Bagi kebanyakan orang, aku adalah penjahatnya. Tapi bagi seseorang, aku adalah pelindungnya.
Clara Agatha, agen pembunuh bayaran kelas kakap di organisasi Blade. Hidupnya yang monoton membuat dia tak memiliki teman di organisasi, sampai pada akhirnya penghianatan dari organisasinya membawa dia ke dalam kematian.
Clara pikir semua sudah selesai, namun dia terbangun di raga orang lain dan menjadi ibu dua anak yang di buang suaminya. Clara tak tahu cara mengurus anak kecil, dia berpikir jika mereka merepotkan.
Namun, pemikiran itu berubah saat kedua anaknya menunjukan kebencian yang begitu besar padanya. Clara merasa aneh, bagaimana bisa anak polos seperti mereka membenci ibunya sendiri? Clara bertekad untuk mencari tahu alasannya, dan menuntut balas pada suami dan juga organisasinya yang telah membuat dia mengalami kejadian menyedihkan seperti itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Sinar matahari mulai menyusup halus dari balik tirai jendela kamar yang Aurora sewa, terlihat wanita berumur 27 tahun itu baru saja selesai memandikan Riven.
"Nah, sekarang sudah wangi." Kata Aurora ceria.
Dia mengambil pakaian Riven yang semalam, lalu memakaikannya lagi. Dia tak sempat membeli baju baru karena semalam dia terlalu lelah untuk keluar kamar.
Setelah selesai mengurus Riven, Aurora beralih pada Arjuna yang masih saja menatapnya benci. Dia menghela napas panjang, lalu melangkah mendekati anak itu.
"Kau mau Mommy mandikan juga, Jun?" Tanya Aurora.
Arjuna menggeleng. "Aku bisa mandi sendiri."
"Oh, benarkah?" Aurora tersenyum tipis. "Kau sudah besar rupanya."
"Jangan meledekku!"
Aurora menutup mulutnya lalu terkikik geli, wajah Arjuna tampak memerah dan itu sangat menggemaskan baginya.
Jengkel karena sikap Aurora, Arjuna segera beranjak menuju kamar mandi sambil menghentakkan kedua kakinya di lantai. Hal itu tak luput dari pandangan Aurora yang membuat wanita itu semakin terkekeh.
"Astaga, anak itu benar-benar lucu," gumamnya.
Dia beralih menatap Riven, anak itu menjadi pendiam sekali berbeda dengan Arjuna yang lebih ekspresif dalam menunjukan kebencian dan kemarahannya.
"Riven, ada apa?" Tanya Aurora pelan.
Riven menggeleng, kedua tangannya meremas ujung baju yang dia kenakan.
Aurora berjalan mendekatinya, lalu berjongkok menjajarkan tingginya dengan anak itu. "Katakan, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
Suara lembut Aurora membuat Riven sedikit tersentak, anak laki-laki itu menatap mata ibunya. "Mommy... Mau pulang ke mana?"
Alis Aurora berkerut halus. "Kenapa kau bertanya seperti itu? Bukannya sudah jelas, kita akan pulang ke rumah."
"Rumah siapa?"
"Rum–" Aurora terdiam.
Dia baru ingat jika dia baru saja di tendang dari rumah yang dia bangun bersama suaminya, sungguh ironis karena dia terlunta-lunta seperti ini bersama dua anaknya yang masih kecil.
Aurora menghela napas panjang, lalu meletakan kedua tangannya di samping tubuh Riven.
"Kita pulang ke rumah kakek dan nenek," kata Aurora.
Pada akhirnya dia tak punya pilihan lain kecuali kembali ke rumah keluarganya, Alverez. Dia juga memerlukan aset dan uang untuk menghidupi anak-anaknya. Dan satu-satunya peluang untuk mendapatkan itu semua adalah menjadi pewaris sah Alverez.
Aurora tak munafik, dia perlu kekuasan dan koneksi untuk balas dendam dan itu harus di mulai dari membangun namanya sendiri di dunia bisnis, karena orang-orang yang berurusan dengannya bukanlah orang sembarangan.
"Rumah nenek?" Ulang Riven.
Aurora mengangguk. "Mulai sekarang kita tinggal di rumah nenek dan kakek, mau kan?"
Saat Riven hendak menjawab, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka memperlihatkan sosok Arjuna yang sudah mengenakan pakaian lengkap. Hanya saja rambut anak itu masih acak-acakan dan basah.
"Kenapa ke rumah nenek?" Tanya Arjuna dengan nada tidak suka.
"Ah, kau sudah selesai mandi?" Aurora menegakan tubuhnya kembali. "Kebetulan sekali, aku ingin memberitahumu bahwa kita akan di tinggal di kediaman Ibu Mommy."
"Aku tahu, maksudku kenapa kita ke sana? Mommy bilang Daddy akan menjemput kita?" Cecar Arjuna.
Helaan napas panjang terdengar dari mulut Aurora, dia tidak mengerti bagaimana tubuh ini membohongi anak-anaknya dengan hal harapan konyol seperti itu.
"Daddy tidak mau menjemput kita, dia sedang berada di luar negeri jadi kita pulang ke rumah nenek lebih dulu."
"Berapa lama?" Tanya Arjuna.
Aurora tersenyum tipis. "Selama yang kalian mau."
Setelah bernegosiasi dengan anak-anaknya, Aurora mengajak Arjuna dan Riven pergi dari hotel. Dia memesan sebuah taksi untuk membawanya menuju tempat sang notaris yang semalam menghubunginya.
***
Taksi melaju membelah jalanan kota Sesilia yang mulai ramai. Aurora duduk di kursi belakang, Arjuna di sisinya, sementara Riven tertidur dengan kepala bersandar di pahanya. Tangannya sesekali mengusap rambut anak bungsunya itu, mencoba menenangkan diri sendiri lewat sentuhan sederhana tersebut.
Meski kedua anaknya masih menjaga jarak, Aurora tetap memperlakukan mereka dengan hati-hati dan menarik diri dari hal yang tidak mereka sukai.
'Rupanya seperti ini menjadi ibu tunggal,' gumamnya.
Kaca jendela memantulkan bayangan wajahnya. Pucat, kantung matanya menghitam, ciri khas orang-orang yang kesulitan untuk tidur.
Dia tak tahu apa yang sebenarnya di lakukan oleh tubuh yang kini menjadi miliknya, ingatan milik Aurora belum sepenuhnya masuk ke dalam kepala Clara. Meski begitu, dia sudah sedikit memahami situasinya.
Tak lama, taksi berhenti di depan sebuah gedung tua berlantai tiga yang terletak di sudut jalan. Plakat kecil di dekat pintu bertuliskan nama kantor notaris itu. Aurora membayar ongkos, lalu menggandeng Arjuna turun, sementara Riven terbangun dan mengucek matanya.
"Kita ke mana, Mommy?" tanya Riven pelan.
"Ke tempat orang yang akan membantu Mommy," jawab Aurora singkat.
Mereka masuk ke dalam gedung. Aroma kayu tua dan kertas memenuhi lorong. Seorang resepsionis mempersilakan mereka duduk setelah Aurora menyebutkan namanya. Tidak perlu menunggu lama, seorang pria paruh baya dengan rambut perak rapi keluar dari ruangannya.
"Nona Aurora Alverez?" sapanya ramah.
Aurora berdiri. "Ya."
"Silakan masuk."
Arjuna menatap sekeliling dengan ekspresi waspada, sementara Riven menggenggam ujung mantel Aurora. Mereka bertiga memasuki ruangan yang tertata rapi, dipenuhi rak arsip dan sebuah meja kerja besar di tengah.
Pria itu duduk dan membuka map cokelat di hadapannya. "Perkenalkan, saya Samuel Ortega, notaris keluarga Alverez. Semalam saya menghubungi Anda karena ada beberapa dokumen yang secara hukum harus diketahui oleh Anda."
Aurora duduk berhadapan dengannya. "Dokumen apa?"
Samuel menatapnya dalam-dalam, seolah memastikan wanita di depannya cukup kuat untuk menerima apa yang akan ia sampaikan. "Tentang wasiat mendiang orang tua Anda, Tuan Rafael Alverez."
Nama itu membuat dada Aurora mengencang.
"Ayah Anda meninggalkan saham dan aset atas nama Anda," lanjut Samuel. "Namun ada syarat yang harus dipenuhi agar Anda bisa mengklaim hak tersebut secara penuh."
"Apa syaratnya?" tanya Aurora tanpa ragu.
"Status Anda sebagai pewaris sah harus diaktifkan kembali." Samuel melirik dua anak di samping Aurora. "Dan keberadaan kedua putra Anda justru memperkuat posisi hukum Anda dalam keluarga Alverez."
Arjuna mendongak. "Mommy?"
Aurora menoleh dan tersenyum menenangkan. "Tidak apa-apa."
Samuel mendorong beberapa lembar dokumen ke arah Aurora. "Jika Anda setuju, kita bisa memulai prosesnya hari ini. Setelah itu, Anda resmi kembali sebagai bagian dari keluarga Alverez baik di atas kertas maupun di mata publik."
Aurora menatap dokumen-dokumen itu lama. Inilah jalan yang harus dia ambil. Tidak mudah, tidak bersih, namun satu-satunya cara agar dia dan anak-anaknya tidak lagi diinjak-injak.
Dia mengambil pulpen.
"Baik," katanya mantap. "Saya akan mengambil apa yang memang menjadi hak saya."
Samuel tersenyum tipis. "Keputusan yang bijak, Nona Aurora. Sudah waktunya Anda kembali duduk di kursi kepemimpinan keluarga Alverez."