NovelToon NovelToon
Imam Pilihan Bunda.

Imam Pilihan Bunda.

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Nikahmuda / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Komedi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Nyai Nung

Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17.perasaan yang terungkap.

Bunyi itu terdengar lebih dulu.

Bukan suara keras—melainkan getaran halus yang merambat pelan, lalu menguat.

Mesin bus bergetar.

Lian menghentikan gerakan tangannya sejenak, telinganya mendekat. Ia menahan napas, mendengarkan irama yang akhirnya kembali stabil.

“Coba nyalain sekarang, Pak,” ucapnya pelan dari balik kap mesin.

Sopir bus menelan ludah, lalu memutar kunci.

Vrooom.

Suara mesin menyala sempurna.

Tidak tersendat. Tidak batuk. Tidak mati lagi.

Beberapa mahasiswa yang masih berada di sekitar bersorak kecil. Kakek tua yang tadi berdiri di samping Lian langsung tersenyum lebar, kedua tangannya bergetar menahan haru.

“Hidup… hidup!” serunya. “Alhamdulillah…”

Sopir bus turun dari kursinya dengan wajah lega, lalu menghampiri Lian.

“Mbak… terima kasih banyak,” katanya tulus. “Kalau nggak hidup, saya bingung harus gimana di tempat sejauh ini.”

Kakek tua itu ikut mendekat, matanya berkaca-kaca.

“Terima kasih, Nak,” katanya lirih. “Kalau bukan kamu, mungkin sampai besok bus ini tetap mati.”

Lian tersenyum kecil.

“Sama-sama, Pak,” jawabnya. “Saya cuma bantu sedikit.”

Ia menutup kembali kap mesin, lalu berjongkok mengambil kotak perkakas. Saat ia berdiri, gerakannya sedikit terhenti.

Wajahnya menegang.

Ia refleks mengangkat tangan kanannya, menekan bahu kirinya perlahan.

Rasa nyeri itu datang lagi.

Menusuk.

Dalam.

Menarik sampai ke tulang.

Kecelakaan tunggal itu meninggalkan cedera yang tidak sepenuhnya sembuh. Bahunya sering sakit, terutama saat ia terlalu lama menahan beban atau mengangkat tangan tinggi-tinggi.

Namun seperti biasa—

Lian mengabaikannya.

Ia menghela napas pelan, lalu kembali merapikan alat-alat ke dalam kotak seolah tidak terjadi apa-apa.

Tidak ada keluhan.

Tidak ada ekspresi meminta tolong.

Di kejauhan—

Haikal melihatnya.

Ia melihat meringis singkat itu.

Gerakan tangan yang menahan bahu.

Tarikan napas yang terlalu cepat.

Dan ada sesuatu yang mengencang di dadanya.

Ia melangkah satu langkah ke depan—tanpa sadar.

Lalu berhenti.

Larangan.

Kata itu kembali menghantam kepalanya.

Ia tetap berdiri di tempat.

Namun saat Lian mengangkat kepala—

mata mereka bertemu.

Hanya sepersekian detik.

Sangat singkat.

Namun cukup.

Cukup bagi Haikal untuk melihat kelelahan yang tidak ia ketahui.

Cukup bagi Lian untuk melihat sesuatu yang retak di balik tatapan dingin itu.

Tidak ada senyum.

Tidak ada sapaan.

Tidak ada nama yang terucap.

Hanya dua pasang mata yang saling mengunci—lalu berpaling.

Kakek tua itu kembali mengangkat kotak perkakas yang sudah dirapikan.

“Terima kasih, Nak,” katanya sekali lagi. “Semoga Allah balas kebaikanmu.”

Lian mengangguk.

Sopir bus menyalakan mesin sekali lagi sebagai percobaan terakhir, lalu mengacungkan jempol ke arah Lian.

Semua selesai.

Satu per satu orang mulai meninggalkan area pintu desa.

Lian memanggul kotak perkakas itu, lalu berjalan pelan kembali ke arah tenda mahasiswa.

Setiap langkahnya terasa berat.

Bukan karena lelah.

Melainkan karena pertemuan yang terlalu singkat namun terlalu dalam.

Di belakangnya—

Haikal masih berdiri di tempat yang sama.

Ia tidak menoleh.

Namun di balik sikap profesionalnya, satu hal menjadi sangat jelas baginya malam itu:

Cedera di bahu Lian bukan satu-satunya luka yang ia bawa.

Dan untuk pertama kalinya sejak kembali menjadi prajurit sepenuhnya—

Haikal meragukan satu hal yang selama ini ia yakini:

Bahwa menjauh selalu berarti melindungi.

Tepat pukul sepuluh malam.

Pergantian shift berlangsung singkat dan efisien. Tidak ada basa-basi. Tidak ada kelonggaran. Haikal menyerahkan tanggung jawab jaga pada personel berikutnya dengan laporan singkat, nada datar, dan wajah tanpa ekspresi.

“Area aman. Tidak ada pergerakan mencurigakan.”

Ia lalu melangkah pergi.

Langkahnya panjang dan terkontrol menuju tenda militer tempat ia beristirahat. Jalan setapak itu sunyi, hanya diterangi lampu-lampu kecil yang dipasang seadanya. Angin malam desa terasa lebih dingin, menusuk kulit.

Haikal seharusnya merasa lega.

Namun dadanya terasa berat.

Ia membuka penutup tenda.

Masuk.

Dan—

langkahnya terhenti.

Di dalam tenda itu, di atas ranjang lipat militernya, seseorang sedang duduk.

Perempuan itu menunduk.

Rambut panjangnya terurai, hanya diikat longgar. Wajahnya terlihat pucat dalam cahaya lampu kecil di sudut tenda.

Dan di tangannya—

cincin nikah Haikal.

Cincin yang seharusnya tersimpan rapi di nakas kecil di samping tempat tidur.

Jari Lian menggenggam cincin itu erat, seolah benda kecil itu adalah satu-satunya pegangan yang ia miliki.

Haikal membeku.

Refleks militernya langsung aktif.

Siapa masuk tanpa izin.

Bagaimana bisa.

Kenapa penjaga tidak melapor.

Namun semua pertanyaan itu lenyap dalam sekejap saat Lian mengangkat wajahnya.

Mata mereka bertemu.

Dan kali ini—

tidak hanya sepersekian detik.

“Lian…” suara Haikal keluar rendah, hampir seperti hembusan napas.

Ia langsung menutup kembali pintu tenda, memastikan tidak ada yang melihat. Tangannya sedikit gemetar saat ia mengikat kembali penutup tenda itu.

Ini salah.

Sangat salah.

Lian tidak seharusnya berada di sini.

Ia seharusnya di tenda mahasiswa.

Bukan di area militer.

Bukan di ruang pribadinya.

“Kenapa kamu di sini?” tanya Haikal pelan namun tegas, nada perintah otomatis muncul.

Lian tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap cincin di tangannya.

“Aku nemuin ini,” katanya akhirnya, suaranya pelan, serak. “Di nakas.”

Haikal menelan ludah.

“Itu… bukan untuk kamu pegang,” ucapnya kaku.

“Aku tahu,” jawab Lian cepat. “Aku nggak bermaksud—”

Ia berhenti.

Bahunya bergerak sedikit, lalu wajahnya meringis samar. Ia menahan sakit itu seperti biasa—diam, tanpa suara.

Haikal melihatnya.

Dan rasa bersalah menghantamnya tanpa ampun.

“Bahumu,” katanya, tanpa sadar melangkah mendekat. “Kenapa?”

“Biasa,” jawab Lian singkat. “Sakit dikit.”

Kebohongan yang terlalu familiar.

Haikal berdiri tepat di depannya sekarang. Jarak mereka hanya beberapa langkah. Terlalu dekat untuk dua orang yang berpura-pura tidak saling mengenal seharian.

“Kamu melanggar aturan,” ucap Haikal akhirnya, lebih lembut dari yang ia niatkan. “Area ini bukan untuk mahasiswa.”

Lian mengangguk kecil.

“Aku tahu.”

“Kalau ada yang lihat—”

“Aku nggak peduli,” potong Lian tiba-tiba.

Nada suaranya tidak keras. Tidak marah. Tapi tegas.

“Aku cuma mau memastikan,” lanjutnya, menatap Haikal lurus, “kalau kamu beneran ada.”

Kalimat itu—

menghancurkan sesuatu di dalam dada Haikal.

Ia menutup mata sejenak.

Dua tahun enam bulan.

Ia pikir menjauh adalah cara terbaik.

Ia pikir diam adalah bentuk perlindungan.

Namun kini—

istrinya duduk di ranjang militernya, menggenggam cincin nikahnya, dengan bahu yang sakit dan mata yang lelah.

“Kenapa kamu ambil cincin itu?” tanya Haikal akhirnya, suaranya rendah.

Lian membuka telapak tangannya.

Cincin itu terbaring di sana.

“Aku takut,” katanya jujur. “Takut kalau ini cuma… kebetulan. Takut kamu ada di sini tapi bukan untuk aku.”

Haikal mengulurkan tangan.

Namun berhenti di udara.

Ia ragu.

Ragu untuk menyentuh.

Ragu untuk mendekat lebih jauh.

Ragu karena tahu—sekali ia runtuh malam ini, ia mungkin tidak bisa kembali berdiri sebagai prajurit sepenuhnya.

“Lian,” ucapnya pelan. “Dengar aku.”

Ia mengambil cincin itu dari tangan Lian, lalu—tanpa berkata apa-apa—memasangkannya kembali ke jari manisnya sendiri.

Gerakannya lambat. Hati-hati.

“Ini masih milikku,” katanya lirih. “Dan kamu… masih istriku.”

Lian menelan napas.

Air matanya menggenang, tapi tidak jatuh.

“Aku nggak minta apa-apa,” katanya. “Aku cuma… capek nunggu.”

Haikal berdiri di depannya.

Tidak menyentuh.

Tidak memeluk.

Namun untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun—

ia tidak mengusirnya.

Tidak menyuruhnya pergi.

“Duduklah,” katanya pelan. “Sebentar saja. Setelah itu kamu kembali ke tendamu.”

Itu bukan izin.

Tapi juga bukan penolakan.

Dan bagi Lian—

itu sudah lebih dari cukup untuk malam ini.

Baik. Ini BAB 17 — Malam yang Terlalu Dekat, ditulis panjang, detail, sunyi, menghantam batin, tanpa erotisme—hanya kejujuran yang telanjang dan dampaknya pada Haikal.

Lampu kecil di sudut tenda berpendar redup.

Bayangan mereka jatuh panjang di dinding kain, bergerak pelan setiap kali angin malam menyusup masuk. Hening menekan, bukan karena tak ada suara—melainkan karena terlalu banyak yang ingin dikatakan.

Lian duduk di tepi ranjang.

Haikal berdiri beberapa langkah di depannya.

Jarak itu terasa seperti jurang.

Tak ada yang berbicara selama beberapa detik. Hanya suara napas yang tertahan—napas dua orang yang sama-sama berusaha tetap berdiri di batas masing-masing.

Lian menunduk.

Tangannya terlipat di pangkuan. Bahunya sedikit menegang, menahan nyeri yang kembali datang. Namun bukan itu yang membuat matanya berkaca-kaca.

Ia mengangkat kepala.

Menatap Haikal.

Tatapan itu—tidak menuntut, tidak menyalahkan—hanya lelah. Lelah menunggu. Lelah menahan.

Haikal hendak membuka mulut.

Namun Lian lebih dulu berdiri.

Langkahnya satu.

Dua.

Haikal refleks menegang. Semua insting militernya berteriak: berhenti. Ini terlalu dekat. Ini berbahaya. Bukan untuk tubuh—melainkan untuk kendali.

“Lian—” suaranya baru saja keluar—

saat Lian berjinjit sedikit.

Dan sebelum Haikal sempat mundur, sebelum sempat berpikir—

Lian mencium bibirnya.

Bukan lama.

Bukan dalam.

Tidak tergesa.

Hanya sentuhan singkat—seperti kalimat yang diucapkan tanpa suara.

Dunia berhenti.

Haikal membeku.

Tidak membalas.

Tidak menolak.

Tidak bergerak.

Seolah waktu membeku tepat di detik itu.

Lian mundur setengah langkah.

Matanya basah, tapi suaranya tenang. Jujur. Telanjang.

“Mas,” katanya pelan.

Satu kata itu saja sudah cukup membuat dada Haikal terasa diremas.

“Aku jatuh cinta sama kamu.”

Haikal menelan napas.

“Aku mencintaimu,” lanjut Lian. “Aku nggak tahu kapan perasaan ini tumbuh. Pelan. Diam-diam. Tapi yang pasti… aku mencintaimu.”

Kata-kata itu tidak dramatis.

Justru itulah yang membuatnya menyakitkan.

“Rasanya…” Lian tersenyum kecil, getir. “Rasanya begitu menyakitkan nunggu kamu selama bertahun-tahun.”

Ia tidak menangis.

Tidak menyalahkan.

Tidak meminta balasan.

Setelah kalimat itu, Lian melangkah mundur.

Satu langkah.

Dua langkah.

Ia berbalik menuju pintu tenda.

Haikal akhirnya bergerak—setengah langkah ke depan.

Namun terlambat.

Lian membuka penutup tenda, lalu berhenti sejenak tanpa menoleh.

“Maaf,” katanya pelan. “Aku cuma pengin kamu tahu.”

Lalu—

ia pergi.

Langkahnya menjauh. Sunyi. Tegak.

Tidak menunggu jawaban.

Tidak menunggu penjelasan.

Tidak menunggu cinta dibalas.

Haikal berdiri sendirian di dalam tenda.

Lampu kecil itu masih menyala.

Ranjang lipat itu masih di tempatnya.

Udara masih sama.

Namun segalanya terasa berubah.

Ia mengangkat tangan perlahan—menyentuh bibirnya sendiri.

Bukan karena ciuman itu.

Melainkan karena kejujuran di baliknya.

Dua tahun enam bulan.

Ia pikir diam adalah cara terbaik.

Ia pikir menahan adalah bentuk tanggung jawab.

Namun malam ini, satu hal menghantamnya lebih keras dari peluru mana pun:

Ia tidak pernah benar-benar bertanya—

seberapa mahal harga yang harus dibayar Lian untuk menunggu.

Haikal menutup mata.

Dan untuk pertama kalinya sejak lama—

ia berharap,

bahwa perang ini segera selesai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!