NovelToon NovelToon
Pangeran Tidur

Pangeran Tidur

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir / Romansa / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Azumi Senja

Elora tak pernah percaya dongeng. Hingga suatu malam, ia membacakan kisah Pangeran Tidur dan terbangun di dunia lain.
Sebuah taman cahaya tanpa matahari,tempat seorang laki-laki bernama Arelion.
Arelion bukan sekadar penghuni mimpi. Di dunia nyata, ia adalah pewaris keluarga besar yang terbaring koma, terjebak di antara hidup dan mati. Setiap pertemuan mereka membuat sunyi berubah menjadi harapan, namun juga menghadirkan dilema yang menyakitkan.
Jika Arelion terbangun,ia akan kehilangan semua ingatannya bersama Elora ,
Jika Arelion tetap tertidur, dunia nyata perlahan kehilangannya.

" Bangunlah Arelion..meski dalam ingatanmu, aku tak akan ada.." ~ Elora ~


"Aku terjebak dalam tidur panjang
sampai dia datang
dan membuat sunyiku bernama" ~Arelion~

Ini bukan kisah putri tidur.
Ini adalah kisah tentang dua hati
yang dipertemukan dalam mimpi.
Tentang cinta yang tumbuh diantara dua dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah pilihan

Kedatangan itu terjadi tanpa banyak pemberitahuan.

Sebuah mobil hitam berhenti di halaman panti, memecah rutinitas sore yang tenang. Para pengurus saling berpandangan ketika seorang perempuan elegan turun dari kursi belakang. Wajahnya tenang, rapi, namun menyimpan duka yang belum sepenuhnya pulih.

Maria.

Salah satu donatur terbesar panti itu—istri dari almarhum pengusaha yang selama bertahun-tahun menjadi penopang utama keberlangsungan panti.

Bu Panti menyambutnya dengan hangat, meski ada kegelisahan yang tak bisa disembunyikan. Mereka duduk di ruang tamu, secangkir teh tersaji, namun tak satu pun benar-benar menyentuhnya.

“Aku datang bukan hanya untuk berkunjung,” ucap Maria akhirnya, suaranya lembut namun tegas. “Aku ingin membawa seseorang dari panti ini… ikut bersamaku ke kota.”

Bu Panti mengangguk pelan. “Tentu saja, Bu Maria. Anak-anak di sini banyak yang masih kecil. Mungkin Romi, atau—”

“Bukan,” potong Maria halus.

Ia mengangkat pandangan. “Aku ingin Elora.”

Ruangan seketika senyap.

Beberapa pengurus saling menoleh, seolah memastikan mereka tidak salah dengar. Elora—yang saat itu sedang membersihkan rak buku di sudut ruangan—membeku di tempatnya.

“Aku?” suaranya nyaris tak terdengar.

Maria menatapnya lama, seakan menilai sesuatu yang tak kasatmata. “Kau sudah cukup dewasa. Dan aku… tidak ingin sendirian.”

Elora menelan ludah. “Maaf, Bu. Saya tidak bisa. Panti ini rumah saya. Dan Romi… dia adik saya.”

Romi.

Nama itu membuat dada Elora mengencang.Meski tak ada ikatan darah diantara mereka ,namun Romi sudah dianggap adiknya sendiri . Bocah itu adalah alasannya bertahan, alasan ia tetap di sini meski dunia di luar menawarkannya lebih banyak kemungkinan.

Maria tersenyum tipis. “Aku mengerti perasaanmu.”

Lalu senyumnya menghilang.

“Namun kau juga harus mengerti posisiku,” lanjutnya pelan. “Jika kau bersedia ikut denganku, aku akan memastikan panti ini tidak pernah kekurangan. Dana pendidikan, perbaikan bangunan, kebutuhan harian—semuanya.”

Bu Panti terdiam.

Dan sebelum siapa pun sempat berbicara, Maria menambahkan, suaranya tetap tenang namun menusuk,

“Jika tidak… aku akan menghentikan seluruh sumbangan yang selama ini diberikan almarhum suamiku.”

Kata-kata itu jatuh seperti palu.

Elora merasakan dunia di sekelilingnya menyempit. Ia tahu betul arti ancaman itu. Selama ini, panti bertahan karena bantuan keluarga Maria. Tanpa itu, banyak anak akan kehilangan sekolah. Kehilangan makan layak. Kehilangan masa depan.

Ia menatap lantai.

Selama ini, ia telah berutang segalanya pada panti—tempat yang membesarkannya, melindunginya, memberinya alasan untuk tetap hidup.

Jika dengan kepergiannya panti bisa tetap berdiri…

Maka apa artinya satu hati yang harus patah, dibandingkan puluhan masa depan yang harus diselamatkan?

Elora memejamkan mata, menahan getar di dadanya.

Seminggu berlalu dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya.

Hari-hari Elora di panti diisi dengan kebisuan yang disengaja. Ia tetap tersenyum, tetap membantu di dapur, tetap membacakan dongeng untuk anak-anak—terutama Romi—namun setiap tawa terasa seperti ditahan, setiap pelukan terasa seperti perpisahan yang ditunda.

Hingga pagi itu tiba.

Deru mobil yang berhenti di depan panti membuat Elora menoleh. Mobil yang sama. Hitam. Tenang. Tak tergesa, seolah waktu memang telah memutuskan arahnya.

Maria datang menepati janji.

Ia turun dengan langkah anggun, mengenakan pakaian serba gelap. Wajahnya tetap dingin, nyaris tak menunjukkan emosi, namun matanya menatap lurus ke arah Elora.

“Sudah siap?” tanyanya singkat.

Elora mengangguk pelan. Tangannya menggenggam tas kecil yang isinya tak seberapa—beberapa helai pakaian, buku dongeng bersampul usang, dan kenangan yang terlalu berat untuk dibawa.

Anak-anak berkumpul di teras. Bu Panti berdiri di samping mereka, matanya berkaca-kaca namun berusaha tegar.

Romi berdiri paling depan.

Elora berlutut di hadapannya sekali lagi, seolah ingin mengulang waktu yang telah habis.

“Kakak harus pergi sekarang,” ucapnya lembut.

Romi tak menangis. Justru itu yang membuat Elora lebih hancur.

“Kak,” kata Romi pelan, “jangan lupain aku.”

Elora tersenyum getir. Ia menggeleng.

“Kamu yang jangan pernah lupa jadi anak baik.”

Ia memeluk Romi untuk terakhir kalinya. Pelukan itu singkat terlalu singkat untuk cinta yang begitu besar.

Saat Elora berpamitan, langkahnya terasa lebih berat dari biasanya.

Bu Panti berdiri di hadapannya, kedua tangannya menggenggam jemari Elora erat, seolah takut gadis itu benar-benar pergi jika dilepas. Mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca, wajahnya dipenuhi rasa bersalah yang tak mampu ia sembunyikan.

“Ibu tahu… kamu tidak ingin pergi,” ucapnya lirih. “Dan ibu tahu, keputusan ini bukan untuk dirimu sendiri.”

Bu Panti menarik Elora ke dalam pelukannya. Pelukan yang hangat, rapuh, penuh cinta yang selama ini menjadi rumah bagi Elora.

“Maafkan ibu, Nak…” suaranya bergetar. “Ibu membiarkan kamu berkorban demi anak-anak di sini.”

Elora memejamkan mata. Air mata akhirnya jatuh, namun senyumnya tetap bertahan ,senyum yang dipaksakan demi menenangkan hati orang lain.

“Aku akan baik-baik saja,” ucapnya lembut di sela isak. “Selama kalian juga baik-baik saja.”

Bu Panti mengusap punggung Elora pelan, terisak dalam diam.

“Panti ini selalu rumahmu,” katanya. “Kapan pun kamu ingin pulang…”

Elora mengangguk pelan. “Aku tahu, Bu. Dan itu yang membuatku kuat.”

Mereka berpelukan lebih lama dari biasanya, seolah mencoba menyimpan kehangatan itu untuk hari-hari yang akan datang.

Di luar, suara anak-anak terdengar samar tawa kecil, yang tak tahu bahwa satu pelukan hari itu adalah perpisahan yang paling menyakitkan.

Dan Elora, dengan mata yang basah dan hati yang gemetar, melangkah pergi sambil membawa satu doa:

semoga pengorbanannya benar-benar berarti

Maria memperhatikan pemandangan itu tanpa komentar. Namun sesaat sebelum Elora berdiri, perempuan itu berkata pelan,

“Kau membuat pilihan yang tepat.”

Elora tak menjawab.

Ia hanya menoleh sekali lagi ke panti—rumah yang membesarkannya, tempat di mana ia belajar mencintai tanpa syarat.

Saat pintu mobil tertutup dan kendaraan mulai melaju, Elora menahan napas. Jalanan menjauh. Panti mengecil di balik kaca jendela.

Dan di dalam tasnya, buku dongeng itu terasa lebih berat dari biasanya.

Entah kenapa, Elora merasa ini bukan hanya tentang meninggalkan panti.

Ini terasa seperti awal dari sesuatu yang jauh lebih besar—

atau perpisahan lain yang belum ia pahami sepenuhnya.

Perjalanan itu terasa sunyi.

Mobil melaju meninggalkan hiruk pikuk kota kecil menuju kawasan yang lebih tenang. Elora menatap keluar jendela, melihat bangunan berubah menjadi deretan pepohonan tinggi dan jalanan yang semakin sepi. Hatinya berdebar bukan karena takut, melainkan karena perasaan asing yang perlahan merambat.

Akhirnya mobil berhenti di depan sebuah rumah besar.

Rumah itu berdiri anggun di balik pagar besi hitam, dikelilingi taman yang tertata rapi. Bukan rumah yang ramai oleh kehangatan, melainkan rumah yang terlalu sunyi seolah menyimpan gema masa lalu yang belum selesai.

“Kita sudah sampai,” ucap Maria singkat.

Elora turun perlahan. Kakinya menapak di halaman batu, matanya menelusuri bangunan dua lantai itu. Jendela-jendela besar tertutup rapat. Tak ada suara tawa, tak ada kehidupan yang menyambut.

Maria membuka pintu

Lihatlah Adrian ..aku berhasil membawa putrimu ..kau pikir bisa selamanya menyembunyikan nya dariku? Aku harap ..kau dan wanita j*Lang itu tak akan pernah tenang disana.

Lihatlah apa yang bisa kulakukan pada Anakmu ini.

1
Azumi Senja
Ashiapppp
Ziya Bandung
Lanjuuuut
Sybilla Naura
lanjuuuuttt 😍😍
Sybilla Naura
Semoga Arelion tak amnesia
Azumi Senja: Semoga 🤭🤭
total 1 replies
Sybilla Naura
lanjuuuuuttttt
Sybilla Naura
Tiap bab nya bikin pinisirin 👍
Azumi Senja
Kereenn
Ziya Bandung
Seruuuuu👍
Ziya Bandung
Suka bangett cerita fantasi kaya gini..🫰🏻🫰🏻
Ziya Bandung
seruuuu😍😍
Sybilla Naura
Sukaa banget cerita dua dunia kaya gini..😍😍
Sybilla Naura
Wahhh..karya baru nih Thor..lanjuuuuuuuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!