NovelToon NovelToon
TIRAKAT 2

TIRAKAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Tumbal
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Berdasarkan kisah nyata.

Novel ini adalah seri kedua dari novel TIRAKAT. Menceritakan tentang kehidupan Nisa (Aku) setelah kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Bapaknya, yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.

Apakah Nisa melanjutkan tirakatnya?
Bagaimana kehidupan berjalan berikutnya?
Bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sekarang?
Dan... Apakah Bapak bisa kembali normal?

SELAMAT MEMBACA... ☺️☺️☺️
.
.
.
!!! DISCLAIMER!!!

Seluruh nama tokoh, nama tempat, nama daerah, telah disamarkan. Apabila ada kesamaan, harap dimaklumi. Dan novel ini ditulis bukan untuk menyudutkan seseorang, tokoh, tempat, daerah, agama, atau kepercayaan tertentu. Murni hanya berbagi kisah dengan para pembaca sekalian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEMBALI PULANG

Tanpa banyak berpikir, aku mencoba untuk segera bangkit meski punggungku terasa sakit karena hempasan itu. Segera aku berlari ke arah pintu dan mencoba membukanya lagi. dan sudah kembali terkunci pintu tersebut.

Dak dak dak!!!

Suara pintu yang kupukul beberapa kali.

“Mas Iko! Tolong Mas!” teriakku dari dalam. Mencoba untuk memanggilnya. Berharap dirinya masih bisa untuk melihatku dari dimensi nyata.

Tapi bukannya suara Mas Iko yang ku dengar, melainkan suara geraman yang tadi di lorong lantai dua ku dengar dari sosok bermata merah menyala.

“Gggrrr…” suara itu tepat berada di belakangku!

Aku segera berbalik badan. Dan… Kulihat sesosok makhluk yang membuat seluruh tubuhku terasa lemas. Nafasku tercekat. Jantungku terasa berhenti. Dan kenangan mengerikan satu tahun lalu kembali merasuk ke dalam ingatanku.

Ya… Sosok yang kini ada di hadapanku adalah sosok mengerikan yang ku temui di dalam gubuk tua itu saat menyelamatkan jiwa bapakku.

“Ka-ka-kamu?! Ma-mau apa kamu datang lagi?!” ucapku gemetaran sambil bersandar ke pintu. Napasku memburu.

Sosok itu berdiri menatapku dengan kedua matanya yang merah menyala. Tapi, kali ini. aku tak merasakan aura kemarahan atau ancaman darinya. Namun tetap saja kondisi seperti ini membuatku lemas.

“Aku tidak akan menyakitimu lagi…” ucap sosok itu.

“Aku hanya ingin menunjukkan sesuatu padamu…” tambahnya.

Lalu sosok itu dengan tangan kirinya, menunjuk ke sebuah arah di sampingnya. Kedua mataku sontak melihat ke arah yang sosok itu tunjuk.

Dan… Amat terkejutnya diriku saat melihat sebuah bingkai foto yang tergantung di dinding. Meski dalam gelapnya suasana rumah ini, bisa kulihat jelas siapa yang ada di dalam bingkai foto itu.

Dia adalah saudara dari Pak Handoyo!

Aku langsung bertanya kepada sosok itu, “Apa maksudmu menunjukkan itu padaku?”

Lalu sosok itu menurunkan tangannya dan menjawab, “Dialah yang membuatku menjadi pesuruh…”

“A-a-apa?!” responku kaget.

“Dia yang saat ini menjadi tuanku. Dan dia yang menginginkan nyawa saudaranya sebagai tumbal…” jawabnya.

“Jika seperti itu, pulanglah kepada tuanmu! Jangan pernah ganggu aku lagi dan jangan pernah menyentuh Bapakku!”

“Tolong… Bebaskan aku darinya…”

“Apa maksudmu?”

“Aku tak ingin menjadi pesuruh orang itu…”

“Ke-kenapa kamu minta tolong padaku? Aku bukan siapa-siapa! Pergilah! Kembalilah kepada tuanmu!” ucapku dengan nada penolakan dan bermaksud mengusirnya agar aku bisa keluar dari dalam rumah ini.

“Tidak! Aku tidak ingin kembali padanya! Gggrrr…”

Lalu sosok itu tampak hendak berjalan mendekatiku. Namun tiba-tiba… Sosok Gilang berlari dan segera menghadangnya.

“Gi-Gilang?!”

Sosok Gilang meregangkan kedua tangannya menghadang sosok itu. Namun, seketika sosok mengerikan itu berteriak…

“Aaarrrggghhh!!!”

Suaranya memekakkan telingaku. Aku langsung menutup kedua telinga, dan jelas terlihat di hadapanku sosok mengerikan itu menghempaskan tubuh sosok Gilang. Sehingga sosoknya yang kecil itu terlempar dan menghilang di dalam kegelapan. Aku seperti melihat sesosok makhluk ghoib yang memiliki kekuatan lebih besar mampu membuat sosok ghoib lain yang lebih lemah menjadi tak berdaya.

Bak… bak… bak…

Suara langkah kaki sosok mengerikan itu kembali berjalan mendekat ke arahku. Aku langsung memejamkan kedua mata. Merasakan takut yang semakin membuat tubuhku kaku dan tak bisa kugerakkan.

Namun tiba-tiba…

“Jika kau berani mendekatinya, kau akan aku musnahkan!”

Dayang Putri sudah ada di hadapanku saat perlahan kubuka kedua mataku.

“Dayang Putri…!” aku mencoba mendekatinya. Bermaksud ingin memeluk dan berlindung di belakangnya.

“Jangan mendekat Nisa!” larang Dayang Putri saat baru dua langkah kakiku mendekat.

Lalu Dayang Putri menatap tajam ke arah sosok mengerikan itu dan berkata, “Kau bisa melawan yang lebih lemah darimu, tapi tidak denganku!”

Kemudian Dayang Putri mengangkat tangan kanannya, dan seketika itu juga sosok mengerikan itu terhempas ke belakang. Seolah sosok itu menembus tembok dan segera lenyap dari hadapanku dan Dayang Putri.

“Aaaarrrggghhh!!!” suara sosok itu mengerang seperti kesakitan. Lalu segera menghilang suaranya.

Kembali hening perlahan di sekitarku…

“Nisa, segera kembalilah ke ragamu.” ucap Dayang Putri sambil membalikkan tubuhnya menghadapku.

“Iya Dayang Putri… Terima kasih…” jawabku.

Dan seketika itu juga, pintu di belakangku bisa ku dorong, terbuka lebar. Aku segera berlari keluar dari dalam rumah itu. Segera menembus gelapnya hutan di depanku. Menyusuri jalan setapak yang kini gelap. Tak ada lagi lampu obor yang kulihat saat datang ke sini.

Aku terus berlari. Denga suara napasku yang terengah-engah. Dan tak selang beberapa lama, terdengar suara beberapa orang yang memanggil-manggil namaku dari kejauhan. Diiringi dengan suara bacaan do’a-do’a.

Lalu di depanku tampak sebuah cahaya putih yang semakin lama semakin membesar. Aku terus berlari mendekati cahaya itu. Dengan suara orang-orang yang terus memanggil namaku, semakin keras terdengar. Lalu berdenging kencang kedua telingaku… Dan…

“Aaaaaaaaggghhh!!!”

Aku kembali ke dalam ragaku. Kembali ke dimensi dunia nyata. Terasa sesak napasku. Berat punggungku.

“Hahh! Hahh! Hahh! Hahh!” terengah-engah napasku.

“Alhamdulillah Ya Alloh!” ucap seseorang di sampingku.

Dan ketika aku mencoba untuk memfokuskan pandanganku, aku melihat ke sekitar. Ternyata aku sudah berada dalam kamar. Duduk di atas kasur.

Di sekitarku sudah ada Ustadz Furqon, Mas Ahmad, dan Mas Iko. Juga sudah ada Bu Fatimah, istri Ustadz Furqon, yang berdiri di dekat pintu.

“Bu, air minumnya sini!” pinta Ustadz Furqon. Segera Bu Fatimah memberikan segelas air putih yang ternyata sedari tadi di genggamannya.

“A’udzubillah… Bismillah…” Ustadz Furqon tampak membacakan do’a terlebih dahulu sebelum air itu diberikan kepadaku.

“Ini Nisa, diminum dulu airnya.”

Aku menerima gelas air itu…

“Bismillah… glek, glek, glek… Alhamdulillah… hahh.. hahh...”

Aku mengusap air yang sedikit membasahi dagu. Dan segera bertanya kepada Ustadz Furqon…

“Farhan? Gimana Farhan Ustadz?”

“Alhamdulillah Nisa, dia sudah pulang. Tadi juga dibantu sama Mas Iko. Farhan tiba-tiba muncul di dalam kamarnya yang ditutup.”

“Alhamdulillah Ya Alloh…” ucapku dengan perasaan lega yang segera memenuhi hatiku.

“Mas Iko… Terima kasih…” ucapku sambil menatap ke arahnya yang sedang terduduk di kursi, tepat di belakang Ustad Furqon.

“Enggak Mbak Nisa, justru kami yang harus terima kasih sama Mbak. Karena dengan kemampuan Mbak Nisa itu Farhan bisa ditarik dan akhirnya pulang.” Jawabnya.

Sedangkan Mas Ahmad hanya terdiam sambil menatap ke Mas Iko, lalu menatapku. Dengan senyuman yang juga tampak rasa lega di wajahnya.

Lalu Ustad Furqon berkata padaku, “Nisa, kamu istirahat aja dulu di sini. Jangan langsung pulang ya.”

“Tapi… Bapak saya…”

“Tenang, tadi saya sudah minta tolong sama Mas Ahmad buat ke rumahmu sebentar. Buat kasih kabar ke Bapakmu. Sekaligus minta tolong ke Mas Padi buat nemenin Bapak di rumah.” Jelas Ustadz Furqon.

“Maafin saya udah ngerepotin kalian…”

“Sudah Mbak Nisa, justru Mbak Nisa berjasa untuk kepulangan Farhan.” Mas Iko menjawab.

Akhirnya… malam ini aku beristirahat dahulu di rumah Ustadz Furqon. Di temani tidurku oleh istrinya, Bu Fatimah.

Namun sebelum tidur, aku kembali mengingat kejadian ketika hampir keluar bersama Farhan itu. Kenapa sosok mengerikan itu datang lagi dan justru meminta tolong padaku agar bisa terbebas dari orang itu?

Dan juga kembali datang pertanyaan besar dalam kepalaku…

Apakah benar sosok dalam bingkai foto itu adalah saudara dari Pak Handoyo?

Apakah memang betul dia yang hendak menumbalkan nyawa Pak Handoyo?

Tapi karena apa alasannya berbuat sejahat itu pada saudaranya sendiri?

Dan apakah betul dia juga yang akhirnya mencoba menumbalkan Bapakku saat usahanya gagal karena Pak Handoyo yang kutolong?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!