Elyra Azzahra mencintai Leonard Attahaya tanpa mengetahui siapa sosok Leonard sebenarnya.
Saat kebenarannya terungkap nyatanya perbedaan kasta dan jurang sosial menjadi titik kehancuran keyakinan Elyra akan cinta, namun dia tetap memilih bertahan.
Namun, harapan itu kembali runtuh ketika Leonard ternyata telah dijodohkan. Dalam kehilangan, Leonard memberontak, dan rela mengorbankan segalanya demi Elyra. Bagi Elyra dunia adalah cinta dan cinta bukan berarti dunia.
Mampukah Elyra bertahan demi cinta? atau justru menyerah dengan dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Sponsor
“Kami duluan, Pak. Assalamualaikum.” Elyra pamit, dan pergi dari sana. Leon mencolek pinggang Elyra hingga gadis itu terkejut karena geli dan tertawa.
“Apa-apaan dih!” Elyra tertawa, Leon terkekeh dan mengejar Elyra yang berlari meninggalkannya.
“Sayang, tunggu!” Leon mengejarnya yang juga ikut tertawa, keduanya saling kejar hingga sampai di parkiran.
Keduanya masuk ke mobil dan Elyra lelah, merasakan tangannya mulai terasa linu. Dia menyandarkan tubuhnya dan merasa sangat lesu.
“Lapar,” lirih Elyra. Leon tersenyum dan mengusap kepala Elyra lembut.
“Kita makan dulu,” Leon melaju perlahan hingga sampai di sebuah restoran.
“Ah, sialnya aku.” Gumam Elyra saat sadar bila di dalam sana ada teman-temannya juga yang sedang melakukan evaluasi sambil makan siang.
“Lyra!” Elyra tadinya akan balik kanan, tapi salah satu temannya justru menyapa Elyra.
“Hei,” Elyra tersenyum canggung. Leon menaruh dagunya di pundak Elyra.
“Makan siang bareng, yo?” ajak mereka. Elyra menatap Leon canggung. Leon mengangkat bahunya menyerahkan keputusan pada Elyra.
“O-ok.” Jawab Elyra sembari duduk pasrah bersama teman-temannya. Leon duduk di samping Elyra dan menjadi orang paling tinggi dan besar di sana.
“Elyra, bukankah kamu mau pulang?” Deon baru saja tiba. Elyra menggaruk tengkuknya.
“Saya mau makan dulu, Pak. Kebetulan saya bertemu teman-teman di sini.” Elyra tersenyum kikuk. Leon menatap wajah Elyra amat dalam, sebelum sebuah ide muncul di kepalanya.
“Kartunya kurang?” tanya Leon santai, padahal matanya sudah berbinar seperti menemukan alasan emas.
Elyra baru saja mau menjawab ketika Leon tiba-tiba merogoh dompetnya lagi. Bukan satu, bukan dua, sebuah kartu hitam mengilap bertuliskan Unlimited kembali muncul di antara jemarinya, menyusul lima kartu lain yang bahkan belum sempat disentuh Elyra sejak tadi.
Deon dan teman-teman Elyra langsung melirik serempak. Leon mengibaskan kartu itu pelan, seolah sedang pamer jurus pamungkas.
“Pakai ini aja. Yang waktu itu ku kasih semuanya cadangan… cadangan… cadangan… cadangan… sama cadangan,” katanya sambil menghitung asal-asalan.
Elyra menatapnya tak percaya, lalu terkekeh geli.
“Leon, itu belum dipakai satu pun, dan aku juga masih mampu, tidak perlu dinafkahi sekarang.”
Leon mengedikkan bahu sok santai sambil menggelengkan kepalanya.
“Entah, apa sebaiknya aku saja yang dinafkahi?” Leon tersenyum simpul, membuat Elyra kembali tak kaku seperti tadi.
“Ya ampun, tidak begitu juga. Nih simpan ya.” Elyra mengembalikan kartu itu lagi pada Leon, diikuti tatapan teman-temannya.
“Kok ditolak, ambil dong. Ya siapa tahu kasirnya bosan sama kartu yang biasa.”
Deon berdeham kecil mendengar celotehan Leon.
Deon duduk di antara Leon dan Elyra seolah itu memang disengaja. Leon mendelik kesal, dia menatap Elyra meminta bantuan.
“Pak, sepertinya saya duduk di tempat lain saja.” Elyra berdiri dari tempat duduknya, namun tangannya dihentikan oleh Deon.
“Kenapa?” tanya Deon. Elyra mengibaskan tangannya dan menghela napas kasar.
“Maaf, Pak. Tampaknya orang yang bersama saya tidak nyaman dengan perlakuan Anda. Dan tampaknya kami juga kurang diterima oleh Anda. Saya permisi, Pak. Ayo!” Elyra menarik lengan Leon, dan Leon hanya menatap setengah meledek pada Deon.
Elyra sengaja menarik kursinya agak menjauh dari meja besar tempat Deon dan teman-temannya masih ramai bercanda. Leon ikut memindahkan kursinya, duduk tepat di hadapannya. Suasana langsung terasa lebih tenang, hanya suara sendok dan alunan musik pelan dari dalam restoran saja yang terdengar, sampai makanan sampai di depan mereka.
“Kita kayak kabur dari keributan,” gumam Leon sambil menyandarkan punggung.
Elyra terkekeh kecil.
“Bukan kabur. Hanya sedang menyelamatkan telinga,” jawab Elyra. Leon tertawa pelan.
“Sejak kapan hidup kamu seramai itu sih?” tanya Leon. Dia juga tak menyangka ternyata memiliki Elyra tak sebaik yang dia bayangkan, ada suka duka dan banyak hal yang membuat Leon kian menyayangi Elyra.
“Sejak kenal kamu,” balas Elyra cepat, matanya menyipit jahil.
“Wah, tuduhan serius.” Leon pura-pura tersedak minumannya.
Mereka tertawa bersama, lalu obrolan mengalir ringan, tentang hari-hari sibuk Elyra di warnet dan restoran. Bahkan dia juga menceritakan seorang pelanggan WiFi yang menunggak sampai tiga bulan dan tetap dimaafkan Elyra sebab mereka memiliki anak yang merupakan temannya di sekolah, dan internet sangat dibutuhkan namun mereka memang kurang mampu.
Hingga tentang kehadiran Leon yang selalu muncul tiba-tiba membawa kejutan, tentang kejadian-kejadian kecil yang entah kenapa selalu terasa berarti saat diceritakan ulang.
Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya berjas rapi keluar dari dalam restoran. Wajahnya langsung berbinar begitu melihat mereka.
“Non Elyra, dan?” sapa sang manajer sopan sambil sedikit membungkuk.
“Ini Leon, Pak Raka,” jawab Elyra. Pak Raka tersenyum dan menunduk memberi salam pada Leon.
“Pak Raka, duduk saja. Tidak usah formal begitu.” Elyra tersenyum hangat. Manajer itu menarik kursi, duduk sebentar di sisi meja.
“Saya hanya ingin memastikan semuanya berjalan lancar hari ini. Meja depan penuh sejak siang, pesanan meningkat dua kali lipat, Non. Alhamdulillah.”
Leon melirik sekeliling lalu mencondongkan tubuh.
“Berarti bos besar kita ini makin tajir dong.”
Elyra memutar bola matanya kecil.
“Leon.” Kesal Elyra mencubit Leon sambil ikut tertawa.
“Semua berkat arahan Non Elyra. Konsep baru beberapa waktu lalu ternyata menarik banyak pelanggan,” Pak Raka ikut tersenyum.
“Bagus. Karyawan cukup?” Elyra mengangguk puas.
“Lebih dari cukup. Tapi dapur minta tambahan bahan lebih banyak,” tawa Pak Raka.
“Catat saja, saya urus.”
Leon menyela santai, padahal kesibukannya saja sudah cukup banyak merampas waktunya.
“Kalau kurang dana, pakai kartu unlimited cadangan ke-enam juga, baby.”
Pak Raka sempat terdiam sepersekian detik sebelum tertawa kaku.
“Ehem, Pak Leon ini. Ah, saya bukan ingin ikut campur, namun saya takut membuat beliau tersinggung di masa depan. Biar saya beri tahu para karyawan ke depannya bila memang orang yang spesial untuk Non Elyra.”
“Saya pacarnya, Pak,” jawab Leon cepat. Elyra kembali mencubit tangan Leon.
“Gak ih, bukan pacar, Pak,” bantah Elyra, seketika wajah kecewa tertera di wajah Leon.
“Terus ka-”
“Dia calon suami saya,” pungkas Elyra. Leon langsung terdiam dan memberikan isyarat tangan seolah sedang menutup resleting di bibirnya sambil menahan senyum yang siap menyembur kapan saja.
“Dan kalau kurang dana, aku bisa jadi investormu lagi di bidang ini.” Senyum Leon. Elyra menggelengkan kepalanya.
“Gak deh, gak dulu,” jawab Elyra cepat.
Pak Raka pamit setelah beberapa basa-basi, kembali ke dalam restoran. Begitu pria itu pergi, Elyra menatap Leon sambil menggeleng.
“Kamu itu ya… di mana-mana tetap saja.”
Leon menyeringai lebar.
“Biar semua tahu pemilik restoran cantik ini aman di bawah sponsor resmi.”
“Sponsor apaan?”
“Leon Unlimited Foundation.”
Elyra langsung tertawa sampai bahunya bergetar mendengar celotehan Leon.
🤣