NovelToon NovelToon
Sistem Harapan

Sistem Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjadi Pengusaha / Anak Genius / Bepergian untuk menjadi kaya / Bullying di Tempat Kerja / Sistem
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Arlan menatap gedung Megantara dengan map biru di tangan. {Sanggupkah semut sepertiku menang?} Tiba-tiba, layar biru muncul: [Status: Pengangguran Berbahaya]. "Tahu diri, Arlan. Kasta rendah dilarang bermimpi," cibir Tegar. Tapi Arlan tak peduli karena sistem mulai membongkar busuknya korporasi. Demi ibu yang masih menjahit di desa, ia akan merangkak dari nol hingga menjadi penguasa kasta tertinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

"Masuk, Arlan."

Suara Pak Yudha terdengar begitu berat dan dalam dari balik pintu kayu jati yang terlihat sangat kokoh itu.

Arlan menarik napas panjang sedalam yang dia bisa, mencoba memastikan bahwa benda kecil bernama flashdisk di saku kemejanya masih berada di posisinya yang aman.

Dia mendorong daun pintu itu secara perlahan, seolah-olah dia sedang membuka pintu menuju gerbang masa depannya sendiri yang penuh dengan ketidakpastian.

{Tuhan, tolong kuatkan hatiku yang kecil ini. Jangan sampai lidahku menjadi kelu dan kaku saat aku harus berbicara di depan orang yang memiliki kekuasaan sebesar ini.}

Pak Yudha terlihat sedang duduk dalam diam sambil menghadap ke arah jendela besar, membelakangi meja kerjanya yang dipenuhi dengan tumpukan berkas.

Pria paruh baya itu sama sekali tidak menoleh sedikit pun saat dia mendengar langkah kaki Arlan yang mendekat dengan sangat ragu.

"Kamu sudah membawa seluruh data yang saya minta sebelumnya, Arlan?" tanya Pak Yudha tanpa basa-basi sedikit pun.

"Sudah, Pak. Semuanya sudah saya kumpulkan dan saya simpan di dalam sini," jawab Arlan sambil meletakkan flashdisk berwarna hitam itu di atas meja kayu yang permukaannya sangat mengilat.

Pak Yudha akhirnya memutar kursi kerjanya dan berbalik.

Dia menatap wajah Arlan dengan sepasang mata yang terlihat sangat letih, seolah-olah dia membawa beban seluruh perusahaan di pundaknya.

"Duduklah terlebih dahulu. Kamu terlihat seperti orang yang tidak bisa memejamkan mata dengan tenang selama tiga hari terakhir ini."

"Saya memang tidak bisa tidur dengan tenang karena terus memikirkan hal ini, Pak," sahut Arlan dengan nada suara yang terdengar sangat jujur dan polos.

"Kenapa kamu sampai tidak bisa tidur? Apa kamu merasa tugas yang saya berikan kepadamu itu terlalu berat untuk anak baru sepertimu?"

"Atau mungkin, kamu menemukan sesuatu yang seharusnya tidak perlu kamu temukan di dalam sana?"

Arlan terdiam untuk sejenak.

Dia mencoba memberanikan diri untuk menatap mata atasannya itu dengan penuh keraguan yang masih menyelimuti hatinya.

"Bapak sebenarnya sudah tahu, kan? Bapak sudah tahu tentang adanya selisih dana yang sangat besar di dalam laporan itu?"

Pak Yudha mengambil flashdisk itu, lalu memutar-mutarnya di antara ibu jari dan telunjuknya dengan gerakan yang sangat pelan.

"Di sebuah perusahaan sebesar Megantara ini, sebuah rahasia adalah komoditas yang harganya sangat mahal, Arlan."

"Saya sudah lama tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres di divisi ini, tapi saya tidak pernah memiliki bukti yang cukup bersih untuk memotong kepala ular yang selama ini bersembunyi di sini."

"Kepala ular? Apa maksud Bapak adalah Mas Tegar?"

"Tegar itu hanya bagian ekornya saja, Arlan. Dia memiliki seorang paman yang menduduki jabatan penting di jajaran direksi."

"Itulah alasan utama kenapa dia bisa bersikap begitu berani dan angkuh selama ini."

"Tapi data mengenai pengalihan dana insentif untuk para kurir ini... ini adalah sesuatu yang sangat kuat."

"Ini adalah sesuatu yang bisa meruntuhkan seluruh struktur kekuasaan mereka kalau kita bisa mengelolanya dengan cara yang benar."

{Jadi Pak Yudha memang sedang menjadikanku sebagai alat untuk kepentingannya? Dia sengaja memilihku karena dia tahu aku hanyalah seorang anak baru yang tidak punya beban politik atau koneksi apa pun di sini?}

"Jadi Bapak sengaja memberikan tugas yang sangat berbahaya ini kepadaku karena Bapak tahu aku tidak punya koneksi apa-apa di perusahaan ini?" tanya Arlan dengan nada suara yang terdengar sedikit lebih berani dari sebelumnya.

Pak Yudha tersenyum sangat tipis, hampir tidak terlihat.

"Saya memberikan tugas ini kepadamu bukan karena kamu tidak punya siapa-siapa, tapi karena kamu adalah orang yang jujur."

"Dan jujur saja, di dalam gedung pencakar langit yang mewah ini, kejujuran adalah barang yang sangat langka yang biasanya akan cepat-cepat dibuang ke tempat sampah."

"Lalu apa yang sebenarnya akan Bapak lakukan dengan seluruh data yang ada di dalam flashdisk ini?"

"Itu semua tergantung kepadamu sekarang, Arlan. Kalau saya membuka data ini secara terang-terangan sekarang juga, Tegar akan langsung tahu bahwa kamulah sumber informasinya."

"Karirmu di perusahaan ini akan langsung selesai bahkan sebelum bulan pertamamu berakhir. Apa kamu benar-benar sudah merasa siap dengan konsekuensi sebesar itu?"

Arlan mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat di atas paha.

Dia teringat kembali pada wajah ibunya yang sudah mulai keriput.

Dia teringat pada sayur lodeh sederhana yang mereka makan bersama di bawah cahaya lampu yang redup di rumah kontrakannya.

"Uang itu adalah hak milik para kurir yang bekerja keras di lapangan, Pak."

"Mereka bekerja banting tulang di bawah guyuran hujan yang deras sementara Mas Tegar bisa membeli mobil mewah dari hasil keringat mereka yang dicuri."

"Aku tidak akan peduli lagi dengan karirku di sini kalau aku harus melihat ketidakadilan itu setiap hari," ucap Arlan dengan nada yang sangat tegas.

"Jawabanmu sangat bagus dan menyentuh. Tapi dunia nyata yang kejam ini tidak seindah itu, Arlan."

"Kamu sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk menghidupi ibumu di desa, kan?"

"Ibu saya selalu memberikan pesan bahwa lebih baik kami makan nasi dengan garam saja daripada harus makan daging enak tapi hasil dari mencuri milik orang lain, Pak."

Tiba-tiba, pintu ruangan yang besar itu terbuka dengan sangat kasar tanpa ada suara ketukan terlebih dahulu.

Tegar melangkah masuk ke dalam ruangan dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat marah dan dipenuhi emosi.

Dia sama sekali tidak memedulikan keberadaan Arlan dan langsung menggebrak meja kerja Pak Yudha dengan sangat keras.

"Pak Yudha! Apa maksudnya semua ini? Kenapa akses akun administrator saya dibatasi secara sepihak hari ini?" teriak Tegar dengan suara yang menggelegar.

Pak Yudha tetap terlihat tenang di kursinya. Dia bahkan tidak berkedip sedikit pun melihat kemarahan Tegar.

"Duduklah dulu, Tegar. Jangan pernah melupakan sopan santunmu saat kamu berada di dalam ruangan saya."

"Persetan dengan sopan santun! Saya tahu Anda pasti sedang merencanakan sesuatu yang buruk dengan anak daerah ini."

"Arlan, apa sebenarnya yang sudah kamu berikan kepada Pak Yudha?" Tegar menoleh ke arah Arlan dengan tatapan mata yang seolah-olah ingin membunuh pemuda itu saat itu juga.

Arlan segera berdiri, dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak terlihat gemetar di hadapan Tegar.

"Saya hanya menyerahkan laporan hasil analisis data mingguan seperti yang diminta, Mas."

"Jangan berbohong padaku! Saya melihatmu pergi ke ruangan HRD untuk menemui Siska kemarin malam secara sembunyi-sembunyi."

"Jangan pernah berpikir bahwa saya adalah orang bodoh! Kalian berdua pasti sedang mencoba untuk menjebak saya, kan?"

"Tegar, tolong jaga bicaramu baik-baik," potong Pak Yudha dengan nada suara yang sangat dingin dan menusuk.

"Arlan hanya mengerjakan tugas yang saya berikan kepadanya secara resmi. Kalau kamu memang merasa tidak melakukan kesalahan apa pun, kenapa kamu harus merasa setegang dan sepanas ini?"

Tegar tertawa dengan nada yang sangat sinis.

Dia melangkah mendekati Arlan, berdiri begitu dekat sampai Arlan bisa merasakan deru napas Tegar yang memburu karena amarah yang memuncak.

"Kamu pikir kamu bisa menjadi pahlawan di sini, Lan? Kamu itu hanyalah sampah yang kebetulan dipungut oleh perusahaan ini karena rasa kasihan semata."

"Kalau kamu berani sedikit saja menyentuh urusan pribadi saya, saya pastikan bukan cuma kamu yang akan didepak dari sini."

"Tapi ibu kamu yang ada di desa juga akan merasakan akibat yang sangat pahit," ancam Tegar dengan suara yang sangat rendah namun penuh dengan ancaman.

{Dia sudah benar-benar keterlaluan. Dia berani membawa-bawa nama ibuku ke dalam urusan ini.}

"Mas Tegar boleh saja menghina saya setinggi langit karena saya memang orang kecil."

"Tapi tolong, jangan pernah sekali pun membawa nama ibu saya ke dalam masalah ini," balas Arlan dengan suara yang sedikit bergetar karena emosi yang tertahan di dadanya.

"Kenapa? Kamu merasa takut sekarang? Kamu memang sudah seharusnya merasa takut."

"Kamu sama sekali tidak tahu siapa sebenarnya paman saya yang ada di gedung ini."

"Saya tahu persis siapa paman Anda, Tegar," ucap Pak Yudha sambil bangkit berdiri dari kursi kebesarannya.

"Tapi Anda sepertinya sudah melupakan satu hal yang sangat penting. Saya adalah manajer di divisi ini. Dan di dalam ruangan ini, sayalah yang menjadi hukumnya."

"Bapak benar-benar mau membela anak ini? Bapak lebih memilih membela anak bau kencur yang tidak berguna ini daripada saya yang sudah memberikan kontribusi sangat besar untuk perusahaan?"

"Kontribusi apa yang kamu maksud? Apa kontribusi yang kamu maksud adalah mencuri dana insentif milik para kurir lapangan sebanyak empat ratus lima puluh juta rupiah?" tanya Pak Yudha sambil memutar layar monitornya yang sudah menampilkan isi data dari flashdisk milik Arlan.

Wajah Tegar mendadak berubah menjadi sangat pucat pasi, seperti tidak ada lagi darah yang mengalir di sana.

Dia melangkah mundur beberapa langkah, kedua tangannya yang tadi digunakan untuk menggebrak meja kini terlihat sangat lemas.

"Itu... itu semua adalah fitnah yang keji! Arlan pasti sudah memalsukan seluruh data itu!"

"Dia pasti sudah menggunakan sistem ilegal untuk mengubah angka-angkanya agar saya terlihat bersalah!" teriak Tegar dengan nada suara yang sangat panik.

"Data fisik yang sudah ditemukan oleh Siska tidak mungkin bisa berbohong, Tegar."

"Tanda tangan digital milik akunmu tertera dengan sangat jelas di setiap transaksi pengalihan dana tersebut," sahut Pak Yudha dengan tenang.

"Ini tidak mungkin terjadi... Arlan, kamu... kamu benar-benar sudah melakukan ini kepadaku..."

"Saya hanya mencoba untuk mencari angka yang benar dan jujur, Mas," potong Arlan dengan suara yang pelan namun terdengar sangat mantap.

Tegar menatap Arlan dengan sepasang mata yang penuh dengan dendam, tapi ada rasa ketakutan yang sangat nyata yang terpancar di sana.

Dia segera merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel, mencoba untuk menghubungi seseorang dengan ujung jari yang bergetar hebat.

"Halo, Paman? Paman harus segera datang ke ruangan Pak Yudha sekarang juga!"

"Ada orang yang sedang mencoba untuk memfitnah saya dengan kejam! Iya Paman, tolong cepat datang ke sini!"

Klik. Tegar segera mematikan sambungan ponselnya dan kembali menatap Pak Yudha dengan gaya yang tetap angkuh, meskipun keringat dingin terus mengucur deras di pelipisnya.

"Paman saya akan segera sampai di sini. Kita lihat saja nanti, siapa yang akan benar-benar dibuang ke jalanan hari ini."

Pak Yudha menghela napas panjang, lalu dia kembali duduk di kursinya.

Dia menatap Arlan dengan tatapan mata yang sangat dalam dan penuh arti.

"Arlan, kamu sebaiknya keluar dari ruangan ini dulu."

"Urusan selanjutnya ini bukan lagi tentang data atau angka, tapi sudah masuk ke urusan politik kantor. Tunggu saya di pantry saja."

"Tapi Pak..."

"Pergilah sekarang. Kamu sudah melakukan bagianmu dengan sangat luar biasa baik. Biarkan saya yang menyelesaikan sisa urusan ini."

Arlan membungkuk dengan sangat sopan, lalu dia berjalan keluar dari ruangan itu.

Saat dia berjalan melewati Tegar, pria itu sengaja menyenggol bahu Arlan dengan sangat keras hingga Arlan hampir limbung.

Arlan memilih untuk tidak membalas sama sekali. Dia terus melangkah menuju lorong kantor yang terasa sangat sepi dan sunyi.

{Apa ini benar-benar akan menjadi akhir dari segalanya bagiku? Atau justru ini adalah awal dari sebuah badai yang jauh lebih besar lagi?}

[Peringatan: Terdeteksi adanya pergerakan massa yang sangat besar di depan gedung Megantara Group.]

[Status: Para kurir lapangan mulai berkumpul dalam jumlah banyak setelah mereka menerima informasi anonim mengenai penggelapan dana insentif.]

Arlan mendadak terhenti di tengah lorong yang panjang itu.

Dia menatap layar sistem yang terus berkedip-kedip di depan matanya.

{Informasi anonim? Siapa yang sudah melakukan hal itu? Aku bahkan belum sempat memberitahu siapa pun tentang hal ini selain kepada Pak Yudha.}

[Analisis Sistem: Informasi tersebut telah disebarkan oleh akun bernama 'Maya_Analis' melalui jaringan grup chat rahasia para pekerja.]

Arlan terkesiap seketika.

{Mbak Maya? Jadi dia juga tidak mau tinggal diam melihat ketidakadilan ini?}

Dia segera berlari menuju jendela kaca besar yang ada di ujung lorong, jendela yang menghadap langsung ke arah jalan raya di depan gedung.

Benar saja, di bawah sana, puluhan motor kurir sudah mulai berbaris dengan sangat rapi.

Mereka membawa spanduk-spanduk sederhana yang terbuat dari potongan kardus bekas.

Suara klakson dari motor-motor mereka mulai terdengar menggema sampai ke lantai sepuluh.

Situasi yang ada sekarang sudah bukan lagi sekadar masalah internal di dalam kantor.

Masalah ini sudah berubah menjadi sebuah kerusuhan publik yang sangat besar.

{Tegar tidak akan mungkin bisa meloloskan diri lagi meskipun pamannya datang membantu.}

{Rakyat yang marah sudah berdiri tepat di depan pintu rumahnya.}

Arlan merasakan kedua lututnya mendadak kehilangan tenaga, seolah-olah tulang-tulangnya berubah menjadi air yang tidak sanggup lagi menopang berat badannya sendiri.

Dia terduduk lemas di bangku panjang yang ada di lorong itu, lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Dia merasa sangat takut, tapi di saat yang bersamaan, ada sebuah rasa lega yang sangat luar biasa yang menjalar di dalam dadanya.

Kejujuran yang dia bawa jauh-jauh dari desa akhirnya berhasil menemukan suaranya sendiri di tengah hiruk pikuk kota yang dingin ini.

"Ibu, Arlan sudah melakukan hal yang benar, kan?" bisiknya dengan suara yang sangat lirih.

[Misi Sampingan Selesai: Menegakkan Keadilan Bagi Para Pekerja]

[Hadiah: Peningkatan Level Hubungan dengan Maya +30, Gelar 'Pahlawan di Balik Layar' Berhasil Diperoleh.]

Namun, di tengah rasa lega yang baru saja dia rasakan, Arlan melihat Siska sedang berlari ke arahnya dengan ekspresi wajah yang benar-benar pucat pasi karena dikuasai oleh rasa cemas yang luar biasa.

"Arlan! Kamu harus segera pergi dari sini sekarang juga!"

"Paman Tegar membawa beberapa orang suruhan yang sangat kasar ke gedung ini!"

"Mereka sedang mencari siapa orang yang sudah memberikan data rahasia itu kepada Pak Yudha!" teriak Siska sambil menarik paksa tangan Arlan agar segera berdiri.

Perjuangan Arlan ternyata masih sangat jauh dari kata selesai.

Badai yang sesungguhnya baru saja mendarat dengan sangat keras di gedung Megantara yang megah ini.

1
boy
sistem gk guna,udh di tampar,kluar darah,tpi bacot doang,goblok
boy
Arlan pengecut,udh bner tpi masih pengecut,goblok lu Arlan,
Was pray
langkahmu terlalu cepat pingin sukses Arlan, pingin kaya secara instan , sukses instan, ntar kamu jadi mie instan lama lama Arlan, lalui proses dengan sabar, pertajam kemampuan bisnismu , perkuat koneksi bisnismu, baru punya ilmu analisis data secuil udah mendirikan perusahaan ... 🤣🤣🤣
Was pray
terlalu awal Arlan terjun ke dunia bisnis, kerja di megantara grup baru nenapak, asah dulu otak bisnismu dengan menimba ilmu di megantara, setelah kakimu kokoh berdiri baru terjun ke dunia korporat
Pakde
up thor 🙏🙏🙏
Pakde
lanjut thor 🙏🙏🙏
Pakde
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!