Sinopsis
Norden adalah kota mati bagi Noah, sampai Alice datang. Gadis misterius dari ibu kota itu menyewa jasa Noah untuk memperbaiki villa tua yang terasingkan di atas bukit.
Pada awalnya hanya hubungan kerja biasa, namun kesepian menyatukan mereka. Di tengah dinginnya angin utara, kedekatan itu terasa begitu nyata bagi Noah.
Namun, tepat ketika Noah merasa hidupnya mulai berubah, Alice menghilang dalam semalam.
Tanpa jejak, tanpa pesan. Hanya ada sebuah amplop tebal berisi uang yang tertinggal di meja bengkel Noah. Apakah kedekatan mereka selama ini nyata? Atau bagi Alice, Noah hanyalah sekadar "hiburan" yang kini sudah dibayar lunas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuh! No!, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Jejak yang Tertinggal di Salju
(POV: Noah)
Aku seharusnya sudah pergi.
Uang sudah di saku. Pekerjaan selesai. Tidak ada alasan bagiku untuk tetap berdiri di ruang tamu Villa Blackwood yang dingin ini, menatap seorang gadis asing yang jelas-jelas membawa masalah.
Tapi kakiku tidak bergerak.
Alice berdiri di dekat perapian mati, memeluk lengannya sendiri. Lampu-lampu kuning redup menciptakan bayangan panjang di lantai kayu, membuat rumah ini terasa seperti makhluk hidup yang sedang mengawasi kami. Aku bisa mendengar suara angin dari luar, melolong di antara pepohonan pinus, menghantam dinding tua villa seperti ingin masuk.
“Kau benar-benar akan tinggal sendirian di sini malam ini?” tanyaku akhirnya.
Pertanyaan bodoh. Aku sudah tahu jawabannya.
Alice menoleh perlahan. Matanya bertemu dengan mataku, dan untuk sesaat, semua sikap dingin dan defensif itu runtuh. Yang tersisa hanyalah kelelahan. Kelelahan yang dalam, tua, dan tidak seharusnya dimiliki oleh seseorang seusianya.
“Ya,” jawabnya singkat.
Aku menghela napas, mengusap tengkukku.
“Cuacanya akan memburuk. Radio bilang badai salju akan turun malam ini. Jalanan ke kota bisa tertutup.”
“Aku tidak berniat pergi ke mana pun,” katanya. Nada suaranya datar, tapi ada sesuatu di sana. Tekad yang rapuh, seperti kaca tipis yang bisa retak kapan saja.
Aku mendecakkan lidah. Bukan urusanku. Sama sekali bukan.
Tapi bayangan seorang gadis kota, sendirian, terkurung di rumah tua di puncak bukit saat badai salju… itu bukan pemandangan yang menyenangkan. Bahkan untuk seseorang sepertiku yang sudah terlalu terbiasa dengan hal-hal buruk.
“Ada makanan di sini?” tanyaku, mencoba terdengar biasa saja.
Alice tampak terkejut dengan pertanyaanku. Dia menggeleng pelan. “Hanya roti tawar dan sup instan.”
“Tentu saja,” gumamku. “Kau tidak bisa hidup hanya dengan itu.”
Aku melirik jam tanganku. Sudah hampir jam delapan malam. Jika aku turun sekarang, mungkin aku masih bisa kembali ke bengkel sebelum jalanan benar-benar tertutup salju.
“Dengar,” kataku akhirnya, membuat keputusan yang bahkan tidak kumengerti alasannya. “Aku akan turun ke kota sebentar. Membelikanmu beberapa bahan makanan. Kau bayar nanti saja, aku tidak peduli.”
Alice menatapku seolah aku baru saja menawarkan sesuatu yang tidak masuk akal. “Kenapa?”
Pertanyaan itu menghantamku lebih keras dari yang seharusnya.
Kenapa?
Karena aku kasihan padamu? Karena aku bosan dengan hidupku sendiri? Atau karena aku melihat diriku yang dulu di wajahmu—seseorang yang terjebak dan tidak tahu harus lari ke mana?
“Aku tidak mau ada berita tentang gadis kaya yang mati beku di rumah hantu muncul di koran lokal,” jawabku asal. “Itu buruk untuk citra kotaku.”
Untuk pertama kalinya, Alice tertawa kecil. Bukan tawa yang keras atau bahagia. Hanya embusan napas yang terdengar seperti tawa. Tapi itu cukup untuk membuat sesuatu di dadaku terasa… aneh.
“Terima kasih,” katanya pelan.
Aku tidak menjawab. Aku hanya mengambil jaketku dan berjalan menuju pintu.
(POV: Alice)
Pintu tertutup di belakang Noah dengan suara berat.
Alice berdiri sendirian di ruang tamu yang luas itu, mendengarkan gema langkah kaki pria itu menghilang. Untuk pertama kalinya sejak dia tiba di Norden, dia benar-benar sendirian.
Dan anehnya… rasa takut itu tidak sebesar yang dia bayangkan.
Dia berjalan perlahan mengelilingi ruang tamu, menyentuh perabot-perabot yang tertutup kain. Ada sejarah di tempat ini. Kesedihan yang tertinggal di udara, seperti debu yang tidak pernah benar-benar bisa dibersihkan.
Alice naik ke lantai dua, ke kamar tidurnya. Kamar itu besar, dengan jendela menghadap laut. Dia menyalakan lampu, lalu membuka koper kecil yang dibawanya. Isinya sangat sedikit. Beberapa pakaian, perlengkapan mandi, dan sebuah amplop cokelat tebal.
Amplop itu.
Alice duduk di tepi ranjang, menatap amplop itu lama sekali sebelum akhirnya membukanya. Di dalamnya ada dokumen-dokumen. Salinan kontrak pertunangan. Jadwal pernikahan. Foto-foto yang diambil paparazi—dia dan pria itu, tersenyum sempurna di depan kamera.
Senyum yang palsu.
Tangannya gemetar saat dia memasukkan kembali semuanya ke dalam amplop. Dia tidak membacanya. Dia tidak perlu. Semua itu adalah bagian dari hidup yang sedang dia coba tinggalkan.
Suara angin di luar semakin kencang. Salju mulai turun, menempel di kaca jendela seperti serpihan kapas putih. Indah, tapi juga mengisolasi.
Alice memeluk dirinya sendiri.
Kenapa dia mempercayai Noah?
Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya. Dia bahkan tidak tahu siapa pria itu sebenarnya. Dia kasar, sinis, dan jelas-jelas tidak menyukai orang sepertinya. Tapi justru itu yang membuatnya terasa aman. Noah tidak menginginkan apa pun darinya selain uang untuk jasanya. Dia tidak peduli siapa Alice, siapa ayahnya, atau dengan siapa dia seharusnya menikah.
Bagi Noah, dia hanyalah seorang klien.
Dan untuk saat ini, itu cukup.
(POV: Noah)
Salju mulai turun deras saat aku tiba kembali di villa.
Butir-butir putih menabrak kaca depan truk, membuat jarak pandang semakin buruk. Aku memarkir truk di tempat yang sama, mematikan mesin, dan mengutuk pelan. Jalanan ke kota sudah pasti tertutup sekarang. Aku terjebak di sini.
“Brengsek,” gumamku.
Aku mengambil kantong belanja dari kursi penumpang—roti, sup kaleng, beberapa bahan makanan seadanya—lalu turun dari truk. Angin dingin langsung menghantam wajahku, membuat mataku perih.
Aku berjalan cepat menuju pintu, membuka kunci, dan masuk.
Hangat.
Rumah itu terasa lebih hangat sekarang. Bau sup kaleng yang dipanaskan bercampur dengan aroma kayu tua. Aku menutup pintu di belakangku, mengibaskan salju dari jaketku.
“Alice?” panggilku.
“Di dapur,” jawabnya.
Aku melangkah ke dapur dan menemukannya sedang berdiri di depan kompor, mengaduk sup dengan sendok kayu. Mantelnya sudah dilepas. Dia mengenakan sweater tipis berwarna abu-abu yang terlihat terlalu besar untuk tubuhnya.
“Jalanan tertutup,” kataku langsung. “Aku tidak bisa turun lagi malam ini.”
Alice berhenti mengaduk. Dia menoleh, wajahnya memucat sedikit. “Jadi… kau akan tinggal di sini?”
“Sepertinya begitu.” Aku meletakkan kantong belanja di meja. “Jangan salah paham. Aku akan tidur di sofa. Aku tidak tertarik dengan drama.”
Dia mengangguk cepat. “Tentu. Aku juga tidak—”
Aku mengangkat tangan, menghentikannya. “Aku tahu.”
Keheningan kembali turun, tapi kali ini tidak terasa mencekik. Hanya… sunyi. Seperti dua orang asing yang kebetulan terdampar di tempat yang sama.
Kami makan sup itu bersama, duduk di meja makan panjang yang bisa menampung sepuluh orang. Jarak di antara kami terasa ironis.
“Aku tidak akan bertanya kenapa kau kabur ke sini,” kataku tiba-tiba, memecah keheningan. “Dan kau tidak perlu menjawab.”
Alice mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca.
“Terima kasih,” bisiknya.
Aku mengalihkan pandangan, menatap jendela yang kini sepenuhnya tertutup salju. “Jangan berterima kasih dulu. Badai ini mungkin akan membuat kita terjebak beberapa hari.”
Alice menatap keluar jendela bersamaku.
Di luar, salju terus turun, menutupi jejak-jejak lama, memutihkan dunia, seolah mencoba memberi semua orang kesempatan untuk memulai dari awal.
Dan entah kenapa, aku merasa… mungkin, hanya mungkin, aku juga membutuhkannya.
Di tempat di mana salju berhenti, mungkin ada sesuatu yang bisa tumbuh kembali.