NovelToon NovelToon
Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Ria, seorang gadis yang harus menanggung aib kedua orangtuanya seumur hidupnya. Lahir sebagai anak haram. Di belenggu sangkar emas dalam genggaman Ayahnya, di siksa lahirnya, dan di cabik batinnya. Ria terpaksa menikah dengan Pria dingin tak berperasaan bernama Arya. fisik Ria tidak terluka bersama Arya, namun batin Ria semakin tersiksa. Sampai ajal menjemput Ria, Arya baru tahu apa arti kehilangan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Baru

Suasana di ruang tengah mendadak hening. Pak Baskara menatap Ria dengan penuh antisipasi, sementara Arya masih terpaku, menunggu keputusan apa yang akan diambil istrinya dengan kekuatan besar yang kini ada di tangannya.

Ria perlahan melipat kembali surat wasiat itu. Ia menatap sertifikat kepemilikan aset yang nilainya bisa mengubah peta persaingan bisnis di kota ini. Kemudian, dengan gerakan yang tenang dan tanpa ragu, ia menggeser dokumen-dokumen itu ke arah Arya.

"Ambillah, Mas. Kelola ini untukku," ucap Ria mantap.

Arya tertegun, matanya membelalak tak percaya. "Ria? Apa kau sadar apa yang kau lakukan? Ini adalah perlindunganmu. Dengan ini, kau tidak perlu lagi bergantung padaku. Kau bisa memegang kendali atas ibu tiriku dan ayahku sendirian."

Ria tersenyum tipis, sebuah senyuman yang memancarkan kedewasaan yang baru ia temukan. "Aku sadar, Mas. Tapi aku juga tahu kapasitas diriku. Aku tidak tahu apa-apa tentang manajemen yayasan, sengketa tanah, atau bagaimana menghadapi serigala-serigala di dunia bisnis seperti Ibu Soraya. Jika aku memegangnya sekarang karena haus kekuasaan, aku hanya akan menghancurkan amanah Ibu mertuaku."

Ria menarik napas panjang, menatap suaminya dengan lekat. "Aku mempercayaimu untuk memegang amanah ini. Bukan sebagai suamiku yang dulu, tapi sebagai pria yang berjanji akan menebus kesalahannya. Gunakan ini untuk mewujudkan mimpi Ibu kita—membangun tempat perlindungan itu. Aku tahu kau jauh lebih ahli dariku dalam hal itu."

Arya merasakan tenggorokannya tercekat. Kepercayaan ini terasa lebih berat dan lebih berharga daripada semua aset yang tertulis di kertas itu. "Ria... terima kasih. Aku bersumpah tidak akan mengecewakanmu lagi. Aku akan membuat Soraya berlutut meminta maaf atas setiap sen yang ia curi dari amanah ibuku."

"Lalu, apa yang akan kau lakukan, Sayang?" tanya Arya lembut. "Kau punya akses ke seluruh hartaku dan yayasan ini. Kau bisa hidup tenang tanpa perlu bekerja."

Ria menggeleng tegas. Matanya berbinar dengan semangat yang belum pernah Arya lihat sebelumnya. "Tidak. Aku ingin mulai dari nol. Aku ingin bangkit dengan usahaku sendiri."

Ria mengambil sebuah buku sketsa kecil yang selama ini ia simpan di laci ruang keluarga. Di dalamnya penuh dengan desain-desain pakaian dan motif kain yang ia gambar selama masa kuliah dulu.

"Aku ingin bekerja di perusahaan modelling dan menjadi seorang desainer terkenal. Bukan sebagai 'Istri Arya sang CEO', tapi sebagai Ria. Aku ingin membuktikan pada diriku sendiri—dan pada dunia—bahwa aku bukan sekadar wanita yang beruntung selamat dari maut, tapi wanita yang punya karya."

Arya menatap sketsa-sketsa itu dengan rasa kagum yang luar biasa. Desainnya sangat unik, memadukan kelembutan sutra dengan motif yang bercerita tentang perjuangan dan harapan.

"Ini luar biasa, Ria," puji Arya jujur. "Biar aku masukkan kamu ke perusahaan—"

"Tidak," sela Ria sambil tersenyum manis. "Aku akan menggunakan kemampuan ku sendiri dan berusaha di atas kaki sendiri. Aku ingin dikenal sebagai Ria Rinjani. Aku ingin memulai karir ini dengan kepala tegak."

Arya terdiam, lalu sebuah tawa kecil bangga keluar dari bibirnya. Ia menyadari bahwa Ria benar-benar telah tumbuh menjadi sosok yang luar biasa. Ia bukan lagi bunga yang layu di dalam pot emas, melainkan pohon yang siap berakar di tanahnya sendiri.

"Baiklah. Aku akan menjadi pendukung nomor satu mu, Ria."

Ria tertawa, sebuah tawa yang kini terdengar sangat lepas dan bahagia. Di hari itu, mereka resmi berbagi tugas; Arya akan menjadi pedang yang menjaga amanah masa lalu, sementara Ria akan menjadi sayap yang terbang menjemput masa depannya sendiri.

Setelah kepulangan Pak Baskara, atmosfer di rumah besar itu berubah total. Jika sebelumnya Arya adalah pusat gravitasi dan Ria hanya satelit yang mengorbit di sekelilingnya, kini Ria telah menemukan sumbunya sendiri.

Ria duduk di meja makan dengan laptop di depannya, jemarinya lincah menyusun curriculum vitae (CV). Ia merapikan riwayat pendidikannya: Lulusan terbaik Ekonomi Pemasaran dengan keahlian pada industri desain dan modelling. Sebuah kualifikasi yang selama dua tahun ini terkubur di balik perannya sebagai istri pajangan.

Arya datang membawakan secangkir teh hangat, mencoba mengintip layar laptop Ria. "Sayang, aku sudah mencarikan perusahaan yang cocok untukmu. Kamu tinggal datang dan memberikan surat lamaran itu, aku jamin kamu akan langsung di terima."

Ria menghentikan ketikannya dan menatap Arya dengan tatapan tenang namun tak tergoyahkan. "Terima kasih, Mas. Tapi jawabannya tetap tidak."

"Kenapa? Itu perusahaan cabang saja, Ria," bujuk Arya.

"Justru karena itu," jawab Ria sambil menyesap tehnya. "Jika aku bekerja di sana, orang-orang tidak akan melihat kemampuanku. Mereka hanya akan melihat 'Istri Bos' yang sedang bermain-main. Aku ingin tahu seberapa berharga kemampuanku di mata orang asing yang tidak tahu siapa suamiku."

Arya menghela napas, rasa protektifnya kembali muncul. "Dunia kerja itu keras, Ria. Kau baru saja sembuh. Ada banyak orang licik di luar sana yang mungkin akan memperlakukanmu dengan buruk. Aku tidak sanggup membayangkan kau harus berdiri berjam-jam atau ditegur oleh atasan yang tidak tahu siapa kau."

Ria menutup laptopnya perlahan dan berdiri, menyejajarkan tatapannya dengan Arya. "Mas, kau lupa? Aku sudah pernah melewati neraka di tangan ayahku dan pengabaianmu. Jika aku bisa bertahan dari itu semua, teguran seorang manajer kantor tidak akan membunuhku. Aku butuh ini untuk harga diriku. Aku ingin bangun pagi karena aku punya tujuan, bukan karena aku harus menunggumu pulang."

Arya terdiam. Ia melihat api yang berkobar di mata Ria—sebuah ambisi yang selama ini ia padamkan dengan kemewahan yang mengekang. Ia menyadari bahwa mencintai Ria sekarang berarti harus merelakannya pergi ke dunia luar.

Arya tidak punya cara lain lagi, ia meminta pembantunya untuk memberikan saran pada Ria bahwa ia melihat sebuah iklan di selembaran kertas bahwa ada sebuah perusahaan kecil yang sedang membutuhkan karyawan.

"Nyonya, tadi saat aku pergi ke pasar, aku melihat selembar iklan lowongan pekerjaan. Coba saja nyonya Ria melamar di Perusahaan itu. Meski perusahaan kecil, tapi ini tidak ada hubungannya dengan tuan Arya. Nyonya bisa memulainya dari perusahaan kecil itu." Ucap Bi Ina asisten rumah tangga yang senior.

Ria mengambil selembar iklan itu, di bacanya dengan seksama. Sebuah senyuman manis terlukis di wajah Ria. "Ini cukup jauh dari rumah, tapi gak masalah, aku akan mencobanya. Terimakasih banyak Bi."

Bi Ina berhasil menyelesaikan tugas yang di berikan oleh tuannya dengan mulus dan tanpa di curigai oleh Ria.

Keesokan harinya, Ria memulai perburuannya. Ia tidak menggunakan mobil mewah atau supir pribadi yang disiapkan Arya. Ia memilih menggunakan transportasi umum, mengenakan setelan kantor yang simpel namun tetap modis, serta menutupi rambut tipisnya dengan headscarf sutra yang diikat sangat cantik—seolah itu adalah tren fashion baru, bukan tanda kesakitan.

Ia mengirimkan lamaran ke perusahaan fashion retail dan agensi pemasaran ternama. Ia tidak mencantumkan nama belakang Wiradinatha di dokumennya, melainkan menggunakan nama gadisnya.

Di salah satu kantor agensi kreatif ternama di pusat kota, Ria duduk di ruang tunggu bersama kandidat-kandidat lain yang jauh lebih muda. Ia merasa gugup, namun ada sensasi adrenalin yang menyenangkan.

"Ria Rinjani?" panggil seorang staf.

Ria berdiri, merapikan blazernya, dan melangkah masuk ke ruang wawancara dengan kepala tegak. Di dalam, ia tidak menunjukkan kelemahannya sedikit pun. Ia mempresentasikan ide-ide pemasarannya tentang bagaimana menggabungkan nilai tradisional kain dengan tren modelling modern.

Sore harinya, saat ia kembali ke rumah dengan kaki yang sedikit pegal, Arya sudah menunggunya di depan pintu dengan cemas.

"Bagaimana?" tanya Arya tak sabar.

Ria tidak langsung menjawab. Ia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop kecil berisi surat pemberitahuan. "Aku diterima, Mas. Sebagai asisten manajer pemasaran di sebuah perusahaan startup desain. Gajinya bahkan tidak sampai satu persen dari jatah bulananku dulu."

Ria tersenyum sangat lebar, sebuah senyuman yang paling tulus yang pernah Arya lihat. "Tapi ini adalah uang pertama yang aku hasilkan dengan otak dan namaku sendiri. Aku merasa... aku benar-benar hidup sekarang."

Arya menarik Ria ke dalam pelukannya, kali ini dengan rasa bangga yang meluap. "Selamat, Sayang. Aku kalah. Istriku ternyata jauh lebih hebat daripada yang kubayangkan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!