingga paru-parunya serasa akan pecah. Ia berhenti di balik bayangan sebuah kuil tua yang runtuh, mendekap mulut Xiaolian agar isak tangisnya tidak terdengar. Tubuhnya gemetar hebat karena kesadaran yang pahit.

Kekuatannya belum cukup. Latihan pernapasan, wadah tinta, dan artefak mahal itu ternyata hanya memberinya waktu beberapa detik untuk bernapas. Paviliun Yama tidak lagi sekadar nama dalam cerita hantu, mereka adalah maut yang sudah mencium bau darahnya.

Ia meraba Kuas Bulu Serigala Roh di balik bajunya. Benda itu kini terasa dingin, seolah-olah sedang mengejek kelemahannya.

“Kakak… Kakak berdarah?” Xiaolian meraba lengan Guiren yang terkoyak, jari-jarinya yang gemetar saat menyentuh luka basah itu.

"Aku tidak apa-apa. Tapi… kita tidak bisa di sini lagi," desis Guiren. Tangannya yang dipenuhi noda tinta dan darah mencengkeram tangan adiknya lebih erat. "Kota ini... sudah menjadi kuburan."

Di bawah langit yang masih menangis, Guiren menyadari bahwa masa persembunyiannya di Qing-He telah berakhir. Ia harus pergi lebih jauh, atau menjadi noda hitam yang terhapus sepenuhnya oleh dunia yang tidak mengenal belas kasihan ini.

1
anggita
mampir ng👍like+iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!