NovelToon NovelToon
SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: OPERASI PEMBERSIHAN

Suasana di dalam jet pribadi Arkano sangat sunyi, hanya terdengar suara mesin yang menderu rendah. Di kabin yang mewah itu, Alana tidak lagi mengenakan gaun sutra. Ia telah berganti pakaian dengan tactical suit hitam yang melekat pas di tubuhnya, lengkap dengan rompi anti peluru dan berbagai jenis pisau lempar yang tersembunyi.

Arkano duduk di depannya, sedang membersihkan laras senapan serbu HK416 dengan tenang. Seolah-olah mereka hanya akan pergi makan malam, bukan melakukan penyerbuan berdarah.

"Kau yakin dengan koordinat ini, Marco?" tanya Arkano tanpa mengalihkan pandangan dari senjatanya.

Marco yang berdiri di dekat layar monitor besar mengangguk. "Benar, Tuan. Sinyal GPS terakhir dari truk yang membawa Rian dan timnya berhenti di sebuah gudang tua di kawasan industri pinggiran kota. Itu adalah wilayah abu-abu yang secara administratif masih di bawah wewenang Komisaris Hendra."

Alana mengepalkan tangannya. "Hendra sengaja mencegat mereka. Dia tidak ingin ada saksi hidup yang tahu bahwa dia bekerja sama denganmu. Baginya, Rian dan yang lainnya adalah sampah yang harus dibuang."

Arkano mendongak, menatap Alana dengan mata elangnya. "Dan kau? Apa kau sudah siap menembak orang-orang yang dulu kau panggil 'rekan'?"

Alana menarik napas panjang. Ia mengambil sebuah pistol dari atas meja, memeriksa magasinnya, lalu memasukkannya ke dalam sarung pistol di pahanya. "Mereka yang mencegat Rian bukan lagi rekanku. Mereka adalah kaki tangan penjahat berseragam. Aku tahu bedanya antara tugas dan pengkhianatan."

Arkano menyeringai tipis. Ia berdiri dan mendekati Alana, lalu memberikan sebuah alat komunikasi kecil yang baru. "Pakai ini. Ini frekuensi khusus Dirgantara. Tidak ada yang bisa menyadapnya, termasuk Hendra."

Tiga puluh menit kemudian, tiga mobil SUV hitam lapis baja meluncur membelah kegelapan menuju kompleks gudang yang terisolasi. Arkano dan Alana berada di mobil paling depan.

"Ingat, Alana," bisik Arkano saat mereka turun dari mobil. "Di sini, kau bukan lagi Silent Cat dari kepolisian. Kau adalah bayanganku. Siapa pun yang menghalangi jalanmu, kau punya hak penuh untuk melenyapkannya."

Alana tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil dan segera bergerak menyelinap ke balik tumpukan kontainer. Kemampuannya sebagai intelijen kelas atas langsung bekerja secara otomatis. Ia bergerak tanpa suara, menghilang dalam kegelapan malam.

Melalui night vision, Alana melihat ada enam penjaga bersenjata laras panjang yang berpatroli di depan pintu masuk gudang. Mereka mengenakan pakaian preman, tapi cara mereka memegang senjata dan posisi berdiri mereka menunjukkan bahwa mereka adalah personel terlatih dari unit khusus kepolisian.

"Enam orang di sektor depan. Aku akan membereskan yang di sebelah kiri," lapor Alana melalui interkom.

"Lakukan," jawab suara Arkano dari sisi lain.

Alana bergerak cepat. Ia memanjat pagar kawat dan merayap di atas atap seng yang tua. Saat salah satu penjaga berdiri tepat di bawahnya, Alana melompat turun. Dengan gerakan cepat, ia memiting leher pria itu dan menusukkan jarum bius dosis tinggi ke tengkuknya. Pria itu jatuh pingsan tanpa sempat bersuara.

Dua orang lainnya menyadari ada yang aneh, namun sebelum mereka sempat menarik pelatuk, dua peluru berperedam suara dari arah Arkano sudah lebih dulu menembus kepala mereka.

Pft! Pft!

Dalam waktu kurang dari dua menit, area luar sudah bersih. Arkano muncul dari balik kegelapan dengan langkah tenang. Ia memberikan isyarat pada anak buahnya untuk mendobrak pintu utama.

BRAKK!

Pintu besi itu terbuka paksa. Arkano dan timnya masuk dengan formasi tempur yang rapi. Di dalam gudang yang luas dan remang-remang itu, bau asap rokok dan minyak tanah menyengat hidung.

"Berhenti di sana!" teriak sebuah suara dari arah balkon lantai dua di dalam gudang.

Alana mendongak. Di sana berdiri seorang pria yang ia kenal—Inspektur Wahyu, salah satu tangan kanan kepercayaan Hendra di markas besar.

"Wahyu? Apa yang kau lakukan di sini?" teriak Alana.

Wahyu tertawa getir. "Alana? Jadi kau benar-benar sudah menjadi jalang sang mafia? Hendra benar, kau adalah ancaman yang harus segera dimusnahkan."

"Di mana Rian?" desak Alana, mengabaikan hinaan itu.

"Si bodoh itu? Dia ada di belakang, sedang menunggu giliran untuk 'dibersihkan'. Tapi sebelum itu, kau harus melewati kami dulu!"

Wahyu memberi isyarat, dan tiba-tiba dari balik tumpukan kotak kayu, belasan pria bersenjata muncul dan mulai melepaskan tembakan membabi buta.

DOR! DOR! DOR!

"Berlindung!" teriak Arkano. Ia menarik tangan Alana ke balik pilar beton yang tebal.

Percikan api dari peluru yang menghantam beton berhamburan di sekitar mereka. Arkano membalas tembakan dengan akurasi yang mematikan. Setiap peluru yang ia lepaskan selalu menemukan sasarannya.

Alana tidak tinggal diam. Ia mengambil dua granat asap dari sabuknya dan melemparkannya ke tengah ruangan. Dalam hitungan detik, ruangan itu dipenuhi asap putih yang tebal.

"Sekarang!" teriak Alana.

Ia berlari menembus asap, menggunakan instingnya untuk mendeteksi posisi musuh. Ia tidak menggunakan pistol; ia lebih memilih bertarung jarak dekat. Dengan gerakan yang sangat cepat, Alana melumpuhkan satu per satu pria bersenjata itu dengan teknik bela diri yang mematikan. Patah tulang dan jeritan kesakitan terdengar di tengah kepulan asap.

Saat asap mulai menipis, Alana sudah berada di tangga menuju lantai dua. Wahyu yang panik mencoba melarikan diri, namun Alana lebih cepat. Ia melemparkan pisau kecil yang tepat mengenai betis Wahyu.

"Argh!" Wahyu tersungkur di lantai kayu.

Alana menghampirinya dan langsung menekan luka itu dengan sepatunya. "Di mana kuncinya, Wahyu? Di mana kau mengurung mereka?"

Wahyu meludah ke arah Alana. "Kau pengkhianat! Kau tidak pantas memakai lencana itu!"

Alana tidak terpancing. Ia menarik rambut Wahyu dengan kasar. "Aku tidak lagi peduli dengan lencana itu. Sekarang, aku hanya peduli pada keselamatan temanku. Katakan, atau aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa berjalan lagi seumur hidupmu."

"Di... di ruang pendingin di belakang," rintih Wahyu akhirnya.

Arkano muncul di samping Alana, wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun. Ia menatap Wahyu dengan jijik. "Marco, urus orang ini. Pastikan dia bicara lebih banyak soal rencana Hendra yang lain."

Alana segera berlari menuju bagian belakang gudang. Ia menemukan sebuah pintu baja besar dengan simbol pendingin. Dengan bantuan Arkano yang menembak engsel pintu itu hingga hancur, mereka berhasil membukanya.

Di dalam sana, suhunya sangat dingin. Rian dan dua rekannya tergeletak lemas di lantai dengan tangan dan kaki yang masih terikat. Mereka menggigil hebat karena hipotermia.

"Rian!" Alana segera menghampiri sahabatnya itu. Ia memotong tali pengikatnya dengan pisau.

Rian membuka matanya perlahan. "Alana... kau... kau datang?"

"Aku di sini, Rian. Kau aman sekarang," bisik Alana sambil membantu Rian berdiri.

Rian menoleh ke arah Arkano yang berdiri di ambang pintu dengan senjata di tangannya. Rian tersenyum lemah. "Sepertinya aku harus berhutang nyawa pada monster ini, ya?"

Arkano hanya mendengus. "Jangan terbiasa dengan ini, Polisi. Aku melakukan ini hanya untuk istriku."

Setelah mengevakuasi Rian dan timnya ke tim medis pribadi Arkano yang sudah menunggu di luar, suasana di depan gudang mulai mereda. Namun, bagi Alana, perang ini baru saja dimulai.

Arkano berdiri di samping mobilnya, menatap kobaran api yang mulai membakar gudang tersebut sebagai cara untuk menghilangkan jejak.

"Hendra tidak akan diam setelah ini," ujar Arkano. "Dia akan menggunakan seluruh kekuatan kepolisian untuk memburumu sebagai buronan."

Alana menatap tangannya yang ternoda sedikit darah. "Biarkan saja. Aku sudah mati bagi mereka sejak mereka menjualku padamu."

Arkano melingkarkan tangannya di bahu Alana, menariknya mendekat. "Kau siap untuk langkah selanjutnya? Kita akan menyerang Hendra tepat di tempat yang paling menyakitkan baginya: kekuasaannya."

Alana menatap mata Arkano yang gelap. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak ada lagi batas antara dirinya dan sang mafia. Mereka adalah satu tim sekarang.

"Apapun yang diperlukan, Arkano. Aku ingin melihat dia hancur berkeping-keping."

Arkano mencium pelipis Alana dengan lembut. "Itu istriku. Ayo pulang. Besok, dunia akan tahu bahwa Nyonya Dirgantara bukan wanita yang bisa diremehkan."

Apakah rencana Alana selanjutnya untuk menjatuhkan Hendra? Dan mampukah cinta tumbuh di tengah kobaran api dendam mereka?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!