Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Hari yang menentukan itu pun tiba. Halaman sekolah dipenuhi oleh hiruk-pikuk siswa kelas 12 yang diselimuti ketegangan. Udara pagi terasa tipis, seolah oksigen berebut masuk ke paru-paru ratusan anak manusia yang sedang menanti nasib. Amara berdiri di depan papan pengumuman besar yang baru saja dipasang oleh pihak sekolah. Di tangannya, ia meremas ujung seragamnya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Jantungnya berdegup begitu kencang, suaranya seolah berdentum di telinga. Amara mulai menyisir daftar nama itu. Ia memulai dari urutan paling bawah, sebuah mekanisme pertahanan diri karena ia terlalu takut untuk berharap terlalu tinggi.
"Nggak ada..." bisiknya saat matanya melewati urutan 100, lalu 80.
Ia terus naik. Urutan 50... tetap tidak ada nama Amara Lathifa.
"Masa aku nggak lulus?" batinnya mulai panik. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia menyisir lebih cepat, napasnya mulai tersengal. Urutan 20... 10... 5...
Lalu, saat matanya mencapai angka 2, ia masih tidak menemukannya. Namun, tepat di angka 1, di baris paling atas yang dicetak dengan huruf tebal, matanya membelalak sempurna.
AMARA LATHIFA - SKOR: 785 (LULUS PILIHAN 1 - UNIVERSITAS INDONESIA)
Amara membeku. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, seolah takut teriakan kebahagiaannya akan meledak dan mengganggu ketenangan dunia. Dunianya seolah berhenti berputar selama beberapa detik. Air mata yang tadi tertahan karena takut, kini tumpah tanpa bisa dibendung lagi.
Ia peringkat satu. Bukan hanya lulus, tapi peringkat satu di sekolahnya.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Amara merogoh saku roknya. Ia mengabaikan teman-temannya yang berteriak histeris di sekitarnya. Orang pertama yang harus tahu adalah pria yang selalu meyakinkannya bahwa ia bisa.
Telepon tersambung. Begitu suara berat di seberang sana menyapa, tangisan Amara pecah.
"Papa..." suaranya parau dan terputus-putus.
"Ifa? Kenapa, Nak? Kamu di mana?" suara Papa terdengar panik.
"Papa... Amara lulus! Amara peringkat satu, Pa! Peringkat satu sekolah!" teriaknya sambil terisak bahagia.
Hening sejenak di seberang sana, lalu terdengar suara Papa yang bergetar karena haru. "Masya Allah... Ifa... Papa bangga sekali, Nak. Papa tahu kamu bisa. Tunggu di situ, Papa jemput sekarang. Kita rayakan!"
Amara masih berdiri di depan papan itu, menatap namanya seolah-olah nama itu akan menghilang jika ia berkedip. Tiba-tiba, sebuah tepukan lembut mendarat di bahunya. Ia menoleh dan menemukan Sarah yang juga menangis sesumbar.
"Ra! Lo gila! Peringkat satu! Gue lulus juga, Ra!" Sarah memeluk Amara erat-erat. Mereka berputar-putar di tengah lapangan, mengabaikan tatapan iri atau kagum dari siswa lain.
Namun, di tengah keramaian itu, mata Amara menangkap sosok yang berdiri di gerbang sekolah. Nicholas. Pria itu masih mengenakan jaket denimnya, bersandar di motor hitamnya dengan tangan bersedekap. Ia tidak ikut berkerumun, tapi matanya tidak lepas dari Amara.
Nicholas menyadari Amara menatapnya. Ia memberikan satu anggukan mantap dan sebuah senyuman—bukan senyuman jahil, tapi senyuman penuh kebanggaan yang membuat dada Amara sesak oleh rasa sayang.
Nicholas berjalan mendekat saat kerumunan mulai terurai. Ia berhenti tepat di depan Amara yang matanya masih sembab. Tanpa sepatah kata pun, ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah medali plastik mainan bertuliskan "Number 1" yang sepertinya ia beli secara mendadak.
Ia mengalungkan medali itu di leher Amara.
"Gue bilang apa? Lo itu 'malaikat' yang dikasih otak jenius," bisik Nick. "Selamat, Amara. Sekarang, dunia benar-benar ada di genggaman lo."
Amara tertawa di sela sisa isakannya. "Kakak tahu darimana aku peringkat satu?"
"Gue udah di sini sejak papan itu dipasang. Gue liat nama lo paling atas sebelum lo dateng," jawab Nick jujur. "Sekarang, sesuai janji gue... lo mau keliling Jakarta ke mana?"
Amara menggeleng pelan, ia memegang tangan Nicholas. "Aku mau pulang dulu, Kak. Aku mau peluk Papa sama Bunda. Habis itu... terserah Kakak mau bawa aku ke mana."
Nicholas menggenggam tangan Amara kuat-kuat. Perjalanan panjang dari seorang gadis yang takut pada sosok red flag hingga menjadi pemenang di sekolahnya telah usai. Kini, babak baru di universitas menanti mereka berdua.
"Ayo pulang, Juara," ajak Nick sambil menuntun Amara menuju motornya.
Hari itu, matahari bersinar lebih cerah bagi Amara. Ia sadar, kesuksesan bukan hanya tentang angka di papan pengumuman, tapi tentang siapa yang tetap berdiri di sampingmu saat kamu masih merayap di urutan paling bawah. Dan Nicholas, sang Macan Teknik itu, telah membuktikan bahwa ia adalah rumah yang paling aman untuk pulang.