NovelToon NovelToon
Cahaya Ditengah Hujan

Cahaya Ditengah Hujan

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: 1337Creation's

"Cahaya di Tengah Hujan"
Rini, seorang ibu yang ditinggalkan suaminya demi wanita lain, berjuang sendirian menghidupi dua anaknya yang masih kecil. Dengan cinta yang besar dan tekad yang kuat, ia menghadapi kerasnya hidup di tengah pengkhianatan dan kesulitan ekonomi.

Di balik luka dan air mata, Rini menemukan kekuatan yang tak pernah ia duga. Apakah ia mampu bangkit dan memberi kehidupan yang layak bagi anak-anaknya?

Sebuah kisah tentang cinta seorang ibu, perjuangan, dan harapan di tengah badai kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 1337Creation's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan yang tak terduga

Bab 6: Pertemuan yang Tak Terduga

Pagi itu, Rini berjalan menuju pasar dengan langkah hati-hati. Di tangannya tergenggam beberapa lembar uang kertas yang jumlahnya pas-pasan, cukup untuk membeli sayur dan kebutuhan dapur. Matanya menatap ke depan dengan fokus, meskipun hatinya penuh dengan rasa cemas—seperti biasa.

Setibanya di pasar, hiruk-pikuk suara pedagang dan pembeli memenuhi telinganya. Ia berjalan menuju lapak sayur langganannya, berhenti untuk memilih beberapa ikat bayam dan sepotong labu kecil.

“Berapa, Bu?” tanya Rini pelan.

“Semua jadi sepuluh ribu,” jawab penjual itu.

Rini mengeluarkan uang dari sakunya, menghitung dengan hati-hati. Sisa uangnya tinggal sedikit, tapi cukup untuk kebutuhan hari itu. Setelah membayar, ia melangkah pergi, tetapi langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sosok yang begitu familiar di antara kerumunan pasar.

Bayu Prasetyo.

Rini terdiam sejenak, seolah waktu berhenti. Lelaki itu adalah mantan suaminya, pria yang dulu ia cintai dan percayai, tetapi meninggalkan dirinya dan anak-anak mereka tanpa penjelasan.

Bayu berdiri di sudut pasar, mengenakan pakaian rapi yang terlihat kontras dengan lingkungan sekitarnya. Ia seperti sedang menunggu seseorang.

Tanpa sadar, Rini melangkah mendekatinya. Hatinya berdebar-debar, tetapi kali ini bukan karena cinta—melainkan amarah yang selama ini ia pendam.

“Bayu,” panggil Rini, suaranya terdengar dingin.

Bayu menoleh, wajahnya menunjukkan ekspresi kaget bercampur canggung. “Rini… Kamu di sini?”

Rini menatapnya tajam. “Kenapa kamu ada di sini? Apa yang kamu lakukan di pasar ini?”

Bayu tidak segera menjawab. Ia terlihat gelisah, seperti mencari kata-kata yang tepat. Namun, sebelum ia sempat berkata apa-apa, Rini melanjutkan, suaranya meninggi.

“Kenapa kamu meninggalkan aku, Bayu? Kenapa kamu meninggalkan anak-anak kita tanpa penjelasan? Apa salahku? Apa salah mereka?”

Suasana di sekitar mereka perlahan berubah. Beberapa pedagang dan pembeli mulai memperhatikan mereka. Namun, Rini tidak peduli. Semua emosi yang ia tahan selama bertahun-tahun kini keluar tanpa bisa dibendung.

“Apa kamu tahu betapa sulitnya hidup kami tanpa kamu? Aditya dan Nayla harus tumbuh tanpa seorang ayah, sementara aku harus berjuang mati-matian hanya untuk memberi mereka makan!”

Bayu menunduk, menghindari tatapan Rini. “Rini, aku… aku punya alasan…”

“Alasan apa?” potong Rini dengan nada penuh luka.

Bayu menghela napas panjang. Ia akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap Rini dengan ekspresi dingin. “Aku sudah menikah lagi, Rini. Dengan seorang wanita kaya. Namanya Rorsida Mawarhati.”

Rini tertegun, seolah kata-kata itu menghantamnya seperti pukulan keras. Ia merasa dadanya sesak, hampir tidak bisa bernapas.

“Jadi itu alasanmu?” tanyanya dengan suara bergetar. “Kamu meninggalkan kami demi uang? Demi menikahi wanita kaya?”

Bayu tidak menjawab. Wajahnya tetap datar, tanpa ekspresi.

Rini menatapnya dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya. “Kamu tidak hanya meninggalkan aku, Bayu. Kamu juga meninggalkan anak-anak kita. Mereka tidak pernah berhenti bertanya kenapa ayah mereka pergi. Dan sekarang aku tahu jawabannya. Kamu pergi karena kamu pengecut. Kamu lebih memilih kekayaan daripada keluarga.”

Bayu tampak tidak nyaman, tetapi ia tidak membantah. “Aku tidak punya pilihan, Rini. Hidup kita terlalu sulit. Aku tidak bisa terus hidup seperti itu.”

“Tidak bisa hidup seperti itu?” suara Rini meninggi. “Dan kamu pikir hidupku mudah setelah kamu pergi? Kamu pikir anak-anakmu tidak merasakan kesulitan itu? Kamu tahu apa yang mereka alami, Bayu? Tidak, kamu tidak tahu, karena kamu tidak peduli!”

Bayu masih diam.

Rini menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. Ia merasa tidak ada gunanya berbicara dengan seseorang yang sudah kehilangan hati nurani.

“Kamu sudah membuat pilihanmu, Bayu. Tapi aku juga punya pilihanku. Aku akan terus berjuang untuk anak-anak kita, meskipun tanpa kamu. Dan aku tidak butuh belas kasihanmu.”

Dengan kata-kata itu, Rini berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Bayu di tengah pasar. Air matanya terus mengalir, tetapi ia tidak peduli. Ia hanya ingin kembali ke rumah, memeluk anak-anaknya, dan melupakan pria yang pernah ia cintai itu.

---

Ketika Rini tiba di rumah, Aditya dan Nayla sedang bermain di ruang tamu. Melihat wajah ibunya yang sembab, Aditya segera berdiri.

“Ibu… Ibu kenapa?” tanya Aditya dengan nada khawatir.

Rini mencoba tersenyum, meskipun hatinya terasa begitu berat. “Ibu baik-baik saja, Nak. Jangan khawatir.”

Namun, dalam hatinya, ia bersumpah. Tidak peduli seberapa sulit hidupnya, ia akan tetap kuat untuk anak-anaknya. Karena mereka adalah alasan satu-satunya untuk ia terus berjuang.

---

1
Ana Akhwat
Terlalu banyak dramanya Thor akhirnya pembacanya banyak yang eneg/Pray//Pray//Pray/
♪Ace kei jett♪: Halo para pembaca setia,

Terima kasih banyak sudah mengikuti cerita ini hingga sejauh ini. Aku sangat menghargai setiap masukan dan komentar kalian, termasuk kritik yang membangun. Aku sadar bahwa beberapa dari kalian merasa bahwa dramanya terlalu banyak sehingga agak melelahkan untuk dibaca.

Aku ingin meminta maaf jika bagian itu membuat pengalaman membaca kalian kurang nyaman. Di bab-bab selanjutnya, aku akan berusaha mengurangi unsur drama yang berlebihan dan lebih fokus pada inti cerita utama agar alurnya lebih mengalir dan tetap menarik untuk dinikmati.

Sekali lagi, terima kasih atas dukungan dan kesabaran kalian. Kritik dan saran kalian sangat berarti untuk perkembangan cerita ini. Semoga kalian tetap menikmati kelanjutannya!

Salam,
[Penulis]
total 1 replies
Hennyda Wati Gmanik
Biasa
Hennyda Wati Gmanik
Buruk
Yati Syahira
cape bacanya
♪Ace kei jett♪: "Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan komentar! Maaf kalau bab ini terasa panjang dan bikin capek bacanya. Aku bakal jadikan ini sebagai masukan supaya ceritanya tetap enak diikuti tanpa kehilangan esensinya. Tapi aku tetap apresiasi banget kamu sudah sampai di sini. Semoga bab-bab selanjutnya lebih nyaman dibaca. Makasih lagi!"
total 1 replies
Yati Syahira
aduuh masa bodoh diem saja di injak injak begitu bisa panggil bosya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!